Kalau Singapura itu karena pemerintahnya sekarang lebih liberal dibanding zaman 
LKY. 
Jangankan soal perempuan telanjang, gay saja sudah boleh buat konsert disitu.


Ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Tulisan yang jelek: penuh penghakiman, tapi tak masuk ke dalam intinya: mengapa 
karya dimaksud dikatakan buruk, misalnya. Apakah hanya karena bicara 
selangkangan maka ia buruk? Apakah kalau bicara janggut 30 cm maka ia sasatra 
yang bagus --misalnya saja. Tapi tulisan itu memang tak hendak masuk ke sastra, 
karena didasari oleh hati yang terbakar, bahwa ada orang menulis sesuatu yang 
di luar selera moralnya. Karenanya, ketika menyebut sejumlah nama sastrawan , 
ya asal comot saja nama besar. Seakan dunia sastra cuma memiliki nama-nama itu. 
(Eh, mas, ketika bicara Cili, yang disebut adalah Neruda dan Allende. Ini 
Allende siapa? Presiden MArxis pertama di dunia yang terpilih secara 
demokratis, Salvador Allende, atau anaknya --yang, kendati sudah menulis 
beberapa buku masih agak susah untuk disandingkan dengan Neruda. Atau mungkin 
ada Allende lain?)


Dan MArio Gagho, kalau membicarakan ketelanjangan, bahkan seks yang berurusan 
dengan seni, jangan Madame D'Syuga itu dong contohnya. Karena hanya dia yang 
mengaku itu seni. Kalangan kesenian tidak. Itu sama dengan mengidentikkan Islam 
dengan Kudama alias Imam Samudera. 
Cari yang representatif dong. Misalnya, yang agak mutakhir, karya-karya 
Fernando Motero (Kolumbia), yang karya-karya patung dan lukisnya sedang 
dipamerkan di Singapura sekarang (Anda tahu, kan, Singapura sangat kaku dalam 
hal pornografi? Tapi karya-karya oenuh ketelanjangan ini bisa dipamerkan di 
sana).


-----Original message-----
From: Mario Gagho [EMAIL PROTECTED]
Date: Sat, 25 Dec 2004 13:34:50 +0700
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Dunia Sastra : Sastra, Seks dan Pembusukan Budaya

> 
> Seks dan seni sering dipertautkan tanpa jelas
> definisinya. Tubuh (wanita) telanjang di mata Ibu Dewi
> 'madame geisha' Sukarno adalah seni. Sementara di mata
> orang lain dianggap a moral (=pornografi).
> 
> Tulisan di bawah menyinggung seputar sastra dan seks
> dalam budaya sastra Arab pra-Islam. Ditulis oleh rekan
> saya waktu di SMA dulu yg kini lagi kuliah di Kairo,
> Mesir, Aguk Irawan Mn.
> 
> Weekend begini kayaknya cocok bahas2 yg ginian bagi
> peminat sastra. 
> 
> Happy weekend, and merry X-mas bagi umat Kristiani. 
> 
> salam winter dari taj mahal (MG)
> ---------------------------------------
> 
> Seks, Sastra dan Pembusukan Budaya
> Oleh AGUK IRAWAN Mn.
> 
> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/1204/24/0804.htm
> FENOMENA terakhir, setelah dunia sastra kita dipenuhi
> dengan maraknya tren sastra Islami (akrab disebut
> syi'ar Islami), yang memilik genre sastra tersendiri.
> Secara mengejutkan tiba-tiba saja sastra berbau seks
> begitu melimpah dan menghampar persis di depan wajah
> kita. Bahkan kehadirannya seakan telah berani
> menantang model sastra sebelumnya yang dengan
> sembunyi-sembunyi bagaimana ia harus mengungkapkan
> bahasa kelamin yang tabu itu. Tentu saja keberanian
> menyusupkan adegan-adegan seks secara liar dalam karya
> sastra, kiranya patut mendapatkan respons yang serius.
> Kalau tidak mau kita dikatakan "membiarkan" proses
> pembusukan budaya. Terlebih penulis sastra seks
> kebanyakan muncul dari kalangan perempuan.
> 
> Menghasilkan karya sastra seks liar, berarti
> menyaksikan diri kita sendiri bermain di dalamnya.
> Inilah teori kebudayaan. Sebab sastra merupakan
> tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai
> semacam cermin yang memantulkan kehidupan kita
> sehari-hari. Dan seks adalah bagian yang sangat indah
> dari manusia karena menyangkut penyatuan jiwa. 
> 
> Seks yang selama ini tabu (kecuali jika dibahas secara
> ilmiah, seperti ulasan dr. Boyke) dan hanya bermukim
> di wilayah ranjang mengemuka dalam bentuk buku sastra
> dan menjadi perdebatan pelik di masyarakat.
> Pergunjingan pun bukan hanya soal "etis" tidaknya
> membincangkan seks di depan umum, tapi bergeser ke
> arah pelanggaran asusila di masyarakat. Agaknya ketika
> kita persoalkan, siapa penyulut sastra tabu itu? Maka
> sepintas yang terbesit dalam hati kita; siapa lagi
> kalau bukan Ayu Utami, meski barangkali sebelumnya
> sudah diperkenalkan oleh Oka Rusmini. Kemudian jejak
> tabu itu dikuti Djenar Mahesa Ayu, Clara Ng, Dinar
> Rahayu lalu Nova Riyanti dan Herlinatiens. Dalam
> sebuah wawancara, pemenang sayembara penulisan novel
> Dewan Kesenian Jakarta 2004, Dewi Sartika pun
> menuturkan keterusterangannya telah terpikat dengan
> gaya penulisan Ayu Utami. Barangkali kelahiran sastra
> tersebut dilatari dengan kilah dan dalil "bukan hanya
> laki-laki saja yang berani bicara soal seks" dan
> kenyataannya kini penulis perempuan justru lebih
> berani tanpa harus risih, dan malu lagi.
> 
> Belakangan, gairah perempuan penulis sastra adalah
> fakta yang tak bisa ditolak. Dengan memunculkan karya
> sastra seks, sebagai upaya perjuangan sastra perempuan
> yang selama ini terpinggirkan, yang kehadirannya ingin
> mencerminkan sikap sebagai sastra pemberontak sebagai
> wujud pembebasan sastra, perempuan ingin unjuk gigi
> bahwa mereka juga merupakan bagian sah, yang tak bisa
> diremehkan dalam khazanah sastra dan kebudayaan.
> Ternyata upaya pembebasan ini justru memperpuruk moral
> dan menenggelamkan budaya Timur kita yang santun dan
> bermartabat tinggi, dan tentu saja mengakibatkan
> pembusukan budaya. Kenapa?
> 
> Barangkali, sebagai jawaban yang tak bisa disangkal,
> bahwa ketika mempersoalkan kerusakan moral dan budaya,
> banyak sekali variabel yang berkaitan. Dan media massa
> jelas menjadi aktor utama dalam hal ini. Buku sebagai
> bagian dari media massa jika terus-menerus memunculkan
> karya sastra yang telanjang dan fulgar, jelas
> berpengaruh meliarkan syahwat masyarakat dan tentu
> saja ini berdampak negatif, karena keterkaitannya
> dengan rekayasa sosial. Dengan demikian, masyarakat
> yang masih menganut budaya Timur yang santun dan
> bermartabat tinggi dibuat penasaran dan rapuh oleh
> karya-karya telanjang yang menggelikan itu.
> Stigmatisasi masyarakat yang selama ini masih memegang
> kuat aturan normativitas, bergeser menuju arah
> kebebasan tanpa terkendali dan keterbukaan yang
> sebebas-bebasnya. Itulah potret masyarakat kita,
> ketika karya-karya yang berkisar di wilayah pusaran
> seks begitu deras, masyarakat pun ternyata sangat
> antusias dan responsif terhadap fenomena ini, terlebih
> ketika tema seksualitas mendominasi segala ruang
> gerak-gerik kita. 
> 
> Keberanian memunculkan adegan-adegan seks, yang ingin
> menjadikan sastra sebagai wahana pembebasan, tapi yang
> terjadi malah sebaliknya, menjadikan sastra perempuan
> sangatlah rendah nilai estetikanya, jumud, elitis, dan
> eksklusif. Semangat pembebasan karya sastra yang
> diharapkan, tapi justru membenamkan mereka dalam
> kubangan wilayah selangkangan yang menjemukan. Seakan,
> tak ada tema lain yang layak dan lebih berharga untuk
> terus digali dan dikembangkan sebagai pencerahan
> kebudayaan demi keberlangsungan hidup kita yang lebih
> ramah dan santun.
> 
> **
> 
> SEJARAH sastra dunia telah mencatat bahwa
> penulis-penulis sastra besar seperti Dante di Italia,
> Shakespeare di Inggris, Cervantes di Spanyol, Goethe
> dan Schiller di Jerman, Balzac di Prancis, Dostowjeski
> dan Tolstoi di Rusia, Pablo Neruda dan Allende di
> Cile, Marquez di Kolombia, Paulo Coelho di Brasil,
> Muhamad Iqbal di Pakistan, Mutanabi di Mesir, Kahlil
> Gibran di Libanon, dan sebagainya telah berhasil
> menjadikan individu-individu yang memberikan dirinya
> sebagai garda depan identitas bangsanya karena
> persentuhan-persentuhan yang secara frekuentif
> dilakukan secara terus-menerus dalam berbagai jaringan
> peristiwa yang mampu menembus kepentingan agama,
> politik, ekonomi, dan budaya sebagai tujuan tunggal
> kemanusian dengan ciri menampakkan kepribadiannya yang
> bermoral dan etika yang "bersih" dari bangsanya. Dan
> tentu karya-karya yang berharga tersebut "sepi" dari
> urusan "rendahan" seputar selangkangan. 
> 
> Bahkan sastra Jahiliyah yang ditulis ribuan tahun yang
> lalu oleh penyair seperti Imru Al-Qays, Amru bin
> Kultsum, Al-Harits, Hatim Al-Tha'i, Qays bin Mulawwih,
> Labid bin Rabi'ah, Tharfa bin 'Abd, dan Zuhair bin
> Salma, jauh dari permasalahan selangkangan. Padahal
> tradisi sosial lingkungan sangat memungkinkan untuk
> itu. Kalaupun ada sebagaimana yang ditulis Amru bin
> Kultsum di Mualaqat tentu pilihan bahasanya begitu
> halus dan selalu dikaitkan dengan pesona alam,
> pengalaman itulah yang masuk ke dalam keindahan yang
> disalurkan lewat bahasa. Tidak sebagaimana Djaenar
> Maesa Ayu dengan cerpen Memek-nya. Sehingga karya
> sastra demikian menurut Thaha Husan dalam bukunya Fi
> Syiir Al Jahily sedikit pun tak mengganggu kekuatan
> estetika. Bahkan lebih jauh Penyair Syauqi Dlaif dalam
> muqaddimah buku Al Asar Al Jahily mengatakan bahwa
> karya sastra Jahily telah mampu menembus kegelapan
> zamannya dan melampaui peradabannya yang busuk. Ia
> justru bisa sebagai kontrol terhadap nilai-nilai, dan
> kaidah-kaidah yang sedang berlaku dalam masyarakat
> yang demikian telah rusak. Dan kehadiran sastra pada
> zaman Jahily adalah usaha untuk menciptakan kembali
> dunia sosial itu: hubungan-hubungan keluarga, suku,
> ras, politik, agama, dan sebagainya. Ia juga
> menggarisbawahi peranannya dalam keluarga dan
> lembaga-lembaga lain, berusaha mencairkan konflik dan
> ketegangan antarkelompok dan antargolongan.
> 
> Tetapi apa yang sedang berlangsung dengan satra kita
> dan masyarakat kita? Sekali pun dianggap "jorok" dan
> tabu dalam sajian bahasanya, ternyata buku yang
> mengusung realitas seks sebagai bahan eksploitasi ini
> mampu membius pembaca masyarakat kita dengan gegap
> gempita dengan tujuan untuk membuat heboh masyarakat
> atau alasan logis lainnya: komersialisasi. Dengan
> demikian, jangan berharap seksualitas fiksi perempuan
> memiliki peluang untuk hadir sebagai karya sastra
> besar (magnum opus) yang tak lekang dimakan zaman.***
> 
> *) Penulis Anggota Lembaga Kajian Islam dan Sosial
> (LKiS) Yogyakarta, kini sedang Studi Filsafat Islam di
> Kairo Mesir.*
> 
> 
> =====
> Mario Gagho
> Political Science,
> Agra University, India
> 
> 
> 
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Dress up your holiday email, Hollywood style. Learn more. 
> http://celebrity.mail.yahoo.com
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
> 4. Posting: [email protected]
> 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links








                
---------------------------------
Do you Yahoo!?
 Yahoo! Mail - Find what you need with new enhanced search. Learn more.

[Non-text portions of this message have been removed]






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$4.98 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/Q7_YsB/neXJAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [email protected]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke