http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=147002
Senin, 20 Des 2004, Orang Kuat Baru Jusuf Kalla muncul sebagai orang kuat baru. Kini, dia memegang tiga jabatan yang berisiko tinggi. Dia wakil presiden. Dia ketua umum baru DPP Partai Golkar. Dan, dia masih berlatar belakang pengusaha besar, meski tidak lagi mengendalikan sendiri sejumlah perusahaannya. Terpilihnya Kalla menjadi ketua umum baru Golkar menunjukkan bahwa dia tidak cukup tegar dan tidak cukup percaya diri. Sebab, Golkar di bawah Akbar Tandjung tidak mendukung pencalonannya sebagai Wapres yang berpasangan dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kalla khawatir kekuasaannya bersama SBY diganggu anggota dewan dari Golkar. Karena itu, dia memutuskan maju menjadi ketua umum baru Golkar untuk mendepak Akbar. Dengan menjadi ketua umum Golkar, dia akan mengendalikan wakil rakyat asal Golkar agar tak rewel terhadap pemerintahannya. Tetapi, pilihan Kalla tersebut ibarat mengobati sakit dengan hanya memberi obat penghilang rasa sakit. Sakitnya memang hilang sementara. Tapi, akar sakitnya tetap tidak terobati. Pada waktu berikutnya, sakit itu akan kambuh. Bahkan, rasa sakitnya akan lebih hebat. Sebagai ketua partai pemenang Pemilu 2004 dengan anggota DPR yang mayoritas, bisa saja Kalla mengendalikan anak buahnya. Parlemen pun sangat mungkin tidak lagi rewel terhadap pemerintah. Dengan ancaman akan di-recall, mungkin saja wakil rakyat dari Golkar menjadi anak manis parlemen. Namun, misalnya, kalau duduk perkaranya adalah anggota DPR asal Golkar yang kritis terhadap pemerintah menyuarakan kepentingan masyarakat lantaran kinerja pemerintahan Kalla bersama SBY buruk, sikap kritis itu akan diambil alih langsung oleh masyarakat. Jika itu terjadi -masyarakat yang melakukan tekanan pada pemerintah tanpa melalui parlemen-, hal tersebut sangat berbahaya. Sebab, sikap kritis masyarakat yang tidak puas terhadap kinerja pemerintah bisa memicu aksi jalanan yang tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh Kalla dan SBY sekalipun. Selain itu, dengan Kalla yang kini merangkap tiga posisi sekaligus -wakil presiden, ketua umum Golkar, dan masih berlatar belakang pengusaha-, hal tersebut akan menjadi contoh buruk dalam pendidikan politik. Pertama, patut diragukan bahwa dia tidak akan mengalami konflik kepentingan antara posisinya sebagai Wapres, ketua umum Golkar, dan pengusaha. Kedua, dalam tradisi demokrasi yang mengutamakan check and balances antara parlemen, partai, dan pemerintah, Kalla justru mengajarkan preseden yang buruk. Bukan check and balances, melainkan memusatkan tiga kekuasaan pada satu tangan yang memunculkan orang kuat secara ekonomi dan politik. Padahal, munculnya orang kuat secara ekonomi dan politik sama dengan membuka peluang munculnya langgam kekuasaan yang otoriter. Ketiga, usia Kalla yang sudah lebih dari 60 tahun -setidaknya lebih tua daripada Akbar- sama dengan menghambat kaderisasi, regenerasi, serta vitalisasi di Golkar. Karena tiga hal itu tampak kental, bisa dipahami, pimpinan partai lain menduga bahwa motif Kalla untuk memimpin Golkar cenderung ditujukan untuk mendepak Akbar guna menyelamatkan kekuasaannya. Bukan merupakan pendidikan politik dari tokoh yang berjiwa negarawan. Bukankah seharusnya begitu tokoh partai terpilih menjadi pemimpin bangsa, berakhirlah kesetiaan pada partainya karena ada kesetiaan yang lebih besar? Yakni, kesetiaan pada negara dan bangsa. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

