http://www.indomedia.com/bpost/012005/29/opini/opini1.htm

 Jumat, 28 Januari 2005 20:04

Anak Jalanan Dan Bencana
Oleh: Taufikurrahman
"Berikan sepuluh anak muda kepadaku, niscaya aku mampu untuk mengubahnya 
menjadi pemimpin dunia. Tetapi jangan kau berikan seribu orang tua kepadaku, 
karena aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengubah mereka."

Anak-anak adalah sosok polos dan lugu. Mereka akan mudah menyerap sesuatu yang 
baru dilihat, didengar dan dirasanya. Tingkah laku mereka dibentuk melalui 
evolusi (secara bertahap) dari orangtua/keluarga, masyarakat, sekolah dan media 
massa. 

Dari situ mereka dapat mengambil semua yang ditangkapnya, baik dari segi 
perilaku, kebiasaan ataupun tontonan yang mendidik serta tidak mendidik 
moralitas mereka, seperti sinetron percintaan, majalah porno dan gambar seronok 
dari media on line (internet) ataupun kaset VCD porno serta pornoaksi.

Banyak majalah atau buku porno yang diperdagangkan di pinggir jalan, 
memungkinkan anak-anak mudah mendapatkannya dan hal itu akan membuat moralitas 
mereka anjlok menjadi immoral (tidak bermoral). Tetapi kita tidak akan 
berbicara panjang lebar tentang faktor yang mempengaruhi psikologi anak, 
melainkan tentang anak jalanan (anjal) yang ada di kota Banjarmasin ini.

Kalau kita berjalan menyusuri kawasan Gatot Subroto, Kayu Tangi atau tempat 
lain di Kota Banjarmasin, maka kita akan melihat sekumpulan anak di perempatan 
jalan atau di lampu merah, entah apa yang dilakukan mereka di sana.

Mereka bukan anak sekolahan yang bermain di pinggir jalan atau anak gaul yang 
berkumpul bersama teman-temannya untuk mencari sensasi. Mereka adalah anjal 
yang selalu menadahkan tangan, memohon pertolongan, meminta rupiah dari 
pengguna jalan yang berhenti di lampu merah.

Dari pagi hingga malam hari, dihabiskan hanya untuk mencari uang demi 
mengepulkan asap dapur di rumahnya. Berbagai cara mereka lakuakan untuk 
mendapatkan rupiah dari pengguna jalan. Mulai dari merintih karena kelaparan 
sampai menyanyi untuk menghibur orang yang berhenti di lampu merah.

Di usia mereka adalah masa bermain dan belajar untuk meraih angan serta 
cita-cita. Tetapi, mereka tidak seberuntung anak yang lain dalam menjalani 
hidup dengan bermain dan menuntut ilmu pengetahuan sebagai bekal hari esok yang 
lebih baik.

Pemerintah daerah sendiri kurang begitu merespon nasib anjal. Padahal pemda 
mempunyai tanggung jawab dan kewajiban terhadap masa depan mereka kelak. 
Seperti bunyi pada pasal 34 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi: "Fakir miskin dan 
anak-anak terlantar di pelihara oleh negara". Tetapi, sudahkah pemerintah 
merealisasikan maksud dari pasal 34 ayat (2) UUD 1945 itu? Belum, karena tidak 
ada upaya dari pemerintah untuk menampung dan memelihara mereka secara pasti.

Tugas pemerintah tidak berhenti sampai di situ, masih banyak tanggung jawab 
untuk memenuhi hak anak di negeri ini. Pasal 31 ayat (1) menetapkan, tiap warga 
negara berhak mendapat pengajaran. Untuk maksud itu UUD 1945 mewajibkan 
pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pengajaran nasional yang 
diatur dengan undang-undang (pasal 31 ayat 2).

Bagi anak yang bersekolah bukan suatu masalah besar, karena orangtua mereka 
mampu membiayai hidup dan sekolah mereka sehingga haknya seperti kehendak isi 
UUD 1945 dapat terealisasikan dengan baik. Tetapi, hak itu tidak terjadi pada 
anjal. Mereka harus berusaha keras untuk mendapatkan uang dalam memenuhi 
hidupnya, apalagi untuk biaya sekolah yang begitu tinggi.

Sebenarnya dari dulu sudah ada suatu program pemerintah untuk mengentaskan 
kemiskinan seperti GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh), bantuan kepada 
rakyat yang tidak mampu atau bea siswa yang untuk menunjang pendidikan anak 
tidak mampu. Tetapi hal itu tidak menuai hasil maksimal, sesuai tujuannya 
pengentasan kemiskinan.

Masyarakat sendiri kurang antusias untuk membantu mereka dalam pengurangan 
beban kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat acuh tak acuh atas keberadaan 
anjal itu. Menganggap sesuatu hal yang biasa terlihat dalam kehidupan 
sehari-hari mereka. Anjal itu hanya sebuah tontonan. Padahal masyarakat juga 
memiliki kewajiban membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, 
seperti termuat dalam isi pembukaan UUD 1945 alenia ke-4.

Iba Bencana

Indonesia berkabung! Wajah negeri ini beruntun terkena musibah bencana alam 
dari banjir, kebakaran, tanah longsor hingga baru-baru ini gempa dan tsunami 
melumatkan kota yang bergelar 'Serambi Makkah' NAD (Nanggroe Aceh Darussalam) 
dan Sumut (Sumatera Utara). Menyebabkan banyak nyawa terenggut, harta benda dan 
rumah habis tersapu tsunami. Apakah ini suatu peringatan atau ujian yang 
ditimpakan kepada masyarakat Aceh dan Sumut, atau kepada bangsa Indonesia. Dari 
sana kita dapat mengambil hikmah untuk lebih memperbaiki akhlak, moral serta 
solodaritas dan keimanan kita kepada Sang Pencipta.

Peristiwa gempa dan tsunami yang melanda NAD dan Sumut, menorehkan luka dan 
duka yang begitu dalam di bumi nusantara tercinta ini. Presiden pun langsung 
mengeluarkan deklarasi, bencana tersebut sebagai bencana nasional. Masyarakat 
pun tergugah atas kejadian yang tidak dapat diduga oleh manusia mana pun di 
dunia. Secara spontanitas dan antusias masyarakat membuat posko kemanusiaan 
untuk meringankan beban warga yang masih hidup, atau yang meninggal dunia 
sebagai syuhada seperti fatwa MUI beberapa pekan lalu. 

Dari pakaian, obat, makanan dan materil mereka kumpulkan. Tidak ketinggalan 
artis ibukota pun turut menggelar konser kemanusiaan untuk korban yang terkena 
bencana.

Yang mengherankan dalam masyarakat kita adalah mereka mau membantu secara suka 
rela untuk terjun langsung ke NAD dan Sumut sebagai relawan berpartisipasi 
membantu pemerintah mengevakuasi korban yang hilang ataupun selamat untuk 
diberikan pertolongan, tetapi kenapa masyarakat negeriku 'seakan' acuh tak acuh 
atas nasib yang menimpa anjal negeri ini. Apakah nasib mereka tak sepadan 
dengan korban bencana alam? Atau hanya masyarakat yang terkena bencana alam 
yang perlu dibantu? Padahal anak-anak tersebut adalah pewaris peradaban untuk 
meneruskan perjuangan orang tua kita membangun bangsa ini.

Kalau dipikir-pikir, anjal adalah salah satu bencana nasional yang harus 
disikapi bersama ke depannya. Sadar atau tidak, kita semua ikut berperan dalam 
menentukan arah kehidupannya kelak. Mereka juga berperan dalam menentukan 
keadaan negeri ini ke depan. Apakah ke arah kemajuan atau malah ke arah 
kehancuran?. Karena, bukan tidak mungkin sepuluh tahun mendatang anak-anak yang 
dulunya polos dan lugu berubah menjadi anak liar dan beringas akibat kesalahan 
kita tidak dapat membantu mereka keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Mereka tidak dapat bersekolah. Hanya hidup dengan meminta-minta, sehingga 
mereka tidak mempunyai kesempatan untuk meraih cita-cita. Kalau kita bersama 
dapat menyikapi anjal itu dengan arif dan bijak untuk membantu mereka keluar 
dari krisis ekonomi sehingga dapat bersekolah, maka bukan tidak mungkin dua 
puluh tahun akan datang mereka adalah pemimpin negeri ini.

Mereka Enjoy

Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 menyatakan: "Bahwa tiap-tiap warga negara berhak 
atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan." Begitulah bunyi 
pasal demi pasal UUD 1945 tentang aturan, kewajiban dan tanggung jawab 
pemerintah untuk rakyat Indonesia. Entah dalam realitanya maksud UUD 1945 
tersebut belum terealisasikan dengan baik atau tidak oleh pemerintah, kita 
tidak dapat memperkirakannya? Pemerintah sudah berusaha keras untuk mewujudkan 
maksud dari isi UUD tersebut. Setiap manusia pasti mempunyai kelebihan dan 
kekurangan. Begitu juga pemerintah kita dalam membangun bangsa ini.

Tetapi, pada saat negara ini menghadapi gejolak sosial ekonomi seperti 
sekarang, pemda masih sempat untuk menghibur diri sendiri dengan berbagai acara 
hiburan yang dana untuk terlaksananya acara itu tidak sedikit. Jadi, seandainya 
dana tersebut disalurkan membantu anjal dengan memelihara mereka, akan lebih 
bijak ketimbang digunakan untuk sesuatu dengan manfaat kecil.

Pemerintah juga tidak dapat disalahkan seratus persen terhadap permasalahan 
ini, karena anjal tersebut terlihat enjoy dengan keadaan mereka selama ini. 
Mereka bermain bersama di pinggir jalan menantikan pengguna jalan raya berhenti 
di lampu merah. Mereka juga 'seakan' tidak mempunyai beban mental atau beban 
materil.

Mungkin ini adalah pengamatan sementara dan hanya memandang sepihak. Tidak 
mungkin seseorang akan senang terlilit kemiskinan yang berkepanjangan, pasti 
juga ingin mendapatkan kehidupan yang layak dan pantas.

Nasib anjal tersebut bukan saja kesalahan pemerintah dan masyarakat, tetapi 
juga orangtua/keluarga yang mendidik mereka. Secara turun-temurun 
orangtua/keluarga anjal itu mewariskan kebiasaan meminta-minta kepada orang 
lain tanpa ada solusi ke depan yang lebih baik buat anak-anak mereka.

Kesadaran yang dimilki orangtua anjal itu masih rendah, sehingga mereka 
menganggap anak-anaknya dapat membantu mencari nafkah keluarga. Tanpa 
memikirkan nasib mereka kelak. Apakah akan mengikuti jejak langkahnya atau 
menjadi lebih baik dari orangtuanya.

Semoga tulisan ini dapat membuka mata kita dalam menyikapi keberadaan anjal di 
Kota Banjarmasin dengan arif dan bijak. Anak-anak adalah pewaris peradaban 
kita. Di tangan anak-anaklah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Wallahu a'lam.

Reporter Sukma IAIN Antasari, tinggal di Banjarmasin


--------------------------------------------------------------------------------


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke