tulisan sendiri yah mas.. 
Selamat.

arif satria <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Semoga bermanfaat

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/06/ekonomi/1419096.htm
KOMPAS, Senin, 06 Desember 2004 

Menanti Gebrakan Kelautan ala SBY 
oleh:
Arif Satria*

TERPILIHNYA Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla sebagai presiden dan wakil 
presiden RI periode 2004-2009 diharapkan mampu tidak saja menebar, tetapi juga 
mewujudkan harapan akan makin majunya sektor kelautan dan perikanan. Kemajuan 
sektor ini tidak semata diukur dari angka-angka makro yang fantastis, seperti 
berapa jumlah uang yang dapat masuk ke negara, berapa miliar dollar AS nilai 
ekspor yang bisa diraih, berapa sumbangannya pada produk domestik bruto, dan 
seterusnya. Akan tetapi, juga seberapa banyak usaha kecil tumbuh di sektor ini, 
seberapa banyak nelayan yang bisa bebas dari kemiskinan, seberapa aman laut 
kita, serta seberapa tinggi harga diri bangsa kita di laut.
SUNGGUH ironis, kekayaan laut yang begitu besar masih dinikmati nelayan asing, 
sementara nelayan lokal masih tak berdaya karena kemiskinannya.
Begitu pula kapal keruk pasir laut berdatangan untuk menguras pasir laut yang 
merusak ekosistem laut dan menggusur nelayan tradisional, tetapi justru 
memperluas wilayah negara lain dan berbahaya secara geopolitik. Sanggupkah 
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla mengakhiri ironi-ironi semacam itu? 
Sanggupkah mereka membuat sejarah baru dalam politik kelautan dan perikanan?
Paradigma baru
Kemajuan sektor kelautan dan perikanan (KP) pada periode 2004-2009 sangat 
tergantung pada bagaimana kebijakan pembangunan ekonomi yang dikembangkan 
pasangan tersebut. Sekiranya mereka fokus pada pengembangan ekonomi berbasis 
sumber daya (resource based economy) dan menempatkan sektor KP sebagai 
penggerak (prime mover), tampaknya peluang kemajuan akan terbuka kembali.
Saat ini, untuk negara sedang berkembang, memang baru Peru dan Filipina yang 
mampu menempatkan sektor perikanan sebagai arus utama (mainstream) dalam 
pembangunan nasionalnya (Thorpe, 2004). Di Peru dimungkinkan karena sifat 
perikanannya yang padat modal sehingga para pelaku di dalamnya-yang umumnya 
pelaku besar yang memiliki kekuatan politik-mampu memengaruhi kebijakan ekonomi 
nasional.
Sementara di Filipina, selain ekonomi, pola mainstreaming- nya juga menonjol 
pada penanggulangan kemiskinan dan isu lingkungan sebagaimana tertuang dalam 
Medium-Term Development Plan (MTDP). Tentu Indonesia yang didominasi nelayan 
tradisional (94 persen)-dengan komposisi perahu tanpa motor (48 persen), motor 
tempel (26 persen), motor kurang dari 10 gross ton (20 persen)-memiliki 
kompleksitas tersendiri yang berbeda dengan Peru, dan lebih mirip Filipina.
Selama ini memang banyak orang yang menilai masalah KP adalah masalah investasi 
dan promosi sehingga seolah dengan investasi dan promosi besar-besaran, sektor 
KP akan mengalami kemajuan. Namun, dimensi sektor KP tidak semata ekonomi, 
melainkan juga ekologi, sosial budaya, dan bahkan politik. Jadi, selain 
promosi, juga diperlukan regulasi seperti kebijakan pengelolaan sumber daya 
(fisheries management) yang memungkinkan seluruh dimensi itu tersentuh.
Memang antara promosi dan regulasi sering dipertentangkan. Kalangan pengusaha 
biasanya mendesak pemerintah untuk terus promosi, sementara kalangan lembaga 
swadaya masyarakat (LSM) dan akademisi lebih mendorong munculnya regulasi yang 
biasanya diarahkan pada terciptanya keseimbangan ekologis dan keadilan sosial 
ekonomi.
Bayangkan, sejak 10 tahun lalu, sekitar 69 persen stok ikan dunia dalam kondisi 
"darurat". Juga terumbu karang sebagai rumah ikan, sebagian telah rusak. Kalau 
tak ada langkah antisipasi, diperkirakan pada tahun 2010 yang rusak akan 
mencapai 40 persen. Inilah fakta yang menuntut pengelolaan sektor KP yang lebih 
cermat.
Dalam rangka mengombinasikan promosi dan regulasi itulah, konstruksi paradigma 
pembangunan sektor KP secara berkelanjutan (sustainable marine and fisheries 
development) sangat mendesak. Paradigma ini tidak sekadar berarti sustainable 
yield yang fokus pada hasil tangkapan secara berkelanjutan, tetapi fokus pada 
keberlanjutan sistem, baik ekosistem maupun sistem sosialnya.
Meminjam kerangka Anthony Charles (2001), keberlanjutan sistem ini ditopang 
beberapa dimensi. Pertama, dimensi ekologi (ecological sustainability) yang 
mencakup kelestarian hasil tangkapan/panen, kelestarian spesies, serta 
kelestarian ekosistem. Kedua, dimensi sosial- ekonomi (socio-economic 
sustainablity), yang berarti kelestarian kesejahteraan sosial-ekonomi para 
pelakunya, yang basisnya adalah keberlanjutan keuntungan dan distribusinya 
kepada seluruh pelaku, serta keberlanjutan sistem perikanan, baik di tingkat 
ekonomi lokal maupun global.
Ketiga, dimensi masyarakat (community sustainaibility) yang berorientasi pada 
keberlanjutan masyarakat sebagai sebuah sistem, yang di dalamnya mencakup nilai 
budaya, aturan lokal, pengetahuan, dan kohesivitas. Keempat, dimensi 
kelembagaan (institutional sustainablity), yakni kesinambungan kapasitas 
finansial, administrasi, dan organisasi, yang menjaga keberlanjutan tiga 
dimensi sebelumnya.
Dalam menjaga keempat dimensi keberlanjutan tersebut, kerja sama antara negara, 
pasar, dan masyarakat menjadi prasyaratnya. Terlalu bertumpu pada peran negara, 
kini sudah bukan zamannya lagi. Biaya transaksinya terlalu mahal. Sementara, 
hanya menggantungkan pada pasar juga bukan solusi. Sebab, berdasarkan 
pengalaman di berbagai negara, seperti Belanda, Australia, dan Selandia Baru 
yang menerapkan sistem kuota berbasis pasar dalam penangkapan ikan, ternyata 
menyebabkan masalah sosial karena pada akhirnya kepemilikan kuota mengerucut 
pada segelintir kelompok masyarakat lapisan atas saja.
Artinya, dominasi pasar dalam regulasi justru akan menyebabkan ketimpangan. 
Sementara itu, masyarakat juga mengalami keterbatasan dan sementara ini masih 
efektif di tingkat lokal saja. Negara dan pasar memiliki kekuatan yang lebih 
besar dari masyarakat. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk terus 
memberdayakan masyarakat ini agar mampu mengimbangi peran negara dan pasar. 
Inilah agenda pokok yang mesti diperhatikan pemerintahan SBY-Jusuf Kalla. 
Yakni, memperkuat basis masyarakat (civil society) melalui pemberdayaan 
masyarakat pesisir dalam rangka mengimbangi kekuatan negara dan pasar dalam 
menciptakan pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan.
Masyarakat pesisir
Nelayan merupakan kelompok sosial yang selama ini terpinggirkan, baik secara 
sosial, ekonomi, maupun politik. Ini pun merupakan kecenderungan di berbagai 
negara. Di India identik dengan kasta rendahan. Di Kanada, nelayan First Nation 
juga marjinal secara ekonomi dan politik. Sementara di Jepang, profesi nelayan 
identik dengan kitanai, kitsui, kiken, yang artinya kotor, keras, dan 
membahayakan.
Namun, bedanya nelayan di Jepang meski secara sosial rendah, tidak secara 
ekonomi dan politik. Mereka tetap diperhitungkan secara politik sehingga 
kebijakan pembangunan banyak yang pro-nelayan. Sementara itu di Indonesia, 
nelayan masih belum berdaya secara ekonomi dan politik. Organisasi ekonomi 
nelayan belum solid, sementara nelayan masih terkungkung pada ikatan-ikatan 
tradisional dengan para toke atau tengkulak.
Belum ada institusi yang mampu menjamin kehidupan nelayan selain institusi 
patron-klien itu. Secara politik, nelayan pun masih dijadikan obyek mobilisasi 
massa oleh partai politik. Belum ada posisi tawar yang kuat terhadap partai 
politik maupun pemerintah sehingga ketika nelayan dijadikan korban pembangunan 
pun mereka tak mampu berbuat apa-apa.
Menghadapi realita seperti itu, ada satu lagi terobosan dari Undang-Undang (UU) 
Perikanan Nomor 31 Tahun 2004. Yakni, Bab X Pasal 60-64 mengamanatkan 
pemerintah untuk memberdayakan nelayan kecil dan pembudidaya ikan kecil melalui 
pengembangan skim kredit lunak, pengembangan sumber daya manusia (SDM), dan 
pengembangan kelompok nelayan. Amanat pemberdayaan ini mesti diarahkan untuk 
memperbaiki posisi sosial, ekonomi, dan politik nelayan.
Pemerintahan Megawati Soekarnoputri telah mengembangkan Program Pemberdayaan 
Ekonomi Masyarakat Pesisir, yang pada tahun 2004 mencakup 126 kabupaten. Ini 
proyek besar yang mesti ditangani secara hati-hati dan cermat sehingga tujuan 
pemberdayaan bisa tercapai. Untuk itu, perlu sejumlah agenda untuk pemberdayaan 
nelayan ini.
Pertama, terus mengupayakan tersedianya skim kredit lunak dan teknologi untuk 
meningkatkan produktivitas nelayan sehingga nelayan mampu menjadi "tuan rumah" 
di lautnya sendiri. Kegiatan perikanan masih saja dianggap berisiko sehingga 
masih belum menarik perbankan nasional untuk membantu. Di sinilah peran 
pemerintah untuk terus meyakinkan lembaga perbankan agar dapat mendukung sektor 
KP.
Kedua, memacu peningkatan kualitas SDM nelayan, tidak semata pengetahuan, 
tetapi juga keterampilan serta kesehatan, baik fisik maupun mental. Ketiga, 
mengembangkan institusi ekonomi di masyarakat pesisir untuk menciptakan 
ketahanan ekonomi menghadapi dinamika perubahan luar. Di sinilah organisasi 
ekonomi di masyarakat pesisir mesti solid.
Keempat, memperkuat jaringan nelayan. Ada tiga hierarki jaringan; (a) 
intra-community, (b) inter-community, dan (c) supra-community. Jaringan dalam 
masyarakat (intra-community) dimaksudkan untuk mengonsolidasi kelompok nelayan 
yang selama ini beragam karena dibentuk oleh "proyek". Banyak kelompok nelayan 
dapat ditemukan di desa. Ada yang dibentuk Departemen Kelautan dan Perikanan, 
Departemen Koperasi, pemerintah daerah, atau LSM. Jaringan ini penting untuk 
integrasi sosial dan sebagai basis bagi kuatnya jaringan berikutnya.
Jaringan antarmasyarakat nelayan (inter-community) adalah dalam membangun kerja 
sama dan saling pengertian antarmasyarakat nelayan, khususnya dalam hal 
pemanfaatan sumber daya. Hal ini mengingat bahwa kegiatan perikanan adalah 
lintas wilayah administratif. Jaringan ini diarahkan untuk integrasi 
pengelolaan sumber daya. Ini penting untuk mengantisipasi konflik nelayan 
antardaerah.
Adapun jaringan luar masyarakat (supra-community) penting untuk integrasi 
ekonomi. Bagaimanapun, ekonomi masyarakat pesisir akan berkembang bila 
terintegrasi dengan lingkungan ekonomi di luarnya. Di sinilah kesempatan 
membangun kemitraan dengan swasta terbuka. Jadi, bisnis perikanan yang dibangun 
swasta bersifat ramah sosial.
Kelima, pemerintah mesti terus memberikan perlindungan hukum kepada nelayan 
yang selama ini dirugikan dalam berbagai kasus. Apalagi dengan kasus yang 
melibatkan modal besar. Keenam, berbagai program pemberdayaan seyogianya 
dilengkapi indikator keberhasilan. Tampaknya, saat ini belum tersedia data 
berapa nelayan yang miskin dan miskin sekali, dan bagaimana perubahan komposisi 
jumlah nelayan miskin setelah ada program pemberdayaan. Padahal, data ini 
sangat penting sebagai ukuran efektivitas program ini. Adanya data ini akan 
membantu program tepat sasaran.
Tentu, untuk itu, semua kerja sama lintas departemen dan DPR, keharmonisan dan 
keterpaduan antara program pemerintah dan masyarakat juga mesti terjadi. Inilah 
momentum bersama untuk membuktikan bahwa sektor KP memang bisa menyumbang 
terwujudnya kemakmuran bangsa. Momentum ini sangat berharga bagi SBY-Jusuf 
Kalla untuk membuat sejarah baru dalam pengembangan sektor KP karena 
bagaimanapun, sejarah politik KP selalu ada di tangan seorang presiden. Mari 
kita nantikan gebrakan kelautan ala SBY!

*Dosen Departemen Sosial Ekonomi Perikanan IPB; Mahasiswa S3 di Kagoshima 
University, Jepang



---------------------------------
Do you Yahoo!?
The all-new My Yahoo! � Get yours free! 

[Non-text portions of this message have been removed]




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Meet the all-new My Yahoo! � Try it today! 

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke