Bersama ini saya kirimkan artikel soal gempa. Semoga bermanfaat
 
REPUBLIKA, Opini  
Kamis, 13 Januari 2005
http://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=16
 
Belajar dari Penanganan Gempa di Jepang 
 
Oleh : 
 
Arif Satria
Dosen IPB dan Mahasiswa Program Doktor di Kagoshima University Jepang
 
Menarik, di akhir tulisannya, Eky Syahruddin memberi contoh kecil bagaimana 
Jepang siap menghadapi gempa (Republika, 11 Januari 2005). Gayung pun pun perlu 
bersambut. Dan, tulisan ini pun perlu mengelaborasi lebih jauh bagaimana kita 
menarik pelajaran dari pengalaman Jepang menangani gempa. 
 
Sungguh tragis, gempa di Iran pada tanggal 26 Desember 2003 harus diperingati 
dengan gempa yang lebih dahsyat lagi di Aceh pada tanggal yang sama, 26 
Desember 2004. Bagi yang menyaksikan televisi Jepang, gempa-tsunami Aceh makin 
menyambung panjangnya sajian berita gempa. Karena, pada 23 Oktober 2004 lalu, 
salah satu provinsi di Jepang, Niigata, juga baru terkena gempa dengan kekuatan 
6,8 Magnitude. Akibatnya 7.100 rumah hancur, 3.100 fasilitas publik rusak, dan 
lebih dari 100 ribu orang dievakuasi. 
 
Sebelumnya, sembilan tahun lalu, Kobe juga tergoyang gempa dengan kekuatan 7,3 
Magnitude. Korbannya adalah 43 ribu orang terluka parah, 6.400 kehilangan 
tempat tinggal, 7.500 gedung terbakar, dan 350 ribu orang dievakuasi (The Japan 
Journal, 2004). Dua kasus gempa di Jepang tersebut tergolong besar, sementara 
gempa kecil sudah merupakan menu rutin masyarakat Jepang. Bagaimana kita 
belajar dari mitigasi bencana gempa di Jepang? 
 
Model pembangunan pascagempa
The Japan Journal edisi Desember 2004 kebetulan juga mengungkap bagaimana kita 
dapat belajar dari penanganan gempa di Kobe. Edisi ini ditujukan untuk 
memperingati sepuluh tahun gempa Kobe yang terjadi pada 17 Januari 1995 yang 
lalu. Ada beberapa aspek penting dalam pembangunan pascagempa di Kobe. Pertama, 
adalah langkah penyelamatan dan pemulihan. Dalam rangka penyelamatan korban 
gempa di Kobe, pada hari pertama terdapat sebanyak 20 ribu relawan, namun dalam 
tiga bulan jumlah relawan menjadi 1,13 juta orang. Dan, secara total telah 
mencapai 1,4 juta relawan. Mereka bertugas membersihkan puing-puing gempa, 
menjembatani antara pemerintah dan korban, menyediakan makanan, dan lain 
sebagainya. 
 
Memang diakui bahwa persoalan banyaknya jumlah relawan tersebut juga ada, 
mengingat tidak semua relawan punya pengalaman dan keahlian. Sehingga, konflik 
pun muncul. Namun bagi Jepang waktu itu, justru nilai kesetiakawanan 
(volunteerism) itulah yang penting. Semangat untuk membantu sesama itulah yang 
mereka junjung. Karena itulah tahun 1995 disebut sebagai sebagai Year One of 
Volunteerism.
 
Kedua, adalah rekonstruksi. Pada Juli 1995, pemerintah baru mengeluarkan Hyogo 
Phoenix Plan, yang tidak saja mengembalikan infrastruktur dan pelayanan 
sebagaimana sebelum gempa. Lebih dari itu, mereka berorientasi pada creative 
reconstruction yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan era baru dan masyarakat 
matang (drive to maturity). Tampaknya mereka meminjam kerangka Rostow dalam 
model pembangunannya. Mereka punya visi ''mewujudkan masyarakat baru 
menyongsong abad 21, dan menciptakan kota tahan gempa sehingga warga bisa 
merasa confident''. 
 
Yang jauh lebih penting adalah cita-cita mature society tersebut, dimana upaya 
membangun creative civil society yang berbasis kerja sama antara warga dan 
pemerintah menjadi visi besarnya. Termasuk dalam rekonstruksi ini warga 
dilibatkan dengan diberi kesempatan membentuk Komite Rekonstruksi yang 
didampingi konsultan profesional. Mereka sebagai mitra pemerintah dalam 
rekonstruksi ini. Sehingga, langkah pertama pemerintah dalam rekonstruksi ini 
adalah mengundang warga mendiskusikan proyek rekonstruksi fisik. Baru pada 
tahap kedua diskusi sosial-ekonomi. 
 
Dalam tiga tahun, seluruh infrastruktur, seperti jalan, rel kereta api, dan 
sarana komunikasi lainnya selesai, dan bahkan jauh lebih bagus dari sebelumnya. 
Begitu pula lapangan kerja dan perumahan baru telah dibuka, serta creative 
civil society terbentuk. Dan, dari survey terhadap korban bencana, ditemukan 
bahwa 82,8 persen responden mengatakan sudah pulih. Jadi, tidak hanya 
rekonstruksi fisik dan ekonomi yang terjadi, tetapi juga rekonstruksi 
sosial-politik. 
 
Ketiga, adalah keselamatan dan keamanan. Pascagempa pemerintah Kobe mendorong 
adanya komunitas pencegahan bencana dimana warga disiapkan untuk siap setiap 
saat ketika terjadi gempa. Selain itu langkah antisipasi bencana kemudian 
menjadi agenda nasional dengan mempersiapkan jaringan komunikasi yang lebih 
baik yang kondusif pada saat-saat darurat. Ini mengingat mereka sadar bahwa 
langkah pemerintah Kobe pada saat bencana terjadi dianggap lambat karena karena 
lemahnya sistem komunikasi darurat. Perbaikan sistem ini ternyata berhasil 
ketika Oktober 2004 lalu, Niigata dihantam gempa. Dalam tujuh menit, angkatan 
bersenjata Jepang sudah bertindak dan 30 menit kemudian informasi sudah 
terkumpul. Lalu, pemerintah provinsi lainnya, Hyogo, langsung mengirim ahli 
pemulihan gempa, pembangunan perumahan darurat, menilai tingkat bahaya rumah 
yang rusak, menyediakan tim kesehatan, serta pelayanan spiritual dan psikologi. 
 
Model penyuluhan gempa
Masyarakat Jepang kini sangat sadar betapa gempa setiap saat mengancam. Ini 
adalah wujud dari keberhasilan penyuluhan gempa. Saat ini, tidak hanya 
konstruksi rumah dan gedung yang banyak dibuat tahan gempa, serta bagaimana 
cara menata peralatan furniture supaya tidak jatuh, tetapi juga mereka telah 
disiapkan dengan langkah-langkah dalam menghadapi gempa. Langkah-langkah 
praktis tersebut dikenalkan di sekolah-sekolah dasar, termasuk bagi setiap 
warga asing yang akan tinggal di Jepang. 
 
Disamping sering berupa peragaan, juga disebarkan buku kecil yang berisi 
prosedur darurat gempa dalam bentuk gambar dan tulisan yang singkat, padat, 
menarik, dan mudah dipahami. Sebagai contoh, di Jepang, diajarkan bahwa langkah 
pertama adalah mencari selamat dengan diam di bawah meja dengan bantal di atas 
kepala. Ini dimaksudkan untuk melindungi kepala dari benda-benda yang mungkin 
jatuh dan mengenai kepala kita. Ini berbeda dengan di Indonesia, yang terbiasa 
langsung lari keluar gedung atau rumah yang ditujukan untuk menghindari 
reruntuhan. Selain itu, di Jepang, sebagian dari mereka juga dianjurkan untuk 
cepat membuka pintu, namun hanya untuk mempermudah akses keluar setelah gempa 
berhenti, dan bukan untuk lari keluar gedung. 
 
Langsung keluar gedung dianggap lebih beresiko, daripada diam di bawah meja. 
Ini mengingat banyaknya gedung-gedung tinggi di Jepang. Bila api kompor masih 
menyala, sangat dianjurkan untuk lebih dulu mematikan gas, dan kalau api sudah 
mulai menyala besar sebagai tanda kebakaran mereka mesti mematikan dengan 
pemadam kebakaran yang harus disediakan di setiap rumah. Dalam buku kecil 
tersebut juga dijelaskan soal tsunami. Ini dikhususkan bagi mereka yang tinggal 
di dekat pantai. Begitu terjadi gempa, langkah pertama harus mencari tempat 
atau lahan yang tinggi. Tsunami biasanya datang begitu cepatnya setelah gempa. 
 
Seluruh prosedur seperti itu sudah mendarah daging pada masyarakat Jepang. 
Tentu ini merupakan salah satu keberhasilan program penyuluhan antisipasi 
gempa. Hal ini ditambah lagi dengan peran televisi yang selalu menyiarkan 
warning yang diberikan lembaga-lembaga riset yang ada. Begitu terjadi gempa, 
dalam kurang dari dua menit telah ada tulisan di setiap program TV bahwa telah 
terjadi gempa dengan rincian kekuatannya. Tidak hanya gempa, bencana angin 
taifu juga selalu mengancam. Namun, angin taifu dapat lebih dini terdeteksi dan 
disiarkan TV seminggu sebelumnya. Pergerakan angin taifu di pasifik selalu 
diperlihatkan di layar TV setiap saat, sehingga kita tahu dimana posisi angin 
taifu. Artinya, masyarakat memang telah disiapkan untuk menghadapi bencana, 
dengan sistem deteksi dini, sistem diseminasi informasi, serta prosedur standar 
saat terjadi bencana. 
 
Namun, meskipun sudah begitu maksimalnya upaya untuk mitigasi bencana, Jepang 
masih kewalahan juga menghadapi bencana seperti gempa yang terjadi di Niigata, 
serta serangan taifu selama September-Oktober yang lalu. Apalagi bagi kita yang 
memang kurang siap dan kurang peduli akan hal-hal seperti itu. 
 
Karena itu, hikmah terbesar yang bisa kita ambil dari kasus gempa Aceh ini 
adalah bahwa pemerintah Indonesia harus mulai sadar tentang pentingnya mitigasi 
bencana alam. Dari mulai sistem deteksi dini yang memang mengandalkan riset, 
sistem informasi darurat, manajemen rehabilitasi pascagempa, serta penyuluhan 
gempa. Bencana memang di luar kehendak kita, sehingga yang bisa kita lakukan 
adalah memaksimalkan usaha antisipasi untuk meminimalkan dampak. Tentu, harapan 
kita adalah bahwa konstruksi fisik, sosial ekonomi, dan politik Aceh pascagempa 
mesti bisa lebih baik dari sebelumnya, sebagaimana terjadi Kobe.
 
 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke