http://www.kompas.com/kompas-cetak/0412/20/opini/1420025.htm Senin, 20 Desember 2004
Kualitas Kerukunan Beragama Kita Benny Susetyo HANCURNYA keadaban publik membuat tata nilai kabur karena hidup ini tampak hanya digerakkan oleh apa yang terlihat secara inderawi belaka. Kehidupan seperti ini, yakinilah, hanya akan membawa masyarakat Indonesia hidup tanpa visi untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih beradab. Visi Indonesia ke depan ditentukan oleh bagaimana kultur beradab dijadikan acuan atas perilaku dalam kehidupan bersama. Peranan agama menjadi amat penting, tetapi bila dia berposisi sebagai poros yang memainkan perannya sebagai penyimbang dalam dua poros utama, yakni negara dan pasar. Itu kita katakan karena selama ini agama sering terjebak pada permainan negara dan terjerumus dalam logika pasar kapitalisme global yang halus tetapi mencelakakan. Agama harus dikembalikan perannya sebagai penyeimbang dalam kedua kekuatan besar tersebut. Itulah yang penulis maksud dengan upaya untuk merenda habitus baru bangsa dan upaya untuk merumuskan kultur bangsa yang beradab. Jelas bahwa orientasi hidup beragama tidak hanya sekadar mencari kerukunan antara agama satu dan lainnya, setelah itu kita beranggapan everything is over. Justru setelah kerukunan agama tersebut hidup berkelanjutan, hal itu harus menjadi modal bangsa untuk membangun dan mencari keseimbangan di antara posisi negara dan pasar, antara perancang kebijakan politik dan para pelaku ekonomi. Jadi masalahnya adalah bagaimana kerukunan hidup beragama itu bisa menjadi modal dasar untuk membangun sebuah cara pandang, cara merasa, dan cara perilaku sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan. Dengan cara seperti itu, berarti agama dalam masyarakat adalah sebagai roh dan semangat untuk membangun dan bukan agama sebagai tujuan yang dilegal-formalkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Agama akan menjadi roh pembebas masyarakat dari ketakutan akan represi negara maupun ketertindasan eksploitasi ekonomi. AGAMA tidak menjadi orientasi hidup, melainkan untuk menjadikan hidup ini lebih berorientasi pada kemanusiaan. Itulah sekiranya tujuan terpenting beragama yang sering terselewengkan dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Yakni ketika agama dijadikan sebagai manifesto simbolik yang harus ditegakkan dengan pedang daripada dijadikan pewarna kehidupan kita untuk memperkuat semangat. Kualitas kerukunan beragama amatlah ditentukan oleh masyarakat sendiri, sejauh politik tidak menggunakan agama sebagai aspirasi. Masalahnya, di Indonesia ini agama sering dijadikan instrumen kekuasaan daripada sebagai pewarna dan pengarah. Inilah yang membuat agama sering mandul dalam diri para pengkhotbah dan para pemeluknya. Sebab, ia tidak pernah dibatinkan dalam perilaku, tetapi lebih dijadikan komoditas politik dan ekonomi untuk kepentingan jangka pendek dan amat sempit. Orientasi beragama justru bukan untuk mengembangkan keadaban publik, tetapi lebih pada bentuk lahiriahnya saja. Pada akhirnya umat beragama hanya mencari identitas diri di bawah simbol-simbol perlawanan yang berdarah, bukan perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan. Persoalan identitas yang simbolistik inilah yang membuat kerukunan kita hanya semu. Orientasi beragama hanya sekadar to have religion bukan to be religion. Agama kehilangan jati diri dan nuraninya seba- gai entitas pembawa kedamaian dan keadilan. Agama hanya dipahami parsial lewat ketakutan dan dihilangkan unsur rasionalitasnya. Kalau politik seperti ini yang dikembangkan, kerukunan agama tidak akan lestari karena ia akan mudah diledakkan menjadi konflik laten. KUALITAS beragama bisa diukur bila kesalehan tidak sekadar bermakna individual, melainkan sosial. Kesalahen sosial akan melahirkan sikap-sikap kemanusiaan dalam berbagai kebijakan politik maupun ekonomi. Seharusnya yang dipentingkan bukan hanya jumlah rumah ibadatnya saja, melainkan pada orientasi hidup yang bernilai pemekaran pada nilai kebersamaan, solidaritas, dan kesetiakawanan. Nilai-nilai ini hanya bisa ditumbuhkan bila agama menjadi inspirasi batin. Tetapi, tampaknya hal ini belum terwujud secara optimal karena kerukunan agama hanya dalam wacana belaka dan belum menjadi habitus bangsa. Kerukunan belum menjadi menjadi cara pandang, cara berpikir, dan cara berperi laku manusia-manusia beragama di Indonesia. Pluralitas yang seharusnya menjadi modal utama untuk pembentukan karakter bangsa berjalan terseok-seok. Agama sendiri terjebak pada hal-hal ritual. Akibatnya, cara beragama masyarakat hanya upaya mengejar simbol. Hal ini membuat agama tidak mampu menjadi dirinya sendiri dan gagal menjadi penyeimbang dua kekuatan utama, yakni negara dan pasar. Dengan demikian, hal yang mendasar ditumbuhkan adalah bagaimana masing- masing agama dan para pemeluknya mengembalikan wajah agama menjadi lebih manusiawi. Orientasinya adalah agar agama berpihak kepada realitas kemiskinan, ketidakadilan. Sebab, di situlah agama memiliki wajahnya yang lebih profetis. Dia harus menjadi sumber moralitas dalam kehidupan ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar agama menjadi dirinya sendiri dan yang lebih penting adalah menjadi media komunikasi iman dalam mengubah kehidupan ini. Tampaknya kini yang dibutuhkan adalah paradigma baru, yakni bagaimana para pemimpin agama berani menafsirkan teks sesuai dengan konteks politik, budaya, ekonomi pada waktu ini, bukan sesuai dengan setting history masa lampau. Dengan menafsirkan teks dalam konteks zaman ini, para pemuka agama akan mampu keluar dari kaca mata eksklusif dan berubah menjadi inklusif. Pemahaman yang lebih inklusif inilah yang seharusnya dimiliki oleh para pemuka agama di negara kita. Dengan pemahaman seperti ini maka dialog agama akan lebih berkembang menjadi dialog kehidupan. LEMBAGA agama yang belum optimal memainkan peranannya sebagai komunitas "pemutus kata" dan hanya sebagai komunitas "pengiya kata" maka konsekuensinya mereka akan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang semu dan tidak mendasar. Lembaga agama hanya berdialog dalam level teologis, tetapi tidak menyentuh masalah mendasar, yakni masalah kemiskinan, pengangguran, dan berbagai ketidakadilan struktural lainnya. Inilah yang membuat lembaga agama tidak memainkan diri sebagai kekuatan penyeimbang dan membuat kerukunan hanya sekadar seremonial belaka. Inilah agenda mendasar yang perlu dipikirkan oleh umat beragama untuk secara serius memikirkan masa depan bangsa ini. Hancurnya keadaban publik sudah hampir sempurna. Realitas lembaga agama yang cuek dengan masalah ini justru akan menjerumuskan diri pada masalah yang amat tidak mendasar dan tidak perlu dijadikan perdebatan. BENNY SUSETYO PR Rohaniwan ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

