Tulisan ini panjang memang, tapi sangat menyedihkan memang. Silahkan diteruskan.

Lia achmadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Senin 27 desember lalu saya berangkat ke banda aceh untuk liputan buat 
associated press television news (salah satu media tempat saya menjadi 
kontributor) ternyata apa yang saya saksikan disana jauh   lebih mengenaskan 
daripada sekedar menyaksikannya lewat layar kaca. 

Disini saya bisa berinteraksi langsung dengan pada korban, baik yang masih 
hidup maupun yang sudah mati. dengan yang hidup saya masih bisa 
berbincang-bincang seadanya (tak etis rasanya saya menanyai mereka panjang 
lebar karena mereka baru tertimpa bencana, dan saya tau mungkin mereka belum 
makan sejak minggu pagi saat bencana itu   terjadi). saya juga bisa merasakan 
langsung kesedihan yang terpancar dari wajah-wajah kuyu yang kecapaian dan 
masih trauma itu. mungkin   kalau saya mengerti bahasa aceh kesedihan itu bisa 
jadi berlipat-lipat. sedangkan dengan si mati! saya bisa melihat langsung 
kondisi   mereka yang sangat mengenaskan, mencium aroma yang konon bisa 
"melekat" di tubuh anda selama sepekan. saya mendapat informasi   ini dari 
seorang dokter yang kebetulan sering berurusan dengan mayat.

Dalam kunjungan singkat itu (sekitar 2,5 jam saja, sekitar satu jam   saya 
habiskan dengan terbengong di bandara iskandar muda karena tak adanya alat 
transportasi ke kota) saya sempat menyaksikan kepanikan   luar biasa dari warga 
kota serambi mekah itu. beberapa tenda militer didirikan tak jauh dari pintu 
keluar bandara. di jalan-jalan warga   bersileweran seperti orang ling-lung. 
mungkin masih trauma, atau mungkin ada keluarganya yang hilang. atau malah 
sudah mati... kondisi   ini memaksa kendaraan yang melintas untuk berjalan 
pelan. waktu biasa sekitar 20 menit dalam perjalan dari bandara ke kantor 
gubernuran   terasa menjadi lebih lama. 

Di lambaro saya bersama rombongan (3 dokter dari medan, seora! ng anggota DPR 
RI asal aceh, kadis kesehatan pemprov. NAD, dan 2 jurnalis kantor berita xinhua 
beijing) singgah di lokasi pemakaman massal. saat tiba disana, areal sekitar 20 
m x 15 m itu sedang digali dengan menggunakan excavator. penggalian belum 
selesai, 5 kantong berisi mayat teronggok di pinggir lubang raksasa itu. 
sekitar 5 menit mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan.

Semakin jauh mendekati kota suasana chaos semakin terasa. crowd  manusia yang 
kebingungan semakin banyak terlihat. tak sedikit dari mereka yang membawa 
buntalan-buntalan besar. mungkin pakaian, atau harta yang tersisa. mobil-mobil 
dan sepeda motor lalu lalang dengan lampu dihidupkan. sesekali ambulans 
melintas kencang. entah membawa korban yang masih hidup, atau mayat yang sudah 
mulai membengkak. saya tidak sempat memeriksa.

Sebelumnya saya dengar banyak beredar rumor bakalan terjadi gempa dan tsunami 
susulan. berita-berita seperti ini! tentu menyesatkan karena bisa saja 
menimbulkan hal tak diinginkan. entah siapa yang menghembuskan, yang jelas 
banyak warga yang menjadi korban. mungkin karena mereka masih trauma. sedikit 
saja terdengar jeritan, "air..." niscaya orang-orang langsung berlarian 
menyelamatkan diri. si anggota DPR RI sempat bercerita kalau dia juga sempat 
menjadi korban. 

Mendekati bundaran lambaro di aceh besar aura kehancuran dan kematian semakin 
terasa. beberapa kali saya melihat mayat teronggok di pinggir jalan. aroma 
udara yang terhirup juga mulai tak sedap. saya menduga pasti ada konsentrasi 
pengumpulan mayat. dugaan saya benar. di sebelah kiri simpang lambaro yang 
dikenal dengan sebutan bundaran itu, tepatnya di depan kantor PMI teronggok 
sekitar 700 an mayat dari berbagai tempat di kota banda aceh. 

Ya tuhan... saya hampir tak percaya dengan penglihatan sendiri. selama saya 
bekerja sebagai jurnalis inilah konsentrasi mayat terb! anyak yang saya lihat! 
mayat-mayat itu membusuk lebih cepat karena terendam air. saya sempat terbodoh 
sebentar, apalagi saat melihat jejeran mayat anak kecil (mungkin berusia 5 
tahunan). ada lagi mayat anggota polisi yang masih berpakaian lengkap. ada 
mayat seorang wanita yang biji matanya hampir mencelat. ada mayat yang mulutnya 
masih mengeluarkan darah dan buih... ah... saya tidak tahu kenapa saya begitu 
kuat siang itu. entah dimana air mata saya. sebelumnya saya mendengar cerita 
seorang kameramen sctv yang menangis sambil mengambil gambar. ada juga cerita 
seorang jurnalis lain yang sampai tak sanggup mengambil gambar. bisa anda 
bayangkan?

Tapi saya teringat saya tidak punya waktu banyak disitu. apalagi si pemilik 
mobil kijang yang kami tumpangi juga sedang tergesa-gesa hendak melanjutkan 
perjalanan mengantarkan 3 orang dokter yang bersama saya itu. akhirnya 
camcorder saya hidupkan dan lensa kamera mulai saya arahkan de! ngan beberapa 
variasi shoot. kamera saya juga sempat merekam seorang bapak yang berusaha 
mengenali sesosok mayat anak kecil dengan meraba-raba bagian belakang 
kepalanya. mungkin dia berharap bisa mengenali si anak dari tanda lahir di 
belakang kepala itu. sejenak dia seperti tidak yakin kalau itu putranya. dia 
terdiam. tapi tiba-tiba dia menangis kencang dan terisak. sayang saya tidak 
mengerti ucapannya. mata saya sempat berkaca-kaca...

Sore itu orang-orang hilir mudik berusaha mengenali mayat demi mayat. sedangkan 
tentara dan relawan palang merah indonesia mengangkati mayat ke truk untuk 
diantarkan ke tempat pemakaman. truk lain masuk ke lokasi mengantarkan mayat 
baru. entah dari mana. pasokan mayat sepeti tak berhenti. sinar matahari yang 
lumayan terik membuat aroma tak sedap semakin menyeruak. untunglah seorang 
teman yang terbiasa dengan liputan yang berhubungan dengan orang mati pernah 
memberikan resep. saat saya coba! ternyata memang mujarab. 

"kalau berada di dekat mayat, bagaimanapun kondisi dan bau nya, jangan 
sekali-kali membuang ludahmu. karena itu bisa memancing muntah. sebaiknya 
telanlah ludahmu kalau merasa ingin muntah, bagaimanapun mualnya. mudah-mudahan 
kau tak akan muntah," kata si teman.

Teman yang memberikan resep adalah stringer salah satu kantor berita asing di 
NAD. ingat dia saya sempat kuatir karena saya belum melihat seorangpun jurnalis 
yang saya kenal disana. ada cerita kalau kebanyakan para jurnalis tinggal di 
daerah dekat pantai. padahal itulah lokasi yang paling ringsek dihantam 
tsunami. saya ngeri membayangkan kalau dia ikut menjadi korban. 

Perjalanan lalu berlanjut. konsentrasi orang semakin banyak. di sebuah spbu 
saya melihat antrian panjang orang. tak sedikit dari mereka membawa jirigen 
plastik. antrian itu semakin tak tertib. petugas spbu sepertinya sengaja 
menjatah karena persediaan tak banyak.  di sebelah kiri dan kanan jalan saya 
melihat gedung permanen bertingkat yang rubuh karena gempa. kalau tidak salah, 
bangunan yang di sebelah kiri gedung keuangan dan yang di sebelah kanan 
bangunan gedung asuransi. saya ngeri membayangkan seandainya bencana terjadi 
pada saat hari kerja. berapa banyak korban yang bakalan tertimpa?

O iya, si kadis kesehatan yang menyetir mobil yang kami tumpangi cerita kalau 
air (bah) sampai ke lokasi yang saya lihat. padahal jarak bibir pantai dengan 
tempat tersebut hampir mencapai 15 kilometer. sebegitu jauh, tapi air sampai 
kesitu. tinggi pula lagi. saya bisa melihat bekas air bercampur lumpur dari 
tembok-tembok itu... 

Sampah-sampah dan kayu-kayu teronggok di pinggir jalan membuat pemandangan 
semakin kumuh. "tadi pagi sampah-sampah masih di tengah jalan. tapi barusan 
dibersihkan pakai buldoser," tambah si kadis.

Beberapa mayat masih teronggok di pinggir jalan.  sayang saya tak ! bisa 
melihat detail ke seluruh tempat karena duduk terjepit di tengah-tengah mobil. 
saya juga tak bisa mengambil gambar dengan posisi seperti itu. ah, seandainya 
tadi saya bisa mencarter/ menyewa sebuah sepeda motor untuk berjalan sendiri. 
tentu gambar yang saya dapat bisa jauh lebih  bagus. tapi saya ingat juga tak 
punya waktu lama karena paling tidak mesti mengirimkan kaset untuk segera 
dikirimkan ke jakarta.

Mobil kami lalu berbelok mengarah ke kantor gubernuran. si kadis rupanya hendak 
bertemu seseorang di sana sehingga tak sempat membawa kami berkeliling lebih 
jauh. di pendopo gubernuran sudah banyak warga yang mengungsi. tempat itu 
memang jauh lebih manusiawi dibanding tempat-tempat yang saya lihat sebelumnya. 

Dalam sekian menit itu saya sempat menimbang-nimbang untuk terus jalan 
sendirian atau ikut balik ke bandara dengan rombongan wapres jusuf kalla. tapi 
tenggat waktu memaksa saya mengambil keputusan cepat. apalagi cuma ada satu bus 
yang bisa saya tumpangi untuk kembali ke bandara. 

Pertimbangannya, kalau saya tinggal saya mesti mencari sepeda motor untuk 
dicarter. jangan berharap ada angkot atau taksi disana. kalau saya tinggal, 
saya pasti akan kesusahan mencari penginapan dan makanan. jangankan untuk saya, 
warga setempat saja sudah 2 hari tidal makan. belum lagi saya betul-betul 
dengan medan banda aceh. saya pernah ke kota ini hampir 17 tahun lalu. banyak 
perubahan bukan? 

Melihat orang-orang mulai menaiki bus yang akan kembali ke bandara naluri saya 
memaksa untuk ikut. sempat saya kuatir, bagaimana kalau paspampres memaksa saya 
untuk turun? tapi saya teringat deadline untuk mengirimkan kaset hasil rekaman. 
tanpa berpikir panjang lagi saya ikut naik ke bus. di dalam saya melihat najwa 
shihab (presenter metro rv), beberapa wartawan dan fotografer lain dan seorang 
reporter perempuan yang membawa-bawa camcorder berst! iker TV7. belakangan saya 
tahu kalau dia ternyata uni z. lubis. 

Perjalanan setengah jam kembali ke bandara ternyata belum berbeda dengan saat 
saya menuju gubernuran tadi, selain orang-orang semakin banyak dan jalanan 
semakin padat. 

Saat melintas dari lokasi pemakaman massal saya sempat melihat kalau pemakaman 
belum dilakukan. padahal sore itu rencananya mesti dikuburkan karena mayat 
bertambah dan yang jelas semakin menebar bau tak sedap. saya berharap 
iring-iringan mobil wapres singgah di situ. tapi rombongan jalan terus.

Rombongan akhirnya berhenti di hanggar lanud iskandar muda. rupanya wapres mau 
melihat pasokan bantuan yang baru tiba dari medan. sore itu, 1 pesawat hercules 
baru saja landing membawa ratusan kardus makanan dan obat-obatan. prajurit tni 
tampak hilir mudik mengangkuti kardus-kardus itu dari lambung pesawat. tak lama 
wapres berangkat naik helikopter untuk meninjau beberapa lokasi yang tak 
terjangk! au lewat jalan darat. 

Kesempatan itu lalu saya manfaatkan dengan berbincang-bincang dengan kapolda 
nad irjen bachrumsyah. "bencana ini memang sangat mengerikan dik. saya juga 
turut menjadi korban. saya kehilangan kontak dengan banyak saudara-saudara 
saya. saya tak bisa berharap banyak. kalau mereka   masih hidup  tentu mujizat. 
kalaupun sudah tak ada, saya tak bisa berbuat apa-apa," katanya pada saya. 

Polisi berbintang dua dan berkumis lebat itu sepertinya memang sedang depresi 
ringan. wajar-wajar saja karena dia mesti berkeliling kesana-kemari. belum lagi 
laporan banyak anak buahnya yang hilang. termasuk sekitar 1 kompi saat mereka 
mau apel pagi di minggu naas itu. kelelahan terpancar dari wajahnya. celana 
lapangan yang dikenakannya belepotan lumpur. sangat jarang saya melihat 
pemandangan seperti itu. menyadari itu saya urungkan untuk menanyai hal-hal 
lain. 

Sore menjelang malam itu juga, sekitar puku! l 18.30 akhirnya saya jadi terbang 
ke medan menumpang pesawat pelita air yang disulap menjadi pesawat RI-2. 
sebelumnya saya sempat cemas, bagaimana saya mengirimkan kaset saya. untuk 
menumpang di pesawat wapres rasanya mustahil karena saya belum diregistrasi.

Sambil mencari akal bagaimana caranya untuk ikut pulang tiba-tiba seorang bapak 
menegur saya. saya tidak mengenalnya, selain baju safari coklat yang 
dikenakannya dan pin kecil di ujung kerahnya. seingat saya, seluruh anggota 
pasukan pengamanan presiden/ wakil  presiden mengenakan pin tersebut. tapi, dia 
terlihat lebih tua dari anggota paspampres lainnya. 

"mau pulang dik?" katanya sambil menepuk pundak saya.

"iya pak, kalau memang ada seat," kata saya ragu-ragu.

"ya udah, kalau mau pulang ikut saja. jangan berlama-lama lagi. ayo ikut aja," 
katanya ramah. 

Mendengar tawaran tersebut saya berbinar dan melangkah pasti ke  tangga 
pesawat. akhirnya pikiran! saya soal bagaimana mengirimkan kaset mendapat 
jawaban.

Jam 19.00 pesawat meninggalkan banda aceh. saya masih kepingin kembali kesana, 
mungkin dalam waktu dekat. rasanya saya ingin menebus kesalahan tidak sempat 
melakukan reportase lengkap. selain kaset berdurasi sekitar 20 menit. sebagai 
seorang jurnalis ini sebenarnya kesalahan yang tak bisa ditolerir. 

Satu pertanyaan terus membayangi saya selama 45 menit di udara, bahkan sampai 
hari ini saat saya mengetik di sebuah warnet tak jauh dari rumah saya setelah 
seharian menongkrongi posko bencana di lanud auri medan.

Kenapa pemerintah cenderung lambat menangani bencana ini? apalagi setelah 
beberapa pengungsi yang selamat dan pindah ke medan yang curhat mengatakan 
belum makan dan mendapat air bersih hampir 3 hari belakangan. jangankan 
makanan, snack pun hampir tidak ada. "kami sampai mesti mengorek-ngorek lumpur 
siapa tau ada makanan yang terbenam," kata si pengungsi tadi siang kepada saya. 
ucapannya tentu membuat saya terhenyak, apalagi setahu saya pasokan makanan 
sudah mulai dikirimkan sejak sehari sebelumnya. buat apa makanan itu sampai 
kesana kalau tak segera didistribusikan? 

Sampai tadi malam pasokan makanan dan obat-obatan masih terus masuk ke posko 
dan "tertimbun" disitu.  Kenapa semuanya terasa sangat lambat? sikap 
pemerintahan srilangka membuat saya iri. mereka cepat tanggap walau cuma sebuah 
negara kecil. militer dikerahkan untuk mengevakuasi korban. baik yang masih 
hidup atau sudah mati. mereka juga dikerahkan untuk mendistribusikan pasokan 
bantuan makanan dan obat-obatan. mereka bisa kenapa kita tidak? ayo kita bantu 
mereka yang jadi korban sebisa kita. 

Sayang saya tak sempat menanyakannya kepada mr president saat beliau megunjungi 
posko satkorlak bencana aceh di lanud auri medan selasa malam tadi. 

-- 
Lia Achmadi
PT. Radio Delta Insani! 
021 - 7278 4033



__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke