Salam,

sudah saatnya kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang GD. karena 
memang seharusnya daun-daun tua harus diganti dengan daun-daun muda. 
itulah kira-kira sunnatullah. jadi sebagai manusia, kita harus 
memerankan peranan yang memang sudah harus kita perankan. kalau 
memang peran itu sudah selesai kita laksanakan, kenapa kita harus 
memaksakan diri untuk memainkannya kembali? memang hidup bisa di 
replay? :D

sebagai seorang tokoh yang mempunyai pengikut lumayan banyak, sudah 
seharusnya GD bersikap legowo untuk menerima kenyataan bahwa tongkat 
kepemimpinan NU harus diserahkan kepada orang lain. kalau memang dia 
memikirkan masa depan umat nahdliyin, maka dia harus menghormati 
keputusan muktamar yang ada dan tidak menentangnya meskipun 
berorganisasi adalah hak asasi yang dijamin oleh negara. akan tetapi 
apabila kepentingan bersama lebih utama, mengapa harus mendahulukan 
kepentingan pribadi? atau memang ini yang dinamankan Machiavelli 
sebagai sifat asli manusia, selfish? 

yang jelas, siapapun yang sekarang menjabat dikursi pimpinan NU 
mempunyai tugas yang tidak ringan untuk membawa kembali organisasi 
kemasyarakatan paling besar di Indonesia ini kearah yang semestinya 
diinginkan oleh anggotanya. janganlah pengalaman yang baru saja 
dialami oleh NU yang dijadikan kuda tunggangan Hasyim Muzadi terulang 
lagi. tetapi andaikan memang ia ingin dijadikan sebagai sebuah 
kendaraan politik,  maka semua juga harus jelas dan transparan 
sehingga bisa dilihat nantinya, laku apa tidak dagangan ini untuk 
tahun 2008 mendatang. 

wassalam

Qisa'i

AMU, Aligarh, India

--- In [EMAIL PROTECTED], RG Nur Rahmat <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> 
> Memang wajar, tapi kita lihat perubahan drastis dari pendukung 
GusDur (Pasukan Berani Mati) dari penebangan pohon-pohon sampai 
demonstrasi brutal di Senayan, sampai kini tiada yang pilih dia jadi 
Ketua PBNU. Ini ibarat Dewa ditinggalkan ummatnya.
>  
> Kalau maksud saya kurang jelas, peninggalan itu saya maksudkan 
fosil. Fosil sejarah Orde Baru.
> 
> boy parla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Bukankah mendirikan partai baru atau sebutlah
> tandingan, juga merupakan bagian dari demokrasi???
> 
> saya pikir, tindakan Gus Dur adalah tindakan yang
> wajar, dan bukan peninggalan sejarah Orde Reformasi,
> tetapi bagian dari demokrasi. 
> 
> belajar dari sejarah, PDIP satu partai besar di negeri
> ini adalah partai tandingannya PDI. 
> 
> 
> --- RG Nur Rahmat wrote:
> 
> > 
> > 
> > Kekalahan Gus Dur
> > 
> > 
> > MEMBUAT organisasi baru atau pengurus tandingan,
> > setelah kalah bertarung, bukan perkara baru. Hal ini
> > terjadi di masa Orde Baru dan diteruskan sampai ke
> > zaman sekarang, ketika presiden pun telah dipilih
> > secara langsung oleh rakyat.
> > 
> > Sikap seperti itu terakhir dilontarkan Abdurrahman
> > Wahid (Gus Dur). Ia menyatakan akan mendirikan
> > Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tandingan
> > apabila Hasyim Muzadi terpilih kembali sebagai Ketua
> > Umum Tanfidziah PBNU. Semula, orang mengira itu
> > hanya ancaman belaka dari Gus Dur, sebagai tekanan
> > agar Hasyim Muzadi mengundurkan diri dari
> > pencalonan.
> > 
> > Hasyim rupanya tak mempan digertak oleh Gus Dur. Ia
> > maju terus dan ternyata menang dengan suara yang
> > signifikan. Hasyim kembali terpilih dengan meraih
> > 346 suara, mengalahkah Masdar F Mas'udi yang hanya
> > meraih 99 suara. Padahal, Masdar adalah calon yang
> > dijagokan Dus Dur.
> > 
> > Bukan hanya itu kekalahan Gus Dur. Ia pun kalah
> > bertarung dengan KH Sahal Mahfudz untuk menjadi Rois
> > Aam Syuriah PBNU. Perbandingannya, dari 452 suara
> > sah yang dihitung, Sahal memperoleh 363 suara,
> > sedangkan Gus Dur cuma mendapat 75 suara.
> > Singkatnya, Gus Dur dan jagonya, Masdar, kalah
> > telak.
> > 
> > Sebuah kekalahan yang wajar dan terhormat karena
> > itulah, memang, pilihan peserta muktamar. Kalah
> > dalam sebuah pemilihan yang demokratis adalah urusan
> > yang sangat normal. Sebab, berani maju dalam sebuah
> > pemilihan memang hanya punya dua konsekuensi, yaitu
> > menang atau kalah.
> > 
> > Konsekuensi yang sudah pasti sangat dipahami seorang
> > Gus Dur, yang di masa Orde Baru dulu memperjuangkan
> > demokrasi dengan melawan arus kekuasaan. Karena itu,
> > setelah Muktamar NU selesai, publik berharap bahwa
> > Gus Dur pun kembali reda dan menghormati hasil
> > muktamar.
> > 
> > Gus Dur memang seorang tokoh yang mbalelo. Ia sering
> > omong seenaknya. Orang pun berharap bahwa ia cuma
> > omong seenaknya hendak membentuk PBNU tandingan.
> > Namun, bukankah Gus Dur pun bisa bertindak
> > sesukanya? Sebagai presiden, Gus Dur mengeluarkan
> > dekrit presiden, yang isinya antara lain membubarkan
> > DPR.
> > 
> > Akibatnya sangat pahit, dekrit itu menjadi alasan
> > sangat kuat bagi diselenggarakannya Sidang Istimewa
> > MPR, yang kemudian menjatuhkan Gus Dur dari kursi
> > presiden RI. Tindakan Gus Dur yang seenaknya justru
> > telah merugikan dirinya sendiri.
> > 
> > Hal serupa kembali terulang jika Gus Dur benar-benar
> > nekat hendak mendirikan PBNU tandingan. Gus Dur yang
> > semula dihormati sebagai guru bangsa, merosot
> > wibawanya setelah dijatuhkan dari kursi presiden,
> > akan semakin melorot lagi nilainya, jika tetap
> > mengikuti emosinya mendirikan PBNU tandingan.
> > 
> > Gambarannya ialah Gus Dur pernah menilai DPR masih
> > di tingkat taman kanak-kanak. Ia, bahkan, menurunkan
> > DPR di level kelompok bermain atau play group.
> > Bersikap 'mutung' terhadap hasil muktamar, lalu
> > mendirikan PBNU tandingan, menyebabkan Gus Dur pun
> > bahkan tak layak masuk play group.
> > 
> > Muktamar atau kongres merupakan wahana yang paling
> > konstitusional dalam menyelesaikan perbedaan.
> > Termasuk, perbedaan dalam memilih pemimpin
> > organisasi. Maka, keputusan muktamar mestinya
> > keputusan yang paling layak dihormati, terlebih dari
> > seorang Gus Dur.
> > 
> > Dari seorang Gus Dur, selayaknya publik tetap
> > berharap keteladanan menjunjung demokrasi. Dan,
> > tetap memelihara keutuhan NU sebagai organisasi
> > Islam terbesar di negeri ini.
> > 
> > 
> > 
> > ---------------------------------
> > Do you Yahoo!?
> > The all-new My Yahoo! � Get yours free! 
> > 
> > [Non-text portions of this message have been
> > removed]
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor
> > --------------------~--> 
> > $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
> >
> http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
> >
> --------------------------------------------------------------------
~->
> > 
> > 
> >
> 
**********************************************************************
*****
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat
> > Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in
> > Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
> >
> 
**********************************************************************
*****
> >
> 
______________________________________________________________________
____
> > Mohon Perhatian:
> > 
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA
> > (kecuali sbg otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg
> > akan dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. Satu email perhari:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 6. No-email/web only:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 7. kembali menerima email:
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > Yahoo! Groups Links
> > 
> > 
> > [EMAIL PROTECTED]
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> 
> 
> 
> 
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Yahoo! Mail - 250MB free storage. Do more. Manage less. 
> http://info.mail.yahoo.com/mail_250
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju 
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-
india.uni.cc
> 
**********************************************************************
*****
> 
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg 
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>               
> ---------------------------------
> Do you Yahoo!?
>  Yahoo! Mail - You care about security. So do we.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke