FILE
pro Renungan Akhir Tahun
setahun ini omong cina arab india amrik aussie dll berapa kali?
nonton atau nanggap wayang dan semacamnya berapa kali ?
pantas banyak ngakunya soleh tapi bejat, ngutil teriak antikorupsi,
pokrol belagak pahlawan
Tuhan kasihanilah, Gusti nyuwun sih palimirma
semoga tahun depan lebih baik, bukan merajalelanya batarakalla
Salam
==================================================
--- In koran-sastra:
Wayang dilupa, masyarakat kocarkacir, banyak bajingan sok suci
berkedok agama. Sayang, jago-jago media massa (termasuk Kompas dan
semacamnya?) belum all-out dukung WAYANG. Gimana nih oom Jacob
Oetama dll juga ??? Salam
oooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooo
Bagian 4/4
--- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Adegan 12: Lereng Gunung Kailasa
Dalam perjalanan pulang ke Amarta, di tengah hutan Bima berjumpa
dengan
saudaranya tunggal Bayu, Begawan Kapiwara (Anoman) dari pertapaan
Kendalisada. Anoman bertanya, dari mana Bima datang dan apa maksud
perjalanannya. Bima menceritakan, bahwa ia baru saja menghadap
Dewaruci,
Guru Sejatinya, untuk mohon petunjuk bagaimana caranya menanggulangi
bahaya
Narkoba dan HIV/AIDS yang mengancam generasi muda rakyat Amarta.
Dalam
pertemuan dengan Dewaruci itu, Bima mendapat ilham tentang apa yang
harus
dilakukan
Bima mengatakan, bahwa seluruh lapisan masyarakat, pemerintah dan
pihak
swasta harus mengerahkan segala daya upaya lahiriah, merencanakan,
melaksanakan, dan memantau serta mengevaluasi program-program nyata
untuk
menanggulangi bahaya Narkoba dan HIV/AIDS, namun segala daya upaya
lahiriah
itu tidak akan efektif selama manusia di Amarta tidak kembali
membangun
kontak dengan sumber hidupnya. Anoman bertanya, bagaimana caranya
membangun
kontak dengan sumber hidup kita.
---> Patrap samadi mulat sarira (Latihan meditasi mengenal diri)
Bima: "Untuk dapat menyatu dengan sumber hidupmu, lebih dulu engkau
harus
menyadari apa yang ada dalam batinmu sekarang ini, yaitu setiap
gerak-gerik
cipta, rasa & karsa yang berasal dari dorongan `aku'-mu, pada saat
munculnya. Amatilah cipta-rasa-karsa itu, tanpa melekat padanya
kalau enak,
tapi juga tanpa menolaknya kalau tidak enak; dengan kata lain,
amatilah
cipta-rasa-karsa yang muncul itu dengan batin seimbang, tanpa
melekat,
tanpa menolak. Janganlah memikir ke masa lampau, janganlah memikir
ke masa
depan, karena semua itu hanyalah angan-angan cipta, yang diwarnai
oleh rasa
dan karsa, yang berasal dari si `aku', melainkan beradalah pada saat
kini
terus-menerus."
Anoman: "Lho, apakah tidak perlu memusatkan perhatian pada sesuatu
yang
dituju?"
Bima: "Tidak; latihan pemusatan pikiran itu hanya akan membawa ke
alam
dewata, tetapi tidak memberikan kearifan dan tidak akan membebaskan.
"Kearifan, pencerahan dan pembebasan hanya akan
tercapai bila
cipta, rasa & karsa si `aku' ini dapat berhenti dengan sendirinya,
tapi
tidak dibuat berhenti. Dan si `aku' ini dapat berhenti apabila
diamati
terus-menerus dari saat ke saat, tanpa bereaksi sedikit pun. Oleh
karena
itu ada Hadits Qudsi yang mengatakan: `Man arafa nafsahu, faqad
arafa
rabbahu.' (`Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal
Tuhannya.')
Juga di dalam Alkitab ada perintah Tuhan yang berbunyi: `Diamlah,
dan
ketahuilah Aku Tuhan.' Diam itu bukan hanya diamnya tubuh dan
diamnya
mulut, tetapi juga diamnya cipta-rasa-karsa dari si `aku'. Ada pula
suatu
ayat di dalam Alkitab yang menyatakan: `Sekarang bukan Aku lagi,
tapi Dia
yang hidup di dalam diriku ini.' "
Anoman: "Berapa lama kita perlu berlatih mengamati si `aku' ini?
Kapan
pembebasan itu tercapai?"
Bima: "Itu tidak dapat diperkirakan, bisa cepat bisa lambat. Yang
penting
jangan dipikirkan dan jangan diharap-harap. Kalau diharap, malah
tidak akan
datang. Jadi, sikap yang paling tepat adalah sikap menyerah, tapi
bukan
sengaja hendak menyerah. Si `aku' ini tidak mungkin membebaskan atau
menyelamatkan dirinya sendiri, begitulah dikatakan di dalam kitab
suci; ia
harus berakhir, agar pembebasan muncul.
"Pencerahan dan pembebasan itu akan muncul ketika tidak
diharapkan, seperti pencuri yang datang di malam hari ketika orang
tertidur
lelap.
"Tapi kalau kita bisa tetap mengamati si `aku' ini
tanpa
berhenti, maka batin akan berada pada saat kini terus-menerus, oleh
karena
pikiran yang menyeret batin ke masa lampau dan ke masa depan sudah
berakhir. Waktu, Sang Batara Kala, sudah berakhir, karena waktu
adalah
ciptaan pikiran pribadi yang bergerak. Oleh karena itu, beradalah
pada saat
kini; karena di situlah terdapat keabadian dan pembebasan."
Anoman: "Di manakah tempat yang baik untuk berlatih samadi ini?
Apakah ada
waktu-waktu yang baik untuk berlatih?"
Bima: "Samadi ini dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja,
ketika
cipta-rasa-karsa ini tidak diperlukan untuk menyambung hidup, yakni
tidak
diperlukan untuk belajar, bekerja dan bergaul dengan sesama. Tetapi
sudah
tentu ada saat-saat dan tempat-tempat yang dapat membantu
pelaksanaan
latlihannya, yakni di tempat dan pada saat ketika alam dan manusia
di
sekitar ini sedang dalam keadaan diam dan tenang."
Anoman: "Perlukah kita berguru kepada seorang guru yang mumpuni
untuk dapat
melakukan samadi ini?"
Bima: "Tidak perlu. Gurumu ada di dalam sanubarimu sendiri;
itulah `Guru
Sejati'-mu."
Anoman: "Apakah yang terjadi bila cipta-rasa-karsa yang adalah
si `aku' ini
berakhir? Apakah kita masih bisa hidup di dunia ramai?"
Bima: "Pertanyaanmu itu datang dari si `aku'-mu; tetapi, karena yang
kautanyakan adalah akhir dari si `aku'-mu, maka tidak ada jawaban
yang
dapat memuaskan si `aku'-mu.
"Ketika si `aku'-mu berakhir, ketika pencerahan muncul,
maka
akan kautemukan bahwa gerak kehidupan di alam semesta ini�baik di
luar
dirimu maupun di dalam dirimu�tidak berubah sama sekali; kehidupan
ini,
termasuk kehidupanmu, tetap berlangsung seperti sedia kala.
"Yang tidak ada lagi hanyalah `aku'-mu, yang tidak ada
lagi
hanyalah si `Anoman', si `Bima'. Sebagai gantinya di situ ada Hidup
Sejati,
ada Kearifan Sejati, dan ada pula Cinta Sejati; tapi itu bukan
milikmu, itu
bukan kamu lagi, karena kamu sudah tiada. Itulah yang disebut
pembebasan,
`moksha', `nirwana', `ittihad' atau `hulul'.
"Ingatlah bahwa sejatimu itu tidak ada, begitu pula
sejatiku
tidak ada, sejatinya orang perorangan (individualitas) itu tidak
ada. Itu
sudah tertulis di dalam kitab suci Al-Qur'an Al-Karim: "Kullu
man 'alaiha
faana, wa yabqo wajhu rabbika ..." ("Segala sesuatu akan lenyap
(fana),
yang tetap adalah Wajah Tuhanmu." QS Surah 55, Al-Rahman: 26-27;
juga lihat
QS Surah 28, Al-Qasas: 88.) "
Anoman menyatakan kekagumannya akan pengetahuan dan kearifan Bima.
Ia
mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Bima, lalu minta
diri akan
kembali ke pertapaan Kendalisada. Bima pun meneruskan perjalanannya
pulang
ke Amarta.
Adegan 13: Istana Amarta
Prabu Puntadewa disertai Nakula dan Sadewa sedang duduk di
balairung,
menunggu kedatangan Bima dan Arjuna dari mengemban tugas masing-
masing.
Tak lama kemudian datanglah Prabu Sri Batara Kresna diiring oleh
Gatutkaca.
Prabu Puntadewa menyampaikan keprihatinan para Pandawa.
Tak lama kemudian disusul kedatangan Arjuna bersamaan dengan Bima.
Masing-masing menceritakan hasil perjalanan mereka. Prabu Kresna
memahami
pesan Begawan Abiyasa maupun pendapat Bima yang persis sama dengan
pesan
Begawan Abiyasa.
Tak lama kemudian mendadak datanglah beberapa raja negara tetangga
tanpa
diundang, yaitu: Prabu Baladewa dari Mandura, Prabu Karna dari
Awangga,
Prabu Salya dari Mandaraka, dan Begawan Drona dan Sangkuni dari
Astina.
Para raja itu menyampaikan keresahan yang melanda rakyat masing-
masing,
yang semuanya dilanda oleh wabah Narkoba dan AIDS; bahkan Begawan
Drona dan
Sangkuni yang semula mengharapkan Narkoba akan melanda generasi muda
Amarta, dalam hati juga bingung sekali melihat kenyataan bahwa
bencana itu
ternyata melanda pula rakyat Astina. Para raja dan petinggi berbagai
negara
itu minta nasehat kepada Prabu Kresna, bagaimana cara menanggulangi
bencana
ini. Prabu Kresna mengatakan:
---> Upaya penanggulangan Narkoba
*** Masalah Narkoba adalah masalah dunia; tidak ada satu negara pun
yang
bebas dari masalah Narkoba. Oleh karena itu, penanggulangannya pun
harus
digalang dengan kerja sama di antara bangsa-bangsa.
*** Upaya penanggulangan Narkoba tidak dapat dilaksanakan oleh
aparat
kepolisian saja. Narkoba adalah masalah masyarakat luas, sehingga
penanganannya pun harus dilakukan oleh masyarakat luas. Di sinilah
pentingnya menggerakkan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa, yang
sudah lama
ada tapi kebanyakan tidak berfungsi.
*** Masyarakat harus berupaya sendiri memantau perkembangan Narkoba
di
wilayah masing-masing, mencegah wilayah desanya digunakan sebagai
tempat
transaksi Narkoba, dan membantu mengentaskan setiap anak muda yang
diketahui kecanduan Narkoba.
*** Masyarakat sendiri harus bergerak memberikan penyuluhan ke
sekolah-sekolah, tempat-tempat ibadah, ke RT-RT serta kelompok-
kelompok
pemuda dan perempuan mengenai bahaya Narkoba, tanda-tanda seorang
yang
kecanduan Narkoba, dan apa yang harus dilakukan bila menemukan
seorang
pemakai Narkoba.
*** Dewan Perwakilan Rakyat di pusat dan daerah harus memperbaiki
undang-undang dan peraturan yang menyamaratakan perlakuan terhadap
pengedar/bandar dan pemakai Narkoba; para bandar Narkoba perlu
ditangani
secara hukum, sedangkan para pemakai/korban Narkoba perlu ditangani
secara
kesehatan.
*** Akhirnya Prabu Kresna memperingatkan agar pemerintah mengawasi
jangan
sampai ada aparat keamanan yang dapat disuap oleh sindikat Narkoba
sehingga menimbulkan bencana bagi seluruh bangsa.
<diselingi suluk>
---> Upaya penanggulangan HIV/AIDS
*** Tidak ada satu negara atau bangsa pun yang terhindar dari
masalah
HIV/AIDS. Kita tidak dapat menutup mata bahwa HIV/AIDS sudah
menyebar luas
di masyarakat kita; kita tidak dapat menyalahkan orang asing atau
bangsa
lain sebagai penyebar HIV/AIDS di masyarakat kita.
*** Penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan, melainkan
masalah sosial yang menyangkut seluruh sektor pemerintahan, sektor
perusahaan swasta dan sektor publik (masyarakat luas). Prabu Kresna
mengecam para pejabat di luar jajaran kesehatan yang tidak peduli
dan
bersikap masa bodoh terhadap HIV/AIDS di daerahnya.
*** Upaya penyuluhan mengenai bahaya HIV/AIDS serta cara-cara
pencegahannya
harus diberikan kepada masyarakat seluas-luasnya, terutama kepada
generasi
muda di sekolah-sekolah, tempat-tempat ibadah, di RT-RT, kelompok-
kelompok
pemuda dan perempuan.
*** Tidak kalah pentingnya dengan penyuluhan kepada masyarakat luas
adalah
upaya pemberdayaan pada kelompok-kelompok berisiko tinggi agar
setiap orang
dapat melindungi diri sendiri dari tertular HIV. Ini perlu
ditekankan
karena tingkat penyebaran wabah HIV/AIDS sampai sekarang masih
terbatas
pada kelompok-kelompok berisiko tinggi itu, yakni para pelaku seks
berganti-ganti pasangan dan pengguna Narkoba suntik. Namun jika
setiap
orang tidak diberdayakan untuk melindungi diri, maka dikhawatirkan
dalam
waku tidak lama lagi HIV/AIDS akan menyebar ke rumah tangga-rumah
tangga di
masyarakat luas.
*** Upaya pemberdayaan warga agar setiap orang dapat melindungi diri
sendiri adalah dengan memberikan informasi seluas-luasnya tentang
cara-cara
pencegahan secara benar, lengkap dan tidak ditutup-tutupi.
Cara mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual ada tiga,
yang dikenal sebagai pesan "ABC", ditambah pesan Narkoba, yaitu:
(1) "A" = `abstinensi', tidak melakukan hubungan seksual sebelum
menikah;
(2) "B" = `bersetia' kepada pasangan hidup bila sudah menikah dan
tidak
melakukan hubungan seksual dengan orang ketiga;
(3) "C" = `condom', yang harus digunakan dalam setiap hubungan
seksual,
bila tidak dapat menahan diri dengan cara #1 dan #2; dan
(4) Mencegah penyebaran HIV lewat Narkoba suntik dengan:
(a) menghindari atau menghentikan pemakaian Narkoba sama sekali;
dan
(b) bila sudah kecanduan Narkoba suntik dan belum dapat sembuh,
selalu
menggunakan alat suntik yang baru, atau membersihkan alat suntik
dengan zat
pemutih.
Semua cara ini perlu disebarluaskan secara benar, lengkap tanpa
ditutup-tutupi.
*** Cara lain yang penting untuk mencegah penularan HIV ialah dengan
mengobati sedini mungkin bila ada penyakit kelamin. Ini disebabkan
karena
seorang yang mengidap penyakit kelamin mempunyai risiko jauh lebih
tinggi
untuk tertular HIV dibandingkan dengan orang yang tidak mengidap
penyakit
kelamin, bila ia berhubungan seksual dengan seorang ODHA
*** Penanganan penyakit kelamin penting dalam lingkungan lokalisasi
pelacuran, oleh karena banyak di antara para pekerja seks mengidap
penyakit
kelamin. Oleh karena itu, mereka harus sering dipantau kesehatannya
dan
diobati bila perlu.
*** Masalah lokalisasi pelacuran perlu ditangani dengan berhati-hati
dan
bijaksana. Adanya lokalisasi yang diawasi dengan ketat bisa
digunakan untuk
menerapkan kewajiban menggunakan kondom 100 persen di lingkungan
lokalisasi
bersangkutan. Pelanggaran terhadap kewajiban ini dapat dipantau
secara
tidak langsung dengan memantau terjadinya penyakit kelamin di
kalangan PSK,
karena adanya penyakit kelamin menandai hubungan seksual tanpa
menggunakan
kondom.
*** Pencegahan HIV di lingkungan penjara, rumah tahanan dsb sangat
penting
oleh karena angka HIV di kalangan penghuninya jauh lebih tinggi
dibandingkan dengan angka HIV di masyarakat umum, sedangkan
hubungan
seksual sesama jenis tanpa terlindung dan penggunaan Narkoba suntik
diketahui marak terjadi di lingkungan itu.
*** Cara lain yang juga penting ialah dengan menawarkan tes darah
untuk HIV
kepada setiap orang yang merasa berperilaku berisiko tinggi. Apabila
kedapatan positif HIV, mereka dapat diberi konseling dalam suasana
bersahabat agar menggunakan kondom apabila berhubungan seks. Apabila
kelak
penyakit AIDS sudah muncul, mereka dapat dirujuk untuk memperoleh
pengobatan anti-AIDS agar kesehatannya pulih kembali, sekalipun
virusnya
tidak dapat dibasmi dari dalam tubuhnya.
*** Cara terakhir ini hanya akan berhasil jika cap buruk (stigma)
dan
diskriminasi yang dikenakan masyarakat terhadap ODHA dapat
dihilangkan.
Masyarakat perlu memahami hal ini, dan berupaya mengatasi setiap
gejala
pemberian cap buruk & diskriminasi terhadap ODHA yang muncul di
masyarakat.
Untuk itu perlu diberi penyuluhan seluas-luasnya bahwa AIDS bukan
lagi
penyakit yang mematikan seperti dulu, melainkan penyakit menahun
yang sudah
ada obatnya. Juga perlu diberikan penjelasan cara-cara penularan HIV
yang
tidak mudah, dan bahwa HIV tidak menular melalui pergaulan sehari-
hari.
*** Lebih baik lagi kalau masyarakat dapat melibatkan ODHA dalam
setiap
kegiatan penyuluhan di masyarakat luas. Dengan demikian masyarakat
akan
akrab dengan kehadiran seorang ODHA, dan akan melihat AIDS sebagai
penyakit
yang berwajah manusiawi dan tidak lagi menakutkan.
<diselingi suluk>
Demikianlah uraian Prabu Kresna mengenai cara-cara menanggulangi
Narkoba
dan HIV/AIDS di masyarakat. Setelah mendengarkan uraian tersebut,
para raja
negara tetangga itu mengucapkan terima kasih dan mohon pamit. Satu
per satu
mereka keluar dari balairung, kecuali Prabu Baladewa yang tetap
tinggal
mendampingi Prabu Kresna di istana Amarta.
Tak lama kemudian, terdengar kegaduhan di luar istana. Patih
Tambakganggeng menghadap dan melaporkan bahwa di alun-alun Amarta
telah
muncul raja raksasa dari Tawanggantungan, Prabu Ditya Kalapeteng
beserta
dua orang patih dan beberapa punggawanya menantang perang. Gatutkaca
dan
Bima pun keluar melayani tantangan itu.
Adegan 14: Alun-Alun Amarta
Gatutkaca berperang menghadapi para punggawa Tawanggantungan, yang
semuanya
berhasil ditewaskannya.
Akhirnya Bima berhadapan dengan Prabu Ditya Kalapeteng, Patih Ditya
Kalaangkara dan Patih Ditya Kalaserakah bertiga sekaligus.
Terjadilah
pertempuran sengit antara Bima seorang diri dengan ketiga raksasa
yang
mengeroyoknya itu. Akhirnya ketiganya berhasil ditewaskan dengan
tusukan
kuku Pancanaka-nya.
Setelah ketiga raksasa itu menjadi mayat bertumpukan, terjadilah
keajaiban
alam. Ketiga-tiganya lenyap dari penglihatan Bima, dan kembali
kepada
asal-usul mereka semula, yakni Kegelapan Batin, Angkara Murka dan
Keserakahan yang bersemayam di dalam hati sanubari setiap manusia
yang
belum tercerahkan, yang belum bebas. Bima merasa heran melihat
kejadian
itu, dan kembali ke persidangan di istana.
Adegan 15: Istana Amarta
Prabu Puntadewa bersama Prabu Kresna dan Prabu Baladewa dihadap oleh
para
Pandawa, putra Pandawa dan para panakawan. Bima menghadap dan
menyampaikan
kejadian lenyapnya ketiga raksasa dalam pertempuran yang baru saja
terjadi.
Semar mengemukakan hakikat sejati dari ketiga raksasa itu, yakni
angkara
murka, keserakahan serta kegelapan batin yang ada di dalam sanubari
setiap
manusia yang belum tercerahkan, dan memberi isyarat bahwa Bima telah
behasil mengalahkan ketiga-tiganya di dalam sanubarinya. Semar
menandaskan,
bahwa untuk dapat menyatu kepada sumber hidup kita dan mencapai
pembebasan,
lebih dulu ketiga raksasa itu harus dikalahkan dalam diri kita
masing-masing.
Prabu Kresna menutup persidangan itu dengan mengingatkan para
Pandawa dan
putra Pandawa akan dharma mereka mengayomi, melindungi dan
mengentaskan
para kawula dari penderitaan, kemiskinan dan kesengsaraan.
<Tancep Kayon>
[Non-text portions of this message have been removed]
--- End forwarded message ---
--- End forwarded message ---
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/