http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/03/opini/1414869.htm

Jumat, 03 Desember 2004

Muhammadiyah dan Teologi Korupsi
Zuly Qodir

SEBAGAI organisasi massa Islam terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulama, 
Muhammadiyah akan menjadi sorotan masyarakat luas dalam sepak terjangnya. 
Sepak terjang ormas Islam modernis akan turut menentukan hitam putihnya 
bangsa ini.
KARENA itu, Sidang Tanwir Muhammadiyah di Mataram, Nusa Tenggara Barat, 2-5 
Desember 2004, menjadi amat strategis. Muhammadiyah dihadapkan pada banyak 
masalah krusial bangsa, seperti korupsi yang merajalela, sehingga tema 
Tajdid Gerakan untuk Pencerahan Bangsa harus benar-benar tercermin dalam 
sidang tanwir kali ini.
Kasus demi kasus korupsi masih terjadi di banyak tempat. Pada satu bulan 
pertama, publik tampaknya menaruh harapan pada Susilo Bambang Yudhoyono 
dalam meminpin Kabinet Indonesia Bersatu. Dalam kasus penanganan KKN, 
misalnya 53,6 persen merasa puas, sementara 38,3 persen tidak puas. Artinya, 
masih ada harapan perbaikan, tinggal kapan dan perbaikan seperti apa yang 
akan dilakukan Yudhoyono bersama kabinetnya.
Sementara itu, kasus penanganan pengentasan penganggur, Yudhoyono dan 
kabinetnya dinilai belum memuaskan. Ada 53,7 persen tidak puas, sisanya 37,4 
persen menyatakan puas.
Dalam pengentasan penganggur, tampaknya masih menimbulkan pertanyaan dan 
ketidakpuasan publik sebab langkah yang diambil presiden tampaknya belum 
nyata. Hal itu seperti terungkap dalam jajak pendapat yang dilakukan 
(Kompas, 22/11/2004), di mana publik merasa puas untuk sementara atas 
kinerja Yudhoyono beserta kabinetnya.
Berkaitan dengan soal korupsi, negeri ini paling menjadi sasaran kritik 
orang dalam maupun luar. Lembaga internasional hampir dalam setiap jajak 
pendapatnya senantiasa menempatkan Indonesia sebagai rekor dalam kasus 
korupsi.
Kasus korupsi yang menimpa Wakil Wali Kota Bogor yang mantan Ketua DPRD Kota 
Bogor 1999-2004 Mohamad Sahid, seperti diberitakan (Kompas, 26/11/2004) 
sehingga harus bolak-balik masuk penjara adalah salah satu bukti bahwa 
korupsi di negeri ini masih amat kuat.
Bahkan, saya khawatir, jangan-jangan semrawutnya tes calon pegawai negeri 
sipil (CPNS) pada Rabu pekan lalu akibat perilaku-perilaku korup para 
pejabat negara yang merasa memiliki wewenang dalam proses penyelenggaraan 
tes CPNS itu, selain karena adanya faktor tidak siapnya panitia 
mengantisipasi peserta yang membeludak.
Hal seperti itu jelas ikut menjadi beban Muhammadiyah selaku ormas Islam 
terbesar kedua. Dan tentu mencoreng niat baik Yudhoyono beserta kabinetnya 
yang hendak melakukan terapi kejut pada 100 hari pertama memimpin. 
Seandainya selama seratus hari memerintah, Yudhoyono dengan kabinet tidak 
mampu menghasilkan kebijakan nyata, terutama dalam pemberantasan korupsi, 
tampaknya kepercayaan publik kepada Yudhoyono dalam keseriusannya 
menjebloskan koruptor ke dalam penjara akan semakin luntur, alias hanya 
retorika belaka.
Persoalannya kini, bagaimana agar kasus korupsi menjadi prioritas utama 
pemerintahan Yudhoyono dan kabinetnya sehingga publik tetap menaruh respek 
dan kepercayaan tinggi.
DALAM kaitan kondisi bangsa seperti itu, Muhammadiyah yang Tanwir 2-5 
Desember di Mataram harus mampu mendorong pemahaman teologi yang mampu 
melakukan pemberantasan korupsi. Memang pemahaman religius yang 
konservatif-konvensional perlu mendapat perhatian serius sehingga mampu 
menumbuhkan apa yang disebut daya kritis masyarakat agama. Masyarakat agama 
tidak boleh dininabobokan dengan pemahaman agama yang lebih bersifat 
eskatologis-justifikasi.
Karena itu, pemahaman umat atas agama harus diarahkan untuk mampu merumuskan 
apa yang dinamakan "kemungkaran-kemungkaran sosial" sebagai bentuk kekafiran 
baru atau kekafiran modern. Kekafiran karena itu tak hanya dialamatkan 
kepada mereka yang tidak menyembah Tuhan atau tidak rajin menjalankan 
ritus-ritus keagamaan, tetapi lebih diarahkan kepada mereka yang membuat 
kesengsaraan atas orang banyak. Misalnya dengan mengorup uang negara karena 
memiliki jabatan publik, menggusur, menelantarkan, dan seterusnya.
Dengan rumusan teologi seperti ini, hemat saya penafsiran korupsi sebagai 
bagian bentuk kekafiran menjadi kian nyata. . Dampaknya, orang beragama akan 
kian takut melakukan korupsi, sebab bukan saja akan dihukum secara moral, 
seperti diacuhkan dalam masyarakat, diasingkan dari publik, tetapi menjadi 
takut karena orang kafir sama hukumnya dengan dibolehkan untuk dihukum mati.
Hukuman mati ini akan memungkinkan para koruptor jera sehingga tak akan 
mengulangi lagi di kemudian hari. Tetapi akan terus mengulang pekerjaan 
mengorup uang negara ketika ada kesempatan sebab hanya diancam hukuman 
kurungan, atau penjara itu pun dengan proses penyidikan yang demikian ruwet. 
Bahkan, jika bukti-bukti dianggap tidak lengkap, atau tuduhan cacat hukum, 
sang koruptor bisa bebas lepas untuk terus menghirup udara segar sebagaimana 
masyarakat biasa yang tidak korupsi.
Di sinilah, hemat saya, mendesak bagi Islam seperti Muhammadiyah dan 
Nahdlatul Ulama yang telah satu tahun mencanangkan gerakan antikorupsi harus 
beranjak pada perumusan teologi yang benar-benar mampu memberdayakan rakyat 
banyak, ketimbang menjadikan rakyat banyak sebagai "instrumen" dan 
justifikasi religius semata, tanpa pemihakan yang jelas.
MUNGKINKAH Muhammadiyah melakukan rekonstruksi teologi 
konservatif-konvensional sehingga tumbuh sistem teologi yang lebih 
transformatif, memiliki keberpihakan yang tegas kepada rakyat miskin, 
semuanya bergantung aktor dan elite kedua ormas yang sedang memanggul amanat 
umatnya.
Jika Muhammadiyah mampu merumuskan sistem teologi yang memberdayakan secara 
konkret, dalam hal ini salah satunya mengeluarkan apa yang disebut teologi 
korupsi, hemat saya para koruptor di negeri ini satu per satu akan jera dan 
takut sebab hadangan hukuman mati menanti di depannya.
Di tempat lain, pemerintahan Yudhoyono dan kebinetnya jelas amat terbantu 
jika ormas Islam terbesar di Indonesia kedua ini mampu dengan segera dan 
semangat membangun teologi yang dinamakan teologi korupsi. Semoga tanwirin 
mampu berpikir jauh ke sana sehingga kita memiliki teologi korupsi yang 
lebih konkret.
Zuly Qodir Koordinator Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), 
Yogyakarta
Search :







Berita Lainnya :
�TAJUK RENCANA
�REDAKSI YTH
�Relasi Pusat dan Daerah serta Pertumbuhan Ekonomi
�Persaingan Pasar
�Muhammadiyah dan Teologi Korupsi
�Pemihakan kepada "The New Mustadz'afin"
�Juru Bicara Presiden
�POJOK 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke