http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=100397
Hermeneutika Golkar @ Dari Sibolga Ke Watampone Oleh Bambang Tri Kamis, (30-12-'04) Halaman 4, Kompas, 20 Desember 2004, memuat tiga tulisan utama tentang Jusuf Kalla yang menang dalam Munas Golkar. Pertama, Tajuk Rencana Kompas sendiri, kedua tulisan Riswandha Imawan, dan ketiga tulisan Tamrin Amal Tomagola. Sangat menarik, bila ditarik garis temperamental antara ketiga tulisan. Dalam satu kata, Tajuk Kompas adalah simpatik, Riswandha skeptik, dan Tamrin sarkastik. Pada halaman yang sama, tanggal 22 Desember, skeptisisme Riswanda dan sarkasme Tamrin sudah dijawab dengan "pembelaan" dari Mochtar Pabottinggi, meski masih ada tulisan lain di halaman 5 oleh Toto Sugiarto dari Sugeng Sarjadi Syndicated yang sangat hermeneutic alias bergaya menafsir-tafsir. Tapi semua tulisan di atas, mencerminkan reaksi yang luar biasa terhadap posisi baru Kalla. Dalam Tajuk Kompas, keputusannya yang berani dan keseriusannya memenangkan laga, disebut sebagai Blitzkrieg yang bernada heroik Riswanda tampak tidak cukup punya simpati untuk tidak mengatakan, "Betapa pragmatisme dan sikap oportunis sudah berurat berakar dalam pola pikir warga Golkar." Tamrin malah mengucapkan, "Selamat Datang kembali Orde Baru dengan Old kids on the block-nya." Sarkasme Tamrin tentang "DPR Tukang Stempel" masih bisa diterima -- paling tidak sebagai sarkasme --, tapi mengaitkan musibah pesawat Lion Air dengan citra SBY-Kalla tidak layak disebut sarkasme, melainkan lebih tepat disebut ilusi penafsiran (hermeneutic illution) kalau tidak malah atau kengelanturan yang absurd. Toto Sugiarto menafsirkan bahwa Kalla (didukung Partai Golkar) akan berwatak pre-human (tidak seperti manusia), melainkan seperti pohon atau semak belukar yang tidak bisa lain kecuali menghadap matahari untuk tetap hidup dan tumbuh besar. Kalla mengincar kursi presiden, Golkar mengincar pemerintahan. Pertanyaannya, apakah cara penafsiran seperti itu bebas bias dan dibuat dengan pikiran serius dan tenang, atau justru sudah terbentuk kerangka pikiran yang ber-frame khusus dan asal reaktif? Pernyataan publik yang demikian tentu mempengaruhi pencitraan terhadap Kalla, benar salah pencitraan itu adalah satu soal, sementara penyerapan memori publik tentang "monster Kalla" adalah soal lain yang sudah pasti terjadi. Kami tidak yakin, pembelaan Mochtar Pabottinggi yang begitu mengharukan (misalnya dengan kisah Kalla mendaratkan pesawat dalam cuaca buruk dan kesaksian bahwa Mochtar belum pernah mendengar hal-hal yang tidak terpuji dari Kalla) bisa mengimbangi efek negatif pencitraan sebaliknya. Debat Kusir Ada pertanyaan sederhana yang bisa untuk menyentak mereka yang total menganggap kemenangan Kalla sebagai momen negatif. Yakni, apa komentar mereka jika yang menang Pak Akbar Tandjung? Apakah mereka memberi kredit dan apresiasi terhadap Partai Golkar? Jangan-jangan bukan seperti itu yang terjadi, namun mereka tetap menyerang Partai Golkar dan mendiskreditkan Pak Akbar? Siapa pun yang terpilih, Golkar dianggap salah dan yang terpilih akan tetap diserang. Kalau ini yang terjadi, tentu ada yang harus waspada terhadap permainan mereka. Apa boleh buat, serangan seperti ini bisa membuat warga Golkar bersikap defensif. Misalnya, dengan mendebat ala kusir bahwa Pak Amien Rais yang menyebut rangkap jabatan Kalla sebagai lonceng kematian demokrasi, toh juga tak mau berhenti sebagai Ketua Umum PAN sambil menjadi Ketua MPR? Sementara Pak Hidayat Nur Wahid yang dengan elegan mencopot jabatan rangkapnya sendiri, justru dengan santun memberi pernyataan bahwa ia dan PKS tetap mendukung (secara politik) Kalla sebagai Wapres, meski peringatannya agar Kalla hati-hati patut diingat-ingat. Kata-kata Kennedy, my loyalty to my party ends, when my loyalty to my country begins, dijadikan mantra pembenar oleh Pak Amien untuk menyalahkan Kalla. Sebenarnya, prasyarat untuk penerapan motto itu adalah ketika loyalitas kepada partai berkontradiksi dengan kepentingan negara. Hanya para politikus yang ambisius sekaligus bukan negarawan sejati yang menghadapi dilema demikian. Tajuk Kompas mengingatkan bahwa bangsa ini butuh pemerintahan yang bergerak cepat dan lincah tanpa beban politisasi legislatif. Kalau itu motivasi Kalla, bukankah itu sikap kenegarawanan yang dalam realita harus diperjuangkan melalui tindakan politik? Memang benar, Kalla sekarang mempunyai kekuatan dahsyat, politik, ekonomi, dan birokrasi. Lalu orang meneriakkan "fatwa" Lord Acton, power tends to corrupt, and absolute power absolutely corrupts. Tapi hal itu memerlukan prasyarat untuk terjadi, misalnya, sistem politik yang tidak demokratis, sistem ekonomi monopolistis , dan birokrasi yang tidak profesional. Tamrin Amal Tomagola, menganggap bangsa ini keledai karena jika mereka tidak bereaksi negatif atas terpilihnya Kalla. Ini gaya khas debat kusir . Karena jika yang menang Pak Akbar pun, "keledai" Tamrin itu tidak akan menjadi hewan yang agak pintar. Coba dong, tulis artikel sekarang: "Seandainya Akbar menang!" Kesempatan Dan Harapan Sistem politik yang membatasi Kalla adalah sistem multipartai dan pemilihan presiden langsung, dua katup pengaman dari ambisi politik yang tidak populer dan masuk akal, baik oleh partai maupun aspiran presiden. Sekedar mengingatkan, Encik Anwar Ibrahim pun mengakui kebolehan sistem ini. Sistem ekonomi, memang masih bolong di sana-sini, tapi posisi Kalla sebagai Wapres justru membuat dia dalam pengawasan ekstra. Apalagi, di tengah beban menyukseskan gebrakan pemerintahan ini memulihkan ekonomi termasuk memberantas korupsi. Birokrasi yang tidak profesional, termasuk birokrat hukum, memang mengkhawatirkan kita semua, tapi itulah masalahnya, bukan Kalla dengan segala kekuatan riilnya secara taken for granted. Apalagi, di tengah beban psikologis bahwa duet SBY-Kalla tidak boleh mengulangi alasan rejim tempo hari, bahwa kesulitan besar bangsa ini adalah warisan rejim lama alias Orde Baru. Berita para tersangka korupsi ditahan adalah berita yang jarang terdengar pada pemerintahan kemarin dan kemarin lusa. Hari ini, berita semacam itu membisingkan dan kadang membingungkan kita. Baru satu yang jelas, SBY-Kalla telah meluncurkan keputusan politik: berantas! Tinggal para birokrat hukum, punya nyali atau tidak, tergoda suap atau tidak, ketika politicall will sudah ada. Memang sekarang Kalla berada dalam ruang ujian sejarah. Mochtar Pabottinggi membuat analogi bagus: seandainya Megawati tidak sibuk menggalang kekuatan untuk Pemilu 2004, ia masih Presiden Indonesia, hari ini. Sah-sah saja jika ada harapan dan tafsiran Kalla justru tidak hanya sabar menunggu 2009, melainkan ia akan sabar menunggu sampai 2014. Siapa tahu Kalla tidak ingin meniru Megawati, tapi meniru Al Gore yang sabar dua kali menjadi wakil Clinton, untuk kemudian baru maju sebagai kandidat presiden, meski ia harus kalah tipis dari Bush Junior. Siapa tahu pula, Kalla justru mempersilakan SBY untuk mengikuti konvensi presiden Partai Golkar tahun 2009, demi meningkatkan mutu konvensi dan jika memang SBY adalah pemimpin yang membuktikan dirinya berhasil? Siapa tahu pula, Kalla mampu mewujudkan obsesi paradigma baru Partai Golkar sebagai partai yang mempelopori sistrem distrik dalam Pemilu Legislatif 2009, dan jika itu belum didukung orang lain di parlemen, Partai Golkar akan membuat terobosan dengan menerapkan Sistem Distrik Internal! Perlu diingat, pemilu distrik akan memperkuat sistem politik nasional yang bisa menghindari rumus ekstrim Acton tentang kekuasaan di atas. Bolehlah diberikan hermeneutika juga, bahwa harapan untuk itu masih ada karena Kalla "dikawal" tokoh-tokoh elegan dan demokratis, bangsawan demokrat, yang bernama Sultan Hamengkubuwono X! Mantan jenderal yang vokal seperti Prabowo Subianto, putera Aceh yang menggebu (pinjam istilah Kompas) dan terobsesi demokrasi seperti Surya Paloh. Yang disebut terakhir ini mengingatkan kita pada Ross Perot, konglomerat Amerika yang menjadi calon presiden alternatif. Paloh sekarang menjadi Ketua Penasehat, jabatan yang secara formal struktural terdengar mirip jabatan yang dulu hanya boleh dipegang Pak Harto! Orang pesimis berkata air di gelas yang setengah kosong, orang optimis berkata setengah penuh. Orang realistis dan kritis tidak akan menyederhanakan dan menyamaratakan masalah, atau nggebyah uyah padha asine (semua garam sama saja karena sama-sama asin). Pak Harto tidak sama dan tidak mungkin sama dengan Paloh, hanya karena mereka sama-sama menjabat sebagai ketua dewan superlatif di Golkar. Kalla tidak otomatis sama dengan Megawati untuk sama-sama menjadi "presiden antarwaktu", hanya karena sama-sama wakil presiden dan memimpin partai dominan di DPR. Ibarat garam, tentu beda antara yang beryodium dan yang tidak, meski pun sama-sama asin. Transisi Golkar Kekhawatiran yang sehat (healthy skepticism) memang perlu, tapi bersikap phobi terhadap transisi kepemimpinan Golkar dengan realitasnya yang sekarang, mungkin keterlaluan atau over-fetched, menurut Pabottinggi. Sikap itu juga cenderung tidak mau tahu terhadap realitas politik bahwa Kalla maju karena kemungkinan gagalnya mengusung Surya Paloh karena tata-tertib yang menang setting melarang calon ketua yang belum pernah menjadi pengurus DPP minimal 5 tahun. Keputusan politik memberi suara ke DPD II supaya basis pemilihan lebih luas pun bukan hadiah gratisan, semua itu diperjuangkan. Bahwa kemudian jadi gol dengan mudah karena situasi, justru juga karena "kekuatan riil" kelompok Kalla. Ini blessing in disguise bagi demokrasi, karena Golkar menjadi lebih modern dalam pemilihan ketua dengan voting berbasis luas. Hal ini tidak mudah ditiru partai pesaing, paling tidak dalam waktu dekat ini! Demokrasi memerlukan sistem yang kuat dan itulah yang harus diperjuangkan semua partai politik demi kepentingan bersama. Untuk itu kiranya lebih arif jika para tokoh partai lain tidak bersikap mencelupkan tangan ke mangkok orang alias mengobok-obok urusan internal partai lain. Kalau rangkap jabatan dianggap anti-demokrasi, bangunlah sistem yang kuat untuk melarangnya, misalnya, dengan undang-undang. Untuk menjadi undang-undang tentu harus ada debat di DPR, dan kalau itu kalah lagi, juga harus sabar dan menunggu perubahan komposisi suara melalui pemilu. Jalan terjal berliku? Ya! Tapi itulah the only way, kalau memang ada golongan mayoritas yang tidak percaya kepada integritas dan jiwa besar orang-orang yang dalam posisi seperti Kalla. Orang Golkar sendiri tidak boleh sekedar marah dikritik pemimpinnya. Sebagian kritik itu benar, tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar. Para politisinya di parlemen tidak perlu membuat zero sum game, babat-membabat, atau recok-merecok. Jangan lupa, akhirnya rakyatlah yang menjadi hakim dalam Pemilu 2009 dan pemilu-pemilu berikutnya, baik bagi partai politik maupun para politisinya. Bagi internal Golkar, toh calon presiden akan dikocok ulang dalam konvensi mendatang, dengan format ideal memang Ketua Partai tidak boleh ikut serta. Kalla yang powerful bisa saja dicalonkan partai lain dan berpasangan dengan orang lain, karena pilihan rakyat atas partai belum tentu sama dengan pilihan presiden, seperti yang baru saja terjadi dalam pemilu lalu. Jadi, masih ada ruang kompetisi untuk calon lain dari Golkar. Bagi para pendukung Pak Akbar Tandjung, tetap diharapkan kontribusinya yang luar biasa dalam mewarnai parlemen. Memang harus dengan catatan bahwa Kalla akan keep an eye on them, seperti kemarin Koalisi Kebangsaan melakukannya terhadap SBY Kalla. Situasinya memang sudah lain, hanya integritas dan kejujuranlah yang akan menang melawan keadaan saling intai semacam ini. Menang tanpa menyakiti sekaligus tidak mau disakiti adalah sikap wajar yang bisa diharapkan dari Kalla. Partai Golkar tidak otomatis baik dan buruk hanya karena sejarahnya dengan Orba atau pimpinannya rangkap jabatan, melainkan akan ditentukan oleh integritas para politisinya dalam bersikap terhadap kepentingan yang menyentuh rakyat banyak. Banyak hal harus diperbaiki oleh Partai Golkar, tapi transisi kepemimpinan demokratis dari Pak Akbar dan Pak Kalla tetap layak diapresiasi terutama oleh para kader sendiri. Angin senja sepoi-sepoi, dari Sibolga ke Watampone, sebuah era telah berganti, jangan berlaga sampai memble! *** (Penulis adalah anggota Partai Golkar). [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

