http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/10/utama/1488608.htm

 Senin, 10 Januari 2005 

Sekolah Darurat Tak Semudah yang Dibayangkan 


SETIAP kali terjadi bencana alam maupun konflik sosial yang memorakporandakan 
fasilitas pendidikan, spontan muncul ide untuk mendirikan sekolah darurat. 
Wujudnya berupa bangunan tenda dari bahan terpal sebagai pengganti ruang kelas.

ITU berangkat dari kesepakatan universal bahwa dalam keadaan darurat 
bagaimanapun-termasuk perang maupun bencana alam-layanan pendidikan terhadap 
anak- anak tak boleh terhenti.

Masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sangat akrab dengan istilah sekolah 
darurat alias sekolah tenda. Maklum, sebelum dilanda gempa bumi dan tsunami 26 
Desember 2004 lalu, dua tahun sebelumnya konflik sosial politik telah 
meluluhlantakkan sendi- sendi pendidikan di wilayah ini. Sekitar 600 sekolah 
telah terbakar dan sekitar 40 guru terbunuh oleh pihak tak dikenal.

Salah satu langkah penanganannya kala itu adalah mendirikan sekolah tenda di 
samping menggandakan fungsi meunasah sebagai tempat shalat dan ruang belajar.

Namun, belum lagi situasi sempat pulih, kini aktivitas pendidikan di daerah itu 
kembali terancam mati suri akibat gempa dan tsunami.

Berdasarkan catatan Posko Pemulihan Pendidikan di Banda Aceh, tidak kurang dari 
380 sekolah yang rusak maupun hancur rata dengan tanah, mencakup 63 TK, 220 
SD/madrasah ibtidaiyah, 59 SMP/madrasah tsanawiyah, 31 SMA/aliyah, dan 7 SMK.

Hancurnya sarana fisik pendidikan diikuti dengan hilangnya jiwa sekitar 1.500 
tenaga pengajar. Pelaksana tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi NAD Anas M 
Adam memperkirakan, hingga minggu kedua pascabencana, jumlah guru meninggal 
mencapai 2.500.

Spontanitas berbagai kalangan yang peduli terhadap keberlangsungan pendidikan 
di NAD patut dihargai. Saat ini tidak kurang dari 10 badan dunia dan organisasi 
nonpemerintah dalam negeri yang berkoordinasi dengan Departemen Pendidikan 
Nasional (Depdiknas) untuk mendirikan berbagai sekolah darurat.

Tawaran sumbangan yang mengalir tidak hanya berupa tenda seperti yang disiapkan 
Unicef dan Yayasan Sekolah Rakyat. Ada tawaran berupa bantuan tenaga relawan 
untuk pemetaan lokasi pengungsi dan pembersihan lingkungan sekolah, antara lain 
dari mahasiswa Universitas Indonesia.

Sejumlah universitas bahkan bersedia mengirim tenaga guru relawan untuk 
menutupi kekurangan guru yang hilang.

DALAM berbagai rapat koordinasi antara Direktur TK/ SD Depdiknas Suprapto, 
Kepala Subdit Perencanaan Dikmenjur Depdiknas Mustaghfirin, serta para wakil 
badan dunia dan relawan LSM tersebut lahir sebuah konsep.

Intinya, pendirian sekolah tenda harus memerhatikan keamanan, ketertiban, dan 
kebersihan lingkungan, termasuk sanitasi dan air bersih, agar pemulihan 
kegiatan belajar tidak terganggu.

Di samping itu, sekolah tenda harus dekat dengan lokasi pengungsian agar 
orangtua yang masih dihantui trauma kehilangan anggota keluarga tidak merasa 
dipisahkan dari anak-anaknya.

Pengungsi yang telanjur menghuni gedung sekolah harus dipindahkan ke tenda 
pengungsi agar gedung sekolah bersangkutan bisa berfungsi kembali sebagai ruang 
belajar. Lantas, anak-anak para pengungsi disekolahkan secara bergantian dengan 
anak warga asli setempat, polanya kelas pagi-sore.

Sayang, konsep di atas kertas itu kurang sinkron dengan kenyataan di lapangan. 
Persyaratan pendirian sekolah darurat tidak selaras dengan pola hidup pengungsi 
yang jauh dari kaidah hidup sehat.

Menindaklanjuti kunjungan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo ke lokasi 
bencana, Sabtu pekan lalu, sejumlah pejabat Depdiknas, dinas pendidikan 
setempat, dan para wakil badan dunia dan LSM yang menawarkan bantuan memulai 
aksinya dengan survei ke berbagai lokasi pengungsian.

Salah satu titik pengungsian yang dituju adalah halaman Pesantren Ruhul Islam 
Anak Bangsa di Desa Guegajah, Kabupaten Aceh Besar. Namun, rencana mendirikan 
sebuah tenda di sekitar lokasi pengungsian tersebut sebagai model sekolah 
darurat urung dilaksanakan. Pasalnya, hamparan sebidang lahan kosong di sekitar 
lokasi pengungsian yang diincar ternyata sudah dijadikan tempat pembuangan 
tinja dan sampah oleh pengungsi.

Bau pesing dan aroma kurang sedap lainnya langsung menyergap orang-orang yang 
menghampiri lahan kosong tersebut. Para pengungsi pun langsung membela diri, 
"Urusan sekolah bisa ditunda, Pak. Urusan buang hajat, mana tahan?"

Sekilas ungkapan itu manusiawi. Lagi pula, sebagian besar pengungsi berasal 
dari wilayah pedesaan pinggiran pantai yang selama ini belum akrab dengan kakus.

Namun, setelah ditelisik, akar masalah ternyata tidak hanya pada pola hidup 
tidak sehat para pengungsi. Di lokasi pengungsian itu sendiri jumlah kamar 
mandi dan kakus tidak mencapai 20 unit, sementara jumlah pengungsi mencapai 500 
jiwa. Kakus yang tersedia hanyalah bagian dari bangunan ruang-ruang belajar dan 
asrama santri Ruhul Islam Anak Bangsa.

Ratna dari Unicef dan sejumlah relawan dari UN OCHA dan LSM dalam negeri hanya 
geleng-geleng kepala ketika menemukan fakta seperti itu.

Jajaran Depdiknas dan dinas pendidikan setempat akhirnya bernegosiasi dengan 
aparat desa dan tokoh masyarakat setempat untuk mencari lahan kosong yang 
memadai. Namun, negosiasi diperkirakan butuh waktu sampai beberapa pekan karena 
aparat desa tentu tidak bisa main tunjuk lahan begitu saja. Intinya, pendirian 
sekolah darurat tidak semudah yang dibayangkan.

DARI sisi ketersediaan bahan untuk mendirikan sekolah darurat sendiri, 
sepertinya sudah tak ada masalah. Paling tidak, jumlahnya sudah memadai untuk 
sekadar model sekolah tenda sembari menunggu tambahan bantuan.

Saat ini, bantuan berupa tenda sudah tercatat 8.000 set lengkap dengan family 
kit. Satu set tenda berukuran 8 x 7 meter. Satu set family kit berisi selembar 
sarung, seprai, alat dapur, alat makan, juga perlengkapan mandi.

Dari sisi tahapan kegiatan pun sudah ada pola yang jelas. Rapat koordinasi yang 
digelar di Kantor Dinas Pendidikan Provinsi NAD selama dua-tiga hari terakhir 
telah melahirkan langkah-langkah penanganan pemulihan pendidikan.

Untuk jangka pendek (1-6 bulan), misalnya, antara lain diadakan ruang belajar 
dan ruang pendukung.

Guna melayani 60.000-70.000 anak usia sekolah (SD, SMP, SLTA) di 95 titik 
pengungsian, rencananya akan didirikan sekolah tenda dengan kapasitas 40 orang 
per kelas tenda.

Polanya dikonsepkan secara terpadu, mencakup tenda untuk ruang kelas, tenda 
ruang pendukung, tenda untuk tempat tinggal sementara guru, dan unit sanitasi 
dan air bersih.

Barangkali pendirian sekolah darurat perlu melibatkan pengungsi agar di 
kalangan mereka tumbuh kesadaran berpola hidup sehat. Jika tidak, maka 
konsepnya tetap saja sulit membumi. (NASRULLAH NARA)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke