MASIH SOAL WAYANG
asli indonesia, walau ada sulur ke india
salam
--- In [EMAIL PROTECTED], "antonhartomo" <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
Sekadar FILE lo pakdhe/paklik ..............Salam mudik
--- <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
CATATAN:
Untuk memperingati Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2004, LSM tempat
saya
bekerja, yakni Program ASA (Aksi Stop AIDS)/Family Health
International,
bekerja sama dengan Komite Kemanusiaan Indonesia pimpinan Bpk Mar'ie
Muhammad dan Senawangi (Sekretariat Pewayangan Nasional Indonesia)
akan
menyelenggarakan pagelaran wayang kulit semalam suntuk dua kali di
Jawa
Tengah. Untuk itu telah digubah sebuah cerita wayang khusus mengenai
Narkoba, HIV/AIDS & Spiritualitas, berjudul "Ontran-ontran Bawono"
("Kegemparan/Keresahan Dunia").
Adapun tanggal dan tempat pagelaran adalah:
(1) Sabtu, 27 November 2004, di Kraton Kasunanan Surakarta,
dengan
dalang: Ki Enthus Susmono, pemenang Festival Dalang se Jawa Tengah
beberapa
bulan lalu;
(2) Sabtu, 11 Desember 2004, di Sasono Hinggil Kraton Yogyakarta,
dalangnya masih belum ditentukan, yang pasti adalah salah satu
peserta
pelatihan HIV/AIDS untuk dalang beberapa bulan lalu di Yogyakarta.
Pagelaran ini sedang diupayakan akan disiarkan hidup semalam suntuk
melalui
RRI Yogyakarta, karena tanggal tersebut kebetulan adalah jadwal
siaran
wayang kulit RRI Yogyakarta.
Berikut ini disajikan naskah plot lakon wayang kulit tersebut.
Teman-teman Buddhis dapat melihat dimasukkannya ajaran
tentang 'loba'
(keserakahan), 'dosa' (angkara murka) dan 'moha' (kegelapan batin)
dalam
cerita ini. Juga ajaran tentang 'anatta' (tanpa-aku) dan meditasi
vipassana/MMD dalam Adegan 11 & 12, ketika Bima bertemu dengan
Dewaruci dan
Anoman.
Inilah salah satu contoh penyebaran ajaran Buddha tanpa Buddhisme.
Salam,
Hudoyo
==========================================
draft versi 5.
Wayang Kulit Purwa
Lakon
"ONTRAN-ONTRAN BAWONO"
(Kerusakan Generasi Muda & Spiritualitas Pribadi)
Oleh:
Dr. Hudoyo Hupudio, M.P.H.
Hari AIDS Sedunia, 1 Desember 2004
***
Adegan 1: Istana Amarta
Di istana Amarta, keluarga Pandawa hadir lengkap: Puntadewa, Bima,
Arjuna,
Nakula dan Sadewa. Mereka tengah membahas kesejahteraan rakyat dan
keamanan
negara. Puntadewa mengingatkan bahwa kelestarian suatu bangsa sangat
bergantung pada kesejahteraan dan kesempatan bagi generasi mudanya
untuk
tumbuh menjadi dewasa. Oleh karena itu, sangatlah perlu untuk
mengamankan
generasi muda dari segala bahaya yang mengancam.
Belum lama mereka berapat, tiba-tiba menghadap Raden Gatutkaca tanpa
diundang. Raden Gatutkaca melaporkan bahwa rakyat Amarta kini tengah
dicengkeram kecemasan dan ketakutan yang besar. Banyak anak muda
ketagihan
minuman keras dan Narkoba. Yang paling mencemaskan ialah Narkoba.
Mereka
yang ketagihan Narkoba makin lama membutuhkan takaran Narkoba yang
makin
banyak; kalau kebutuhannya tidak terpenuhi, maka mereka akan
mengalami
gejala-gejala ketagihan yang sangat menyakitkan. Anak-anak muda yang
ketagihan Narkoba tidak bisa diharapkan akan berguna bagi
masyarakatnya;
mereka menjadi pemalas, tidak dapat diandalkan dan tidak dapat
dipercaya.
Banyak di antara mereka mulai menjual barang-barang di rumah untuk
mendapatkan uang guna membeli Narkoba. Banyak pula yang memeras
teman-temannya untuk mendapatkan uang, sehingga menimbulkan
keributan dan
keresahan di lingkungan mereka. Tambahan pula, tidak jarang terjadi
anak-anak muda yang ketagihan Narkoba ini meninggal dunia karena
kelebihan
takaran (overdosis). Makin lama makin banyak keluarga yang menangisi
kematian salah seorang anak mereka, malah ada pula yang kehilangan
lebih
dari satu anak mereka karena Narkoba.
Belum tuntas mereka membahas tentang Narkoba yang melanda negeri
itu,
mendadak menghadap pula Raden Abimanyu tanpa diundang. Raden
Abimanyu
melaporkan bahwa akhir-akhir ini mulai meningkat jumlah warga yang
menderita suatu penyakit yang banyak ditakuti oleh masyarakat.
Penyakit
yang bernama AIDS itu ditakuti karena tidak ada obat yang bisa
menyembuhkannya. Penderita AIDS biasanya akan meninggal dalam waktu
1-2 tahun.
Para hadirin sangat prihatin mendengar laporan Gatutkaca dan
Abimanyu itu.
Mereka berunding mencari jalan untuk menyelamatkan bangsa dari kedua
bencana yang terutama mengancam generasi muda itu.
Akhirnya, Prabu Puntadewa memerintahkan Arjuna pergi ke pertapaan
Wukir
Ratawu untuk mohon petunjuk kepada kakek Pandawa, Begawan Abiyasa
yang
bertapa di sana. Gatutkaca diperintahkan pergi ke negara Dwarawati,
mengundang Prabu Batara Kresna untuk datang ke Amarta. Sedangkan
Bima
memutuskan untuk menghadap kepada Guru Sejatinya, Dewaruci, di
puncak
Gunung Kailasa. Para putra Pandawa diperintahkan untuk menjaga
keamanan
negara dari ancaman yang datang dari luar, dan mengamati
perkembangan wabah
Narkoba dan AIDS yang tengah melanda negeri itu.
Adegan 2: Limbuk � Cangik
Kedua tokoh ini memperbincangkan apa yang baru saja berlangsung
dalam
persidangan di istana Amarta. Sebagai orang awam mereka tidak begitu
paham
tentang bahaya yang mengancam negeri itu. Dalam keawamannya, Limbuk
bersikap masa bodoh dan mempersalahkan orang-orang yang ketagihan
Narkoba
maupun para penderita AIDS. Limbuk berpendapat bahwa orang-orang itu
memetik buah perbuatannya sendiri yang buruk. Sebaliknya, Cangik
bersikap
cukup dewasa untuk melihat bahaya yang mengancam bangsa secara
keseluruhan,
di samping penderitaan bagi yang bersangkutan dan keluarganya.
Akhirnya
mereka sepakat untuk mengikuti perkembangan masalah itu dan
menyaksikan
bagaimana para Pandawa berupaya mengatasinya.
Adegan 3: Paseban Luar
Gatutkaca dan Abimanyu bertemu dengan para putra Pandawa lainnya:
Antareja,
Antasena, dan Wisanggeni. Wisanggeni datang ke Amarta atas kehendak
sendiri, karena ia merasakan bahwa negara ayahnya tengah menghadapi
masalah
besar.
Mereka memperbincangkan apa yang baru saja berlangsung dalam sidang
kenegaraan di istana Amarta. Mereka menyadari bahwa Narkoba
merupakan
masalah yang mengancam generasi muda. Masalah ini bukan masalah
kecil
karena menyangkut perdagangan Narkoba antar bangsa, dan jumlah uang
yang
dipertaruhkan sangat besar. Kelompok-kelompok (sindikat)
penyelundup
Narkoba internasional tengah beraksi memasukkan barang berbahaya itu
ke
Amarta. Mereka tidak segan-segan menyuap para petugas dan pejabat
negara
untuk meloloskan barang dagangannya masuk ke Amarta.
Para putra Pandawa juga memperbincangkan masalah penyakit AIDS yang
semakin
meningkat jumlah penderitanya di Amarta. Mereka menengarai bahwa
penyakit
ini menyebar di kalangan mereka yang suka melakukan hubungan seksual
dengan
banyak pasangan, terutama dengan para pekerja seks komersial (PSK);
akhir-akhir ini jumlah pengidap penyakit ini tampak meningkat dengan
cepat
di kalangan pengguna Narkoba suntik. Mereka merasakan sulitnya
menanggulangi masalah ini karena perilaku seksual berganti-ganti
pasangan &
seks komersial sudah ada sejak adanya manusia di muka bumi.
Para putra Pandawa kemudian membicarakan tugas masing-masing.
Gatutkaca
berkata, ia ditugasi pergi ke Dwarawati mengundang Prabu Sri Batara
Kresna
untuk datang ke Amarta. Antareja, Antasena, Abimanyu dan Wisanggeni
sepakat
untuk menjaga perbatasan negeri dari penyelundupan Narkoba dari
luar.
Antasena dan Wisanggeni sepakat untuk mengamati perkembangan Narkoba
dan
AIDS di kalangan generasi muda Amarta.
Adegan 4: Budalan
Para putra Pandawa menggelar pasukan dan berangkat untuk
melaksanakan tugas
yang diemban masing-masing.
Adegan 5: Kerajaan Tawanggantungan (?)[1 - Nama-nama kerajaan dan
tokoh-tokoh carangan dapat dipikirkan kembali.]
Sub-adegan 5A: Istana Kerajaan
Di istana kerajaan Tawanggantungan bersemayam Prabu Ditya Kalapeteng
(?)
dihadap oleh dua patihnya: Ditya Kalaangkara(?) dan Ditya Kalaserakah
(?),
beserta kedua panakawan, Togog dan Bilung. Mereka kedatangan tamu
agung
dari Astina, Begawan Drona dan Patih Sangkuni.
Begawan Drona mengemukakan, maksudnya datang ke Tawanggantungan
ialah untuk
meminta bantuan Prabu Kalapeteng, sebagai imbalan dari ilmu
keprajuritan
yang pernah diajarkannya kepada Prabu Kalapeteng dahulu sebelum
Begawan
Drona meninggalkan negerinya dan bermukim di Astina. Prabu
Kalapeteng
menyanggupi akan memberikan bantuan yang diminta oleh Begawan Drona.
Begawan Drona meminta agar Prabu Kalapeteng mengupayakan rusaknya
kerajaan
Amarta, agar dalam perang besar Bharatayuda kelak pihak Pandawa
pasti
kalah. Prabu Kalapeteng menyatakan, bahwa ia dapat menyelundupkan
Narkoba
sebanyak-banyaknya ke Amarta untuk merusak generasi muda Amarta.
Setelah
generasi muda Amarta lemah, dengan mudah ia akan dapat menghancurkan
Amarta
dengan kekuatan bala tentaranya; kalau perlu ia sendiri akan turun
ke medan
perang.
Begawan Drona dan Patih Sangkuni gembira mendengar rencana Prabu
Kalapeteng
itu; mereka berterima kasih dan mohon pamit untuk kembali ke Astina.
Togog mengingatkan Prabu Kalapeteng agar tidak bermusuhan dengan
para
Pandawa, karena para Pandawa itu dikasihi oleh para dewata. Prabu
Kalapeteng malah marah kepada Togog dan menyuruhnya tutup mulut.
Kedua
patih Kalaangkara dan Kalaserakah pun diperintahkan untuk berangkat
lebih
dulu ke perbatasan Amarta.
Sub-adegan 5B: Paseban Luar
Kedua patih Kalaangkara dan Kalaserakah bertemu dengan tiga raksasa
punggawa Tawanggantungan, Ditya Klantangmimis (buto cakil), Ditya X
(?),
Ditya Y(?). Mereka merundingkan perintah Prabu Kalapeteng untuk
merusak
rakyat Amarta. Kemudian masing-masing menggelar pasukan dan
berangkat ke
perbatasan Amarta.
Adegan 6: Perang Gagal
Bala tentara Tawanggantungan bertemu dengan bala tentara Amarta yang
menjaga perbatasan negeri. Terjadilah pertempuran hebat. Karena
merasa
kalah, bala tentara Tawanggantungan mengundurkan diri dan mengambil
jalan
lain.
Adegan 7: Di sebuah perkampungan di Amarta
Sub-adegan 7A: Di tempat transaksi Narkoba
Antasena dan Wisanggeni berada di dekat sebuah perkampungan yang
sudah
terkenal sebagai tempat transaksi Narkoba. Mereka memperbincangkan
cara-cara mencegah perluasan Narkoba, dan sepakat untuk melakukan
pengamatan lebih dulu terhadap perilaku para pengguna Narkoba. Untuk
itu
keduanya bersembunyi di balik semak-semak <dapat digunakan kayon
sebagai
semak-semak>.
---> Seorang anak muda terbujuk temannya untuk menggunakan Narkoba
Muncul Bambang A(?) dan Bambang B(?). Bambang A adalah seorang
pengguna
Narkoba suntik dan sekaligus menjadi pengedar segala jenis Narkoba.
Bambang
B adalah sahabat Bambang A, tapi ia belum terlibat Narkoba. Pada
hari itu
mereka bertemu dan bercakap-cakap. Bambang A membujuk Bambang B agar
mau
mencoba pil Narkoba. Untuk itu, ia bersedia memberikan sebutir pil
cuma-cuma kepada Bambang B. Mula-mula Bambang B menolak; ia teringat
akan
nasehat orang tuanya dan pelajaran gurunya di sekolah, yang selalu
memperingatkan akan bahaya Narkoba. Tetapi Bambang A mendesak terus,
dengan
mengatakan bahwa sebagai sahabat tidak mungkin ia akan menjerumuskan
Bambang B. Lama-kelamaan iman Bambang B mulai goyah; ia tidak mau
kehilangan sahabat. Akhirnya dimakannya sebutir pil Narkoba yang
diberikan
oleh Bambang A. Bambang B merasakan kenikmatan minum Narkoba, yang
dapat
melupakan segala masalah dan rutinitas kehidupannya sehari-hari yang
gersang. Kemudian Bambang A memberikan lagi sebutir pil Narkoba
dengan
cuma-cuma kepada Bambang B. Sampai akhirnya Bambang B menjadi
ketagihan
Narkoba, dan minta diberi lagi kepada Bambang A. Tapi sekarang
Bambang A
tidak mau memberi; ia berkata bahwa pil itu harus dibeli. Terpaksa
Bambang
B mengeluarkan uang untuk membeli Narkoba.
Dalang menjelaskan, kebutuhan Bambang B akan Narkoba makin lama
makin
bertambah banyak. Karena ia tidak punya penghasilan sendiri,
mulailah ia
mengambil barang-barang di rumah orang tuanya untuk dijual guna
mendapatkan
uang. Dengan demikian ia sering menyusahkan kedua orang tuanya di
rumah.
Dari memakai Narkoba pil, Bambang A berangsur-angsur menarik Bambang
B
untuk berpindah ke Narkoba suntik yang kekuatannya lebih besar.
<Dalam kehidupan nyata, rangkaian peristiwa ini sebetulnya terjadi
dalam
rentang waktu berhari-hari sampai berbulan-bulan, tetapi untuk
pagelaran
ini dipadatkan sehingga tampak seolah-olah berlangsung pada satu
hari yang
sama. Dalang dapat menjelaskan ini dengan pocapan.>
---> Antasena mencoba memperingatkan mereka secara bersahabat dengan
memberikan konseling, bukan menggurui
Ketika kedua anak muda itu asyik menggunakan Narkoba, muncullah
Antasena
dari balik semak-semak. Kedua anak muda itu ketakutan, tapi Antasena
menunjukkan sikap bersahabat. Antasena tidak bersikap menggurui,
tidak
memberikan petuah-petuah secara satu arah, sebagaimana dilakukan
oleh
kebanyakan guru, orang tua atau aparat kepolisian, melainkan lebih
dulu
menanamkan kenyamanan dan kepercayaan di hati anak-anak muda itu
kepadanya,
dengan mengembangkan dialog atas dasar penghormatan dan kesetaraan
dengan
lawan bicaranya, dengan berdialog secara dua arah. Ditanyakannya apa
cita-cita anak-anak muda itu bila mereka sudah dewasa kelak;
kebanyakan di
antara mereka tidak bisa menjawab secara pasti. Ditanyakannya,
setelah
memakai Narkoba bagaimana mereka merasakan hidup mereka sekarang,
berbahagia atau tidak; kebanyakan mereka pun memberikan jawaban yang
samar-samar. Tetapi terungkap bahwa Narkoba hanya membuat mereka
lupa akan
kegersangan hidup sehari-hari untuk sementara saja, tetapi begitu
pengaruh
Narkoba mulai habis, muncul kembali masalah-masalah kehidupan yang
nyata,
malah sekarang ditambah dengan keinginan yang kuat untuk memakai
Narkoba
kembali. Dicobanya menggali hubungan mereka dengan orang tua dan
keluarga
di rumah; kebanyakan mereka mengatakan, bahwa kedua orang tua mereka
sibuk
mencari nafkah dan tidak sempat bergaul dengan mereka, hal itu
membuat
mereka kehilangan pegangan hidup mereka, yang mereka rasakan sebagai
kekosongan dan kegersangan. Akhirnya Antasena memberikan nasehat
kepada
mereka agar berhenti menggunakan Narkoba.
Secara lahiriah, kedua anak muda itu menyatakan setuju dan berjanji
tidak
akan menggunakan Narkoba lagi. Antasena dan Wisanggeni pun pergi
meninggalkan tempat itu.
---> Tertular HIV karena menggunakan alat suntik yang tidak bersih
(tidak
steril) secara bersama-sama
Tetapi, dasar sudah ketagihan Narkoba, kedua anak muda itu tidak
menepati
janji mereka. Mereka masih terus menyuntikkan Narkoba secara
sembunyi-sembunyi. Datang dua orang muda lagi, Bambang C dan Bambang
D,
keduanya pengguna Narkoba suntik. Keempat orang itu bersama-sama
menyuntikkan Narkoba ke tubuh mereka dengan menggunakan satu alat
suntik
yang diambilnya dari semak-semak. Alat suntik itu disimpan di semak-
semak
agar mereka tidak kedapatan membawa alat suntik yang dapat
menyebabkan
mereka ditangkap polisi. <sebagai alat suntik dapat digunakan
cundrik/patrem> Anak-anak muda itu menggunakan satu alat suntik itu
secara
bersama-sama, kecuali Bambang B yang tidak mau bergabung dengan
teman-temannya yang lain. Ia tampak menyisihkan diri dan menggunakan
alat
suntik yang dibawanya sendiri, dan tidak dipinjamkannya kepada
teman-temannya. Bambang B ingat akan sebuah pesan penyuluhan bahwa
alat
suntik yang tidak bersih bisa menjadi alat menularkan virus HIV.
<Dalang menceritakan bahwa salah seorang dari keempat anak muda itu,
yaitu
Bambang A, mengidap virus HIV penyebab AIDS, tapi ia tidak menyadari
hal
itu karena ia belum pernah tes darah untuk HIV; dan ia merasa sehat
serta
segar bugar, karena virus HIV belum merajalela dalam tubuhnya
sehingga
menimbulkan penyakit AIDS. Tetapi virus HIV itu sudah ada dalam
tubuh
Bambang A. Dan karena Bambang A, Bambang C dan Bambang D menggunakan
alat
suntik secara bersama-sama tanpa dibersihkan/disterilkan lebih dulu,
maka
Bambang C dan Bambang D pun tertular HIV dari Bambang A. Bambang A,
C dan
D yang sekarang positif HIV ketiga-tiganya dapat dipastikan akan
jatuh
sakit karena AIDS dalam waktu beberapa tahun lagi. Tinggal Bambang B
sendiri yang tidak tertular HIV, karena ia menggunakan alat suntik
yang
dipakainya sendiri. >
---> Meninggal karena kelebihan takaran Narkoba (overdosis)
Selagi keempat anak muda itu asyik menggunakan Narkoba suntik
bersama-sama,
Bambang D, yang paling lama menggunakan Narkoba dan paling nekat di
antara
keempat orang itu, mulai kehilangan kesadaran. Tanpa disengaja ia
menyuntikkan Narkoba dengan takaran berlebihan (overdosis). Akhirnya
ia
kejang-kejang dan meninggal dunia di tempat itu. Ketiga anak muda
yang lain
pun bubar melarikan diri.
Sub-adegan 7B: Rumah Demang E(?), ayah Bambang D
Antasena dan Wisanggeni berkunjung ke rumah Demang E, ayah Bambang
D.
Demang E, yang didampingi istrinya, tengah berduka cita dengan
meninggalnya
anak laki-lakinya, Bambang D, belum lama berselang akibat kelebihan
takaran
Narkoba. Ini bukan pertama kali keluarga itu mengalami musibah
seperti itu;
setahun yang lalu, abang Bambang D juga meninggal dunia karena
kelebihan
takaran Narkoba.
---> Kebanyakan orang tua tidak sadar anaknya telah kecanduan Narkoba
Antasena menanyakan, apakah Demang E tidak mengetahui tanda-tanda
bahwa
kedua anaknya terjerumus ke dalam Narkoba. Demang E mengakui bahwa
ia
kurang begitu memperhatikan perkembangan kedua anak laki-lakinya
itu,
karena sibuk mengurus usaha dagangnya.
---> Ciri-ciri Pengguna Narkoba
Adapun ciri-ciri pengguna Narkoba adalah:
- mata merah dan agak bengkak, terkadang berair;
- sering menguap dan hidung berair;
- tampak murung, selalu curiga dan lekas marah;
- sangat aktif, atau semakin tertutup;
- cenderung berbohong, gagap bila ditanya;
- malas makan dan malas mandi.
Setelah dijelaskan oleh Antasena ciri-ciri tingkah laku seorang
pengguna
Narkoba, barulah Demang E sadar bahwa kedua anaknya memang
menunjukkan
tingkah laku demikian ketika mereka masih hidup.
Tetapi menyesal kemudian tidak berguna. Demang E berjanji akan aktif
menyebarluaskan informasi mengenai bahaya Narkoba kepada para warga
di kota
tempat tinggalnya. Wisanggeni dan Antasena pun pamit dari keluarga
Demang
E. <tancep kayon miring>
<bersambung>
--- End forwarded message ---
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/