Sama Mas Ging, Kalau Anda bilang banyak perempuan lain yang bukan Siti Nurhalizah, maka perempuan juga bukan cuma Gadis Arivia.
Jadi, kalau berargumentasi, sebaiknya jujur pada "what you really believe". Coba jawab pertanyaan ini: "Baik mana, Siti Nurhalizah dan Inul?" (tentu jawaban diplomatis adalah: setiap orang punya ukuran kebaikan sendiri-sendiri) Tapi pertanyaan saya adalah LANGSUNG kepada Anda, sekali lagi: "Sebagai istri atau calon istri, baik mana Siti Nurhalizah dengan Inul?" Saya berani menjawab langsung dan jujur: "Saya ingin punya menantu seperti Siti Nurhalizah daripada Inul." Jelas dan tegas. Itulah inti dan kunci dari perdebatan. You have to believe in what you really believe, bukan cuma wacana populer atau fenomenal, yang sulit menjawabnya secara konkret. Salam, sirikit syah --- Ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salah, itu tadi ternyata posting dari Sirikit yang > diforwar Eko. Sori, Eko. > > Tambahan untuk Sirikit, > Segtiap kali bicara tentang citra perempuan asyik > masa kini, banyak orang mengacu pada Siti Nur > Haliza. Juga --sekali lagi, Oma Irama, Abdullah > Gymnastiar, dsb. > Ya memang, okelah, Siti Nurhaliza. Tapi selain dia > ada milyaran perempuan lain. > Dulu Gym bilang, untuk ngetop, tap perlu goyang > ngebor, toh siti Nurhaliza bisa. Iya memang. Tapi > hanya ada satu siti nurhaliza. Biarlah orang > menemukan jalannya sendiri untuk eksis. Biarkan > orang menemukan jalannya sendiri untuk menemukan > dirinya. Dan menemukan moralnya juga. > > > > -----Original message----- > From: Sirikit Syah [EMAIL PROTECTED] > Date: Fri, 24 Dec 2004 21:19:57 +0700 > To: [email protected] > Subject: RE: [ppiindia] Gadis Arivia: Pusar SBY > Memang Tidak Menarik Untuk Dipertontonkan > > > > > > > --- ging <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > 1. Represif dan otoriter itu tidak Cuma harus > > > perbuatan, tapi ucapan dan > > > pikiran. Dan lebih dari itu, SBY sudah > menyerukan > > > penghentiannya. > > > > SBY mengatakan, bukan pemerintah yang berhak > melarang > > begini. Dikembalikan kepada rakyat. Satrio, untuk > > pertamakalinya, saya jadi agak 'suka' pada SBY > (dulu > > anti sekali, habis dia peragu sih). Saya suka > karena > > dia peduli pada persoalan yang sedang kita > perdebatkan > > ini, dan jelas dia bilang dia/pemerintah tidak > berhak > > melarang. Eh, bukankah yang melakukan pembatasan > KPI? > > (Sudah baca Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar > > Program Siaran?) Dan bukankah KPI itu representasi > > rakyat? > > > > > 2. Lontaran Sirikit tentang "Kalau pusar diobral > > > sambil pantat > > > dan pinggul digoyang seperti adegan > bersenggama", > > > mengingatkan saya pada > > > Oma Irama yang menyerukan "pertobatan" Inul. > > > > Memang saya mendukung subtansi pendapat Rhoma > Irama, > > meski tidak suka caranya. Kenyataan, dangdut jadi > cuma > > pertunjukan adu adegan senggama di layar kaca. > Pernah > > nonton nggak sih? Kalau di night club gitu > terserahlah > > ya. Ini kan ranah publik, bung. > > > > > > 3. Argumen-argumen yang menyudutkan pilihan > orang > > > berpakaian yang > > > berbeda itu dilandasi oleh sikap merasa lebih > suci, > > > merasa lebih > > > bermoral, lebih tingi, lebih bermartabat. > > > > Hayo, siapa yang main judging? > > > > Dan mereka > > > yang berpakaian > > > dengan puar terbuka itu adalah ular yang > menggoda > > > adam di surga, calon > > > penguni neraka yang mengancam masa depan bangsa > in > > > (yang diajukan > > > sebagai "calon korban" biasanya "anak muda"). > > > > Hayo, siapa yang pernah bilang begitu? > > > > > > 4. Pakaian terbuka adalah pilihan. Sama sahnya > > > dengan berpakaian > > > tertutup dari kepala hingga kaki dan hanya > > > menyisakan mata --itupun pake > > > sejenis jaring--. Sama sahnya dengan kebaya, > baju > > > kurung, koteka, bodo, > > > apapun juga. > > > Kita punya beda-beda selera, beda-bda nilai, > > > beda-beda pilihan, silakan. > > > Yang tak bisa adalah kalau mewajibkan atau > melarang > > > baju terbuka. > > > Sebagaimana tak bisa diterima jika diwajibkan > atau > > > dilarang memakai baju > > > tertutup. > > > > Argumen menyimpang. Topik: pamer pusar, dada, > pantat, > > paha di layar kaca (media massa). Kalau di rumah > > sendiri atau di night club sih, silakan ..... > > > > > Dan lihat, gadis benar: yang dimasalahkan adalah > > > pakaian perempuan. > > > Sebuah pandangan misoginis, yang menganggap > > > perempuan adalah pendosa > > > utama dunia ini, penggoda dan penghancur moral. > > > > Once again, kok merasa begitu sendiri sih? > Kayaknya > > para pengkritik pakaian minim dan goyang senggama > di > > teve nggak pernah bilang begitu deh. Rasanya > > kebanyakan orang yang mengkritik bukan menganggap > > mereka pendosa, melainkan: korban, perlu > dikasihani. > > > > > 5. Kalau soal ranah publik TV dan sebagainya, > sudah > > > puluhan tahun kita > > > punya TVRI, belasan tahun TV swasta, dengan baju > > > macam-macam. Dan sejauh > > > ini, semuanya normal-normal saja. Moral bangsa > tak > > > lebih baik dari tanpa > > > pakaian itu, tapi tak lebih buruk. Kejahatan > seks > > > juga --kalau ini yang > > > mau dijadikan argumentasi. > > > > Minta bantuan wartawan kriminal: apakah angka > > kejahatan seksual naik? Saya sering baca di surat > > kabar, anak-anak perkosa teman atau tetangga > karena > > niru tontonan di teve. Ada ibu gantung diri karena > > suaminya tergila-gila goyang Inul. Ada kakek > perkosa > > cucu ya karena nonton goyang dangdut. Ini ada, > fakta, > > fenomena. Kalau ada yang tanya: "Apakah itu > > menyimpulkan adanya dampak negatif atau pengaruh > buruk > > tayangan teve itu pada masyarakat?" Saya tanya > > kembali: "Menunggu berapa jumlah korban sampai hal > itu > > dianggap signifikan?" > > > > > 6. Kalau soal ranah publik lagi, kita punya KPI. > > > Biarlah mereka mncoba > > > bekerja. Tak perlu SBY. Karena masih ada urusan > lain > > > yang jauh lebih > > > penting. Saya tak perlu mengabsennya. Bahkan > ketika > > > bicara soal TV > > > sekalipun, masih banyak yang jauh lebih penting > > > untuk dipedulikan > > > ketimbang penyanyi berpakaian seronok. > > > > SBY memang tak mau ikut campur kok. Jadi, justru > > reaksi kita yang berlebihan. Presiden kan boleh > > prihatin pada apa yang dianggapnya perlu > > diprihatinkan. Memang yang ngurusi kan KPI? Cemas > amat > > sih atas komentar SBY? > > > > > 7. Ada kebangkitan kaum konservatif, yang ingin > > > membatasi apa saja. > > > Antara lain dengan UU Pornografi dan Pornoaksi > > > --aduh, istilah pornoaksi > > > yang sangat Din Syamsudin (sekjen MUI, bekas > > > politikus Golkar zaman > > > Orba, dan "pemain ulung" untuk banyak urusan). > UU > > > yang sedikit lebih > > > ketat lagi saja, akan sulit dibedakan dengan > aturan > > > Taliban. > > > > No comment. > > > > Dan ucapan > > > SBY Cuma memberi besin pada kaum tak toleran > yang > > > gemar mengkafirkan > > > orang lain dan merasa sebagai penjaga kunci > surga. > > > === message truncated === __________________________________ Do you Yahoo!? All your favorites on one personal page � Try My Yahoo! http://my.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

