Republika Jumat, 24 Desember 2004 Menyesal dan Marah Karena Akbar Kalah?
Eki Syachrudin Mantan Dubes di Kanada Akbar Tanjung, yang kalah secara dramatis dalam Munas VII Partai Golkar, tentu disikapi teman-teman dekatnya dengan rasa sedih dan simpati. Sementara Jusuf Kalla yang oleh teman yuniornya dipanggil Kak Ucu itu, dielu-elukan bagaikan Ramang yang mampu menggoreng bola demikian cepat dan menang secara meyakinkan. Orang dekat Bung Janji (panggilan sangat akrabnya Akbar)) yang dalam persaingan akhir hanya mampu memperoleh 156 suara, tentulah merasa kecewa sementara orang dekat Kak Ucu yang meraih 323 suara tentulah bergembira. Diluar kedua kubu itu bisa saja ada yang berkata, ''Sabodo amat, emang gue pikirin.'' Perbedaan pendapat ketiga kelompok itu tak bisa diperdebatkan karena sudah menyangkut hal yang bersifat subyektif, bahkan sudah bersifat memperibadi, like and dislike. Yang ingin saya bicarakan adalah orang di luar ketiga kelompok itu, yang saya sebut sebagai kelompok kritis, yaitu mereka yang ingin memperbaiki negeri. Keberatan para pengeritik dengan kalahnya Akbar, karena dengan kekalahannya itu eksekutif dan legislatif akan menjadi satu ranjang. Bila begitu negeri akan tak terkontrol dan kerena itu akan semena-mena yang berujung pada korupsi yang tak terganggu. Aabsolut power corrupts absolutely. Alasan ini bila melihat praktik di negara biang demokrasi, seperti Amerika dan Kanada, eksekutip dan legislatip juga berada dalam satu ranjang, dalam pengertain berada di satu partai. Di Amerika yang sekarang ini Partai Republik selain menjadi kepala eksekutif (George W Bush), mereka juga menguasai legislatif (Kongres dan Senat). Begitu juga di Kanada, perdana menteri dipegang Paul Martin dan ketua parlemen dipegang oleh Peter Miliken, dua-duanya dari Partai Liberal. Menteri di Kanada tak seorang pun yang bukan anggota parlemen, namun check and balances tetap jalan, melalui partai-partai yang tidak duduk dalam Kabinet. Kanada biar pun ada politik satu ranjang tetap menjadi negeri yang stabilitas ekonomi, sosial, dan politiknya paling baik dibanding negeri kaya lainnya yang tergabung dalam Grup G-7. Itu komentar yang pertama. Kedua, dengan kalahnya Akbar, tentulah akan membawa charm-circle-nya tentu akan lengser juga, seperti Abdul Gafur, Mahadi Sinambela, Bomer Pasaribu, Moh Hatta, Rambe Kamarulzaman, Setya Novanto, dan lain-lain. Mundurnya mereka menurut orang yang kecewa Akbar kalah, tentu akan menjadikan kehidupan politik negeri kita menjadi lebih buruk sebab melalui merekalah prinsip check and balances bisa dijalankan, agar negeri kita bersih dari unsur korupsi. Begitulah logika para pengamat itu, sebab charm-circle Jusuf Kalla, seperti Surya Paloh, Agung Laksono, Fahmi Idris, Syamsul Muarif, dan sebagainya hanya akan menjadi stempel kekuasaan belaka. Yang ketiga, bila Akbar menang kembali pengamat itu bergembira sebab selain peran Akbar, peran politik Pak Wiranto di dalam Partai Golkar bahkan dalam percaturan politik nasional akan semakin membesar. Begitulah konsesi yang dijanjikan Bung Janji kepada Wiranto. Karena itulah Akbar dan kawan-kawan pada Pemilu 2009 akan mengajukan Wiranto sebagai calon presiden dari Golkar. Dengan kekalahannya itu, tentulah rencana Wiranto maju sebagai capres dan Akbar sebagai cawapres menjadi urung. Inilah mungkin yang menyebabkan para kritikus itu kecewa. Keempat, para pengamat yang berang terhadap kekalahan Akbar, seperti bisa dilihat dalam tulisan mereka yang tersebar dalam pelbagai media itu, tentulah sudah tahu, bahwa Akbar masih menyisakan persoalan Buloggate yang konon masih akan di ungkit-ungkit orang, seperti melalui keterlibatan Asosiasi Perusahaan Perkayuan Indonesia, yang konon ada dana yang disalurkan oleh ketua umumnya, Sdr Adi Warsita. Biar pun begitu Akbar masih dianggap lebih baik dibanding Jusuf Kalla cs yang beban persoalannya lebih ringan. Berbeda dengan para pengamat yang berang dengan kalahnya Akbar, peserta Munas justru ingin melepaskan keterkaitan kasus-kasus yang meliliti Akbar dengan partai, agar Golkar bisa berjalan lebih santai. Kekecewaan kepada Akbar dan kawan-kawan juga dipupuk melalui kebijakan yang tak memberi peluang bagi Fahmi, Marzuki, Burhanuddin Napitupulu, Firman Subagio, Ibu Juniwati dan kawan-kawan untuk membela diri dalam forum Munas, akibat ketidak setujuan mereka terhadap opsi Mega-Muzadi yang diputuskan DPP. Pada organisasi militer yang sering dianggap kurang manusiawi sebab mereka dalam suatu peperangan bisa saja membunuh orang yang dianggap membahayakan negara, kepada anggotanya yang dituduh melakukan pelanggaran, masih disediakan forum untuk membela diri, semacam pangadilan. Bila tidak puas, masih boleh naik banding ke tingkat pengadilan yang lebih tinggi. Rombongan Fahmi dan 13 kawannya yang dipecat itu, jangankan mendapat forum untuk membela diri, ke forum Munas pun mereka tak diundang. Akumulasi pelbagai kecewaan terhadap Akbar bisa kita saksikan hasilnya melalui pemilihan yang transparan dan demokratis dimana pasangan Akbar-Wiranto kalah secara mutlak (156 berbanding 323 suara). Di samping itu secara psikologis pun Akbar berat kerena ia di ma'zul-kan secara tidak terhormat melalui teriakan yang memintanya untuk turun panggung, setelah ia berpretensi mampu mendinginkan suasana sidang yang kacau. Ketua sidang pleno Munas, Bung Gafur, yang biasanya sangat piawai tak mampu lagi menjaga suasana sidang, karena DPP Golkar yang telah demisoner itu nyaris kehilangan kredibilitas di mata sebagian besar peserta Munas. Melorotnya wibawa Akbar sebenarnya dimulai sejak terkuaknya kasus Buloggate beberapa tahun lalu. Ketika itu ada cukup banyak suara yang menginginkan agar dilakukan pertukaran terhadap posisi raja (dalam hal ini Akbar) agar ia lebih terlindung dari serangan lawan. Sebab serangan terhadap Akbar bila tak dilakukan pertukaran tempat yang akan memikul akibatnya bukan saja Akbar pribadi tapi juga partai dan DPR. Akbar ketika itu diharapkan oleh Fahmi cs, agar bersedia tidak tampil dahulu agar serangan terhadapnya tidak terlalu berdampak bagi partai dan bagi kredibilitas DPR secara umum. Gerakan Fahmi Idris, Marzuki dan kawan-kawan ketika itu tidak dihiraukan Akbar. Bahkan berbuntut menjadi pemecatan kepada mereka. Ini sudah menyangkut kehormatan dan harga diri, yang mungkin saja bisa berfungsi sebagai arsenik yang merambat kesaentero teman mereka. Kebijakan ini memperlemah daya tahan Akbar. Pilihan Akbar dan kawan-kawan kepada duet Mega-Muzadi pun ditentang oleh komunitas Golkar termasuk para pinisepuhnya. Sehingga di daerah yang Golkar unggul, dengan ditambah PDIP dan PKB/NU, seharusnya pasangan Mega Muzadi menang, ternyata tidak. Ini merupakan bukti bahwa komunitas Golkar agak kurang setuju kepada kebijakan Akbar. Akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan Akbar sebetulnya bisa dipahami dan tak perlu disesali, apalagi sambil menuduh mereka yang tidak memilih Akbar sebagai dungu atau sebagai keledai. Soal sekarang yang terjadi di depan mata, ada keputusan Munas yang demokratis, mengapa kita bila betul-betul seorang demokrat jadi kebakaran jenggot hanya gara-gara jagoan^ kalah di arena pertandingan? Saya pikir keputusan suatu Munas yang demokratis perlu dihormati. Dibanding dengan seluruh pemilihan ketua Golkar yang lalu, inilah yang prosesnya dimainkan oleh pemain-pemain yang lebih luas. Akbar, pada Munaslub 1998 hanya dipilih oleh DPD I, ketua-ketua sebelumnya hanya oleh pinisepuh, bahkan sebelumnya lagi cukup dengan ''dehem'' Pak Harto. Sosok yang Pak Harto inginkan pasti akan jadi, sejak dari Harmoko, Sudharmono, Wahono, Amir Murtono. Bagaimana pun Munas Golkar Bali beberpa hari yang lalu dilihat dari level of democracy-nya jauh lebih baik dari Munas yang terdahulu. Saya teringat pandangan Hegel, yang mengatakan sejarah merupakan operasi dari suatu invisible hand yang digerakkan oleh suatu ide-absolut. Melaluinya kehidupan masyarakat akan diangkat melalui proses tolak menolak antara tesis vs antitesis yang membawa keduanya kepada tahap baru yang semakin berkembang (sintesis) biar pun tampaknya banyak bangunan (institusi dan pikiran) pada berjatuhan oleh kuatnya dorongan tenaga dialektika itu tadi. Ia memberi tamsil bekerjanya hukum dialektika dengan mengatakan memang banyak gunung batu berguguran, tapi gedung-gedung bermunculan di kota. Memang Akbar dan kawan-kawan tampaknya berguguran, tapi mantan ketua umum itu berharap, Golkar setelahnya akan menjadi lebih baik lagi. Tak perlu disesali memang itulah kenyataannya. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> $4.98 domain names from Yahoo!. Register anything. http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [email protected] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

