http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/16/kehidupan/1501483.htm
Minggu, 16 Januari 2005 Membangun Kebersamaan di Sekolah LULUSAN Sekolah Menengah Umum Muhammadiyah itu telah ditasbihkan menjadi pastor. Lho? Begitulah, sejumlah sekolah yang berbasis agama tertentu berada di tengah masyarakat yang berbeda agamanya dengan sekolah tersebut. Dan, sekolah-sekolah itu menjadi kebanggaan daerahnya. BAGI masyarakat Katolik di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), niscaya tak asing lagi dengan SMU Muhammadiyah Ende. Banyak tokoh, baik tokoh di lingkungan pemerintah, pendidikan, maupun usaha, merupakan alumnus sekolah yang kini beralamat di Jalan Woloare B, Ende, ini. Tidak hanya itu. Drs Jafar Haji Abdullah, Kepala SMU Muhammadiyah, menuturkan, sejak dia menjadi kepala sekolah tahun 1986, sudah ada alumni yang telah ditasbihkan menjadi pastor di Surabaya. Dia tak ingat nama pastor itu, tetapi ia sempat diundang menghadiri misa perdana di tempat asal pastor itu, yakni Nangaroro, Ngada. "Selain itu, ada dua alumni kini menjadi frater (calon pastor-Red) di Seminari Tinggi Santu Petrus Ritapiret, Maumere. Juga ada enam wanita alumni yang telah menjadi suster atau biarawati. Mereka tersebar di Malang, Madiun, dan Kalimantan Barat," tutur Jafar. Meski dikelola oleh Majelis Pendidikan Muhammadiyah Daerah Ende, tetapi sebagian besar siswa sekolah ini beragama Katolik. Dari 472 siswa kini, 255 siswa atau 54 persen beragama Katolik, 45,5 persen Islam, dan 0,5 Protestan. Sedangkan tenaga pengajar, dari total 35 guru, 25-30 persen beragama Katolik. Hal seperti itu tidak hanya terjadi di Flores. Di Papua, setahun sebelum pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969 telah berdiri Yayasan Pendidikan Islam (Yapis), yang oleh masyarakat setempat diakui perannya dalam memajukan masyarakat Papua. Yapis membawahi pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai pendidikan tinggi. Jumlah pelajar, siswa, dan mahasiswa mereka mencapai sekitar 15.000 orang yang datang dari seluruh Papua. Menurut pengurus Yapis Papua, Entar Sutisman, yang ditemui Kompas di Kompleks Yapis di Jayapura, untuk tingkat TK saat ini siswanya boleh dikata 100 persen Muslim. Sedangkan di tingkat sekolah dasar (SD) dan menengah, jumlah siswa non-Muslim sekitar 30 persen. Untuk perguruan tinggi, mahasiswa berimbang, 50 persen mahasiswa Muslim dan 50 persen mahasiswa non-Muslim. "Siswa dan mahasiswa semuanya adalah putra daerah dan lebih khusus lagi berasal dari daerah pedalaman seperti Pegunungan Tengah, yakni Paniai, Puncak Jaya, dan Jayawijaya. Beasiswa dari pemerintah daerah (pemda) dan lembaga lain di sekolah ini diprioritaskan untuk putra asli daerah," kata Sutisman. Sutisman merasa tak ada diskriminasi dari pemda maupun masyarakat Papua yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Ia menyebutkan, Pemda Provinsi Papua terus memberikan dukungan moral, finansial, dan tanah ulayat terhadap Yapis. "Satu hal yang perlu dipahami semua pihak, Yapis maju di daerah ini berkat dukungan masyarakat dan pemda setempat. Ini membuat kami berbesar hati melakukan semua kegiatan yang terkait dengan peningkatan sumber daya manusia Papua," ucap Sutisman. DI Tomohon, kota sejuk di Sulawesi Utara, dengan penduduk sekitar 110.000 jiwa yang mayoritas beragama Kristen, juga terdapat Pesantren Hidayatullah Kinilow yang dirintis tahun 1984 oleh (alm) Muhammad Salim. Pada mulanya, pria yang merantau ke Tomohon tahun 1972 itu merintisnya dengan membangun mushala di ujung Tomohon sebagai tempat shalat para musafir yang berdagang di Minahasa. Mushala itu berkembang menjadi masjid sederhana. Setelah itu, Salim berinisiatif mendirikan Yayasan Pendidikan Hidayatullah atau Pusat Pendidikan Anak Saleh, yang menjadi cikal bakal Pesantren Hidayatullah. Kini, mereka memiliki madrasah ibtidaiah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah (masing- masing setaraf SD, SLTP, SLTA). Menurut Muhammad Idris, guru dan salah satu pemimpin di tempat tersebut, pesantrennya ini bisa disebut bukti dari kerukunan hidup antarumat beragama di tempat itu. "Kami merasa, pemerintah dan masyarakat di sini dapat memahami kehadiran masjid dan pesantren ini dalam semangat kerukunan," kata Idris. Lembaga-lembaga pendidikan seperti itu, termasuk sekolah-sekolah umum seperti yang dikelola Yapis di Papua, menerapkan pendidikan agama seperti menjadi landasan lembaga mereka. "Semua pelajar, siswa, dan mahasiswa di bawah naungan Yapis wajib mengikuti pendidikan agama Islam. Tetapi, dalam proses penyajiannya ada penekanan-penekanan khusus, terutama bagi anak- anak Muslim," kata Entar Sutisman tentang Yapis. "Pendidikan agama seperti ini juga dilakukan di sekolah-sekolah non-Muslim," ujarnya menambahkan. Memang demikian. Di Bogor, Jawa Barat, terdapat sekolah yang tak asing lagi, yakni SMU Regina Pacis atau disingkat RP. Menurut Kepala SMU RP Bogor, Drs C Dwi Sunu Subroto, lembaga pendidikannya ini mendidik siswanya dengan "nuansa Katolik". "Bukan untuk menjadikan siswa SMU RP yang non-Katolik menjadi Katolik," ucapnya. Di sekolah itu, jumlah pelajar yang non-Muslim dan Muslim berimbang, 50 persen : 50 persen. Setiap hari Jumat, pelajar yang Muslim pulang sekolah pukul 11.00, sedangkan yang Katolik mengikuti pendidikan pembinaan iman mulai pukul 11.15-12.15. SMU RP, yang terletak di Jalan Pengadilan, Bogor, ini merupakan sekolah terakhir yang didirikan oleh suster-suster dari ordo FMM setelah sebelumnya mereka mendirikan SD dan sekolah menengah pertama. Tentang pelajaran agama ini barangkali memang menjadi persoalan cukup "krusial" di lembaga-lembaga pendidikan itu. SMA St Yosef yang awalnya bernama Swastiastu di Denpasar, Bali, termasuk salah satu sekolah Katolik yang menjadi favorit untuk Bali dan Nusa Tenggara. Sekolah ini berada di bawah Yayasan Insan Mandiri (Yasiman) yang berdiri sejak 46 tahun lalu, langsung di bawah Keuskupan Denpasar. SMA St Yosef adalah satu dari 37 sekolah asuhan Yasiman. Puluhan sekolah-dari tingkat TK sampai SLTA-tersebar di Bali, Lombok, dan Sumbawa. Menurut Romo Adi Setiawan dan Romo Deni Mary dari jajaran pimpinan Yasiman, pada awalnya siswa bukan Katolik juga diberikan pelajaran agama Katolik, tetapi sebatas sebagai pengetahuan. Belakangan, pelajaran agama diberikan secara terpisah sesuai dengan agama yang dianut siswa. Sementara itu, pelajaran agama Katolik tidak lagi menjadi pelajaran umum. "Kebersamaan para siswa di sebuah sekolah pada saat tertentu terpaksa harus dipisah- pisahkan untuk mengikuti pelajaran agama yang dianut. Pola seperti ini lama-lama terasa mengganggu kebersamaan siswa," tutur Romo Adi. Karena keadaan itu, Yasiman sejak tahun ajaran 2004/2005 melakukan uji coba menyertakan pelajaran etika bersama mata pelajaran lainnya, termasuk pelajaran agama. "Jika dimungkinkan, pada saatnya pelajaran etika menggantikan pelajaran agama," sambung Romo Deni Mary. Ia menjelaskan, pelajaran etika tersebut adalah solusi yang kini sedang diujicobakan penerapannya guna menghilangkan pengotak-ngotakan para siswa. "Kami sekarang ini sebenarnya sedang berpikir keras bagaimana mencarikan solusi terbaik agar para siswa yang berbeda agama, terutama di sebuah sekolah, tak harus terkotak-kotak hanya karena pelajaran agama. Untuk itulah kami mulai melakukan uji coba pelajaran etika pada tingkat SMA," katanya. Pelajaran etika diharapkan pada saatnya menggantikan pelajaran agama. Dengan demikian, para siswa tidak lagi harus terpisah-pisah. "Kami sudah sampai pada satu kesimpulan, pelajaran agama itu seharusnya cukup menjadi urusan dan tanggung jawab keluarga, bukan sekolah," ucap Romo Adi.(CAL/KOR/PUN/FR/ANS) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

