----- Original Message ----- From: "Irfan" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Wednesday, December 22, 2004 11:28 AM Subject: RE: H-B-E>>> Fwd: [PAGI] Pertanian konvensional vs organik di Jerman
Assalamu alaikum, Wah yang di Jerman saja segitu tingginya gimana di Indonesia?, Jadi ingat waktu saya PKL di Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor mengenai pestisida jenis orgachlorine di perairan Jawa Barat. Dari semua sample air yang diuji ternyata kandungan organoklorinnya diatas baku mutu yang ditetapkan. Sedangkan hasil penelitian terhadap tanaman sayuran di daerah Lembang dan sekitarnya oleh Lembaga Penelitian UNPAD (1994) kandungan pestisida dari sample yang diuji juga diatas nilai ambang batas(ADI, acceptable daily intake). Pernah juga saya ke beberapa daerah pertanian, dan menanyakan mengenai pestisida yang digunakan oleh petani. Jawaban yang didapat hampir sama yaitu dengan mengoplos beberapa jenis pestisida dengan tujuan agar lebih ampuh. Sedangkan teknik penyemprotannya dengan menggunakan steam sprayer seperti yang digunakan untuk mencuci motor atau mobil di pinggir jalan. Kalau saya piker sayuran di Indonesia wuiiiiih sereeem, pestisidanya itu gitu lho.... Mudah-mudahan ada perbaikan dalam system pertanian kita, amiin. Wassalam, Irfan Satria === --- Indah Kristanti <[EMAIL PROTECTED]: Dear PAGI members, menyambung email saya tempo hari tentang pertanian organik, sekaligus menanggapi email pak Ari Raharjo, berikut ini saya sampaikan reportase sebuah harian di Jerman tentang adanya residu beracun bahan pestisida dan kandungan nitrat sayur salat di Jerman: 'High light' sebagai kesimpulannya: hampir tidak ada sayur salat dari hasil pertanian konvensional yang bebas dari residu pestisida beracun. Organisasi pecinta lingkungan tingkat dunia Greenpeace telah melakukan penelitian tentang kadar residu bahan pestisida terhadap sayur salat dengan waktu sampling akhir November 2004 di 6 buah supermarket besar di beberapa kota di Jerman, yakni di Hamburg, Koeln, Kassel, Leipzig dan Stuttgart. Jenis sayur salat yang diteliti adalah Kopf-, Eich, dan Rucola-Salat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada satupun sampel salat yang bebas dari residu pestisida yang sesungguhnya bersifat racun bagi manusia, bahkan 5 dari 21 sampel mencapai atau bahkan melampaui nilai maksimal yang diperbolehkan oleh peraturan perundangan Jerman yang berlaku utk bahan penyemprot (sampai 36 kali lipat!). Di samping itu kandungan nitrat sampel2 salat tsb juga tinggi. Padahal nitrat bisa bereaksi berubah menjadi nitrit yang berpotensi bereaksi membentuk senyawa yang bisa menimbulkan kanker. Bahan pestisida yang beracun adalah Deltamethrin, Diphenyl, Diflubenzuron, Ethofenprox dan Iprodion. Senyawa ini menyebabkan kanker dan juga bisa mengganggu sistem hormon. Dengan hasil penelitian ini, Greenpeace menuntut agar oknum2 produsen salat yang tidak bertanggung jawab diproses secara hukum. Saya sangat prihatin dengan hasil temuan ini mengingat bahwa Jerman termasuk negara yang penegakan hukumnya ketat. Toh bisa 'kecolongan'. Barangkali karena peraturan frekuensi kontrol pada pertanian konvensional yang terlalu longgar. Kontrol pemerintah terhadap kadar bahan yang tidak diinginkan dalam sayur produk pertanian konvensional hanya dilakukan sewaktu-waktu, tidak ada frekuensi ataupun jadwal tertentu yang cukup ketat. Akibatnya, terutama pada musim dingin termasuk bulan November umumnya tidak ketahuan bahwa petani menambah porsi pupuk kimia dan bahan semprotannya secara berlebihan dalam upaya mereka meningkatkan pertumbuhan sayurnya, yang dlm keadaan normal (tanpa rangsangan pupuk dan obat semprot) di musim dingin sulit diharapkan memperoleh hasil panen yang berukuran besar dan banyak. Itu di Jerman. Apatah lagi di Indonesia yang penegakan hukumnya lebih amat sangat memprihatinkan lagi? Berbeda halnya dengan peraturan kontrol untuk hasil pertanian organik. Di Jerman, kontrol pemerintah untuk pertanian organik bisa dikatakan 'setiap saat'. Tak heran jika hasil pengujian kadar residu beracun pada salat hasil pertanian organik Jerman 'aman' selalu, karena petani organik tidak berani ambil resiko. Boleh jadi rasa pahit yang saya dan suami saya rasakan pada juice wortel bikinan kami yang wortelnya dibeli di tukang sayur keliling di Surabaya disebabkan oleh residu pestisida yang beracun yang kadarnya melebihi ambang batas aman untuk kesehatan. Dalam hal merasakan pahitnya juice wortel ini, saya berpendapat bukan subjektif semata karena rasanya nyata. Belajar dari reportase di Jerman ini, saya sangat mengharapkan agar pak Anton - sebagai Menteri Pertanian - memberikan porsi perhatian yang lebih banyak lagi terhadap keamanan hasil pertanian di tanah air, khususnya untuk budidaya tanaman metode konvensional yang menggunakan pupuk dan obat semprot sintetis. Saya sangat mengharapkan bahwa metode budidaya tanaman pertanian dan perkebunan di tanah air diarahkan secara gradual ke metode pertanian organik yang ramah lingkungan. Dan saya sangat berharap bahwa di tanah air akan muncul peraturan perundangan yang menjamin dijalankannya kebijaksanaan pertanian organik ini secara konsekuen, tidak terpengaruh oleh pergantian menteri tiap 5 tahun. Salam, Indah Kristanti ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [email protected] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

