Suatu tulisan yang layak disimak, karena menyangkut perjalanan 
sejarah leluhur kita.

Dilihat dari jalinan sejarah dengan India maupun Tiongkok, sejak raja 
raja kita yang pertama, terutama dimasa dynasti Shailendra dan 
Sanjaya, maka tak mengherankan, kalau pasang surut aliran mahzab 
ataupun agama yang masuk ke Nusantara, adalah sejajar dengan 
perjalanan sejarah Tiongkok dan India. Lihat perjalanan laksamana 
Cheng Ho serta sejarah prabhu Kartanegara dari Singasari.

Dikedua negara itu Islam muncul menjadi kekuatan sosial politik. 
Moghul di India, dan dynasti Islam di Tiongkok.

Dilain fihak, kaitan sejarah dengan Hadramaut maupun wilayah Arabia 
lebih kurang dirasakan, kecuali, di-saat2 akhir, kaitan kerajaan 
Turki dengan Sultan Sultan dari Aceh.

Mungkin sekali, ini proses pencernaan bagi saudara saudara kita, yang 
mungkin lebih nyaman mengakui, Islam datang dari Arab, daripada dari 
daratan Tiongkok.

Salam sejarah

Danardono




--- In [email protected], "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=187382&kat_id=16
> Senin, 14 Februari 2005
> 
> 
> Babad Tionghoa Muslim 
> Oleh : 
> Asvi Warman Adam
> Visiting Fellow pada KITLV Leiden
> 
> Pada tahun 1968 terbit buku Prof Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan 
Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Buku ini 
dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1971 karena mengungkapkan hal-hal 
yang kontroversial waktu itu yakni sebagian Wali Songo berasal dari 
Cina. Slamet Muljana membandingkan atau --lebih tepat-- melakukan 
kompilasi terhadap tiga sumber yaitu Serat Kanda, Babad Tanah Jawi 
dan naskah dari Kelenteng Sam Po Kong yang ditulis Poortman dan 
dikutip oleh Parlindungan. 
> Residen Poortman tahun 1928 ditugasi pemerintah kolonial untuk 
menyelidiki apakah Raden Patah itu orang Cina. Raden Patah bergelar 
Penembahan Jimbun dalam Serat Kanda dan Senapati Jimbun dalam Babad 
Tanah Jawi. Kata ''jin bun'' dalam salah satu dialek Cina berarti 
orang kuat. Penumpasan terhadap pemberontakan Partai Komunis 
Indonesia (TKI) yang terjadi tahun 1926/1927 memberikan kesempatan 
kepada pejabat pemerintah kolonial untuk memeriksa siapa saja. Maka 
Sang Residen itu pun menggeledah Kelenteng Sam Po Kong di Semarang 
dan mengangkut naskah berbahasa Tionghoa yang, terdapat di sana --
sebagian sudah berusia 400 tahun-- sebanyak 3 cikar (pedati yang 
ditarik lembu). Arsip Poortman ini dikutip oleh Mangaraja Onggang 
Palindungan yang menulis buku -- jugakcontroversial -- Tuanku Rao. 
Slamet Muljana banyak menyitir buku ini.
> 
> Keaslian sumber
> Slamet menyimpulkan bahwa Bong Swi Hoo --yang datang di Jawa tahun 
1445-- sama dengan Sunan Ampel. Bong Swi Hoo ini menikah dengan Ni 
Gede Manila yang merupakan anak Gan Eng Cu (mantan Kapitan Cina di 
Manila yang dipindahkan ke Tuban sejak tahun 1423). Dari perkawinan 
ini lahirnya Bonang yang kemudian dikenal sebagai Sunan Bonang. 
Bonang ini diasuh oleh Sunan Ampel bersama dengan Giri yang kemudian 
dikenal sebagai Sunan Giri.
> 
> Putra Gan Eng Cu yang lain adalah Gan Si Cang yang menjadi Kapitan 
Cina di Semarang. Tahun 1481 Gan Si Cang memimpin pembangunan Masjid 
Demak dengan tukang-tukang kayu dari galangan kapal Semarang. Tiang 
penyangga mesjid itu dibangun dengan model konstruksi tiang kapal 
yang terdiri dari kepingan-kepingan kayu yang tersusun rapi. Tiang 
itu dianggap lebih kuat menahan angin badai daripada tiang yang 
terbuat dari kayu yang utuh. Akhirnya Slamet menyimpulkan bahwa Sunan 
Kali Jaga yang masa mudanya bernama Raden Said itu tak lain dari Gan 
Si Cang. Sedangkan Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah menurut 
Slamet Muljana adalah Toh A Bo, putra dari Sultan Trenggana 
(memerintah di Demak tahun 1521-1546). Sementara itu Sunan Kudus atau 
Jafar Sidik tak lain dari Ja Tik Su.
> 
> Tentu tak ada larangan untuk berpendapat bahwa sebagian Wali Songo 
itu berasal dari Cina atau keturunan Cina. Namun kelemahan Slamet 
Muljana, ia hanya mendasarkan kesimpulannya pada buku yang ditulis 
oleh MO Parlindungan. Sementara Parlindungan hanya melihat arsip 
Poortman dan tidak membaca sendiri naskah Cina tersebut. Begitu pula, 
Slamet sendiri tidak memeriksa sendiri naskah-naskah yang berasal 
dari kelenteng Sam Po Kong Semarang itu. Bagi para sejarawan di masa 
mendatang, dengan melakukan penelitian terhadap sumber berbahasa Cina 
baik yang ada di Nusantara maupun di daratan Cina, diharapkan periode 
ini (terutama mengenai penyebaran agama Islam di Jawa abad XV-XVI) 
dapat dijelaskan dengan lebih baik. 
> 
> Sebetulnya pada masa ini cukup banyak sumber mengenai Laksamana 
Muslim Cheng Ho yang berlayar ke berbagai penjuru dunia awal abad XV 
dengan armada yang lebih besar dari pelaut Eropa. Cheng Ho sendiri 
mempunyai penerjemah Ma Huan yang juga beragama Islam dan menuliskan 
pengalaman ini dalam buku Yingyai Senglan. Di dalam buku ini 
dilaporkan tentang masyarakat Cina yang bermukim di Jawa yang berasal 
dari Kanton, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka telah meninggalkan 
negeri Cina dan menetap di pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa sebelah 
timur. Di Tuban mereka merupakan sebagian besar penduduk yang waktu 
itu jumlahnya mencapai ''seribu keluarga lebih sedikit''. Di Gresik 
hanya ada ''pantai tanpa penghuni'' sebelum orang Kanton menetap di 
sana. Di Surabaya sejumlah besar penduduk juga orang Cina. Menurut Ma 
Huan kebanyakan orang Cina itu telah masuk agama Islam dan menaati 
aturan agama. 
> 
> Teori penyebaran Islam
> Ada berbagai teori tentang penyebaran agama Islam ke Nusantara ini. 
Pandangan pertama mengatakan bahwa Islam yang berkembang di sini 
berasal Hadramaut, Arab Selatan. Pendapat kedua mengatakan bahwa 
penyebarannya justeru datang dari India. Pandangan ketiga justeru 
menyebutkan bahwa Islam yang berkembang di kepulauan ini berasal dari 
Cina. 
> 
> Menurut Nurcholish Madjid, teori tentang Islam datang dari Gujarat, 
India antara lain karena persamaan motif batu nisan Maulana Malik 
Ibrahim di Gresik dengan yang ada di Gujarat. Hal ini didukung pula 
karena faktor bahasa, istilah pinjaman dari bahasa Arab tidak murni 
menurut lafal aslinya, seperti terlihat dalam kata shalat, zakat, dan 
seterusnya. Jadi kata itu dipinjam melalui bahasa Persia atau bahasa-
bahasa umat Islam di Asia Daratan yang menjadikan bahasa Persi 
sebagai rujukan. 
> 
> Namun mahzab di Asia daratan itu adalah Sunni-Hanafi bukan Sunni 
Syafii yang banyak dianut di Nusantara. Maka muncul teori kedua bahwa 
Islam itu datang dari Arabia Selatan, khususnya Yaman dan Hadramaut 
yang juga menganut mahzab Sunni-Syafii. Didukung pula dengan fakta 
bahwa kawasan itu terkenal dengan aktivitas perdagangan laut 
internasionalnya. Tetapi teori kedua ini tidak sejalan dengan 
persoalan istilah pinjaman di atas. Oleh sebab itu teori ketiga yaitu 
Islam di Nusantara berasal dari Cina -paling tidak dalam satu fase 
tertentu perkembangannya di Asia Tenggara-- patut diperhitungkan, 
karena terdapat kesesuaian dalam hal mahzab (Sunni-Syafii) dan faktor 
bahasa tadi.
> 
> Sebetulnya arus perdagangan waktu itu tidak mengenal batas wilayah, 
bangsa dan agama. Kebenaran teori persebaran Islam yang satu tidak 
berarti menutup kemungkinan teori yang lain. Bahkan bisa jadi 
semuanya teori itu benar adanya. Jadi pengembangan Islam di 
Nusantara, sebagian berasal dari Arabia Selatan, India dan Cina. 
Peristiwa itu bisa terjadi bersamaan atau berurutan pada satu atau 
berbagai wilayah. Lagi pula perlu dibedakan antara kedatangan agama 
Islam, mulai dianut oleh penduduk setempat dan berkembang di tengah 
masyarakat. Ketiganya merupakan tahapan yang berjalan sesuai dengan 
perkembangan waktu.
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]








------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke