Politik Citra SBY

Selama ini, apa yang dijanjikan SBY baru dalam tahap kata-kata. 
Tepatnya hanya berupa citra dan niat saja. Belum ada realisasi yang 
konkrit. Mulai dari kasus Aceh yang masih memakan banyak korban, 
Penyelesaian kasus korupsi yang masih belum terlaksana,apalagi 
penegakkan HAM, Nihil.Inilah politik citra SBY, pandai bermain di 
media massa.

Kita harus waspadai itu.

Salam
SA Albana
Sang pengacau kemapanan



--- In [EMAIL PROTECTED], "Budhisatwati KUSNI" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
> Haruskah Rekonsiliasi Menyandera Korban?Catatan Seorang Klayaban:
> 
> SBY DIKEJAR JANJINYA
> 
> 
> Janji SBY yang diajukannya dalam kampanye pemilu baru lalu mencakup 
tiga masalah: [1]. pemberantasan KKN [baca korupsi -- JJK]; [2]. 
mengatasi masalah ekonomi dan [3]. menanggulangi masalah keamanan. 
Tentang masalah pertama, ia berjanji akan melakukan gebrakan berupa 
shock therapy dalam masa kerja 100  hari. Tepat pada hari ini [11 
Desember], Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla 
berumur 52 hari. Artinya  ada tidaknya, dilaksanakan tidaknya dan 
bagaimana ujudnya, ataukah janji-janji itu merupakan retorika pemilu 
belaka, hanya merupakan lip service atau tidak, gebrakan shock 
therapy yang dijanjikannya dalam menangani masalah korupsi masih akan 
bisa kita akan kita kongkretnya dalam 48 hari.
> 
> 
> Sampai sekarang, selama 52 hari yang dilakukan oleh Presiden SBY 
menurut kata-katanya sendiri yang menjadi mata kritik beberapa pihak 
termasuk dari LIPI, terbatas pada mempelajari atau mengenali masalah. 
Padahal sudah menjadi pengetahuan umum bahwa SBY bukanlah orang baru 
di pemerintahan. Ia berada di pemerintahan mulai dari masa 
pemerintahan Gus Dur, melalui pemerintahan Mega dan akhirnya menjadi 
Presiden sehingga alasan mengenali dan mempelajari masalah nampak 
tidak lebih dari suatu dalih belaka untuk menyembunyikan sesuatu. 
Dari sikap ini pertanyaan yang deras mengalir di pikiran kita adalah 
quo vadis SBY, mau apa SBY dan pemerintahannya, apa siapa SBY secara 
hakiki? 
> 
> 
> Selama 52 hari, yang dilakukan oleh pemerintahan SBY adalah 
penangkapan dan akan diperiksanya Gubernur Aceh , Puteh dan 
dicekalnya Gubernur Sumatera Barat [Sumbar] karena masalah korupsi. 
Tentu saja sikap begini baik. Tapi sekalipun demikian, yang 
dipertanyakan apakah Puteh dan Gubernur Sumbar merupakan koruptor-
koruptor klas kakap dan terbesar? Bagi SBY yang bukan lagi orang awam 
di kekuasaan politik tingkat puncak di negeri ini, apakah terlalu 
sulit mengenal koruptor-kuroptor kakap, sementara ia sendiri dikitari 
oleh orang-orang demikian? Saya khawatir untuk menunjukkan kepada 
warganegara Republik ini bahwa ia seseorang yang menepati janji, SBY 
seperti yang biasa dilakukan sejak berdasawarsa, SBY hanya berani 
menyentuh koruptor-kuroptor "kelas kambing" sedang kelas gajah 
dibiarkan lolos dan tidak disentuh. Dibarkan lolos dan tidak disentuh 
dikarenakan SBY oleh imbangan kekuatan yang tidak menguntungkan SBY 
atau memang SBY berasal dari lingkungan yang tidak disentuh dan 
dibarkan lolos itu sendiri. Jika sesudah 100 hari yang dijanjikannya 
lewat dan pada masa-masa selanjutnya SBY tetap melaksanakan taktik 
begini, maka ia makin memperlihat apa siapa dirinya dan bagaimana ia 
mempertanggungjawabkan janjinya. Lain kata lain di perbuatan yang 
jika menggunakan kata-kata Suciwati, istri alm. Munir, "permainan 
kata-kata" dan "bohong" serta "pura-pura" atau hanya "lip service" 
jika menggunakan istilah Sudi Silalahi yang sekretaris pemerintah. 
> 
> 
> Kekhawatiran begini makin muncul ke permukaan ketika mengikuti 
sikap SBY dalam penelitian independen kasus kematian Munir. Ketika 
mengundang Suciwati ke Istana , SBY menyatakan dukungannya terhadap 
pembentukan tim investigasi independen, tapi kemarin, melalui Sudi 
Silalahi, SBY menyatakan penelitian itu diserahkan dahulu kepada tim 
investigasi kepolisian. Secara nyata, pembentukan tim investigasi 
independen yang disetujui ditangguhkan kalau bukan dibatalkan.
> 
> 
> Sampai pada titik ketiga janji pemilu SBY yaitu menanggulangi 
masalah keamanan, berita-berita dari Papua dan Aceh memperlihatkan 
bahwa janji ini pun tidak mengalami perobahan dari yang sebelumnya. 
Pelanggaran-pelanggaran HAM masih saja berlangsung. Saya menyinggung 
soal ini karena dalam penglihatan saya, masalah keamanan dan HAM erat 
tautannya satu dengan yang lain. Pelanggaran HAM menyulut perlawanan 
dari pihak-pihak yang dilanggar HAM-nya. Pendapat ini saya dasarkan 
pada pandangan bahwa  gerakan yang sekarang disebut "gerakan 
separatisme" lahir, pada awalnya tidak lain merupakan reaksi terhadap 
pelanggaran HAM tidak tertahankan lagi di daerah di mana gerakan 
tersebut berlangsung. Perlawanan daerah-daerah itu diangkut oleh 
kendaraan pilihan politik pemerintah Jakarta. Kalau menurut ungkapan 
tetua kita: "tidak asap jika tidak ada api" atau menurut ungkapan 
orang Tiongkok kuno: "Yang menabur angin akan menuai badai!". 
Pelanggaran HAM di negeri ini dilukiskan agak rinci oleh Moh. Samsul 
Arifin sebagai berikut:
> 
> 
> Untuk diketahui, sampai Oktober 2004, Komisi untuk Orang Hilang dan 
Korban Kekerasan (Kontras) menyatakan sedikitnya 129 kasus 
pelanggaran HAM telah dilakukan TNI sepanjang September 2003 hingga 
Oktober 2004. Pelanggaran HAM paling banyak terjadi di wilayah 
teritorial Kodam Iskandar Muda Banda Aceh, yakni mencapai 120 kasus 
(93 persen).Selebihnya, empat kasus terjadi di wilayah Kodam Jaya 
(Jakarta), dua kasus di wilayah Kodam Diponegoro (Jawa Tengah) dan 
satu kasus di wilayah Kodam Wirabuana (Sulawesi)." [Lihat:Moh.Samsul 
Arifin, "Haruskah Rekonsiliasi Menyandera Korban?", Harian Sinar 
Harapan, Jakarta, 10 Desember 2004].
> 
> Selanjutnya Samsul Arifin mengatakan:
> 
> "Di daerah konflik seperti Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua, 
banyak lagi kasus yang belum diapa-apakan alias didiamkan".
> 
> 
> Belum lagi kita bicara tentang Tragedi-tragedi lainnya seperti 
Tragedi Nasional September 1965, Lampung, Tanjung Priok, Semanggi, 
Trisakti, Penembakan misterius "Petrus" (1982-1985), Kasus di Timor 
Timur pra-Referendum (1974-1999), Kasus-kasus di Aceh pra-DOM (1989-
1998), Kasus-kasus di Papua (1966-sekarang), Kasus Dukun Santet 
Banyuwangi (1998), Kasus Marsinah (1995), Kasus Bulukumba (2003). 
> 
> 
> Demikian pun jika SBY menabur angin kebohongan maka ia akan menuai 
badai reaksi warga negera Republik ini. 
> 
> 
> Dari data-data di atas bisa dilihat bahwa betapa jika masalah HAM  
dipisahkan dari masalah keamanan yang merupakan salah satu titik 
janji SBY kiranya sulit dipecahkan dengan tuntas dan adil memuaskan. 
Untuk membenarkan "gerakan separatis" memang sangat gampang dicari-
cari dasar sejarah dan budayanya dengan mengabaikan sisi terang 
lainnya. Hanya saja cara begini saya kira sama tidak rasionalnya 
dengan pihak pelanggar HAM. Ketika kita didominasi emosi pada saat 
itu akal sehat terlempar ke pinggir.   Karena itu saya kira 
pengentasan rasional pelanggaran HAM secara adil merupakan salah satu 
mata program urgen bagi pemerintahan SBY. Termasuk dalam titik 
penanggulangan masalah keamanan. Saya meragukan bahwa jalan pintas: 
pendekatan keamanan dan kestabilan nasional yang penuh kekerasan 
merupakan jalan keluar yang tepat, kecuali memarakkan dendam dan 
mengobarkan perlawanan. Pelanggaran HAM terus-menerus, termasuk 
kebohongan, tidak akan bisa membangun kerukunan nasional. Pelanggaran 
HAM adalah jalan bunuh diri nasional.
> 
> 
> Berdasarkan pandangan ini maka saya melihat, sekarang SBY sedang 
dikejar oleh janji-janjinya sendiri,janji sebagai "Presiden Republik 
Indonesia!" Bukan presiden satu golongan terkuat saja atau beberapa 
kelompok masyarakat saja. Bisakah? Ketetapan hati dan diri SBY 
sendiri sedang ditanyai.
> 
> 
> 
> Paris, Desember 2004.
> --------------------
> JJ.KUSNI
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke