----- Forwarded by Fathul Rahman/BCT on 01/19/2005 09:50 AM -----
                                                                                
            
                    "Dwi W.                                                     
            
                    Soegardi"            To:     Keluarga-islami                
            
                    <[EMAIL PROTECTED]        <[EMAIL PROTECTED]>               
  
                    l.com>               cc:                                    
            
                                         Subject:     [keluarga-islami] Siapa 
yang          
                    01/19/2005            merayakan Idul Adha pada 10 
Dzulhijjah 1425 H?    
                    08:04 AM                                                    
            
                    Please respond                                              
            
                    to                                                          
            
                    keluarga-islam                                              
            
                    i                                                           
            
                                                                                
            
                                                                                
            


Artikel seputar penentuan Idul Adha,
ditulis oleh T. Djamaluddin, peneliti LAPAN.
"Globalisasi Ru'yah Tak Sederhana"
http://media.isnet.org/isnet/Djamal/global.html

Siapa yang merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H?

T. Djamaluddin
Peneliti bidang matahari & lingkungan
antariksa, Lapan, Bandung.

Agar tulisan ini dapat dipahami dengan baik dan benar, berikut
beberapa point yang perlu diperhatikan:

1. Berbeda dengan penanggalan Masehi yang berdasarkan pada peredaran
matahari (syamsiyah) yang mana penghitungan awal hari dimulai pada jam
12 tengah malam, dalam penanggalan Hijriah yang berdasarkan pada
peredaran bulan (qomariyah), penghitungan awal hari dimulai pada saat
setelah matahari terbenam (beberapa saat setelah masuk waktu Maghrib).

2. Kedudukan orbit peredaran bulan tidak berhimpitan dengan garis
khatulistiwa dan selalu berubah dari satu hari ke hari lainnya dan
tentunya dari satu bulan ke bulan lainnya (Baca referensi di bawah).
Karenanya, pemakaian posisi bujur suatu tempat terhadap posisi bujur
kota Mekah tidak sepenuhnya bisa dipakai untuk menentukan apakah suatu
tempat itu (merujuk kepada orbit peredaran bulan) berada "lebih timur"
ataupun "lebih barat" dari kota Mekah. Hanya, untuk tempat-tempat yang
posisi bujurnya "jauh lebih timur" atau "jauh lebih barat" dari kota
Mekah, dapat dengan "cukup aman" kalau dikatakan "lebih timur" ataupun
"lebih barat", termasuk kalau merujuk pada orbit peredaran bulan.
Dengan pemahaman ini, negara-negara seperti Indonesia, Malaysia,
Jepang, dll., dapat dikatakan "lebih timur" dari Mekah, sedangkan
negara-negara seperti USA, Canada, Mexico dapat dikatakan "lebih
barat" dari Mekah.

Khususnya untuk yang berada di Indonesia: Siapa yang merayakan Idul
Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H?

Untuk tahun ini Arab Saudi telah menentukan bahwa hari Wukuf di Arafah
(9 Dzulhijjah 1425 H) jatuh pada tgl. 19 Januari 2005, yang mengandung
konsekuensi bhw utk Idul Adha (10 Dzulhijjah 1425 H) shalat Ied-nya
dilakukan pada tgl. 20 Januari 2005.

Ketika kota Mekah dijadikan sebagai rujukan dalam menentukan kapan
jatuhnya hari Idul Adha di seluruh dunia dan ketika jargon persatuan
umat (khususnya kalau indikatornya adalah diadakannya shalat Ied pada
hari yang sama) didengungkan, pertanyaan yang relevan adalah siapa
yang merayakan Idul Adha pada 10 Dzulhijjah 1425 H bersamaan dengan
mereka yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah (kalau memang 10
Dzulhijjah 1425 H itu jatuh pada tgl. 20 Januari 2005 di Mekah)?

Bagi mereka yang tinggal di tempat-tempat yang berada "lebih barat"
dari kota Mekah, seperti USA, Canada, Mexico, dll., jawabannya sangat
mudah. Yang merayakan Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H
bersamaan dengan mereka yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah
adalah mereka yang melaksanakan shalat Ied-nya pada tanggal 20 Januari
2005.

Tapi, untuk tempat-tempat yang berada "lebih timur" dari kota Mekah,
seperti Indonesia, Malaysia, Papua, Jepang, dll., tidak mudah untuk
menjawabnya.

Kalau penghitungannya berdasarkan peredaran matahari terhadap bumi
jawabannya akan juga mudah......20 Januari 2005.

Hanya, kalau konsekuen untuk mendasarkan penghitungan berdasarkan
peredaran bulan, jawabannya bisa 20 Januari 2005 atau 21 Januari 2005,
ini tergantung apakah pada tanggal 9 Januari 2005 setelah matahari
terbenam bulan baru sudah cukup umur sehingga bisa "terlihat" di atas
ufuk (Kata terlihat sengaja diberi tanda kutip karena ada perbedaan
antara "terlihat" versi hisab dengan benar-benar terlihat dengan mata
versi rukyat). Berdasarkan perhitungan astronomi dan hisab, bulan
tidak akan mungkin "terlihat", bukan hanya karena bulan baru belum
cukup umur untuk dapat dilihat, tapi lebih karena bulan baru belum
lahir pada saat itu. Mereka yang mengupayakan melihat langsung wujud
bulan pada saat itu (rukyat) tidak ada yang berhasil melihat munculnya
bulan baru. Karenanya untuk daerah-daerah yang "lebih timur" dari kota
Mekah ini, awal 1 Dzulhijjah 2005 dimulai bertepatan dengan saat
setelah matahari terbenam pada tanggal 10 Januari 2005. Konsekuensinya
adalah bahwa Idul Adha jatuh pada tanggal 21 Januari 2005 (Kenyataan
inilah yang menyebabkan pemerintah, Muhammadiyah dan NU pada 2005/1425
H saling sepakat dalam penentuan kapan hari Idul Adha di Indonesia).

Jadi, untuk mereka yang berada di Indonesia dan daerah lainnya yang
"lebih timur" dari Mekah, mereka yang shalat Ied pada tanggal 20
Januari 2005 itu memang merayakan Idul Adha bersamaan dengan mereka
yang tengah melakukan ibadah haji di Mekah BERDASARKAN PERHITUNGAN
MENURUT PEREDARAN MATAHARI (kalender Masehi). Baik yang di Indonesia
maupun di Mekah SAMA-SAMA MERAYAKAN IDUL ADHA PADA TANGGAL 20 JANUARI
2005, tapi masing-masing merayakan Idul Adha pada tanggal menurut
kalender Hijriah (yang didasarkan menurut peredaran bulan) yang
berbeda. Yang di Indonesia merayakannya pada tanggal 9 Dzulhijjah 1425
H, sedangkan yang di Mekah merayakannya pada tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H.

Sedangkan bagi mereka di Indonesia yang melakukan shalat Ied pada
tanggal 21 Januari 2005 memang merayakan Idul Adha pada tanggal yang
berbeda berdasarkan perhitungan menurut peredaran matahari (kalender
Masehi). Yang di Indonesia merayakan Idul Adha pada tanggal 21 Januari
2005, sedangkan yang di Mekah pada tanggal 20 Januari 2005. Tetapi,
berdasarkan perhitungan menurut peredaran bulan (kalender Hijriah)
justru mereka merayakan Idul Adha pada tanggal yang sama, yaitu
tanggal 10 Dzulhijjah 1425 H.

Akhir kata, silahkan pilih ingin memilih melakukan shalat Ied pada
tanggal 20 Januari 2005 atau pun tanggal 21 Januari 2005. Hanya,
pilihlah berdasarkan ilmu, pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki.
Juga, janganlah perbedaan pilihan yang ada mengakibatkan retaknya
ukhuwah islamiyah.

Catatan:
Mengenai kesepakatan para Ulama yang hadir dalam Muktamar
International di Turki yang menetapkan bahwa Mekah sebagai standar
penentuan hari Idul Adha di seluruh dunia yang dipakai sebagai salah
satu dasar dalam penentuan jatuhnya hari Idul Adha di Indonesia,
sangat disayangkan sampai tulisan ini disusun penulis belum berhasil
menemukan bunyi asli ataupun terjemahannya. Yang sangat penting untuk
diketahui adalah apakah kesepakatan untuk menjadikan Mekah sebagai
standar penentuan hari Idul Adha itu menyebutkan menurut peredaran
matahari atau menurut peredaran bulan yang jadi dasar penghitungannya.

====================================================================

Referensi:

http://media.isnet.org/isnet/Djamal/global.html

Globalisasi Ru'yah Tak Sederhana
T. Djamaluddin
(Staf Peneliti Bidang Matahari dan Lingkungan Antariksa, LAPAN,
Bandung)


--------------------------------------------------------------------



Bisakah ru'yatul hilal diglobalisasikan? Banyak orang yang
mendambakannya. Sekian lama kita merasakan ketidakpastian atau
perbedaan di sana-sini dalam penentuan awal Ramadan dan hari raya.

Tetapi, apa makna globalisasi ru'yah itu? Tidak ada makna baku untuk
istilah "globalisasi" dalam masalah ru'yatul hilal. H. Chumaidi
Muslih (PR, 19 Juli 1994) menawarkan ide menarik namun belum tentu
bisa diterapkan, karena globalisasi ru'yah tidak sesederhana yang
diuraikannya. Apalagi dengan menyempitkan makna globalisasi
sebagai "menyepakati Arab Saudi sebagai tempat pelaksanaan pemantauan
bulan (ru'yatul hilal), kemudian negara-negara lain mengikuti dengan
memperhitungkan perbedaan waktu/letaknya pada garis bujur (meridian),
serta perbedaan posisi bulan/ketinggiannya terhadap garis horison
barat pada saat tenggelamnya matahari di masing-masing tempat."
Menyepakati Arab Saudi sebagai satu-satunya tempat pengamatan
menimbulkan masalah tersendiri.

Tulisan ini mencoba menganalisisnya secara umum -- tidak menyoroti
secara khusus pandangan di atas-- dengan mengkaji masalah
sesungguhnya yang kita hadapi.

Salah anggapan

Ada beberapa anggapan sederhana di masyarakat kita yang kadang-kadang
menyebabkan timbulnya kesimpulan yang keliru.

Pertama, anggapan "Kita ummat yang satu, yang tinggal di bumi yang
satu, bulan dan matahari juga sama, jadi mestinya waktu ibadah Puasa
dan 'Id-nya juga harus kompak". Anggapan yang hampir sama juga muncul
di PR beberapa bulan sebelumnya ketika mengulas penyeragaman idul
adha. Nah, pengertian kompak atau seragam kadang-kadang rancu.

Masyarakat awam sadar atau tak sadar akan terbawa pada anggapan
seolah-olah bumi kita seperti selembar kertas yang mengamati bulan
yang satu. Mestinya --dengan anggapan salah itu-- bulan yang satu itu
dapat diamati di semua tempat di bumi. Anggapan yang lebih "canggih"
menambahkan koreksi perbedaan waktu karena bumi bulat, tetapi tetap
dengan anggapan mestinya semua tempat bisa mengamati bulan yang satu
itu dengan mempertimbangkan koreksi waktu itu atau beda bujurnya.

Anggapan itu memberikan kesimpulan yang keliru karena penampakan
bulan dipengaruhi banyak faktor. Dua faktor dominan adalah keadaan
atmosfer tempat pengamatan dan lintang tempat pengamatan. Pengaruh
atmosfer amat jelas diketahui oleh semua orang, di satu tempat
teramati mungkin di tempat lain belum. Pengaruh lintang tempat
pengamatan jarang disadari orang. Seolah-olah tempat yang sebujur
bisa mengamati bulan pada saat yang bersamaan. Karenanya, dengan
anggapan itu, timbul ide sederhana cukup dengan koreksi waktu akibat
perbedaan bujur dua tempat. Dengan koreksi waktu itu dihitung
ketinggian hilal di tempat lain, bila ketinggian hilal di tempat
acuan diketahui.

Koreksi itu terlalu sederhana dan kurang tepat. Untuk kasus matahari
dan bulan berada di sekitar katulistiwa langit (sekitar 20 Maret dan
23 September) koreksi sederhana itu bisa dilakukan. Tetapi hal itu
tidak bisa diterapkan pada kasus-kasus lain. Pada musim panas atau
dingin, di belahan bumi utara atau selatan matahari bisa terbenam
lebih lambat atau lebih cepat dari jam 6 sore. Karenanya saat
pengamatan hilal pun tidak hanya bergantung pada bujur tempat itu.
Sebagai contoh, untuk bulan Juli/Agustus matahari terbenam di daerah
sekitar katulistiwa sekitar jam 6 waktu setempat, tetapi di belahan
utara bisa jam 7 dan dibelahan selatan jam 5. Karena pada bulan
Juli/Agustus matahari berada di langit belahan utara.

Selain itu, posisi bulan pun berpengaruh pada penentuan saat
terbenamnya. Kita ketahui, orbit bulan tidak berimpit dengan
katulistiwa langit, karenanya bulan bisa terbenam lebih ke utara atau
lebih ke selatan dari titik barat. Posisi bulan ini berpengarauh pada
penentuan saat terbenamnya, seperti halnya pengaruh posisi matahari
dalam contoh tersebut di atas.

Kesalahan anggapan ke dua, terlalu berlebihan mengandalkan jaringan
komunikasi untuk pengambilan keputusan ru'yatul hilal secara cepat
dan tepat untuk skala mendunia. Keputusan ru'yatul hilal tidak
mungkin diserahkan kepada mesin yang terprogram yang bisa dengan
cepat memberikan keluaran yang bisa segera terdistribusi ke seluruh
dunia. Peranan fuqaha tak bisa diabaikan. Musyawarah para fuqaha
dalam menilai kesahihan ru'yatul hilal perlu waktu. Sementara itu
mereka pun perlu waktu menantikan berbagai laporan ru'yatul hilal.

Kalau ingin lebih lengkap sampai info ketinggian hilal, tidak
sebarang saksi bisa diterima kesaksiannya. Hanya orang yang bisa
menghitung ketinggian hilal yang bisa diterima. Kalau itu yang
terjadi, jelas tak ada dalilnya. Syarat saksi ru'yatul hilal hanya
orang yang bisa dipercaya kesaksiannya, karena keimanannya dan
kemampuan matanya membedakan hilal atau bukan, tidak perlu bisa
menghitung ketinggiannya.

Sekarang, andaikan diambil kasus paling sederhana dan ideal. Andaikan
disepakati hanya kesaksian di Mekkah yang dijadikan acuan dan para
pengamatnya faham betul ketinggian hilalnya. Laporan kesaksian hilal
sampai jam 18.30. Andaikan para fuqaha di Mekkah berhasil mengadakan
musyawarah kilat dan jam 19.00 waktu setempat informasi itu bisa
langsung disebarkan ke seluruh dunia. Di Indonesia Barat saat itu jam
23.00 dan di Indonesia Timur jam 1 dini hari. Kalau itu yang terjadi,
kaum Muslimin di Indonesia harus siap menanti pengumuman pemerintah
larut malam. Itu pun belum pasti ada pengumuman atau tidak, karena
mempercayakan sepenuhnya pada ru'yatul hilal berarti harus bersabar
menunggu dengan ketidakpastian. Ini malah memberatkan. Awalnya
sederhana, tetapi konsekuensinya tidak sederhana.

Kesalahan anggapan ketiga: menjadikan Mekkah sebagai acuan ru'yatul
hilal dianggap akan menyelesaikan masalah. Ada hal-hal penting yang
terabaikan. Usulan itu bertentangan dengan hadits yang memerintahkan
untuk berpuasa bila melihat hilal. Andaikan di tempat lain melihat
hilal sedangkan di Mekkah tidak, sedangkan hanya kesaksian di Mekkah
yang dianggap diterima, haruskan kesaksian di tempat lain itu
ditolak? Padahal pesan Nabi itu tidak menyebut tempat khusus untuk
ru'yatul hilal.

Di sisi lain, cara ini menimbulkan taqlid pada Mekkah, yang berarti
pula mengubur gairah ummat di tempat lain untuk meru'yat hilal.
Benar, Mekkah sebagai tempat Ka'bah, kiblatnya kaum Muslimin. Tetapi,
bukan berarti masalah ru'yatul hilal dengan mudah mengiblat ke sana.
Secara teknis, hal itu pun tidak sederhana dan malah menyulitkan
seperti dicontohkan di atas.

Masalah Sebenarnya

Keinginan ummat untuk mencari rumusan yang tepat bagi penyeragaman
awal puasa dan hari raya yang berlaku secara global sungguh
beralasan. Tetapi, kadang-kadang makna penyeragamannya pun belum
difahami. Masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyeragaman
berarti bila di Mekkah awal Ramadan tanggal 1 Februari 1995
semestinya di seluruh pelosok dunia pun tanggal 1 Februari 1995.
Anggapan seperti itu sebenarnya keliru, karena tanggal 1 Februari
lebih didasarkan konvensi penentuan garis tanggal internasional yang
melintas di lautan Pasifik. Akibat adanya garis tanggal itu 1 Ramadan
di Indonesia bisa terjadi pada tanggal 2 Februari karena pada 31
Januari hilal sulit terlihat dari Indonesia tetapi mungkin mudah
teramati di Mekkah. Dengan kata lain, penyeragaman dalam kalender
syamsiah hanyalah mengacu pada hasil buatan manusia.

Gagasan menghitung ru'yatul hilal di berbagai tempat arahnya sudah
tepat dalam membuat kalender Islam global. Tetapi hal-hal yang diulas
di atas mempunyai kelemahan pada pendefinisian globalisasi yang
mengacu pada satu tempat, yakni Mekkah. Globalisasi seperti itu
menyempitkan arti kalender global yang mengacu pada ru'yatul hilal di
berbagai tempat, yang belum tentu tergantung ru'yatul hilal di tempat
lain.

Kalender global yang tidak mengacu ru'yatul hilal di satu tempat
seperti itu yang kini sedang diusahakan oleh International Islamic
Calendar Programme (IICP) yang berpusat di Malaysia. Globalisasi
seperti itu, mau tak mau melibatkan hisab astronomi.

Kemuskilan perbedaan idul fitri yang sering timbul di Indonesia
sebenarnya masalahnya bukan lagi perbedaan masalah hisab dan ru'yat.
Juga bukan perbedaan ru'yat tradisional (tanpa teropong) dan ru'yat
dengan teropong. Bila masalahnya hanya itu, sekian banyak seminar dan
musyawarah yang dilakukan bisa menyelesaikan masalah. Barangkali
pendapat Wahyu Widiana dari Direktorat Pembinaan Badan Peradilan
Agama, Departemen Agama RI, bisa menggambarkan keadaan yang
sebenarnya. Dalam seminar di Planetarium Jakarta Januari 1994 lalu,
ia berpendapat "kini persolannya bukan hanya masalah ilmu semata,
namun sudah berubah menjadi keyakinan yang sulit diubah."

Jadi, globalisasi ru'yatul hilal atau kalender Islam tidak
sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Penyeragaman kalender
Islam, khususnya awal Ramadan dan hari raya, sama sulitnya dengan
penyatuan semua madzhab. Suatu madzhab diikuti oleh banyak didasarkan
pada keyakinan. Kita semua, termasuk pemerintah, tidak mungkin
memaksakan orang yang berbeda keyakinan untuk mengikuti apa yang kita
yakini. Karenanya, hal penting yang perlu kita tanamkan adalah
kesadaran bahwa perbedaan mungkin saja terjadi, baik antardaerah di
Indonesia maupun antarnegara. Namun perbedaan itu janganlah dijadikan
bahan perpecahan.


---------------------------------------------------------------------
T. Djamaluddin adalah peneliti bidang matahari & lingkungan
antariksa, Lapan, Bandung.




-----Original Message-----
From: THR-Tunas Haryanto [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Wednesday, January 19, 2005 8:18 AM
To: Cecep M Hakim; [EMAIL PROTECTED]
Subject: FW: Kamis atawa Jumat kah, ber-iedul adha??

Alasan ketiga dari Dewan Syariah Pusat PKS adalah : Kesepakatan ulama dalam
mu'tamar Internasional di Turki yang menetapkan Makkah sebagai standar
penentuan hari 'Idul Adha di seluruh Indonesia.
Kapan ini diselenggarakan dan agak aneh kedengarannya kok hanya berlaku
buat Indonesia.? Salah wartawan yang ngutipnya kali, ya??
Yang ada adalah Konferensi Astronomi Islam Kedua di Jordania yang diikuti
oleh 44 ulama dan ahli astronomi Islam dari berbagai negara (29-31 Oktober
2001), diakui bahwa banyak sekali kesalahan yang dilakukan oleh Saudi
Arabia di dalam menetapkan awal bulan qamariyah. Sehingga akhirnya
menganjurkan untuk tidak mengikuti penetapan Saudi Arabia apabila
bertentangan dengan ketentuan ilmu astronomi.


From: Harry Yuniardi [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, January 18, 2005 11:25 PM


Assalamu`alaikum,

Terus terang saya merasa heran dengan keputusan PKS ini.
Apalagi dasar hukumnya sangat tidak kuat / lemah.
Kaidah apakah yang mereka gunakan ketika menentukan bahwa Iedul Adha tgl 20
Januari 2005?

Alasan yang menyatakan bahwa Muktamar Internasional di Turki yang
menetapkan Makkah sebagai standar penentuan Iedul Adha adalah sangat tidak
relevan. Karena pada Konferensi Astronomi Islam Kedua di Jordania yang
diikuti oleh 44 ulama dan ahli astronomi Islam dari berbagai negara (29-31
Oktober 2001), diakui bahwa banyak sekali kesalahan yang dilakukan oleh
Saudi Arabia di dalam menetapkan awal bulan qamariyah. Sehingga akhirnya
menganjurkan untuk tidak mengikuti penetapan Saudi Arabia apabila
bertentangan dengan ketentuan ilmu astronomi.

Bahkan Ulama terkemuka Saudi Arabia, Syaikh Muhammad Ibn Shalih al Utsaymin
dan Ulama terkemuka Pakistan, Syaikh Muhammad Taqi Utsmani, memberikan
fatwa untuk menetapkan awal bulan qamariyah termasuk di dalamnya penetapan
Iedul Adha berdasarkan rukyah hilal di tempat masing-masing (local
sighting), dengan tidak usah mengikuti penetapan Saudi Arabia yang
diakuinya banyak melakukan kesalahan.

Dan Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUAAS) pun memberikan
komentar atas kesalahan KSA itu, serta menyarankan kepada umat Islam di
negara-negara lain untuk tidak mengikuti penetapan KSA tsb yang penuh
dengan kekeliruan.
Berikut saya lampirkan file analisa terhadap problematika penentuan awal
bulan qamariyah.

Sekian,
Wassalam.

 Tuesday, 18 January 2005 15:31 WIB (Terbaca: 908)
 Berita
 PKS Tetapkan 'Idul Adha Kamis, 20 Januari PKS Online : PKS menetapkan
 shaum Arafah 1425 H jatuh pada hari Rabu, 19 Januari 2005, Hari Raya 'Idul
 Adha jatuh pada hari Kamis, 20 Januari, dan hari tasyriq berakhir pada
 hari Ahad 23 Januari. Keputusan ini diperoleh setelah Dewan Syari'ah Pusat
 PKS bersidang untuk membahas penetapan hari Raya Qurban, kemarin di Gedung
 Dewan Syariah I Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

 PKS Online : PKS menetapkan shaum Arafah 1425 H jatuh pada hari Rabu, 19
 Januari 2005, Hari Raya 'Idul Adha jatuh pada hari Kamis, 20 Januari, dan
 hari tasyriq berakhir pada hari Ahad 23 Januari.

 Keputusan ini diperoleh setelah Dewan Syari'ah Pusat PKS bersidang untuk
 membahas penetapan hari Raya Qurban, kemarin di Gedung Dewan Syariah di
 Jl. R I Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

 Seperti tertuang dalam Surat Keputusan (SK) Dewan Syari'ah Pusat PKS
 bernomor 03/B/K/DSP-PKS/XII/1425 yang ditandatangani Ketua Dewan Syari'ah
 Pusat PKS Salim Segaf Al Jufri, penetapan waktu 'Idul Adha Kamis 20
 Januari, menimbang bahwa pelaksanaan shaum 'Arafah, shalat 'Idul Adha dan
 ibadah qurban harus mengikuti ketentuan syariah, selain itu wukuf di
 'Arafah dilaksanakan pada hari Rabu, 9 Januari.

 Hal lain yang menguatkan keputusan ini adalah : pertama, Firman Allah SWT
 pada Q.S Al-Kautsar: 2 " Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan
 berkorbanlah. Kedua, Sabda Rosulullah saw " Hari ('Idul) Fitri kalian
 adalah pada hari kalian berbuka (selesai Ramadhan), dan hari ('Idul) Adha
 kalian adalah pada hari kalian menyembelih hewan qurban, dan hari (wukuf
 di) Arafah kalian adalah pada hari yang kalian ketahui." (HR. Tarmidzi).
 Ketiga : Kesepakatan ulama dalam mu'tamar Internasional di Turki yang
 menetapkan Makkah sebagai standar penentuan hari 'Idul Adha di seluruh
 Indonesia. (Ningsih)





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke