http://www.harianbatampos.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=5793

 Kebangkitan Ekonomi RRC 
By redaksi 

      Thursday, 20-January-2005, 08:33:11 20 clicks   

      Oleh: Ir Richard Pasaribu MSc 


Sebelum Hongkong kembali ke pangkuan Republik Rakyat Cina (RRC), penulis 
bersama sang istri pertama kali menginjakkan kaki di RRC melalui tour beberapa 
hari dari Hongkong ke Shen Zen, Guang Zhou, Macao dan kembali lagi ke Hongkong. 
Di Guang Zhou penulis menginap di Garden Hotel yang terletak di jantung kota, 
di mana lingkungan sekelilingnya dapat dikatakan masih agak kumuh. 

Di pinggir jalan lingkungan tersebut, masih banyak terdapat segala jenis 
makanan dengan kereta dorongnya. Penulis dan istri berada bersama dengan 
rombongan yang terdiri dari beberapa teman turis yang berasal dari beberapa 
negara, yaitu Inggris, Jerman, dan Australia. Tengah malam waktu setempat, 
penulis dan istri menyempatkan diri ke luar mencari angin sembari melihat 
trotoar yang dipenuhi berbagai macam jualan makanan. Ular, biawak, kelelawar 
dan banyak lagi jenis makanan yang dapat dikatakan sangat aneh dan luar biasa, 
dijajakan di sepanjang trotoar. Setelah kunjungan berikutnya pada tahun 1999 
dan tahun 2000, penulis kaget pada saat datang untuk yang ke berapa kalinya ke 
Guang Zhou pada tahun 2004 yang lalu, lingkungan luarnya sudah tertata rapih. 
Penulis tidak menyangka lingkungan yang dapat dikategorikan sebagai lingkungan 
yang kumuh sudah tertata rapih dan bersih, sehingga dapat disejajarkan dengan 
daerah Orchard Road di Singapura. 

Sepanjang tahun 2004, penulis sempat bolak-balik ke Guang Zhou dan sekitarnya 
dan tinggal di sana sekitar satu atau dua minggu lamanya per setiap kunjungan. 
Ada yang menarik perhatian penulis di sepanjang jalan Kota Guang Zhou. Jalan di 
tengah kota bertingkat-tingkat, menerobos gedung-gedung bertingkat di kiri 
kanannya dengan jarak sekitar 30 meter dan jalan di tingkat teratas setingkat 
dengan lantai 10 gedung kantor atau apartemen yang ada di sebelah kiri atau 
kanannya. Yang lebih menakjubkan penulis, di sepanjang tengah-tengah jalur 
jalan dua arah, ada pepohonan yang berdaun kecil terawat rapih dan bertumbuh 
sehat. Ditambah lagi, pada saat penulis melirik ke stuktur beton bertulang 
jalan tersebut, menurut pengamatan penulis, strukturnya sangat ramping nan 
kokoh. Bayangkan, kalau ada jalan yang bertingkat-tingkat di jalan Thamrin dan 
Sudirman Jakarta, yang ramping nan kokoh, dan bugar lagi, ditaburi dengan 
dedaunan yang segar hijau, yang ketinggiannya mencapai puluhan meter hingga 
tingginya selevel dengan tingkat 10 perkantoran Thamrin dan Sudirman. 

Penulis perhatikan sepanjang jalan di kota, dari satu tempat ke tempat yang 
lain selalu saja ada crane tinggi yang menandakan aktivitas pembangunan gedung 
bertingkat tinggi sedang berlangsung. Konon khabarnya, di Kota Guang Zhou 
sendiri, setiap hari selesai satu gedung bertingkat tinggi. Tentu bisa 
dibayangkan aktifnya pembangunan di kota itu. Ditambah lagi, penulis sangat 
menikmati sistem Mass Rapid Transport (MRT) bawah tanah yang tidak kalah sistem 
dan fasilitasnya dengan yang di Singapura. Belum lagi di seluruh dataran RRC 
setiap tahun terbangun jalan tol antar kota sepanjang 10.000 km. Bandingkan 
dengan jalan tol di seluruh Indonesia mungkin belum mencapai 10.000 km saat 
ini. Memang nyatanya, negeri RRC saat ini sedang membangun secara 
besar-besaran, sehingga menyedot bahan material bangunan seperti semen dan besi 
dari se antero dunia. Tidak heran kalau setahun terakhir ini terasa sekali 
harga material besi beton naik secara drastis disebabkan oleh kebutuhan negeri 
RRC. Pemerintahan RRC saat ini sedang terobsesi untuk mensukseskan proyek super 
raksasa untuk acara Olimpiade 2008 yang akan datang sebagai ajang promosi yang 
efektif untuk memperkenalkan negaranya ke pada dunia, bahwa betapa sudah maju 
dan makmurnya negara mereka. 

Dalam setiap kesempatan kunjungan ke sana, penulis mengambil kesempatan 
melihat-lihat show-room, pabrik maupun gudang-gudang tempat produk mereka, 
terutama yang berkaitan dengan barang-barang material bangunan. Penulis kagum 
melihat produk-produk dalam negeri mereka yang relatif berkualitas dan tidak 
mahal. 

Penulis sempat melihat gudang dan pabrik pembuatan granito yaitu sejenis 
keramik berkualitas tinggi yang mirip dengan granit alam. Kalau di Indonesia 
kompetibel dengan Essenza. Di dalam pabrik itu penulis melihat tulisan sangat 
besar di temboknya, yang terjemahannya, "Hari ini malas bekerja, besok rajin 
cari kerja!" Sebuah peribahasa yang menjunjung tinggi etos kerja, bahwa 
barangsiapa yang kerjanya bermalas-malasan, akan diusir ke luar pagar 
perusahaan, dan silakan untuk rajin cari kerja bila masih ada rasa tanggung 
jawab untuk meneruskan mata pencahariannya. 

Dengan etos kerja yang tinggi, dan bekerja enam hari dalam seminggu dengan 
penghasilan sekitar Rp1.000.000 sebulan, dapat dibayangkan betapa rendahnya 
biaya buruh (labor cost) untuk produknya. Dengan jam kerja yang lama dan hasil 
kerja yang baik otomatis akan menghasilkan volume produksi yang besar. Gaji 
satu juta dibagi 1.000 produk per bulan, di pabrik X misalnya, akan 
mengeluarkan biaya buruh sebesar Rp1.000 per produk. Bandingkan bila di pabrik 
Y, dengan gaji satu juta dibagi dengan hanya 200 produk per bulan, maka akan 
memberikan biaya buruh tinggi yaitu Rp5.000 per produknya. Bagaimana kalau 
sebuah produk melalui tiga kali proses nilai tambah yang sama, maka alhasil 
biaya buruh di pabrik X akan hanya sebesar Rp3.000 per produk, sedangkan biaya 
buruh di pabrik Y akan sebesar Rp15.000 per produk. Tidak mengherankan, budaya 
kerja keras dengan kerja enam hari dalam seminggu dan kerja cerdas dengan etos 
kerja kerja yang tinggi, produk buatan RRC sudah meraup pasar di seluruh dunia, 
Afrika, Timur Tengah, Asia, Eropa, maupun benua Amerika . 

Dengan kompetisi dalam hal labor cost ini, kita bisa melihat gejala yang 
terjadi di Tanah Abang, yaitu beberapa tahun yang lalu masih terlihat 
pedagang-pedagang grosir dari negara asing, yang umumnya banyak dari Afrika, 
sekarang sudah menghilang dan berpindah ke RRC. Bisa dibayangkan betapa naasnya 
kehidupan perdagangan di Tanah Abang yang sudah kehilangan para pelanggannya, 
yang sebelumnya sudah memberikan devisa bagi negeri kita. RRC rupanya sudah 
mengantisipasi kompetisi dalam scope globalisasi ini, sehingga persaingan 
globalisasi dengan strategi economy's of scale dengan menjadikan dunia sebagai 
target market-nya, telah memenangkan pertandingannya lawan negara-negara 
lainnya termasuk Indonesia. Kesempatan devisa yang seharusnya masuk ke negeri 
kita, sudah disedot RRC! 

Saat ini RRC, dengan luas daratan 10 juta km2 (bandingkan Indonesia dua juta 
km2), berpenduduk 1,3 miliar, sekitar seperempat dari jumlah penduduk dunia. 
Untuk mencegah pertumbuhan penduduk yang pesat, yang rentan membebani 
pertumbuhan perekonomiannya, pemerintah membatasi hanya satu anak saja untuk 
setiap keluarga. Bila lebih, keluarga tersebut harus menanggung biaya sendiri 
yang akibatnya akan sangat membebani perekonomian keluarga itu sendiri. Dari 
kebijakan keluarga berencana itu saja, RRC sudah memposisikan dirinya lebih 
kompetitif dengan negara-negara lainnya. Sejak kemerdekaan di tahun 1949, 
pemerintahan RRC yang komunis ini membuat program pembangunan per lima tahun. 
Mao Tse Dong sebagai pemimpin tertinggi RRC menerapkan sistem perekonomian 
berlandaskan komunisme yaitu setiap warga negara mempunyai kesetaraan yang sama 
dalam tingkat kehidupannya, dengan memfokuskan kepada ilmu pengetahuan dan 
pendidikan. 

Dengan sejarah negeri Cina sejak ribuan tahun yang lalu, dan dengan sejarah 
beberapa puluh tahun terakhir sejak negeri ini menjadi komunis, pada awal 
1980-an, Deng Shiao Ping belajar bahwa negeri ini harus tetap kuat dalam 
pemerintahannya, tetapi strategi ekonominya harus dirubah. Lalu dia buat 
kebijakan baru untuk sistem perekonomiannya yaitu dengan sistem kapitalisme dan 
desentralisasi. Kebijakan-kebijakan dibuat untuk meningkatkan produktivitas 
dalam pertanian dan industri dan dengan membuka pintu untuk investor asing. 
Setelah 20 tahunan kebijakan baru diterapkan, penulis sudah melihat langsung 
perkembangan perekonomiannya, khususnya Kota Guang Zhou, Shen Zhen dan 
sekitarnya. Kelihatannya lumbung-lumbung kota-kota ini cukup banyak uangnya dan 
malah lebih dari cukup karena dapat dilihat dari pertumbuhan pembangunan kota 
dan keasrian kota yang tetap terpelihara dengan rapih dan bersih. Fenomena yang 
terlihat dari kasat mata, misalnya, Kota Guang Zhou mampu mengkonsumsi listrik 
dengan boros dan berlebihan pada malam harinya, dan tidak mempunyai istilah 
pasdak (padam secara mendadak). Kalau adapun terjadi hidup mati lampu itu hanya 
bisa terjadi sekejap saja dan hanya terjadi di segelintir tempat yaitu kalau 
kita melewati klub malam alias tempat-tempat diskotik. Dengan fenomena ini 
pertumbuhan ekonomi RRC telah mendapat pengakuan oleh badan dunia yaitu 
International Monetary Fund (IMF) yang meranking ekonomi RRC sebagai urutan 
ketiga setelah Amerika Serikat (AS) dan Jepang. 

Dalam kebijakan-kebijakan barunya, RRC fokus dalam menyusun programnya secara 
sistematis dan konsisten. Langkah demi langkah, proses demi proses, pertumbuhan 
ekonomi dicapai sesuai dengan target enam perse setahun, malah kadang-kadang 
melebihi, bisa mencapai 13 persen seperti pada tahun 1992. Dengan strategi 
membuka Free Trade Zone seperti di Shen Zhen, yaitu dengan tujuan membuat Shen 
Zhen sebagai gula dan lokomotif ekonomi bagi daerah-daerah di sekitarnya, maka 
cepat atau lambat daerah-daerah sekitarnya akan kecipratan berkah dan rejekinya 
dan lama kelamaan akan terangkat menjadi sama dengan pertumbuhan Kota Shen Zhen 
itu sendiri dengan cara belajar dari Shen Zhen sebagai bench-mark atau tolok 
ukurnya. 

Pemerintah daerah sangat berkomitmen untuk mengembangkan daerahnya dengan misi 
menciptakan lapangan kerja yang cukup bagi warga daerahnya. Sebagai contoh, 
apabila ada calon investor asing datang ke suatu daerah di sana, kepala 
daerahnya rela dan tidak segan-segan menemani calon investor itu, walaupun bisa 
menyita waktunya sampai seminggu. Pemerintah daerah mau berkorban untuk 
menyediakan lahan secara gratis (kalau di Batam sama dengan UWTO gratis 80 
tahun) dan bersedia menginvestasikan sarana dan pra-sarananya termasuk jalan, 
drainase, air, listrik dan telepon, asal calon investor itu mau membangun dan 
membuka industri dengan menyerap tenaga kerja daerahnya. 

Dengan terjadinya kebangkitan ekonomi RRC yang fenomenal ini, sudah banyak 
orang memprediksi bahwa bahasa Mandarin akan mendominasi dunia selain bahasa 
Inggris. Yang lebih menakjubkan lagi, RRC sudah berani memprediksikan dirinya 
pada tahun 2020 perekonomiannya akan melampaui perekenomian AS. Fenomena 
bangkitnya perekonomian RRC bukan seperti membalikkan tangan, tetapi pasti ada 
tangan-tangan para pemimpin di RRC yang menangkap visi-misi Deng Xiao Ping yang 
melaksanakannya dengan determinasi yang tinggi dan dengan tangan yang 
dingin.*** 

*) Ir Richard Pasaribu MSc, Ketua Yayasan Sumber Daya Nusantara 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke