http://www.indomedia.com/bpost/122004/20/opini/opini1.htm Senin, 20 Desember 2004 02:47
Satu Hari Lagi Untuk Kaum Perempuan Oleh : Husnul Warnida SSi Apt Sepanjang tahun, tak habis-habis kita mendengar, membaca dan menyaksikan peringatan untuk kaum perempuan. Dari peringatan yang resmi diakui pemerintah seperti Hari Kartini (21 April) dan Hari Ibu (22 Desember), juga yang 'diharamkan' Rezim Orde Baru semacam Hari Perempuan Internasional (8 Maret). Juga ada momen lain yang terkait kaum perempuan, semisal peringatan DUHAM (10 Desember) dan Hari Buruh Internasional (1 Mei). Salah satu momen yang banyak dimanfaatkan kelompok perempuan adalah Hari Penghapusan Kekerasan Internasional, yang jatuh pada 25 November. Beragam komentar dilontarkan atas kegiatan peringatan ini, banyak yang keberatan, tak sedikit yang mendukung. Terlepas dari berbagai komentar, momen ini membawa secercah kesadaran pada posisi marjinal kaum perempuan. Deklarasi PBB mengenai kekerasan terhadap perempuan (23 Februari 1994) menyebutkan, kekerasan terhadap perempuan (KTP) dapat berupa kekerasan fisik, psikologis dan seksual. Dapat terjadi di dalam rumah mencakup kekerasan dalam rumah tangga, perundungan seksual terhadap anak (child-abuse), kekerasan yang berkaitan dengan mahar, pembunuhan yang dikaitkan dengan kehormatan dan pengabdian (sati), perkosaan dalam perkawinan (marital rape), pembuntungan alat kelamin perempuan (female genital mutilation), dan praktik tradisional lain yang mencelakai perempuan. KTP juga bisa terjadi di ruang publik, termasuk perkosaan, perundungan dan pelecehan seksual, intimidasi di tempat kerja dan ruang publik lainnya, perdagangan perempuan, pemaksaan menjadi pekerja seks dan pekerjaan yang berkaitan dengan seks. Negara pun bisa menjadi pelaku KTP. Secara langsung terjadi di daerah konflik bersenjata. Kekerasan struktural secara tidak langsung melalui peraturan atau kebijakan yang dipaksakan kepada perempuan, misalnya pemaksaan penggunaan alat kontrasepsi. Satu lagi, kekerasan terhadap perempuan dalam media massa melalui penggunaan bahasa dan gambar yang secara ideologis merendahkan, menghina dan menghakimi perempuan. Mengapa perempuan rentan terhadap kekerasan? Menurut Mohammad Sobary, perempuan lebih rentan terhadap kekerasan karena kekhususan yang dimiliki tubuhnya. Alasan yang sangat tidak manusiawi untuk melakukan tindak kekerasan, mengingat kemampuan tubuh perempuan untuk bereproduksi adalah kodrati dari Tuhan. Namun jenis kelamin bukan semata alasan. Faktor penjelas lain adalah struktur dan kebudayaan. Sistem dan struktur kebudayaan yang patriarkat menciptakan pembagian ruang berdasarkan gender (jenis kelamin sosial), di mana ruang publik adalah domain laki-laki dan ruang domestik diberikan untuk perempuan. Pada gilirannya, kerja domestik dianggap lebih rendah dibanding kerja publik. Kerja domestik dianggap bukan pekerjaan, sehingga pekerja rumah tangga kita terpaksa dibayar murah dan cenderung luput dari payung hukum. Budaya patriarkat yang cenderung mengunggulkan laki-laki juga menimbulkan relasi kuasa yang timpang. Dalam relasi itu, laki-laki sebagai pihak yang lebih kuat belajar mengendalikan dan mengontrol perempuan. Tetapi patriarkat bukan semata dominasi laki-laki atas perempuan. Patriarkat adalah sebuah institusi kasat mata yang menekan baik laki-laki maupun perempuan. Ideologi patriarkat kemudian diadopsi negara untuk melanggengkan kekuasaan melalui berbagai tindak kekerasan. Patriarkat juga dapat tersublim melalui kapitalisme global, di mana pemilik modal menindas buruh laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini buruh perempuan mengalami tiga lapis kekerasan, dari pasangan seksualnya, pemilik modal dan negara. Relevansi Hari Penghapusan Kekerasan Peringatan Hari Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan Se-dunia dicanangkan pada 25 November 1981 di Bogota, Kolombia. Diprakarsai oleh para perempuan yang menamakan diri Feminis Enncuentro I untuk Amerika Latin dan Karibia, dalam rangka memperingati pembunuhan keji terhadap aktivis perempuan dan buruh, kakak beradik Miraval, oleh pemerintah diktator Trujillo di Republik Dominika pada 25 November 1960. Tak lama sesudahnya, pada 6 Desember, terjadi pembantaian terhadap 14 mahasiswi fakultas teknik di Montreal, Kanada, yang dianggap merebut hak khusus laki-laki. Tragedi ini dikenal dengan The Montreal Massacre. Kedua peristiwa ini menjadi momentum bagi gerakan perempuan se dunia untuk melakukan kampanye menolak tindak kekerasan terhadap perempuan. Kampanye berlangsung selama 16 hari, dimulai 25 November dan berakhir 10 Desember, bertepatan dengan deklarasi hak-hak asasi manusia. Duapuluh tiga tahun melakukan kampanye, bukan jaminan kaum perempuan terlepas dari ancaman kekerasan. Di seluruh penjuru dunia, perempuan mengalami tindak kekerasan atas nama tradisi, adat, agama. Konstruksi keperempuanan memainkan peranan dalam pelecehan terhadap perempuan. Dengan dalih menyalahi keperempuanannya, kemandirian, sikap kritis dan keberanian perempuan diberangus. Yang tersisa adalah sterotipe perempuan lemah lembut, pasrah dan manut. Kekerasan terhadap perempuan lebih dari sekedar dikotomi laki-laki dan perempuan. Yang terutama adalah membongkar bangunan patriarkhal. Bukan hal mudah, hampir semua institusi sosial mengadopsi nilai patriarkat, baik lembaga negara, hukum, pendidikan, agama, norma, media massa, keluarga dan tentunya kemiliteran. Reproduksi nilai patriarkat melalui bangku sekolah, paparan media, ajaran agama dan produk hukum negara semakin memperkokoh jaring yang membelit perempuan. Sepanjang sejarah Indonesia modern, berbagai tindak kekerasan terhadap perempuan tidak diakui, bahkan dihapus dari lembar sejarah. Sebut saja pembantaian dan perkosaan terhadap perempuan anggota Gerwani dan yang 'dianggap' anggota Gerwani, serta penjeblosan mereka ke penjara tanpa terbukti bersalah. Setelah keluar dari penjara pun nama mereka tidak pernah direhabilitasi. Pemaksaan perempuan menjadi jugun ianfu (comfort women) pada masa penjajahan Jepang. Serangan seksual yang dialami kaum perempuan di daerah konflik di Timor Timur, Aceh dan Papua. Perkosaan massal perempuan etnis Tionghoa di Jakarta pada Mei 1998. Semua itu adalah sejarah kabur bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Stigmatisasi Gerwani oleh penguasa Orde Baru malah telah melumpuhkan pergerakan perempuan Indonesia. Gerakan perempuan dipolitisasi menjadi organisasi istri yang mensubordinasi perempuan, di mana hirarki tergantung pada jabatan suami, bukan pada kemampuan pribadi. Menurut Thamrin A Tomagola, siklus kekerasan terhadap perempuan dapat diputus jika perempuan memiliki akses setara dalam sumberdaya strategis yang bersifat ekonomi maupun nonekonomi. Ketimpangan akses ini yang menyebabkan pembedaan konstruksi sosial laki-laki dari perempuan. Meminjam istilah Simone de Beauvoir, perempuan menjadi the other yang lain. Tersisih dan disisihkan. Mengubah konstruksi sosial, mengubah relasi dominasi, menuju dunia yang lebih adil bagi semua pihak. Mungkin itu beberapa dari sekian jawaban yang diperjuangkan kaum perempuan. Salah satunya lewat 16 hari kampanye menolak kekerasan terhadap perempuan. Dua puluh tiga tahun kampanye belum apa-apa. Kita masih harus melakukannya tahun depan, tahun depannya, tahun depannya lagi. Tapi bukan berarti ini sia-sia. Konstruksi sosial adalah buatan manusia, bukan takdir Yang Maha Kuasa. Kita bisa membuat, kita juga bisa mengubah. Jalan masih panjang. Relawan CMR-PKBI, tinggal di Banjarmasin Copyright � 2003 Banjarmasin Post ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

