Setuju dengan Mas Satrio.
Jika pembesarnya saja menyetujui, apalagi bawahannya. Alias tak bisa 
dijadikan contohlah.

Tapi ngomong2 mas,
Di Surabaya (kebetulan daerah saya),
Berkali-kali saya mendapati sendiri,
Teman-teman wartawan dari TV menerima angpao juga.

Kalo pas ada Grand Opening atau Press Release, rata-rata pengundang 
memberikan angpao minim Rp. 500 ribu (mungkin untuk dua orang, 
kameramen dan wartawannya). 

Kemarin, pas ada konflik Bupati Bangkalan dengan lawan2 politiknya, 
wartawan enam wartawan TV menerimanya semua. Kata jubir Bupati, "Ah, 
untuk mengundang begini saja bisa habis enam juta lho mas," katanya 
pada saya. Enam juta termasuk amplok wartawan dan makan di restoran.

Jadi, wartawan TV itu lebih besar amplopnya lho dari wartawan surat 
kabar biasa. hehehehehe.

Tapi umumnya, kawan2 yang menerima ini ya diam-diam saja. Meski di 
kantor dia dilarang. Jadi gimana tu?

Wass

==heru==



=========================
-- In [email protected], Satrio Arismunandar 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kawan,
> Tidak aneh jika wartawan amplop merajalela. Soalnya,
> PWI menghalalkannya.... Menjelang HUT PWI, rupanya PWI
> makin "mantap dan tegas" soal halalnya amplop...
> Ironis, HUT PWI dijadikan Hari Pers Nasional dengan
> policy PWI seperti ini....
> 
> Rio
> 
> R Amak Syariffudin : 
> Wajar Jika Wartawan Terima Amplop
> Surabaya � Jatim News Room (8/2);
> 
> Beberapa Wartawan Tanpa Suratkabar (WTS) atau
> Wartawan Amplop yang ujung-ujungnya hanya ingin
> mendapatkan uang atau amplop dari nara sumber sehingga
> secara tak langsung sangat berdampak pada
> wartawan yang memiliki media yang jelas. Sehingga
> secara tak langsung nara sumber mempunyai anggapan
> kepada wartawan yang sebenarnya dan mempunyai media
> hanya ingin mendapatkan amplop.
> 
> Instruktur Pusat Lembaga Pendidikan dan Pelatihan
> Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Drs R Amak
> Syariffudin, saat ditemui di kantornya Jl Setail
> Surabaya, Selasa (8/2) siang mengatakan, wajar jika
> wartawan menerima amplop dari nara sumber asalkan
> pemberitaan yang dilakukan oleh wartawan tersebut
> tidak dapat mengubah dari kebenaran informasi yang di
> dapat dari nara sumber meskipun wartawan tersebut
> sudah mendapat amplop atau uang transport.
> 
> Dikatakan Amak, untuk mengantisipasi adanya WTS atau
> wartawan amplop maka sebaiknya nara sumber jangan
> memberikan uang didalam amplop, namun terlebih dahulu
> wartawan tersebut ditanya asal usul medianya. "Bila
> perlu menunjukan surat kabarnya dan jika memang
> memiliki surat kabar maka terlebih dahulu ditanya apa
> keperluannya dan apa kaitannya dengan medianya
> tersebut," ujarnya.
> 
> Ditambahkannya, kalaupun nara sumber tetap memberikan
> amplop kepada wartawan maka hal itu tentu dapat diduga
> bahwa nara sumber memiliki kesalahan sehingga
> pemberian amplop ini bertujuan untuk menutup
> kebobrokan dari nara sumber tersebut. "Mungkin nara
> sumber tersebut mempunyai kesalahan atau sesuatu tidak
> beres sehingga takut, dan jika tidak salah kenapa
> takut menghadapi wartawan tersebut," katanya.
> 
> Dia menjelaskan, berbeda dengan wartawan yang jelas
> identitasnya meskipun sudah menerima amplop namun dari
> segi pemberitaan tetap akan disampaikan kepada
> masyarakat dengan sebenar-benarnya tanpa isi dari
> pemberitaan tersebut dikurangi atau dilebih-lebihkan.
> 
> Menurut pandangannya, perkembangan media yang tak
> jelas saat ini sudah turun jika dibandingkan dengan
> tahun sebelumnya. Karena hal ini dilihat dilapangan
> sudah mulai berkurangnya penerbitan-penerbitan tabloid
> pada sudah `mati'. Penerbitan tabloid ini
> dikategorikan sangat kasar, mengapa demikian karena
> penerbitan ini bertujuan untuk menjatuhkan seseorang,"
> tambahnya
> 
> Kebanyakan `WTS' ini sudah berusia umur kata Amak,
> namun hal itu bukan berarti sudah menyandang sebagai
> wartawan senior. "Karena hal itu sudah saya sering
> alami yang datang hanya untuk meminta uang `sangu'
> atau uang jajan, namun jika tetap gotot maka saya
> tetap akan tidak memberinya namun untuk memberikan
> informasi saya tetap tak lupa akan memberikan,"
> katanya (ris/abd/s*t)
> 
> 
> 
>               
> __________________________________ 
> Do you Yahoo!? 
> Read only the mail you want - Yahoo! Mail SpamGuard. 
> http://promotions.yahoo.com/new_mail





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke