http://www.indomedia.com/bpost/022005/15/opini/opini1.htm
Selasa, 15 Februari 2005 03:01

ATM Kondom, Untuk Apa Dan Siapa ?
Oleh : dr Pribakti B SpOG

Masalah memakai kondom banyak disebut sebagai masalah psikologis. Laki-laki 
pada umumnya enggan memakai kondom dengan alasan tidak nyaman. Selain itu, 
laki-laki tidak memakai kondom ketika berhubungan seksual, karena mereka 
malu membeli kondom di apotek ataupun di minimarket. Karena itu untuk 
mencegah HIV/AIDS tidak kian meluas atau merajalela, pemerintah via BKKBN 
dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang peduli persoalan HIV/AIDS 
terus menerus mengampanyekan kegunaan kondom. Belakangan BKKBN pun 
mempromosikan program Condom Dual Protection, proteksi ganda untuk mencegah 
kehamilan sekaligus mencegah penyakit menular seksual (PMS), termasuk 
HIV/AIDS.
Lebih dari itu, selain melaksanakan berbagai penyuluhan dan diskusi, upaya 
kondomisasi yang gencar dilaksanakan oleh BKKBN ini juga dilakukan dengan 
memasang mesin kondom alias ATM Kondom di beberapa daerah di Indonesia. 
Konon ATM Kondom yang dibeli Rp7,5 juta per unit dari pabrik PT Ruhaak 
Vending di Tangerang, Banten, tersebut menyediakan kondom dengan tiga rasa, 
yaitu coklat, vanila dan stroberi. Ini adalah usaha agar HIV /AIDS tak makin 
mewabah dan mengatasi rasa malu para lelaki hidung belang jika harus membeli 
kondom di apotek, toko obat dan warung.
Dengan ATM kondom ini, privacy terjaga karena mereka tinggal memasukkan tiga 
koin Rp500 dan mendapatkan satu pak kondom berisi tiga kondom. Sederhana 
caranya dan sangat umum. Singkat cerita dengan asumsi ini membuat BKKBN 
pasang aksi dengan menyediakan kondom beraroma, diharapkan orang termotivasi 
untuk membeli atau mencoba memakainya dalam rangka pengamanan. Dan dengan 
asumsi ini pula BKKBN menuai komentar, kritik atas pemasangan ATM Kondom.
Pertanyaannya, apakah dengan tidak adanya kondom, orang tidak akan pergi ke 
prostitusi? Bagaimana orang akan membeli kondom kalau dia sendiri belum 
sadar akan bahaya yang mengancam? Dan kalau masalahnya adalah rendahnya 
kesadaran menggunakan kondom, apa solusinya dengan menyediakan ATM Kondom? 
Itu buang-buang uang. Mubazir!
ATM kondom kan ada harganya. Betapa sayang di tengah kelangkaan sumber daya, 
malah kita mengambil pemecahan masalah yang tidak menyelesaikan masalah. 
Wong kondom dibagi-bagi secara gratispun kepada para pekerja seks saja, 
tamunya tidak mau pakai. Penelitian Yayasan Kerti Praja membuktikan selama 
enam tahun (1994-2000) setiap hari menaruh kondom diatas meja setiap kamar 
PSK bekerja, ternyata sebagian besar pelanggan (60 persen) tidak mau 
menggunakan kondom. Ini fakta. Lalu masih efektifkah ATM Kondom menekan laju 
perkembangan HIV/AIDS?
Topi helm
Bicara tentang HIV/AIDS , sedikit banyak akan menyinggung soal kondom. Dan 
bicara tentang kondom di Indonesia menggoda ingatan saya akan topi helm. 
Keduanya sama-sama alat pengaman terhadap kemungkinan bahaya kecelakaan. 
Keduanya bekerja dengan cara menutupi. Bedanya, yang satu mengamankan yang 
ditutupi, yang lain mengamankan pihak yang tidak ditutup. Yang satu bekerja 
di tempat terbuka dan publik. Yang lain di tempat tertutup serba pribadi. 
Namun, bukan semua itu yang menggoda ingatan saya tentang hubungan antara 
kondom dan topi helm. Yang jauh lebih menarik justru di Indonesia keduanya 
bisa menjadi sumber perdebatan seru dan konflik politis.
Sekitar 20 tahun lalu untuk pertama kalinya pemakaian topi helm bagi 
pengendara kendaraan bermotor beroda dua di Indonesia dinyatakan sebagai 
kewajiban resmi. Ada sanksi hukum bagi pelanggarnya. Reaksi masyarakat? 
Geger! Sebagian mematuhi, banyak yang menolak. Lalu mendadak muncul lahan 
baru bagi para pedagang jalanan: berjualan aneka helm Sementara di sejumlah 
jalan, polisi dikerahkan uintuk mencegat pengendara sepeda motor tanpa helm.
Muncul aneka cerita tentang suka duka orang yang menyiasati polisi. Ada 
olok-olok, lelucon dan karikatur tentang topi helm dan pemakaiannya. Padahal 
nyaris 20 tahun lalu banyak orang mengecam kampanye kondom. Bukan saja 
karena soal seks dianggap barang tabu untuk diperbincangkan diruang publik. 
Yang lebih mereka kuatirkan, pendidikan seks dan diskusi tentang cara 
menggunakan kondom akan mendorong revolusi "seks bebas".
Karena sekarang seks menjadi aman. Dan ini dianggap sebagai ancaman terhadap 
moral bangsa yang Pancasilais dan adiluhung.
Entah apakah 20 tahun kemudian masih ada pemikiran seperti itu. Yang jelas 
dalam 20 tahun belakangan, kampanye penggunaan helm telah berhasil 
menyelamatkan banyak kepala dan nyawa orang Indonesia. Bukan meningkatkan 
jumlah penggunana kendaraan motor atau angka kecelakaan.
Tidak ada bukti popularitas pemakaian helm telah mendorong gairah orang 
untuk lebih sering naik motor, berganti-ganti kendaraan dan cari"tabrakan 
bebas" Apakah kondomisasi yang dilakukan oleh BKKBN dengan ATM Kondom juga 
perlu dicemaskan dengan logika seperti itu? Lalu, mungkinkah nasibnya akan 
sama dengan topi helm. Saya tidak tahu persis.
Perlu kesadaran
Tapi begitulah. Di Indonesia pada kenyataannya kesadaran penggunaan kondom 
itu harus diakui masih amat minim. Yang perlu dilakukan saat ini adalah 
menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya penggunaan kondom. Sebab 
masyarakat masih banyak yang belum tahu apa kegunaan kondom. Mereka merasa 
kondom mengurangi kenikmatan seksual. Ini yang harus diselesaikan dulu dan 
caranya adalah dengan akses informasi, penyuluhan kelompok, diskusi-diskusi 
dan pelatihan-pelatihan.
Hal-hal seperti itulah yang perlu dilakukan sebelum kita sediakan ATM 
Kondom. Kalau informasi atau sosialisasi mengenai manfaat kondom belum 
dilakukan tidak akan ada gunanya dipasang ATM Kondom.
Bisa dibayangkan mesin semacam itu ditaruh di lokasi prostitusi atau di 
terminal angkot, di mana banyak orang mabuk atau orang usil. Kultur kita 
belum sesuai dengan mesin itu. Coba lihat telepon umum yang sebagian besar 
hilang diangkut maling. Justru yang paling tepat kalau saja BKKBN yang 
mempunyai puluhan ribu petugas lapangan itu melakukan reorientasi 
tugas-tugasnya -yaitu melakukan identifikasi penduduk laki-laki yang sering 
berhubungan seksual dengan PSK dan kemudian melakukan pendidikan perubahan 
perilaku seksual atau memberikan masukan pentingnya memakai kondom-maka bisa 
jadi lebih efektif.
Pemasangan ATM Kondom tidak menyelesaikan masalah, apalagi kalau kemudian 
timbul rasa aman yang semu. Bukankah kalau sudah ada ATM kondom, apa pasti 
yang pakai kondom meningkat? Kita beda dengan di negara-negara Eropa yang 
masyarakatnya sudah berpendidikan baik dan mengerti pentingnya kondom, 
sehingga penyediaan ATM kondom itu artinya memang memberi kemudahan bagi 
orang yang membutuhkan. Akan tetapi, kalau mengerti saja belum kok lalu 
diberi ATM Kondom, ya tidak nyambung karena memakai kondom itu mesti 
mengerti dulu manfaatnya. Lalu, sebetulnya ATM Kondom untuk apa dan siapa?
Dokter Spesialis Kandungan RSIUD Ulin Banjarmasin 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke