http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/17/opini/1502285.htm Senin, 17 Januari 2005
Membangun Epistemologi Tsunami Oleh Sulfikar Amir DALAM bukunya, Is Science Multicultural?, Sandra Harding mengajukan tesis menarik. Berangkat dari studi sains pascakolonial, Harding mengatakan, sains pada dasarnya hasil pembentukan sistem pengetahuan lokal (local knowledge system). Karena itu, argumen Harding, sistem pengetahuan ilmiah didorong bentuk kepentingan dan sistem wacana berbudaya lokal (culturally local). Pemikiran Harding yang menjadi salah satu tonggak studi sains kontemporer ini menuai kritik pedas dan sinisme dari sarjana dan ilmuwan positivis. Bagaimana mungkin sains dikatakan bersifat lokal saat fakta-fakta ilmiah selalu dapat dibuktikan secara universal, begitu penolakan mereka. Tidak heran mereka menganggap pemikiran Harding sebagai fantasi posmodernisme yang naif dan sekadar mencari sensasi. Konflik itu adalah salah satu fragmen perang epistemologi yang telah lama berlangsung dalam dunia akademik. Pertentangan di antara keduanya memuncak pada Science Wars dekade 1990-an. Tulisan ini tidak bermaksud membuat catatan ulang atas apa yang terjadi saat itu. Lepas dari berbagai tuduhan relativisme yang ditujukan ke Sandra Harding yang sebenarnya salah kaprah, tetapi pemikirannya bersinggungan dengan tawaran Donna Haraway tentang relasi antara budaya lokal dan sistem pengetahuan, memiliki relevansi kontekstual dengan situasi yang kini dialami masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Siapa pun tidak dapat menyangkal, peristiwa 26 Desember mencatat sejarah penting tentang manusia, kemanusiaan, dan alam. Relasi antarketiganya menghasilkan bangunan peradaban yang menunjukkan superioritas manusia dalam menaklukkan alam. Namun, keangkuhan itu hilang sekejap. Tsunami memorakporandakan sebuah peradaban dan komunitasnya melalui penghancuran seketika tatanan sosial dengan berbagai ikatan yang ada. Hilangnya satu dari orang Aceh dalam tempo amat singkat adalah statistik potensi alam yang membuktikan, alam bisa lebih "buas" dari berbagai bentuk teknologi penghancur yang diciptakan manusia bagi dirinya sendiri. APAKAH alam layak disebut "buas"? Alam bukan suatu sistem yang terdiri dari elemen-elemen otonom. Proses bekerjanya selalu tunduk pada "regularitas". Peristiwa bergesernya lempeng bumi yang terjadi di dasar Laut Hindia yang menimbulkan tsunami adalah fenomena alam yang terjadi karena konsekuensi dari keteraturan/regularitas itu. Karena itu, adalah kurang tepat jika fenomena alam ini didefinisikan sebagai bencana. "Bencana alam" adalah konsep sosial. Alasannya, jika fenomena ini terjadi tanpa menimbulkan korban manusia, ia tidak kita sebut bencana. Apa yang disebut bencana sebenarnya merujuk terjadinya tragedi sosial karena hancurnya tatanan materialitas peradaban manusia. Hilangnya nyawa, rusaknya bangunan, musnahnya alat produksi, runtuhnya hierarki sosial, dan trauma psikologis kolektif adalah indikator ketidakmampuan peradaban dan rasionalitas manusia dalam menghadapi energi yang dihasilkan alam. Alam menjadi kambing hitam dari segala kekacauan yang lahir dari inferioritas manusia dalam memahami dan mengantisipasi lingkungan di mana dia berada. Di sinilah sains berperan sebagai kacamata arif dalam memahami bagaimana regularitas alam bekerja. Namun, kita harus sadar, sains bukan sebuah produk intelegensi yang superior. Sains, di mana pun dan kapan pun, bergerak secara dinamis dalam berbagai keterbatasannya yang inheren. Karena itu, sains mestinya bekerja dalam kotak keterbatasan itu untuk menjalankan misinya secara bijak. Dalam misi inilah, apa yang dilontarkan Harding tentang sistem pengetahuan lokal menjadi relevan karena menarik sains ke dalam situasi lokal di mana masyarakat berada sebagai subyek sosial. APA implikasi dari semangat lokalitas sistem pengetahuan dalam periode pascatsunami di NAD? Membangun kembali apa yang telah hilang di Aceh membutuhkan komitmen politik dan ekonomi yang luar biasa. Namun, bangunan ini tidak bernilai banyak jika akumulasi aneka pengalaman yang ada tidak mengendap menjadi pengetahuan. Alasannya, hanya dengan pengetahuan, bangunan peradaban, material maupun spiritual, dapat bertahan. Kegoncangan dan kompleksitas yang terjadi di Aceh berpotensi besar untuk menjadi obyek sistem pengetahuan yang mengajarkan kita bagaimana seharusnya menghadapi fenomena tsunami sebagai konsekuensi keteraturan kerja alam. Untuk membangun sistem pengetahuan lokal ini, secara praktis dibutuhkan sebuah institusi sentra produksi pengetahuan tentang tsunami dan berbagai implikasi sosial budaya. Institusi ini berfungsi sebagai sebuah pusat studi-sebutlah Pusat Studi Tsunami-yang melibatkan berbagai disiplin sains dan rekayasa serta bidang sosial dan humaniora. Di sini ilmu sosial dan humaniora berperan sama pentingnya dengan sains dan rekayasa karena relasi antara masyarakat dan tsunami hanya dapat dipahami melalui bahasa sosial dan budaya. Interaksi antardisiplin ini memungkinkan terbentuknya sebuah bangunan epistemologi tsunami yang komprehensif meliputi pemahaman karakter fisik tsunami sekaligus sistem sosial yang mesti dibangun dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan dari fenomena tsunami. Mengingat rentannya posisi geografis Indonesia terhadap gejala tsunami, dalam jangka panjang epistemologi tsunami akan amat berguna sebagai referensi pikiran dan tindakan kita di masa datang. Ada dua hal yang menjadi bahan pertimbangan gagasan pembentukan Pusat Studi Tsunami. Pertama, soal finansial yang tentu amat krusial. Dalam pekan-pekan terakhir, kita menyaksikan gelombang bantuan dari berbagai penjuru dunia bagai tsunami sosial yang luar biasa. Negara-negara ekonomi maju bahkan saling berlomba mendongkrak angka sumbangannya, lepas dari apa pun motivasi di balik itu. Perhatian pemerintah pusat dan daerah juga amat signifikan. Berbagai program bantuan disusun agar masyarakat Aceh dapat bangkit dari kegetiran dan frustrasi yang dalam. Dari seluruh upaya pemulihan ini, akan amat bijaksana jika setidaknya 3-5 persen dari dana pembangunan itu dimanfaatkan untuk membangun Pusat Studi Tsunami. Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya secara finansial. Kedua, soal lokasi. Mengingat besarnya trauma sosial yang ditimbulkan fenomena tsunami di Aceh, akan amat tepat jika pusat studi itu didirikan di atas tanah Aceh. Pengalaman masyarakat Aceh adalah modal penting bagi semangat ilmiah guna membangun rasa percaya diri. Lebih baik lagi jika pusat studi ini dilengkapi museum tsunami seperti dilontarkan Dr Hasanuddin Z Abidin, pakar geodesi ITB. Jika terwujud, pusat studi dan museum tsunami ini akan menjadi salah satu pilar penting pembangunan sebuah komunitas berlandaskan prinsip learning the past, anticipating the future. Sulfikar Amir Kandidat Doktor di Dept Science and Technology Studies; Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

