http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=188820&kat_id=16

Jumat, 25 Februari 2005

Pesantren Sebagai Basis Pembangunan Wilayah 
Oleh : Dodi Nandika
Praktisi Pendidikan/Guru Besar IPB


Institusi pendidikan manakah yang paling tangguh dan memiliki kemampuan 
bertahan serta memperbaiki dirinya (revival ability) selama ini? Jawabnya 
pesantren. Diakui atau tidak, pesantren dengan berbagai bentuk dan variasi 
proses pembelajarannya, merupakan bagian dari peradaban bangsa yang telah 
melekat kuat dalam sejarah bangsa. Secara historis, peran multifungsi pesantren 
di Indonesia sudah diketahui sejak era Walisongo dalam penyebaran Agama Islam, 
dalam perang melawan penjajah di era kolonialisme, hingga menjadi penyumbang 
pemikiran konstruktif dalam membangun bangsa di era globalisasi. Keunggulan 
pesantren terletak pada prinsip ''memanusiakan manusia'' dalam proses 
pembelajarannya. Mengingat, pada saat ini proses pembelajaran di sekolah dan 
satuan pendidikan formal lainnya sudah banyak bergeser dari tujuan awal, dimana 
pendidikan formal cenderung lebih berorientasi kepada hal-hal yang bersifat 
materi dan pencapaian nilai akademik semata, serta kurangnya unsur keteladanan 
guru. 

Sebaliknya, pesantren adalah pusat keteladanan dari seorang kiai kepada 
santrinya yang saling berinteraksi 24 jam. Keunggulan lainnya pada perasaan 
kebersamaan, yang meliputi sikap tolong-menolong, kesetiakawanan, dan 
persaudaraan sesama santri. Dari sisi pembinaan karakter individual, pesantren 
mengajarkan sikap hemat dan hidup sederhana yang jauh dari sifat konsumtif 
masyarakat perkotaan. Dengan demikian, pesantren sebagai institusi pendidikan 
milik masyarakat, sangat potensial untuk dkembangkan menjadi pusat pengembangan 
sumber daya manusia (SDM) menuju terwujudnya kecerdasan dan kesejahteraan 
bangsa. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa sejak zaman penjajahan 
sampai sekarang, pesantren bukan merupakan institusi pendidikan yang populer 
dibandingkan dengan sekolah formal.

Pesantren dan pembangunan
Dari diskusi tentang karakteristik pesantren dan unsur-unsur kunci yang 
menentukan proses pembelajaran didalamnya, pesantren dipandang memiliki 
grounded nature dan pranata sosial yang tangguh dan mewakili aspirasi sebagian 
besar masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, pesantren dipandang sangat 
potensial untuk berperan sebagai basis pembangunan wilayah yang strategis. 
Contoh pesantren yang berhasil memberikan dampak pembangunan terhadap 
masyarakat lokal di sekitarnya antara lain Pesantren Daarut Tauhid pimpinan KH 
Abdullah Gymnastiar di Bandung, Pesantren Agrobisnis Al-Ittifaq di Ciwidey, 
Pesantren Al-Amanah dengan peternakan ayam dan ikannya di Cililin. Paradigma 
pesantren tampaknya sangat didominasi oleh karakteristiknya yang sangat dekat 
dengan masyarakat. Pada saat kultur pesantren ditarik pada tataran formal, ada 
dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, pesantren mampu melakukan modernisasi di 
lingkungan masyarakatnya. Kedua, pesantren berubah menjadi institusi pendidikan 
formal yang terpisah dari kultur masyarakatnya. Kemungkinan yang kedua terjadi 
karena grounded nature pesantren terlepas dari akar masyarakatnya, sehingga 
pesantren berubah menjadi sekolah formal biasa. 

Dari ketiga contoh pesantren tersebut di atas menunjukan bahwa diversifikasi 
program dan kegiatan life skills di pesantren makin terbuka dan luas, jika 
mampu melakukan penggalangan sumber daya masyarakat sekitarnya dapat berfungsi 
sebagai pusat pengembangan masyarakat (Hasbullah, 1999). Oleh karena itu, 
seiring dengan kuatnya modernisasi pondok pesantren, maka rekonstruksi peran 
pondok pesantren yang tadinya hanya mempelajari kitab-kitab Islam klasik 
kiranya dapat diberdayakan secara maksimal sebagai agen dalam pembangunan 
wilayah. Melalui pendekatan ini, sumber daya atau unsur-unsur pondok pesantren 
termasuk kiai/guru, masjid, santri, pondok, kitab-kitab klasik hingga ilmu 
pengetahuan yang baru dapat didayagunakan dalam proses pendidikan life skills 
secara berkelanjutan untuk membangun manusia yang memiliki pemahaman ilmu 
pengetahuan, potensi kemasyarakatan, dan pembangunan wilayah. Hal ini berujung 
pada penciptaan sumber daya manusia yang berdaya saing dan produktif. Dengan 
demikian, pondok pesantren tidak hanya menjadi penempa nilai-nilai spiritual 
saja, tetapi juga mampu meningkatkan kecerdasan sosial, dan keterampilan dalam 
membangun wilayahnya.

Pengembangan program dan kegiatan pesantren agar berperan sebagai basis 
pembangunan wilayah pada dasarnya dimulai dari kemampuan pesantren tersebut 
untuk memberdayakan potensi-potensi yang ada di lingkungannya oleh sumber daya 
manusia yang ada di pesantren. Sumber daya manusia pesantren diberikan 
kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan 
masyarakatnya, sehingga dapat berperan sebagai driving force masyarakatnya. 
Dengan demikian, program dan kegiatan life skills yang dikembangkan pada 
pesantren sebagai institusi pendidikan berasal dan dipelajari dari lingkungan 
masyarakatnya, serta tumbuh dan berkembang secara bottom-up, dan bukan 
ditentukan terlebih dahulu sebagai ekspektasi formal suatu kurikulum 
persekolahan.

Oleh karenanya, pembangunan pendidikan di kalangan pesantren memerlukan 
keterlibatan elemen masyarakat sekitar dan pemerintah daerah (pemda), baik 
provinsi maupun kabupaten/kota. Dalam upaya mencari model yang tepat agar peran 
pondok pesantren dalam pembangunan wilayah berjalan efektif, pemda perlu 
merangkul perguruan tinggi sebagai mitra. Hal ini dikarenakan perguruan tinggi 
memiliki sumber daya yang memadai dalam pengembangan ilmu pengetahuan, 
teknologi, dan kegiatan riset. 

Model yang akan dikembangkan paling tidak memiliki beberapa komponen bantuan 
berikut: Pertama, pemberian dana atau modal bergulir atau ventura yang 
dikaitkan dengan pengembangan potensi wilayah; Kedua, pendampingan tenaga ahli 
dari perguruan tinggi; pendampingan tenaga ahli di sini meliputi transfer 
teknologi dari perguruan tinggi ke pesantren, yang mencakup sumber, buku-buku 
atau media tulis pendukung lainnya; Ketiga, penggunaan Information 
Communication Technology (ICT) untuk mendukung kegiatan dan akses informasi; 
Keempat, pengadaan dan pengembangan teknologi atau peralatan produksi untuk 
meningkatkan potensi lokal.

Kerja sama
Terinspirasi oleh model land grant college yang berhasil melakukan modernisasi 
pertanian di India dan Amerika Serikat beberapa dekade yang lalu, pemda harus 
bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan lingkungan masyarakat 
di sekitar pesantren sebagai inkubator pengembangan program-program pembangunan 
masyarakat yang sesuai dengan potensi wilayah setempat. Program-program yang 
dikembangkan merupakan program-program pilihan yang prospektif untuk 
dikembangkan melalui suatu tahap feasibility study. Dalam konteks ini, kerja 
sama antara perguruan tinggi dan pemda berupa pendampingan tenaga ahli kepada 
pesantren, sehingga para mahasiswa dan santri pesantren mampu berperan sebagai 
fasilitator program, masyarakat partisipan berperan sebagai klien, dan pemda 
berperan sebagai penyandang dana pinjaman bergulir atau ventura yang diberikan 
kepada para pengguna program.

Anggota masyarakat dengan bantuan para santri pesantren yang telah memperoleh 
alih teknologi dari perguruan tinggi, menentukan paket-paket program yang akan 
dipilih. Paket-paket tersebut dapat berupa usaha warung serba ada (waserda), 
ternak ikan, pembibitan kelapa hibrida, usaha fotokopi dan penjilidan, atau 
jenis usaha atau pekerjaan apa saja yang sesuai dengan potensi wilayah 
setempat. Akuntabilitas program kelak dapat dilihat dalam tiga tahap. Pertama, 
keberhasilan alih teknologi dari perguruan tinggi ke pesantren sebagai 
institusi sehingga pesantren dan santri-santrinya mampu berperan menjadi motor 
penggerak pertumbuhan usaha dan lapangan kerja yang ada di lingkungan 
masyarakatnya. Kedua, keberlanjutan program dan dampaknya terhadap pertumbuhan 
lapangan usaha dan pekerjaan di lingkungan masyarakat tersebut, 
pascapenghentian bantuan dari pemda dan perguruan tinggi, Ketiga, peningkatan 
sumber daya manusia masyarakat setempat dalam mengelola lapangan usaha baru.

Yang patut menjadi catatan adalah, model ini tidak bisa diberlakukan secara 
umum dan dijadikan obat generik untuk semua pesantren di Indonesia. Hal ini 
dikarenakan, pada dasarnya pembangunan pondok pesantren sangat dipengaruhi oleh 
kultur lokal yang melekat dengan perilaku dan kemampuan para santrinya sebagai 
potential driving force, serta kejelian seorang pimpinan pesantren untuk 
melihat peluang-peluang yang ada di dalam masyarakatnya. Akankah keunggulan 
institusi pesantren ini menjadi perhatian pemerintah dalam membangun 
wilayahnya? Kenapa tidak.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke