http://www.mediaindo.co.id/cetak/berita.asp?id=2005011423223829

 
Sabtu, 15 Januari 2005

OPINI

Kisah Seputar Aceh

Toeti Adhitama; Ketua Dewan Redaksi Media Grup

SULIT menerka bagaimana jadinya Aceh nanti, satu atau dua generasi mendatang, 
setelah derita fisik selesai dan wilayah itu tumbuh kembali. Bangun kembali, 
seperti kisah perawan cantik yang tidur seratus tahun. Dia mudah-mudahan akan 
menjadi tempat cantik yang damai, yang diimpikan banyak orang. Menjadi 
kebanggaan penduduknya, dan dambaan banyak orang dari wilayah lainnya. 
Kota-kotanya rapi dan beraturan, lebih bagus dari kota-kota lain di Indonesia 
karena dia dibangun dari ketiadaan. Tempat-tempat wisatanya memamerkan 
keindahan alam dan kultur penduduknya yang memesona. Penduduknya ramah karena 
tidak merasa perlu lagi bersikap defensif. Solidaritas atas dasar kemanusiaan 
ternyata lebih mujarab dari sikap keras atau janji-janji yang membawa 
penderitaan. Aceh sejak sekarang tentunya mulai merasakan kepedulian dan cinta 
kasih sesama warga negara. Turis-turis asing maupun yang dari dalam negeri 
nantinya mengalir ke sana, sama ramai atau bahkan lebih ramai dari bantuan 
asing atau bantuan penduduk dari wilayah Indonesia lainnya yang membanjirinya 
sekarang. Tidak ada lagi gangguan keamanan dari pihak mana pun karena ketika 
diterpa bencana, semua penduduk Aceh menjadi korban. Hikmah tsunami: membuat 
orang pasrah. Membuat orang tawakal berserah diri pada kehendak Tuhan. Sadar 
bahwa dia hanya manusia biasa yang memerlukan solidaritas sesama manusia, 
sesama warga negara.

Sementara menuju situasi yang ideal itu, masih banyak pekerjaan rumah yang 
harus diselesaikan. Tiga minggu lebih sejak bencana paling dahsyat dalam 
sejarah telah merampas jiwa lebih dari seratus ribu orang di Indonesia, 
meninggalkan jutaan menderita batin yang tidak berkesudahan, kita masih 
menyaksikan dan mendengar cerita-cerita yang menggetarkan hati. Tetapi, juga 
mendengar cerita-cerita yang membuat kita kesal. 

Yang membuat kesal, antara lain, ada laporan-laporan dari Aceh bahwa dalam 
situasi kalut sekarang ini, masih juga terjadi korupsi pada tingkat bawah di 
posko-posko pendistribusian bantuan terpencil di pantai barat. Misalnya, satu 
keluarga hanya mendapat dua liter beras dan enam bungkus mi instan untuk 
beberapa hari. Tetapi, pada malam hari, warga melihat bingkisan-bingkisan itu 
dibawa pergi dari posko. Warga juga melihat toko-toko yang semula kosong mulai 
menjajakan sembako dengan harga tinggi. Berarti, orang-orang yang kena tsunami 
menjadi korban orang-orang yang tidak kena tsunami. Bahkan, dalam minggu 
pertama, di posko dekat bandara, suatu keluarga terdiri dari 13 orang hanya 
mendapat tiga mi gelas untuk makan pagi dan tiga nasi bungkus untuk siang hari. 
Kisah-kisah yang tidak menyenangkan itu diperparah oleh laporan-laporan 
penjarahan di pinggir-pinggir Banda Aceh dan tempat-tempat terpencil lainnya. 
Tentu laporan-laporan seperti itu masih harus dibuktikan kebenarannya. Tetapi, 
ini mengingatkan kita, sistem pendistribusian bantuan yang jumlahnya puluhan 
ribu ton dari luar Aceh --berupa makanan, pakaian, maupun obat-obatan-- yang 
dimaksudkan untuk mengurangi penderitaan para korban tsunami dalam masa 
darurat, masih perlu diawasi. Masih ada saja orang-orang tidak bernurani yang 
menggunakan kesempatan dalam masa-masa kesulitan. Yang juga membuat kesal: 
keluhan-keluhan yang datang dari luar Aceh yang mempersoalkan kehadiran relawan 
atau tentara asing di sana. Kecurigaan yang tidak bernalar dan tanpa pikiran 
sehat membuat harian ini merasa perlu mengangkat persoalan itu dalam editorial 
yang dibedahnya dua hari lalu. Kecurigaan itu tentunya dilancarkan atas dasar 
alasan politik atau keyakinan yang egoistis, yang mungkin sekali bukan datang 
dari orang-orang Aceh sendiri yang sampai sekarang masih menantikan bantuan 
dari pihak mana pun. Juga dapat dipastikan kecurigaan itu datang dari 
orang-orang yang belum berkunjung ke Aceh sejak tsunami. Mereka belum 
berkesempatan menyaksikan parahnya situasi dan apa yang dilakukan tenaga-tenaga 
relawan di sana. Ketika orang-orang setempat tidak mampu menguasai perasaan, 
sehingga enggan mengangkat mayat-mayat manusia dan binatang yang membusuk 
digerogoti belatung dan bertebaran di jalan-jalan, bahkan di rumah-rumah tempat 
tinggal, relawan-relawan asing tanpa ragu-ragu bersemangat mengangkatinya, sama 
tekun dan semangatnya dengan tentara kita yang bertugas serupa. Ketika 
orang-orang kita belum mampu mencapai daerah-daerah terpencil untuk memberi 
bantuan, karena kurangnya sarana dan fasilitas, tentara asing telah memelopori 
kegiatan itu sampai ke daerah-daerah yang sulit dicapai di pantai barat.

Tsunami memberikan suatu ujian, yakni ujian untuk introspeksi dan mengenali 
kelemahan sendiri. Janganlah membiarkan ego kita menjadi liar, sehingga dengan 
ringan menyebarkan rasa curiga dan tuduhan yang hanya akan memperburuk suasana 
hati mereka yang tertimpa bencana maupun mereka yang dengan tulus memberikan 
bantuan. Sebaliknya, sekaranglah saatnya kita bisa menunjukkan rasa kebersamaan 
dan kemanusiaan kita, ketika sebagian dari sesama warga sedang mengalami 
penderitaan yang luar biasa. Juga untuk menunjukkan kesopansantunan kita 
sebagai suatu bangsa.***



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Forum IT PPI-India: http://www.ppiindia.shyper.com/itforum/
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke