http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/07/opini/1484427.htm
Jumat, 07 Januari 2005 Menyelamatkan Pendidikan Anak-anak Aceh Oleh Darmaningtyas KESEDIHAN menyelimuti bangsa Indonesia saat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara (Nias) diterjang gempa dan tsunami yang menelan ratusan ribu jiwa. Di antara korban meninggal, hilang, atau terselamatkan (luka-luka maupun tidak), 35 persennya adalah anak- anak. Anak-anak memerlukan perhatian khusus karena mereka belum bisa menyelamatkan diri sendiri dan memerlukan uluran tangan orang dewasa. Anak-anak tidak hanya memerlukan pangan, sandang, dan papan, tetapi juga pendidikan. Ironisnya, kebutuhan pendidikan justru sering terabaikan dan baru terpikirkan setelah kebutuhan pangan, sandang, dan papan terpenuhi. Pendidikan konseling Ada berbagai tipe anak pascagempa, yaitu menjadi yatim piatu karena kedua orangtuanya meninggal, yatim saja karena hanya salah satu orangtuanya hilang. Dan, ada yang masih hidup bersama kedua orangtua mereka, tetapi karena gempa memorakporandakan harta, mereka hidup dalam kesengsaraan dan masa depan yang tidak jelas. Karena ada berbagai tipe anak, perlu model pendekatan yang beragam, bukan tunggal. Pertama, mereka yang menjadi yatim piatu dan usianya masih balita memerlukan perlindungan fisik dari orang yang sudah dewasa agar dapat jasmani dan rohani tumbuh sehat. Secara fisik, mereka terselamatkan dari bencana, tetapi belum tahu apa yang terjadi pada dirinya. Mereka terpisah dari orangtuanya, tetapi belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kini mereka tidak sempat bertanya soal keberadaan orangtuanya. Namun, suatu saat kelak, mereka akan menanyakannya. Pada saat itulah diperlukan jawaban yang cerdas agar jawaban tidak menusuk perasaan sekaligus menimbulkan trauma. Anak-anak usia balita memerlukan pendekatan khusus yang dapat dilakukan orangtua berpengalaman, bukan relawan yang masih belia, karena mereka memerlukan penyembuhan serta perlindungan fisik dan psikologis agar tumbuh wajar. Kesediaan suami-istri mengangkat mereka sebagai anak akan memberi rasa aman dan nyaman yang lebih abadi dibandingkan dengan memberi bantuan karitatif atau menitipkan mereka ke panti asuhan. Kebutuhan pangan dan sandang di panti asuhan mungkin tercukupi, tetapi secara psikologis, mereka rentan. Suatu saat akan muncul dendam pada diri sendiri setelah mengetahui sejarah hidupnya. Masalahnya, tidak mudah mencari orangtua asuh yang tulus. Hal itu terbukti dengan masih adanya orang yang tega hidup di atas penderitaan sesama dengan memperjualbelikan anak-anak yang terpisah dari orangtua. Pada anak-anak yatim piatu yang sudah bisa bernalar, cara pendekatannya berbeda, yaitu melalui pendidikan konseling. Bukan oleh seorang konselor ahli dan kaum profesional, tetapi guru dan sanak kerabat yang sudah dewasa. Karena, tanpa disadari, dalam kehidupan keseharian, mereka telah menjalankan konseling di lingkungan kehidupan Aceh yang religius dan menekankan kepasrahan kepada Allah. Konseling semacam ini penting karena dalam situasi bergelimang derita tidak ada jalan lain kecuali pendidikan yang membawa kesadaran orang untuk hidup melulu menyandarkan diri pada kasih dan penyelenggaraan ilahi. Pendidikan semacam itu dapat dilakukan oleh siapa saja yang sudah dewasa dan telah memiliki kepasrahan hidup. Ajarannya adalah penderitaan sesama untuk mencapai keselamatan dan harumnya martabat manusia (Murid iku gurune pribadi. Piwulange kasangsarane jalmi. Pikolehe hayu lan aruming sesame). Pendidikan konseling tentang kearifan hidup itu penting mengingat segala simbol status, seperti mobil dan rumah mewah, tidak berharga dan bermakna setelah dihamtam tsunami. Malapetaka itu bisa menjadi media pengajaran bahan sharing agar sejak dini anak-anak sudah terbuka akan kearifan spiritual yang menekankan "lumuh melarat ing Karsane" (senantiasa bersemangat miskin di hadapan Allah), bukan menuruti permintaan manusia yang tiada batas puas. Pendidikan konseling dapat meneguhkan semangat hidup anak-anak yang terlepas dari orangtuanya, bahwa kebahagiaan senantiasa hadir dalam penderitaan riil keseharian masyarakat. Aceh tetaplah taman firdaus (dar es salam) meski bumi Aceh kini sedang memanggul beban penderitaan teramat berat. Tragedi ini sekaligus diharapkan menjadi pelajaran bersama, termasuk Gerakan Aceh Merdeka dan Tentara Nasional Indonesia, bahwa tidak ada gunanya berperang terus dengan senjata karena akhirnya mereka tidak mampu menyelamatkan dirinya dari gempa dan tsunami. Pendidikan konseling juga diperlukan anak yatim. Bersama salah satu orangtuanya yang masih hidup, mereka perlu diteguhkan agar tetap memiliki semangat melanjutkan kehidupan. Tanpa peneguhan semacam itu, amat mungkin penderitaan yang mereka alami kini akan membuat mereka stres hingga pada keputusan fatalis, seperti mencoba bunuh diri. Kedua, bagi mereka yang kedua orangtuanya masih selamat, tetapi harta bendanya hancur atau hilang, pendidikan justru perlu difokuskan kepada orangtuanya agar mereka memiliki ketabahan sekaligus kesabaran dalam mendidik anak-anaknya sehingga anak-anak tidak menjadi korban kekerasan orangtua. Stres paling berat yang dirasakan orang dewasa adalah karena kehilangan orang- orang dekat yang dicintai sekaligus kehilangan rumah dan harta benda. Dampak dari stres bisa kurang ramah terhadap anak-anaknya. Menghindari formalisasi Mengingat kebutuhan mendesak adalah pendidikan yang mampu memberi semangat dan pengharapan untuk tetap hidup dalam kepasrahan, konsekuensinya kurikulum pengajaran konvensional boleh diabaikan. Segala bentuk formalisasi, termasuk kurikulum, buku pelajaran, dan proses pengajaran konvensional, sebenarnya tidak dibutuhkan anak-anak Aceh dalam satu-dua tahun ke depan sehingga harus dihindarkan karena tidak relevan lagi. Demikian pula segala bentuk standardisasi dan kualifikasi yang dipersyaratkan dalam pengajaran, hendaknya diabaikan dulu. Yang diperlukan lebih dulu adalah rehabilitasi psikologi karena jungkir balik diguncang bencana. Pepatah mergo bener wania rekasa (karena memegang teguh prinsip kebenaran beranilah mengambil risiko bertindak tidak lazim) pas untuk menyemangati relawan yang bersedia menyelamatkan pendidikan anak-anak Aceh dengan mengembangkan sistem dan metode yang khas serta tanpa referensi. Anak-anak Aceh kini memerlukan pendidikan yang mampu memberi semangat dan harapan untuk hidup di alam nyata. Solidaritas kemanusiaan universal sebagai wujud kepedulian untuk Aceh yang datang dari berbagai penjuru dunia membuktikan kebenaran ungkapan demen rukun marang tangga (suka menjalin kerukunan dengan tetangga). Semangat ini dapat dilihat sendiri oleh anak-anak Aceh saat mereka menyambut uluran tangan tanpa pamrih dari siapa pun yang berbela rasa kepada mereka. Bila pengalaman ini diolah sampai taraf pembatinan saat kegiatan belajar mengajar, bukankah ini media pengajaran yang luar biasa dahsyat dalam rangka menyalakan semangat hidup di tengah samudra keterpurukan? Ibaratnya adalah menyalakan secercah cahaya di lorong kegelapan bagi anak- anak di Aceh. Realitas empiris banyaknya orang yang bergelimpangan menjadi mayat, terbaring di rumah sakit, kelaparan, dan ketelanjangan di mana-mana bisa dijadikan sarana konseling dan pengajaran bahwa manusia harus dikembalikan pada fitrah kesuciannya. Konseling berbasis penderitaan ini bukan kegiatan untuk meninabobokan anak-anak Aceh, tetapi mengajarkan kepadanya bahwa hidup mesti realistis. Juga bukan aktivitas fatalisme yang hendak memberi penghiburan rohani dengan menjauhkan mereka dari kenyataan pahit, tetapi mendekatkan mereka dengan hidup sekarang ini di sini yang penuh nestapa. Tak perlu tergesa membangun gedung sekolah dan mencetak buku-buku baru-yang rawan korupsi-khusus untuk anak-anak Aceh karena pendidikan mereka dapat diselamatkan dengan menggunakan rumah-rumah penduduk yang masih utuh, sedangkan buku bisa digantikan dengan kekayaan alam dan budaya Aceh. Yang mereka perlukan sekarang adalah guru yang memiliki kearifan untuk mendidik mereka agar kembali merasa hidup sebagai manusia yang utuh. Mungkin mereka akan ketinggalan dalam pelajaran konvensional, tetapi akan unggul dalam pendidikan bela rasa. Darmaningtyas Anggota Dewan Penasihat CBE di Jakarta [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/ 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

