http://www.sinarharapan.co.id/tajuk/index.html

Menghitung Kerugian Akibat Bencana Alam

BENCANA alam di seluruh dunia menimbulkan kerugian ekonomi hingga US$ 140 
miliar sepanjang 2004. Itulah angka yang dihitung oleh perusahaan reasuransi 
Munich Re Group. Kelompok ini kemudian menyimpulkan 2004 sebagai tahun termahal 
dalam hal pembayaran klaim asuransi akibat bencana alam, mencapai jumlah US$ 40 
miliar.
Laporan itu mungkin tidak bicara apa-apa bila hanya bicara untung rugi, atau 
berapa yang harus dibayar oleh siapa. Namun, hal yang penting dan mendesak 
untuk kita perhatikan bersama adalah bahwa kerugian sedemikian besar yang harus 
ditanggung pihak asuransi sangat terkait dengan cuaca dan perubahan iklim 
global. Artinya, ke depan kerugian akan semakin besar, kalau tidak ada upaya 
serius oleh masyarakat dunia untuk mengatasi kerusakan alam maupun pencemaran 
lingkungan bumi. 
Menariknya, perusahaan-perusahaan asuransi itu banyak merugi di kawasan-kawasan 
luar Asia, khususnya Amerika Utara dan Selatan, terutama akibat angin taufan 
yang rutin melanda kawasan tersebut, dan biasanya disertai banjir. Sedangkan di 
kawasan-kawasan Asia kerugian yang ditanggung oleh pihak asuransi relatif lebih 
kecil, karena umumnya hanya Jepang (yang kerap dilanda topan dan gempa) yang 
mengasuransikan properti mereka untuk risiko bencana alam. 
Ini karena kesadaran berasuransi di negara itu sudah tinggi, dan secara ekonomi 
masyarakat di sana sanggup membayar premi asuransi. Padahal, berbagai bencana 
alam di wilayah Asia yang lain juga menimbulkan kerugian nyawa, harta dan benda 
yang tidak kalah.
Di negara kita berbagai perusahaan asuransi banyak membayar klaim ketika pecah 
bencana banjir pada Februari 2002 yang menenggelamkan Jakarta. Namun, lebih 
banyak lagi yang tidak mengasuransikan diri, sehingga kerugian yang harus 
ditanggung sendiri oleh masyarakat jauh lebih besar. Dari fenomena ini kita 
bisa simpulkan bahwa, buat sebagian besar masyarakat kita, kerugian akibat 
bencana alam yang bisa diprediksi seperti banjir harus diterima sebagai sesuatu 
yang rutin dan biasa.
Terlepas dari itu, kini kita harus mulai awas dan waspada bahwa 
kerusakan-kerusakan yang dialami oleh masyarakat akibat bencana alam di negeri 
kita dari tahun ke tahun semakin buruk dan buruk. Pola dan jenis bencana masih 
sama, yakni kebakaran hutan, banjir, tanah longsor atau gempa bumi. Bahkan ada 
jenis bencana baru yang belakangan ini mulai akrab dengan masyarakat kita 
adalah: angin puting beliung. Untuk yang terakhir ini kerusakan maupun korban 
belum terlalu parah, namun frekuensinya mulai tinggi. Ini artinya perubahan 
iklim dan kerusakan lingkungan hidup mulai berpengaruh pada timbulnya angin 
puting beliung di sejumlah daerah di Indonesia. 
Di luar bencana gelombang tsunami yang meluluhlantakkan sepertiga wilayah 
pesisir provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan sebagian wilayah P Nias di 
Sumatra Utara, kita melihat banjir kini makin luas jangkauannya tidak lagi 
terbatas pada daerah-daerah yang rutin kebanjiran setiap tahunnya. Di Pulau 
Sumatra, semakin banyak titik-titik di peta yang memperlihatkan daerah terkena 
banjir. Begitu pun di Kalimantan. Kita semua setuju bahwa itu semua akibat 
pembabatan hutan secara liar atau ilegal. 
Kerusakan hutan kita sudah demikian parah sehingga hanya menyisakan bencana 
alam. Namun itulah kenyataannya, bahkan kita di Indonesia sangat sering pendek 
ingatan terhadap berbagai bencana alam, yang jelas salah satu penyebabnya 
adalah keteledoran dan keserakahan manusia. Diperkirakan selama 2004 kerugian 
negara berupa kerusakan hutan akibat illegal logging mencapai Rp 45 triliun, 
sementara biaya yang harus dikeluarkan untuk menanggulangi bencana itu mencapai 
Rp 8 triliun. Artinya, angka kerugian masyarakat akibat bencana alam jauh lebih 
besar dari nilai-nilai itu. 
Kerusakan hutan memang penyebab utama berbagai bencana alam. Ironisnya, sampai 
hari ini pun kita belum mampu menekan angka laju kerusakan hutan yang kini 
mencapai 2,4 juta hektare/tahun (bandingkan pada 1985-1998 laju kerusakan hutan 
1,6-1,8 juta hektare/tahun, pada 2000 degradasi hutan sudah masuk kisaran 2 
juta hektare/tahun). Bencana tsunami akhir Desember lalu menyadarkan masyarakat 
dunia, khususnya di negara-negara yang punya iklim tropis, mengenai pentingnya 
mempertahankan hutan mangrove sebagai benteng hidup, sekaligus mencegah 
kerusakan alam di kawasan pesisir. 
Sementara itu, kita, sampai kini tidak pernah tegas terhadap pengrusakan 
hutan-hutan mangrove untuk dikonversi menjadi tambak, permukiman atau kawasan 
wisata. Hari-hari ini, illegal logging semakin marak di wilayah kita, bahkan 
Cina kini menjadi penghasil produk kayu yang canggih, memanfaatkan kayu-kayu 
curian dari hutan-hutan kita. Sementara itu, industri furnitur kita kekurangan 
bahan baku, dan mulai kalah bersaing di pasaran dunia. 
Itu semua adalah contoh-contoh kerugian dan kehancuran yang kita alami, hanya 
karena kita tidak mampu menjaga hutan. Kunci dari berbagai masalah itu adalah 
penegakan hukum dan kesadaran semua pihak untuk memberantas korupsi. Kerusakan 
alam dan bencana alam, terutama banjir, hanyalah dampak tidak langsung dari 
berbagai praktek korupsi berjemaah yang berlangsung di negara ini. 
Mari kita teliti, apakah sudah ada hasil penyelidikan mengenai penyebab musibah 
banjir bandang di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, yang 
menewaskan lebih 250 jiwa dan kehancuran kawasan wisata itu? Padahal sudah 
banyak dikemukakan fakta bahwa kerusakan hutan di Taman Nasional Gunung Leuser 
akibat kegiatan illegal logging sudah demikian parah. Kita semua tahu untuk 
menjarah hutan tidak bisa sendirian, semakin banyak orang terlibat semakin aman 
dan nyaman melakukan aksi terkutuk ini. 
Suatu kenyataan pahit, bahwa kita menyaksikan alam kita dijarah dan dirusak 
tanpa bisa berbuat apa-apa, dan itu melibatkan aparat penegak hukum dan 
pemerintah. Bencana alam merupakan indikasi yang sangat nyata betapa korupsi 
menghancurkan dan menyengsarakan rakyat. Akhirnya, kerugian yang diderita 
sebagian rakyat Indonesia akibat bencana alam, jauh lebih besar dibandingkan 
dengan keuntungan dan manfaat yang diperoleh negara dari kegiatan ekonomi yang 
merusak lingkungan. *** 
   



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke