http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/07/opini/1482859.htm

 Jumat, 07 Januari 2005 

Pendidikan Darurat Pasca-Bencana 


Oleh Doni Koesoema A

KONFLIK politik dan bencana alam memperparah situasi krisis dan penderitaan 
berkepanjangan di Aceh. Kita masih ingat, sebelum bencana, pembakaran sejumlah 
sekolah di Aceh akibat konflik politik. Kini gelombang tsunami menyapu dan 
meluluhlantakkan sejumlah sekolah dan menghancurkan sistem pendidikan.

Anak-anak selalu menjadi korban utama dalam konflik politik maupun bencana 
alam. Dunia pendidikan kita, yang dalam keadaan normal masih carut marut jika 
dilihat dari sudut manajerial, kini kian kacau dan tidak tahu lagi harus 
berbuat apa saat menghadapi krisis dan darurat akibat bencana.

Situasi darurat akibat krisis politik dan bencana alam bisa terjadi di mana 
saja. Maka, dalam pertemuan di Dakar, Senegal, April 2000, Unesco memikirkan 
dan mempelajari sebuah kerangka kerja bersama bagi kelangsungan pendidikan pada 
masyarakat yang ditimpa krisis politik maupun bencana. Pembahasan kelangsungan 
pendidikan dalam situasi darurat dan krisis merupakan pengejawantahan 
keprihatinan atas Deklarasi Hak- hak Asasi Manusia Universal, tertuang dalam 
Pasal 26 Ayat (1), "Setiap orang berhak atas pendidikan. Pendidikan gratis 
semestinya diberikan pada tingkat dasar atau tingkat paling fundamental. 
Pendidikan dasar merupakan hal amat esensial dan dilindungi oleh hukum".

Apa yang menjadi keprihatinan di balik pemikiran untuk mengantisipasi situasi 
pendidikan darurat dan krisis, entah akibat konflik politik maupun bencana, 
adalah tetap dijaga dan dihormatinya hak- hak dasar manusia atas pendidikan. 
Artikel 26 Ayat (1) menegaskan, pendidikan dasar yang tersedia dan dijamin 
hukum merupakan salah satu langkah nyata atas realisasi hak-hak dasar ini.

Dua sasaran utama menciptakan kelangsungan pendidikan dalam situasi darurat 
adalah terjaminnya pendidikan bagi semua (education for all) dan promosi 
pendidikan yang selaras dengan deklarasi hak-hak asasi manusia universal.

Memahami pendidikan sebagai hak fundamental inilah yang biasanya luput dari 
perhatian banyak orang, staf organisasi kemanusiaan, pemerintah, dan lembaga 
swadaya masyarakat (LSM) saat bencana hebat seperti terjadi di Aceh dan 
penduduk sepanjang pantai tersapu gelombang. Konsentrasi pada evakuasi korban, 
pemenuhan kebutuhan fundamental, seperti bahan makanan, obat- obatan, dan 
lain-lain membuat lembaga-lembaga kemanusiaan dan pemerintah tidak melihat 
kepentingan mendesak untuk segera merestorasi akses pendidikan bagi anak-anak 
yang tertimpa bencana. Mereka lupa, anak-anak bukanlah selimut atau tenda yang 
bisa disimpan lama sembari menunggu situasi normal untuk memulai kembali 
kelangsungan pendidikan yang mereka terima. Menunggu sampai situasi normal, 
baru kemudian memikirkan kelangsungan pendidikan, hanya akan memosisikan mereka 
sebagai "generasi yang hilang" dalam struktur dan tatanan masyarakat.

Penderitaan ganda

Situasi pendidikan di Aceh mengalami penderitaan ganda. Pertama, sistem 
pendidikan lumpuh karena konflik politik dan kekerasan bersenjata mengorbankan 
warga sipil dan anak-anak. Kedua, krisis karena bencana alam yang menghancurkan 
sarana pendidikan menciptakan situasi traumatis-psikologis akibat kematian 
orang-orang tercinta.

Penderitaan ganda ini mewajibkan berbagai pihak untuk menilai kembali posisi 
konfliktual yang mereka hadapi dalam kerangka mencari langkah-langkah 
penyelesaian konflik yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Merupakan sebuah 
tanggung jawab moral bagi setiap pihak untuk pertama-tama menghentikan perang. 
Konflik bersenjata antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sudah semestinya 
dihentikan mengingat beberapa bantuan kemanusiaan tidak sampai sasaran karena 
transportasi masih terputus, maupun ancaman konflik bersenjata yang bisa 
berlangsung kapan saja. Melanjutkan operasi militer bagi kedua pihak yang 
berkonflik dalam situasi darurat seperti sekarang hanya menunjukkan tidak 
adanya kepekaan atas kesediaan untuk menghargai martabat kemanusiaan.

Kedua, berhadapan dengan luluh lantaknya sistem pendidikan di Aceh dan daerah 
lain yang diterjang tsunami, pemerintah bekerja sama dengan LSM- LSM, baik 
internasional maupun nasional, mesti segera memikirkan kelangsungan pendidikan, 
terutama bagi anak- anak dengan memerhatikan dimensi psikologis yang mereka 
alami. Dalam hal ini, menyiapkan para guru yang dibekali pengetahuan psikologis 
untuk mengenali situasi kejiwaan anak-anak yang menjadi korban merupakan sebuah 
kemendesakan.

Membangun kembali prasarana dan sarana pendidikan pascabencana di satu sisi 
memberi semacam keuntungan berupa kesempatan membangun kembali sistem 
pendidikan yang menghindari kelemahan dan kesalahan di masa lalu, menciptakan 
sistem pendidikan yang menghargai harkat kemanusiaan, menciptakan solidaritas 
dan harmoni yang memecah akar- akar konflik politik. Demikian juga merupakan 
sebuah kesempatan untuk merekonseptualisasi kurikulum dan metode dalam kerangka 
jangka panjang berdasar kebutuhan nyata siswa, termasuk memperkuat sistem 
formasi pengajar dengan memberi berbagai macam pelatihan yang dibutuhkan.

Memberi beasiswa bagi pelajar korban atau memindahkan mereka ke sekolah lain 
merupakan usaha yang patut dihargai, tetapi tetap bukan perwujudan adanya rasa 
krisis (sense of crisis) dan penghargaan bagi siswa yang menjadi korban 
bencana, mengingat situasi psikologis yang mereka alami begitu traumatis di 
mana program pendidikan nasional yang diterapkan dalam situasi normal amat jauh 
dari apa yang mereka butuhkan. Program pendidikan nasional tidak dapat 
diterapkan dalam situasi pendidikan darurat seperti terjadi di Aceh dan daerah 
bencana lain. Inilah yang harus diingat dan diperhatikan sebelum mengambil 
langkah-langkah penyelamatan atas kelangsungan pendidikan anak-anak korban 
bencana.

Tanggapan terhadap situasi pendidikan darurat sering fragmentaris karena adanya 
berbagai macam kesulitan di lapangan maupun dalam kerangka pemberian 
kewenangan. Untuk kasus Aceh, sudah semestinya pemerintah membuka akses 
sebesar-sebesarnya bagi lembaga internasional, seperti Unesco, agar mereka 
mampu bekerja sama dengan LSM-LSM lokal maupun nasional dalam membangun kembali 
dunia pendidikan di Aceh.

Sementara itu, sudah merupakan conditio sine qua non untuk mengatasi kendala 
yang bersifat politis, terlebih dalam menghentikan konflik bersenjata, 
membangun jalur dialog antara pihak pemerintah dan kelompok bersenjata di Aceh 
untuk menghentikan perang, dan turun tangan secara bersama-sama dalam 
menciptakan masa depan yang lebih baik yang menghormati kemartabatan sesama 
manusia.

Menciptakan kesadaran baru

Menyadari kemendesakan untuk segera membangun kembali situasi pendidikan di 
Aceh merupakan langkah awal yang baik guna memulai sebuah masyarakat baru yang 
menghargai hak-hak dasar manusia, seperti tercantum dalam deklarasi hak-hak 
asasi manusia universal dan UUD 1945 dalam kerangka pendidikan, terutama hak 
tiap orang untuk mengenyam pendidikan yang layak, apa pun situasi yang sedang 
mereka hadapi. Untuk ini, kepentingan politik, semestinya mengatasi kepentingan 
mendesak para korban yang kemanusiaannya diinjak-injak entah karena situasi 
politik sebelum maupun sesudah bencana.

Semoga kesadaran baru seperti ini merupakan langkah awal yang baik untuk menata 
kembali puing-puing reruntuhan sistem pendidikan di daerah-daerah yang terkena 
bencana, terutama di Aceh, yang hari-hari ini menjadi semakin istimewa. Sebab, 
bencana Aceh tak hanya mengabarkan duka di setiap keluarga umat manusia, tetapi 
sebuah momen kelahiran bagi sebuah solidaritas umat manusia universal yang 
mengatasi sekat-sekat agama, terlebih sekat-sekat politik yang selama ini 
membuat masyarakat Aceh terpuruk dalam lembah duka lara tiada tara.

Doni Koesoema A Mahasiswa Universitas Gregoriana, Roma


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke