** Mailing List Nasional Indonesia PPI India Forum **

http://www.radarbanjarmasin.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=49778

 Jumat, 14 Januari 2005
Islam Moderat di Asia Tenggara
Oleh: M. Hilaly Basya*

Berbeda dengan opini yang berkembang di masyarakat barat belakangan ini, Islam 
yang berkembang di Indonesia sebenarnya menunjukkan watak moderat. John L 
Esposito dalam artikelnya Islam's Southeast Asia Shift, A Success that Could 
lead renewal in the Muslim World, melukiskan pengalaman dan keterkejutannya 
melihat Islam Asia Tenggara saat ini. 
Robert W Hefner mengatakan bahwa melakukan studi tentang Islam di Asia Tenggara 
-khususnya Indonesia- adalah sangat penting dan menarik. Indonesia adalah 
negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia. Dengan pertimbangan itu, 
mempelajari dan memahami Islam di Indonesia adalah penting bagi relasi 
Islam-barat dan masa depan kemanusiaan global. 

Seiring dengan isu terorisme pasca tragedi 11 September 2001, umat Islam di 
Indonesia berkepentingan untuk mengcounter wacana yang mengidentikkan Islam 
dengan terorisme. Atas dasar itu, rencana kerjasama pemerintah Indonesia dan 
Malaysia untuk memproyeksikan citra Islam Moderat ke dunia Internasional adalah 
tindakan yang tepat. Kesepakatan ini muncul dalam pertemuan Presiden RI Susilo 
Bambang Yudhoyono (SBY) dengan wakil Perdana Menteri Malaysia Dato Seri Mohd 
Nadjib Tun Haji Abdul Razak, di Jakarta (8/12). 


******* 


Berbeda dengan opini yang berkembang di masyarakat barat belakangan ini, Islam 
yang berkembang di Indonesia sebenarnya menunjukkan watak moderat. John L 
Esposito dalam artikelnya Islam's Southeast Asia Shift, A Success that Could 
lead renewal in the Muslim World, melukiskan pengalaman dan keterkejutannya 
melihat Islam Asia Tenggara saat ini. Lebih dari dua puluh tahun yang lalu 
(1970-an), Esposito tidak tertarik kepada Islam Asia Tenggara. Salah satu 
faktornya adalah pandangan umum yang berkembang di kalangan ilmuwan barat, 
bahwa Islam Asia Tenggara adalah Islam periferal (pinggiran). Namun tahun 
1990-an Esposito mengalami ketertarikan, bahkan kekaguman. Esposito mengatakan 
bahwa Indonesia dan Malaysia akan muncul dan memainkan peran penting dalam 
dunia Islam (1997). Penilaian Esposito ini barangkali tidak berlebihan. Islam 
Asia Tenggara cukup menjanjikan dan akan muncul menjadi kawasan alternatif bagi 
kebangkitan Islam. Dalam dunia dimana pandangan dunia telah memaknai Islam
  sebagai tidak cocok dengan modernisasi dan demokrasi, bahkan dinilai sebagai 
inspirator radikalisme agama, Asia Tenggara justru memperlihatkan sosok Islam 
yang moderat. 

Pada dasarnya, kebangkitan Islam Asia tenggara pada abad ke-19 hingga 21 adalah 
sebuah fenomena global. Seiring dengan adanya interaksi dengan peradaban Barat 
di abad ke-18, umat Islam menyadari ketebelakangan peradabannya dibandingkan 
barat. Interaksi tersebut berlanjut menjadi media refleksi dan digunakan 
sebagai kesempatan untuk mempelajari peradaban barat. Kehendak baik itu 
tercermin dari kemauan mendialogkan doktrin agama dengan modernitas barat. 
Dialog tidak mengandung arti bahwa umat Islam tengah "memaksakan" doktrin 
agamanya untuk menerima modernitas, melainkan membaca ulang doktrin agama 
dengan pisau analisa modernitas. Dengan begitu penerimaan terhadap demokrasi 
atau modernisasi politik umpamanya, bukanlah "pemerkosaan semiotik" terhadap 
kitab suci, yang mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok yang bersifat 
pragmatis. Demokrasi diterima sebagai milik sendiri lantaran dalam doktrin 
Islam banyak ayat-ayat Alqur'an yang sejalan dan mendukung demokrasi. Jadi keban
 gkitan Islam terkait dengan proses take and give dengan peradaban barat. 

Kebangkitan Islam di Asia Tenggara bukan sebagai reaksi terhadap modernitas 
barat, melainkan sebagai bagian tak tepisahkan dari proses pembaruan yang 
selalu muncul, yang menunjukan keberlangsungan tradisi Islam dalam sejarah. Hal 
itu menjelaskan bahwa kebangkitan Islam adalah sebuah dorongan dan dinamika 
internal. Dari kerangka bepikir ini, kebangkitan Islam di Asia Tenggara dapat 
dilihat sebagai sebuah wacana alternatif dunia Islam, ketimbang sebagai ancaman 
bagi barat-juga bukan sebagai ancaman bagi umat Islam sendiri, sebab 
kebangkitan itu berlandas pada tradisi Islam. 

Salah satu sumber optimisme tentang kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada 
umumnya didasarkan pada "watak" atau "karakteristik" Islam di kawasan ini yang 
berbeda dengan Islam di kawasan lain, khususnya di Timur Tengah. Karakteristik 
terpenting Islam di Asia tenggara itu, misalnya, memiliki watak yang lebih 
damai, ramah, dan toleran. 

Watak Islam seperti itu diakui banyak pengamat barat, diantaranya Thomas W 
Arnold. Dalam bukunya, The Preaching of Islam, Arnold menyimpulkan bahwa 
penyebaran dan perkembangan historis Islam di Asia Tenggara berlangsung secara 
damai. Berbeda halnya dengan penyebaran Islam di sebagian besar wilayah Timur 
Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang biasa disebut sebagai fath atau futuh, 
yakni pembebasan, yang dalam prakteknya sering melibatkan kekuatan militer. 
Meskipun futuh di kawasan-kawasan yang disebutkan tadi tidak selamanya berupa 
pemaksaan penduduk setempat untuk memeluk Islam. 

Karakter yang toleran inilah yang membuat Islam di Asia Tenggara tidak memusuhi 
peradaban barat. Kolonialisme dan imperialisme barat terhadap masyarakat Asia 
Tenggara tidak membuat umat Islam menutup diri untuk berdialog dengan peradaban 
barat. Imperialisme adalah sisi jahat peradaban barat yang tidak bisa 
ditolerir, sedangkan demokrasi adalah sisi "cantik" peradaban barat yang layak 
diapresiasi. Oleh karena itu Islam di Asia Tenggara memang cukup prospektif. 
Pada masa dimana Islam telah diidentikkan dengan radikalisme dan dianggap tidak 
cocok dengan demokrasi, Indonesia dan Malaysia telah mampu menepis stereotip 
semacam itu. 

Penggambaran di atas menunjukkan bahwa Islam di Indonesia dan Malaysia tidak 
seperti yang berkembang dalam opini masyarakat Barat. Radikalisme bukanlah 
representasi tunggal Islam. Justru Islam di kedua negara ini menunjukkan 
prestasi tersendiri dalam berhadapan dengan tantangan modernitas. 

Pasca tragedi 11 September 2001, Islam moderat di Asia Tenggara menjadi 
antitesa atas Islam radikal. Banyak tokoh dari dalam dan luar negeri yang 
berharap agar Islam moderat tampil dan memberikan andil dalam meredam gejolak 
teror berlabel agama. Menteri Senior Singapura Lee Kuan Yew misalnya, 
menyerukan agar kelompok Islam moderat di Asia Tenggara mengambil sikap untuk 
memerangi ekstrimis Islam yang ia sebut telah membuat teror di dunia 
(27/3/2004). 

Kondisi semacam ini mendorong umat Islam di Asia Tenggara merespon maraknya 
terorisme berlabel agama dengan menggelar konferensi yang bermaksud 
meng-counter berkembangnya pengaruh Islam radikal di kalangan umat Islam pada 
umumnya, dan mencegah terbentuknya opini internasional yang mengidentikkan 
Islam dengan terorisme. "Deklarasi Jakarta 2001", yang merupakan hasil Summit 
of World Muslim Leaders-salah satu konferensi yang digelar oleh muslim Asia 
Tenggara untuk merespon radikalsme agama-, menyatakan bahwa Islam adalah agama 
moderat yang cinta damai, anti-kekerasan, dan tidak anti-kemajuan. Berikutnya 
adalah The Jakarta International Islamic Conference (JIIC) yang dilaksanakan 
atas kerjasama NU-Muhammadiyah pada tanggal 13-15 Oktober 2003. Konferensi ini 
ingin mempertegas peran Islam moderat Asia Tenggara yang direpresentasikan oleh 
NU dan Muhammadiyah dalam meredam gelombang radikalisme. 

Sejatinya kita dukung rencana kerjasama RI-Malaysia tersebut. Betapapun, 
Indonesia dan Malaysia punya kepentingan besar dalam hal ini, mengingat 
keduanya dicitrakan sebagai negara yang mampu membawa umat Islam ke arah 
kebangkitan yang berdampak baik bagi nilai-nilai kemanusiaan. 


* Direktur Eksekutif Center for Moderate Muslim (CMM), aktifis Jaringan 
Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), Dosen UHAMKA, dan Mahasiswa Pascasarjana 
ICAS-Paramadina program studi Filsafat Islam 


--------------------------------------------------------------------------------



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



** Forum Nasional Indonesia PPI India Mailing List **
** Untuk bergabung dg Milis Nasional kunjungi: 
** http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ **
** Website resmi http://www.ppi-india.uni.cc **

Kirim email ke