TERORISME :  PERSOALAN DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA ?

(Tanggapan Untuk Nasaruddin Umar dan Mahmudi Hairuddin)

Oleh : Farid Wajdi

DPP Hizbut Tahrir Indonesia

 

Tulisan  Nasaruddin Umar dan Mahmudi Hairuddin di Republika (Kamis, 16 
/12/2003) kembali mempertanyakan posisi agama dalam persoalan besar dunia saat 
ini, yakni terorisme. Kalau pandangan Hans Kings yang memandang tidak ada 
perdamaian tanpa ada  perdamaian antar agama dikaitkan dengan tindakan 
terorisme global saat ini, terkesan kembali agama (terutama Islam) disalahkan. 
Agama dianggap sebagai pemicu berbagai tindakan terorisme di dunia saat ini. 

Pandangan inipun seakan-akan benar, setelah melihat realitanya bahwa tindakan 
terorisme sering dikaitkan dengan kelompok Islam dan ajaran Islam. Apa yang 
oleh Barat sering disebutkan melakukan terorisme , biasanya berhubungan � 
paling tidak - dengan simbol-simbol Islam. Mulai Al Qaida pada level global, 
Jama�ah Islamiyah pada level asia sampai gerakan perlawanan di Irak dan HAMAS 
di Palestina , pun berhubungan dengan Islam. Dasar tindakan kelompok-kelompok 
ini juga sama , yaitu ajaran Islam, Jihad fi Sabilillah. Stigma ini diperkuat 
lagi dengan melihat korban tindakan kekerasan ini yang sering diekspose oleh 
media Barat adalah umat agama lain seperti Kristen (kasus AS dan Eropa dan 
serangan terhadap obyek-obyek berbau Barat lainnya ) , Budha (Kasus Thailand)  
dan Hindu (kasus Bom Bali) . 





Dengan pandangan seperti diatas, memang seakan-akan kelompok Islam dan ajaran 
Islam-lah yang dijadikan sasaran dialog umat beragama. Sehingga seruan untuk 
bersikap moderat, tidak menggunakan agama dalam tindakannya, demikian kuat 
diarahkannya kepada Islam. Sederhananya, seakan-akan kelompok Islam adalah 
pelaku, sementara agama lain adalah korbannya. Cara berpikir seperti ini juga 
tampak pada tulisan Nasaruddin Umar cs :� khususnya Islam, akibat ulah 
sekelompok manusia yang mengaku memperoleh justifikasi agama dalam melakukan 
aksi terorisme dalam skala massif, dunia internasional . Berdasarkan logika 
seperti ini dialog antar umat bergama  dan bersikap moderat dalam pandangan 
agama akan menghentikan tindakan terorisme global dunia.

Dialog antar agama dan moderat tepat dijadikan solusi, kalau perselisihan 
agama-lah yang menjadi akar terorisme.  Tapi benarkah perselisihan agama 
menjadi penyebab terorisme. Kenyataannya tidaklah demikian. Berberbagai gerakan 
perlawanan di dunia Islam yang menggunakan kekerasan di Irak, Palestina, 
Afghanistan, Thailand, Philipina yang sering dituduh oleh media Barat dan 
pejabat Barat sebagai teroris, tidak pernah mengkaitkan faktor agama dari 
korbannya menjadi legitmasi  tindakan kekerasan mereka. Pejuangan Palestina 
(HAMAS) melakukan gerakan perlawanan sebagai reaksi penjajahan yang dilakukan 
Israel terhadap tanah air mereka, disertai tindakan kedzoliman dan barbar 
Israel terhadap rakyat Palestina. Jadi bukan karena faktor Yahudinya. Terbukti, 
sebelum ada penjajahan Israel di Palestina, orang-orang Yahudi dan pemeluk 
agama Nasrani , hidup berdampai secara damai di Pelestina. Padahal yang 
memerintah pada waktu itu adalah pemerintahan Islam. Sama halnya dengan 
perlawanan rakyat Irak
 ,yang berulang-ulang oleh AS disebut kelompok militan dan teroris. Tindakan 
kekekerasan yang mereka lakukan, tidak lebih dari perlawanan terhadap pasukan 
AS yang secara langsung telah menjajah negeri Irak. Sebelum pendudukan AS, 
rakyat Irak tidak pernah membunuh pemeluk kristen di Irak. Bahkan mereka selama 
ini hidup berdampingan, gereja-gereja berdiri dengan aman, bahkan di masa 
Saddam Husain beberapa pejabat tinggi pemerintahan, justru beragama kristen. 
Semua ini membuktikan bukan faktor agama yang menyebabkan umat Islam melakukan 
tindakan kekerasaan yang �sekali lagi� acap disebut tindakan terorisme. Untuk 
kasus peledakan di Indonesia, sebagian besar pelakunya juga sering menjadikan 
alasan penindasan terhadap umat Islam di dunia-lah yang mendorong mereka 
melakukan tindakan kekerasan. 

Dengan demikian sebenarnya tidak ada relevansi dialog antar umat beragama untuk 
menyelesaikan terorisme global. Sebab faktor agama bukanlah sebagai pemicu. 
Justru tindakan negara-negara adi daya yang mengeksploitasi negeri-negeri 
Islam-lah sebagai faktor pemicu utama, yang oleh pak Syafii Ma�arif dalam 
dialog antar umat beragama kemarin di Yogyakarta disebut sebagai terorisme 
negara. Tanpa menghilangkan kekerasan dan teror yang dilakukan oleh 
negara-negara adi daya ini tidak dihilangkan, perlawanan umat Islam sulit untuk 
dihentikan.  

Pertanyaan penting berikutnya, salahkah kalau umat Islam menggunakan ajaran 
agamanya sebagai landasan untuk membebaskan diri mereka dari penjajahan dan 
kedzoliman negara adi daya ? Salahkan umat Islam dengan dasar jihad mengusir 
para penjajah ? Kalau dikatakan salah, bagaimana tindakan negara adidaya 
seperti AS yang mendasarkan tindakannya atas nama penegakan HAM dan demokrasi, 
menghilangkan senjata pemusnah masal, kepentingan nasional dijadikan dasar 
tindakan mereka ? Disinilah banyak pihak tidak adil dan objektif dalam menilai. 
Kalau umat Islam berdasarkan agama mereka � yakni prinsip jihad- mengusir 
penjajah disebut terorisme , sementara kalau AS melakukan tindakan penyerbuan 
terhadap negara-negara lain atas dasar penegakan demokrasi dan HAM , 
menghilangkan senjata pemusnah masal , seakan-akan dibenarkan. Sederhananya, 
kenapa hanya umat Islam yang harus disuruh bersikap moderat, sementara negara 
AS dibiarkan bersikap militan ? Kalau kita menyalahkan pejuang Irak, Palestina,
 Afghanistan, karena mereka berjihad melawan penjajah, sama saja kita 
menyalahkan para pejuang Indonesia yang mengusir penjajah Belanda dan Jepang 
atas dasar jihad, termasuk menyalahkan ulama-ulama besar NU terdahulu yang 
menyerukan ikrar jihad melawan penjajah.

Menghilangkan kewajiban jihad  dan ajaran Islam yang lain justru akan membuat 
Islam menjadi ajaran yang tidak fungsional. Menyempitkan agama pada sebatas 
seruan-seruan moralitas tanpa ada ada solusi yang nyata dari ajaran agama, akan 
membuat agama kehilangan relevansi  untuk menyelesaikan masalah-masalah umat 
manusia. Agama  kemudian hanya akan menjadi penonton penindasan dan kedzoliman 
yang menimpa manusia.  Seruan-seruan moral dari agama secara nyata tidak 
menghentikan kekerasan dan penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara adi 
daya yang mengeksploitasi manusia. Apalagi kemudian kalau agama memberikan 
legitimasi bagi tindakan penjajahan negara-negara Kapitalis. Menyalahkan agama 
kemudian menuntut pemahaman agama yang moderat, tapi membiarkan 
tindakan-tindakan militan negara Kapitalis seperti AS , justru membuat agama 
menjadi bagian dari perantara (wasilah)  pelestarian penjajahan di dunia.  

Sementara Islam, tidaklah seperti itu. Ajaran Islam berupa syariah Islam, 
secara praktis memberikan langkah-langkah jelas terhadap persoalan kehidupan 
manusia. Islam tidak berhenti sebatas menyeru agar orang-orang kaya 
memperhatikan orang miskin. Tapi Islam mewajibkan negara untuk memaksa 
orang-orang kaya yang telah memenuhi syarat-nya untuk mengeluarkan zakat. 
Negara secara langsung juga bertanggung jawab memenuhi kebutuhan sandang , 
pangan, dan papan rakyat. Tidak sebatas menyeru orang untuk berdamai, tapi 
Islam memberikan sanksi keras bagi pihak-pihak yang hendak memecah belas 
masyarakat, sebagaimana diatur dalam hukum bughot (pemberontakan). Islam juga 
tidak hanya menyuruh untuk bersabar kalau dijajah, tapi memerintahkan berjihad 
secara fisik untuk melawan penjajahan secara nyata. Salahkah ini ? 

Seharusnya para pemeluk agama menjadikan �terorisme negara� yang dilakukan oleh 
negara-negera Kapitalis ini sebagai musuh bersama mereka. Sebab tanpa 
menghilangkan terorisme negara , tindakan kekerasan tetap akan terjadi. Inilah 
pangkal terorisme di dunia ini. Dan ini tidak cukup hanya seruan-seruan moral 
perdamaian. Kadang-kadang dibutuhkan kekuatan untuk menghancurkan kekuatan yang 
merusak. Kalau agama diam, justru agama akan dipersalahkan telah membiarkan 
kedzoliman merajalela. 

 

Tanggapan : email [EMAIL PROTECTED]



                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Jazz up your holiday email with celebrity designs. Learn more.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke