SURAT KEMBANG KEMUNING: 

PAMERAN LUKISAN SALIM DI KOTAPRAJA V�me PARIS [1].

Bertempat di ruang pameran kotapraja Paris V�me yang megah di samping Gedung 
Putera-Puteri Terbaik Perancis, Pantheon, kemarin malam [21 Januari 2005], 
Lucia Rustam, Kuasa Usaha Republik Indonesia dari KBRI Paris telah secara resmi 
membuka pameran lukisan Salim. Pameran ini akan berlangsung selama seminggu. 
Pembukaan pameran yang mendapat perhatian besar dari masyarakat Indonesia dan 
berbagai kalangan, semestinya dilakukan pada 18H30 menjadi tertunda karena 
menunggu kehadiran Walikota Paris V�me, Jean Tib�ri yang ternyata tak kunjung 
datang. 

Pada saat Kuasa Usaha Republik Indonesia untuk Perancis mengucapkan pidatonya, 
tiba-tiba seorang perempuan gemuk dan cukup berusia muncul. Perempuan yang 
sudah tidak muda  ini tidak lain adalah Madame Jean Tib�ri. Sementara Jean 
Tib�ri sendiri dari ruang kerjanya di tingkat atas dari gedung yang sama, turun 
berlalu tanpa sejenak pun menampakkan muka. Apa gerangan sulitnya menggunakan 
beberapa menit lewat menampakkan muka sesuai janji? Kehadiran diplomat pertama 
Indonesia yang mewakili Republik Indonesia di Perancis dan Atase Pers Indonesia 
di ruang kotaprajanya seakan tidak mempunyai arti apa-apa bagi sang walikota. 
Saya tidak tahu apakah dilihat dari segi protokoler hubungan antar dua negara, 
sikap begini sudah wajar, apalagi jika dalam undangan nama walikota sudah 
dicantumkan yang menunjukkan kesiapannya untuk hadir. Ketidakhadiran 
memperlihatkan betapa "kebohongan" sebagai politik merupakan hal jamak 
dilakukan oleh politisi sekarang.

Melihat sikap Jean Tib�ri ini, dalam  hati saya muncul pertanyaan: Apakah sikap 
Tib�ri yang juga anggota Parlemen Perancis, merupakan cerminan umum bagaimana 
Dunia Barat memandang Indonesia yang sedang dilanda petaka Tsunami menambah 
beban yang ditimpakan oleh krisis multi-dimensional sejak bertahun-tahun? Jika 
dilihat dari segi tatakrama diplomasi sikap begini, saya kira merupakan suatu 
bahasa politik tersendiri, sikap yang menyangkut masalah kehormatan suatu 
bangsa dan negara. Perlakuan melecehkan ini pun pernah dialami oleh Presiden 
Soekarno ketika berkunjung ke Amerika Serikat pada masa J.F.Kennedy menjadi 
presiden negeri itu sebelum Soekarno mengucapkan "Go to hell with your aid". 
Presiden Soekarno dibiarkan menunggu dan  wajar telah membuat Presiden Soekarno 
marah. Sikap Tib�ri dilihat dari keadaan intern Indonesia memang mencerminkan 
posisi kita yang lemah. 

Sebagai perbandingan saya ingin mengambil sikap  Republik Rakyat Tiongkok [RRT] 
untuk menjawab tindakan Perancis yang menjual sejumlah fregat kepada Taiwan. 
Ulah Perancis di bawah pemerintah Partai Sosialis ini dianggap oleh RRT sebagai 
mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok dan melecehkan Tiongkok. Menjawabnya, 
RRT segera membatalkan proyek-proyek besar di Tiongkok Selatan yang sudah 
disetujui oleh kedua negara. Tiongkok menutup konsulat Perancis di Tiongkok 
Selatan. Menghadapi jawaban keras penuh dignitas RRT ini, Perdana Menteri 
Balladur terpaksa secara khusus datang ke RRT untuk minta maaf, kedatangan yang 
oleh pers Perancis dinilai sebagai tekuk-lutut diplomasi dan hinaan pada 
Perancis. RRT dengan tindakan demikian telah menghukum Perancis secara 
setimpal. Pada zaman Pemerintah Partai Sosialis pulalah, menyusul Peristiwa 
Tian Anmen, Jack Lang menteri kebudayaan Perancis pada waktu itu mengirimkan 
sebuah kapal ke jurusan Tiongkok untuk mempropagandakan yang disebutnya 
"demokrasi" dan "HAM". Tiongkok menjawabnya sederhana: "Kalau kalian melanggar 
wilayah kami, kalian akan kami tenggelamkan". Sejak itu misi kapal demokrasi 
dan HAM itu tak lagi terdengar kabar lanjutnya. Tiongkok memang mempunyai 
syarat untuk menjawab hinaan diplomatik begini seperti halnya ia pun punya 
syarat untuk menghancurkan politik embargo Amerika Serikat dan sekutunya 
menyusul Perang Korea 1953. 

Apa yang saya katakan di atas bukan terutama menyangkut masalah emosional, tapi 
lebih pertama-tama menyangkut sikap saling menghormati, dikhayati tidaknya 
nilai republiken yang juga dijunjung oleh Perancis. Masalah ini juga menyangkut 
masalah "dignity" [dignitas] sebagai bangsa. Dalam hubungan antar negara, saya 
sering menyaksikan bahwa negara-negara yang merasa dirinya kuat dan memang kuat 
secara politik,ekonomi dan militer,  bertindak seperti kata pepatah "raja boleh 
membakar rumah, penduduk dilarang menyalakan tungku", hubungan  yang oleh 
pakar-pakar seperti Samir Amin, Andr� Gunder Frank, Ngo Manh Lan, Ignacy Sachs, 
Cardoso, Alligeiri,dan lain-lain... disebut sebagai "hubungan timpang" atau 
"ketidaksetaraan". Saya kira, sifat timpang dalam hubungan antar negara dan 
bangsa ini pulalah yang jadi inti "teori poros kejahatan & kebaikan" dan 
"kemerdekaan" George Bush Jr. sekarang, yang berhakekatkan kepongahan kekuasaan 
dan kekerasan. 

Kehadiran Madame Tib�ri yang cuma sekelebat untuk menyatakan bahwa pameran 
Salim di kotapraja merupakan "kehormatan bagi kotapraja dan warga Paris V�me" , 
sesungguhnya sama dengan pernyataan individual. Karena Madame Tib�ri bukanlah 
walikota, bukan orang pertama kotapraja V�me dan tidak mempunyai wewenang legal 
untuk mewakili kotapraja. Ia adalah istri Tib�ri. Barangkali ia mempunyai arti 
jika dilihat dari sistem feodal yang bukan nilai pilihan Perancis yang 
republik. Masalah ini tidak saya singgung seandainya diplomat pertama dari KBRI 
Paris tidak hadir. Mungkinnya orang lain melecehkan kita sebagai bangsa 
memunculkan pertanyaan: Mengapa hal demikian terjadi? Apakah kita masih bisa 
menghormati diri kita? Bagaimana kemampuan kita menghormati diri sendiri? 
Apakah kita memang sudah menjadi satu bangsa dan manusia-manusia yang tidak 
memiliki dignitas?

Barangkali ada yang mengatakan bahwa saya mencari-cari persoalan karena sikap 
Tib�ri semestinya dianggap sebagai soal kecil saja tak lebih dari angin lalu. 
Apakah soal dignitas, nilai, tatakrama hubungan antar negara dan bangsa 
merupakan soal-soal kecil yang bisa dipandang sebagai angin lalu? Tidak! Bagi 
saya, sikap Tib�ri bukan soal setaraf angin lalu. Paling tidak sikapnya adalah  
sebuah cermin bening untuk melihat diri mengapa orang bisa berbuat demikian 
terhadap diri kita di samping sekaligus menunjukkan apa siapa Jean Tib�ri 
sendiri.

Kalau di sini saya nampak membela Lucia Rustam,Kuasa Usaha dari KBRI Paris, 
yang tidak lain adalah wakil resmi negara dan bangsa, tidak berarti saya 
membela pemerintah SBY-Kalla yang watak dominannya masih merupakan tandatanya. 
Patut tidaknya pemerintah SBY-Kalla disokong [sementara janji shock-therapy 100 
harinya bisa dikatakan gagal atau omong kosong pemilu] berada di luar 
permasalahan tulisan ini. Yang saya persoalkan lebih pada masalah sistem nilai 
universal tanpa perduli apakah bangsa dan negara itu lemah atau kuat, apalagi 
saya tahu benar bahwa penegakan nilai universal manusiawi  ini pun di Perancis  
adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan di tiap tapak dan saban detik seperti 
yang ditunjukkan aksi sosial beberapa hari ini.Seperti di mana pun, Perancis 
juga merupakan kancah raksasa untuk pemanusiawian manusia, kehidupan dan 
masyarakat.  Sedangkan Tib�ri sendiri di Perancis sudah menjadi rahasia umum 
sebagai salah seorang dari "notorious figures". Sikap Tib�ri sesungguhnya 
merupakan sikap tidak bersahabat dengan rakyat dan bangsa Indonesia padahal 
Pameran lukisan Salim diselenggarakan oleh Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia "Pasar Malam". Agaknya Tib�ri tidak menganggap penting 
pengembangan persahabatan antara kedua rakyat dan negeri: Perancis-Indonesia.

Apa arti pembukaan pameran oleh Lucia Rustam sebagai diplomat pertama dari KBRI 
Paris dan apa inti pidato pembukaan yang merupakan sebuah pidato kebudayaan 
beliau ketika membuka Pameran Salim semalam?

Paris, Januari 2005

JJ.KUSNI



[Bersambung...]



Catatan:

Foto terlampir melukiskan Johanna Lederer, Ketua Lembaga Persahabatan 
Perancis-Indonesia, yang sedang menyiapkan poster-poster pameran untuk 
ditandatangani oleh Salim. Foto lainnya memperlihatkan  Lucia Rustam, diplomat 
pertama dari KBRI Paris, sedang berbincang hangat dengan Salim.[Dari: 
Dokumentasi Jelitheng dan JJK].




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke