Apakah Bapak Muh. Amrah mengetahui liku2 Petani ???, baik buah dan Pangan, kebetulan ada beberapa hal yang membuat kami tidak habis pikir untuk masalah ini. dengan membandingkan dengan Thailand yang kebetulan kami pernah ke sana. jujur kami melihat di Thailand antara Industri Manufacturing dan Industri Agrobusiness maju secara bersama-sama, demikian juga dengan masalah Kok Apel Washington bisa lebih murah dari pada Apel Malang. Sebetulnya masih banyak lagi hal2 yang ingin kami shearing apabila Bapak mengetahui dan mendalami masalah pertanian di Nusantara ini Salam, budiman ----- Original Message ----- From: Muh. Amrah To: [EMAIL PROTECTED] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, December 20, 2004 10:53 AM Subject: Re: [ppiindia] Dialog Mamad dan Djadjang tentang Subsidi BBM Kwik Kian Gie * FYI .. Asyik juga bacanya .... Saya yang nggak ngerti banyak ekonomi jadi lebih jelas .. subsidi BBM itu Oh jadi BBM yang dari hasil bumi kita .. itu bukan kita prioritasnya tapi seluruh dunia/Amerika dulu baru kita ... Saya dulu gablek Ekenomi ini mengira, bahwa BBM itu disiapkan dulu untuk komsumsi dalam Negeri, jadi diambil sample beberapa bulan kira2 perbulan berapa pemakaian BBM kita nah dari situ bisa diperkirakan berapa pemakian kita pertahun. Nah selanjutnya kita bandingkan dengan produksi pertahun. Jika ada lebihnya baru dijual .... Jauh beda dengan ekonomi petani yachhh ... Kalau petani jika hasil panennya udah dapet, nah perkiraaan yang dibutuhkan sampai panen berikutnya disimpan digudang/lumbung lebihnya/sisanya baru dijual. Walaupun sebenarnya jenis padinya/gabahnya termasuk yang unggul, klo di jual harganya jauh diatas dari yang biasa dia makan sebelumnya, ( mungkin untung lebih jika padi itu di jual dulu baru beli yang seperti yang biasa dia makan ). Namun karena manajemen "Petani" bukan ahli ekonomi/professor, berpikir (Pikirannya tidak abstrak, nggak terlalu banyak mimpi). "Menikmati langsung jerih payah sendiri lebih nikmat". "Toh itu milik kita, jangan dilihat harganya" Tapi prinsip petani ini dirusak sama Bulog .. Yang bagus dijual .. entar yang jelek disimpan baru dibagi sama pegawai negeri, gimana pegawai negeri mau bisa melayani rakyat dengan baik, lah di berikan makanan yang kualitasnya rendah. Pantes aja yach .... Yach kita jarang menikmati hasil pertanian, tambak, perkebunan yang kualitasnya baik. Abis banyak dijual keluar/ekspor. Mungkin karena itu juga kali yach kita entar menjadi tamu di negeri sendiri. Salam dari "Petani" Muh. Amrah ----- Original Message ----- From: "BUD'S" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, December 17, 2004 10:35 PM Subject: [ppiindia] Dialog Mamad dan Djadjang tentang Subsidi BBM Kwik Kian Gie * > > Dialog Mamad dan Djadjang tentang Subsidi BBM > > Kwik Kian Gie * > > SEPERTI orang-orang lain, Mamad dan Djadjang banyak menonton TV yang penuh dengan acara kampanye calon presiden. Yang melakukan kampanye tentu sangat banyak ekonom terkenal dan hampir semuanya bertitel doktor. > > Bahkan, banyak yang profesor. Mamad (M) dan Djadjang (D), mahasiswa Ekonomi dan baru tingkat tiga. Jadi, belum banyaklah pengetahuannya. Tetapi sedikit-sedikit, kalau hanya yang mendasar saja cukup mengerti. > > Mereka tidak mengerti satu hal, yaitu tentang subsidi bahan bakar minyak (BBM). Maka, di antara mereka terjadi diskusi tentang hal ini. Diskusi berjalan sebagai berikut: > > D: Mad, apakah elo perhatikan juga ketakutan para ahli ekonomi yang menjadi tim suksesnya para capres tentang meningkatnya subsidi BBM yang begitu menggila. Mereka kan terus mengatakan bagaimana presiden baru nanti mengatasinya, siapa pun dia itu nanti yang terpilih. > > M: Memang gue perhatikan Djang. Hanya saya tidak mengerti apa yang diartikan dengan subsidi? > > D: Bodoh amat elo, Mad. Subsidi itu artinya sumbangan untuk tujuan tertentu. Misalnya, elo sangat membutuhkan rumah yang paling sederhana, dan harganya Rp 10 juta, tetapi elo cuma punya uang Rp 8 juta. Gue baik hati dan memberi elo kekurangan yang Rp 2 juta dengan cuma-cuma. Itu namanya gue memberi elo subsidi Rp 2 juta supaya bisa membeli rumah. > > M: Jadi elo benar-benar keluar Rp 2 juta uang betulan untuk disumbangkan kepada gue? > > D: Jelas dong, memangnya gue bisa mencetak uang palsu tanpa ketahuan? > > M: Gue tanya ini karena para ekonom itu mengatakan bahwa pemerintah akan babak belur mengeluarkan subsidi BBM puluhan triliun rupiah. Gua tidak mengerti mengapa kalau harga BBM di pasar dunia membubung tinggi, pemerintah mesti keluar uang? Minyak bumi itu kan ada di dalam perut bumi Indonesia? > > D: Iya, rumah sangat sederhana yang elo beli itu kan juga ada di Depok? Terus apa yang mau elo katakan? > > M: Rumah itu milik pengembangnya, dan untuk membangun rumah itu, pengembang rumah benar-benar keluar uang Rp 9,5 juta. Dia ingin laba Rp 0,5 juta. Maka memasang harga mati Rp 10 juta. > > D: Lho iya, tetapi dalam hal minyak kan tidak ada yang punya. Itu kan terdapat dalam perut bumi Indonesia yang miliknya rakyat semuanya? Kalau itu disedot sampai keluar, harganya minyak mentah itu kan tidak ada? Artinya, untuk minyak mentahnya kan tidak ada yang keluar uang? > > M: Memangnya disedot pakai mulut? Untuk menyedot minyak supaya bisa keluar dari perut bumi kan butuh peralatan mahal, dan ini semuanya kan pengeluaran betulan? Masa elo katakan tidak ada uang yang keluar? > > D: Ada Mad, gue memang tidak pandai seperti elo, tapi kalau dianggap tidak mengerti menyedot minyak butuh peralatan, elo menghina gue dong. > > M: Terus, yang elo artikan apa? > > D: Begini lho Djang. Semua biaya peralatan dan biaya untuk tenaga manusia yang harus dikeluarkan untuk menyedot minyak kita catat. Lantas biaya penggarapan sampai menjadi bensin kita tambahkan. Dalam proses itu, dihasilkan berbagai macam produk yang laku dijual. Hasil penjualannya kita kurangkan. Kan keluar sebuah angka? Angka ini pasti jauh lebih kecil dari harga bensin per liter, apakah itu premium maupun premix. > > M: Susah ngomong sama elo, lha minyaknya yang disedot itulah yang paling mahal, dan oleh elo dihargai nol. Ya terang saja jauh di bawah harga bensin per liternya! > > D: Kalau tidak dihargai nol, terus dihargai berapa? > > M: Ya harga yang setiap harinya ditentukan oleh pasar minyak di New York dan diumumkan oleh Reuters itu, yang sekarang membubung sampai 40 dollar AS per barrel. Kalau ini ditambahkan dengan hitung-hitungan elo tadi, harganya selangit, tapi pemerintah hanya menerima Rp 1.850 untuk premium dan Rp 2.150 untuk premix. Bayangkan berapa ruginya! Menteri Keuangan mengatakan ruginya sampai di atas Rp 50 triliun! > > D: Itu kan hanya betul kalau pemerintah membeli minyak mentahnya. Minyak mentah itu kan tidak dibeli, Mad? Jadi tidak ada uang yang dikeluarkan. Bagaimana bisa disebut rugi? > > M: Memang, tapi seandainya dijual di pasar dunia kan menghasilkan uang sangat banyak? Sekarang kesempatan memperoleh uang sangat banyak itu hilang. Itulah yang dikatakan pemerintah rugi karena harus memberi subsidi. > > D: Oh, jadi yang diartikan dengan subsidi itu tidak ada uang yang dikeluarkan, tetapi hanya kerugian di atas kertas, atau di dalam pikiran, sambil mengomel, "Sialan, kalau saja gue tidak perlu memenuhi kebutuhan bensin rakyatku sendiri, aku bisa untung besar." Jadi begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Sang Menteri Keuangan, semua anggota DPR, dan para ekonom itu? > > M: Iyalah, dan itu sesuai dengan teori mendalam yang mereka pelajari di sekolahan. Elo masih tingkat tiga sih, maka tidak bisa memahami yang sudah doktor, apalagi yang sudah profesor. > > D: Oh, makanya Menteri Keuangan mengatakan, "Karena harga minyak di pasaran dunia melonjak tinggi, subsidi kita membengkak sekitar Rp 53 triliun." Terus dikatakan lagi, "Dan dampak akhirnya adalah penambahan defisit anggaran sebesar Rp 1,2 triliun saja." Tadinya sih gue bingung, subsidi bertambah begitu banyak, kok dampaknya pada defisit anggaran hanya begitu kecilnya? Eh, ternyata yang dinamakan subsidi itu tidak ada uang keluar, begitu Mad? > > M: Ya Djang, itulah yang dinamakan berpikir secara abstrak. Semakin pandai orang, semakin abstrak cara berpikirnya. > > D: Abstrak itu artinya apa Mad, semakin di awang-awang? > > M: Lho ingat enggak bahwa dosen kita selalu mulai kuliah yang paling perdana dengan guyonan yang mengatakan bahwa kita di sini akan terus-menerus melakukan pekerjaan ilmiah. Dan yang diartikan dengan ilmiah itu sering kali adalah seni untuk membuat hal-hal sangat sederhana menjadi sangat ruwet. > > D: Memang, tapi bukannya tetap saja hebat Mad, karena dengan membuat hal-hal yang ruwet itu, dia memang menunjukkan bahwa otaknya sangat pandai karena bisa merangkai begitu banyak faktor yang ruwet-ruwet itu. > > M: Iya, karena di awang-awang, lantas jauh sekali hubungannya dengan perut gue. Lapar dikatakan kenyang dan kenyang dikatakan lapar. > > D: Lho, apa lagi yang elo artikan? > > M: Dalam hal minyak, perut bangsa Indonesia tidak terlampau lapar, tetapi digambarkan sangat lapar. Dalam hal APBN, perut rakyat lapar dikatakan kenyang. > > D: Sekarang elo ngarang. Elo yang sekarang mau sok mbulet supaya gue puyeng dan menganggap elo pintar. Bukannya begitu Mad? > > M: Enggak dong. Coba lihat APBN kita yang tahun 2004. Defisitnya kan dikatakan hanya Rp 24,92 triliun atau 1,2 persen dari PDB (produk domestik bruto). > > D: Terus, menurut elo bagaimana? > > M: Menurut gue, semua uang yang dikeluarkan betulan tanpa peduli untuk apa, termasuk untuk membayar utang dikurangkan yang masuk, tekornya kan Rp 89,9 triliun atau 4,49 persen dari PDB. Ini pengeluaran uang betulan yang membuat perut kita sebagai rakyat kecil terasa lapar betulan, wong uang yang banyak itu harus dikeluarkan betulan. Lihat saja, membayar bunga dan utang saja sudah Rp 131,2 triliun dari seluruh anggaran negara Rp 471,03 triliun. > > D: Oh, jadi dalam subsidi BBM sebenarnya perut kita kenyang digambarkan sebagai lapar. Dalam hal APBN, perut kita lapar digambarkan sebagai kenyang? > > M: Menurut gue, esensinya memang begitu. Kalau bahasa kerennya, yang dinamakan subsidi itu opportunity loss atau kehilangan kesempatan. Kalau saja pemerintah menjual BBM milik rakyat Indonesia itu semuanya di pasar internasional, pemerintah memperolehnya uang buanyak sekali. > > Tetapi karena minyak di perut bumi itu milik rakyat, kebutuhan mereka harus kita penuhi. Itu pun tidak gratis, tetapi harga minyak mentahnya masih dihargai cukup tinggi dibandingkan dengan ongkos produksinya tok. > > Ongkos produksinya tok itu hanya sekitar Rp 500 per liter. Dijualnya kan dengan harga Rp. 1.850 untuk premium dan Rp 2.150 untuk premix. Jadi pemerintah masih untung seandainya kita tidak membanding-bandingkannya dengan harga internasional. > > D: Yang menentukan harga internasional itu siapa? > > M: Pasar minyak di New York yang volumenya hanya 30 persen dari seluruh perdagangan minyak di dunia. Dan yang boleh menyiarkan perkembangan harga- harga itu hanya Reuters, seperti halnya dengan monopoli penyiaran harga berbagai valuta asing setiap menitnya. > > D: Ah, kok fantastis begitu. Jangan-jangan elo ngawur. > > M: Memang Djang, siapalah kita? Hanya mahasiswa tingkat tiga. Itu pun tidak di UI, tetapi di USC. > > M: Elo pernah sekolah di University of Southern California? > > D: Bukan, kita ini dua-duanya kan sedang kuliah di Universitas Sebelah (hotel) Ciputra? > > M: Tapi urusannya sebenarnya lebih ruwet dari yang kita bicarakan, karena ada yang diekspor, lantas ada impor dengan kualitas rendah, lantas ada bagi hasil. Terus ada yang namanya prorata dan ada yang namanya in kind dan sebagainya. Juga ada PT Petral yang dipakai untuk nyolong segala. > > D: Memang, tapi inti permasalahannya gue kira kita tidak salah. Mari kita kuliah dulu, dan kita tanyakan lebih lanjut kepada dosen kita. > > *Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas > > http://www.kompas.com/kompas-cetak/0409/22/ekonomi/1283896.htm *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Sponsor ADVERTISEMENT ------------------------------------------------------------------------------ Yahoo! Groups Links a.. To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ b.. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

