http://www2.rnw.nl/rnw/id/news/gemawarta/#4297423

 
Hassan Wirayuda Batal, Apa Dampaknya Terhadap Perundingan RI-GAM?
Menteri Luar Negri Hassan Wirayuda yang sebelumnya disebut masuk dalam tim 
delegasi pemerintah RI untuk bertemu Gerakan Aceh Merdeka GAM di Helsinki, 
Finlandia, ternyata tidak jadi berangkat. Kepastian tersebut dikatakan oleh 
Juru Bicara Deplu Yuri Thamrin. Adapun alasannya karena GAM tidak memiliki 
pengakuan internasional. Apakah batalnya keikutsertaan mentri akan berdampak 
terhadap perundingan akhir pekan ini? Berikut tanggapan pengamat Aceh Otto 
Syamsudin Ishak dari LSM Imparsial di Jakarta.

Otto Syamsuddin Ishak [OSI]: Itu kan suatu kemunduran juga dari sikap 
pemerintah Indonesia terhadap GAM. Karena ternyata kan kita ketahui, pada 
periode-periode yang lalu untuk perundingan-perundingan humanitarian pauze 
(jeda kemanusiaan) dan CoHa, itu kan juga delegasinya melibatkan menteri. 
Termasuk Hassan Wirayuda sendiri. Justru ketika periode Gus Dur, Hassan 
Wirayuda itu adalah ketua delegasi pihak Indonesia dalam perundingan di Jenewa. 

Bahkan pada perundingan CoHa, menko polkam sendiri yakni Susilo Bambang 
Yudhoyono juga terlibat dalam perundingan tersebut. Saya sebenarnya agak 
gembira ketika proses perundingan ini langsung ditangani oleh Jusuf Kalla. 
Berarti wakil presiden, berarti juga ini ada peningkatan level politik dalam 
penyelesaian masalah Aceh. Ketika misalnya tiba-tiba Hassan Wirayuda memberikan 
alasan itu, saya kira ini suatu langkah mundur.

Yang kedua, saya kira ini juga berkaitan dengan adanya konflik-konflik politik 
internal dalam pemerintahan Indonesia sendiri. Misalnya ketua MPR Hidayat Nur 
Wahid mengatakan, seharusnya perundingan itu dilakukan di dalam negeri. Karena 
soal Aceh ini adalah soal dalam negeri. Kemudian juga saya kira ada tekanan 
dari pihak militer, untuk tidak melakukan dialog dengan pihak GAM. Ini ada 
kaitannya dengan semakin intensifnya operasi militer di Aceh pasca tsunami ini.

Radio Nederland [RN]: Dengan mundurnya Hassan Wirayuda ini apakah itu akan 
mengurangi bobot perundingan nantinya?

OSI: Ya jelas. Itu akan mengurangi bobot perundingan. Yang kedua juga itu akan 
mempengaruhi implementasi dari hasil-hasil perundingan di Aceh sendiri. Kita 
ketahui ketika Hassan Wirayuda memimpin delegasi pada masa jeda kemanusiaan dan 
CoHa, ternyata juga dalam proses-proses implementasi Hassan Wirayuda tidak 
memiliki wewenang apa pun. Jadi apalagi kalau sekarang diturunkan level 
politiknya untuk melakukan perundingan dengan pihak GAM. 

RN: Bagaimana ini kalau anda melihat kedepannya, anda merasa optimis dengan 
keberhasilan perundingan yang akan datang?

OSI: Saya tetap berharap positif terhadap perkembangan adanya dialog antara 
pihak GAM dengan pihak pemerintah Indonesia. Dalam artian ya paling tidak 
adanya komitmen politik dari kedua belah pihak untuk memberikan jalan bagi 
suksesnya proses-proses rekonstruksi Aceh pasca tsunami. 

RN: Butir itu yang terpenting yah: bagaimana agar masyarakat Aceh saat ini bisa 
melanjutkan kehidupan mereka kembali dengan aman?

OSI: Saya kira itu jauh lebih penting, atau merupakan langkah pertama dari 
seribu langkah berikutnya dalam upaya untuk menyelesaikan konflik di Aceh. Jadi 
jangan langsung masuk ke soal-soal penyelesaian politik. Tapi soal-soal 
kemanusiaan pasca tsunami. 

RN: Bung Otto mengatakan tentang adanya mungkin perpecahan dalam pemerintahan 
sendiri antara militer dengan pemerintah. Bahkan akhir-akhir ini justru 
kekuatan militer di Aceh itu semakin ditingkatkan. Bagaimana ini kalau kita 
melihat perundingan tersebut dikaitkan dengan situasi di lapangan?

OSI: Memang kalau kita lihat perkembangan di lapangan maupun pada elit Jakarta, 
itu ada sejumlah kontradiksi. Misalnya saja tadi malam pemerintah Indonesia 
kembali menegaskan kembali diberlakukannya darurat sipil. Nah ini jelas kontra 
produktif atau justru destruktif terhadap proses-proses dialog. Kemudian di 
lapangan sendiri juga pemerintah Indonesia justru menambah kekuatan 
bersenjatanya di Aceh menjadi sekitar 40 sampai 60 ribu pasukan secara 
keseluruhan. Ini sangat-sangat destruktif terhadap proses dialog.

Dan yang ketiga juga kalau kita lihat dari berbagai laporan dari pihak TNI 
sendiri, kontak-kontak senjata juga semakin meningkat. Rumah-rumah kriminal itu 
semakin tersebar luas di masyarakat Aceh. Yang menciptakan kegelisahan pada 
masyarakat Aceh itu sendiri. Jadi saya kira memang ada double standard yang 
saling menabrak dalam hal kebijakan-kebijakan politik yang dilahirkan oleh 
pemerintah Indonesia.

Demikian pengamat Aceh Otto Syamsudin Ishak dari LSM Imparsial di Jakarta.

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke