Memang benar. Kita demikian geram, kepala kita seolah di-injak injak oleh saudara muda kita, Malaysia. Tetapi, pada dasarnya, kitalah yang lemah dalam segalanya, tatanan hukum perilaku, moral publik, dsb, sehingga mengundang orang melecehkan kita.
Mengenai masalah kemiliteran, bukan saja peralatan, logistik yang membuat komandan komandan kita akan kebingungan, namun, military management kita juga lemah. Kita ingat Perang 6 Hari antara negara negara Arab dan Israel, dimana pasukan negara negara Areab menggunakan peralatan tempur Rusia yang canggih, namun tak berhasil memenangkan pertempuran. Karena lemahnya military management. Kini, di Irak, pasukan AS tak berhasil menguasai medan yuddha walau peralatan tempur mereka canggih, karena kelemahan military management. Mereka tak menguasai sikon budaya disana. Jadi, untuk memenangkan yuddha dimanapun, juga dalam bidang ekonomi dan politik, kita harus terlebih dahulu menata management kita, yang masih kedodoran ini. Kita ingat, tak ada hujan tak ada angin, kapal perusak (destroyer) AL Belanda, "Karel Doorman" nmenemukan posisi MTB (Motor Torpedo Boat) yang ditumpangi komodor Yos Sudarso, dan melepaskan salvo meriamnya, hingga komodor kita lenyap ditelan laut Aru. Bagaimana ini bisa terjadi? Ditengah malam, ditengah laut terbuka yang begitu luas? AL Belanda dengan tepat pada detik yang tepat menemukan posisi MTB kita. Dan menghancurkannya. Salam danardono --- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Yang salah Malaysia apa Pemerintah Indonesia yang > mengabaikan daerah perbatasannya? > > Jangankan daerah di perbatasan Malaysia, dulu daerah > di pinggiran Jabar saja, Bojong Kulur di Bogor nyaris > tidak tersentuh oleh pembangunan, sehingga jalannya > cuma jalan tanah dan berbatu. > > Seharusnya pemerintah Indonesia memperhatikan > pembangunan2 di daerah2 perbatasan. Minimal pasang > patok, pagar, atau bendera di titik2 tertentu agar > perbatasannya tidak dicaplok pihak asing. > > --- Listy <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > > -----Original Message----- > > > > > > Senin, 14 Mar 2005, > > Di Kalbar, Wilayah RI Jadi Terminal Bus Malaysia > > > > PONTIANAK - Persoalan garis batas negara dengan > > Malaysia tak hanya terjadi di Perairan Ambalat. > > Tapal batas negara di Kabupaten Bengkayang, > > Kalimantan Barat, juga diperkirakan telah bergeser > > sejauh 20 kilometer masuk ke wilayah Indonesia. > > > > Warga Malaysia yang berbatasan langsung dengan tapal > > batas itu sudah memanfaatkan wilayah Indonesia yang > > telah dicaplok tersebut. Negeri tetangga itu telah > > membangun terminal bus antar pedesaan di wilayah > > yang diklaimnya tersebut. > > > > Titik patok tapal batas kedua negara itu dibangun > > pada 1976 di Desa Siding, Kecamatan Siding, > > Kabupaten Bengkayang. Kini, wilayah Indonesia di > > perbatasan itu menjadi bagian dari Kampung Gumbang, > > Distrik Serikin, Negara Bagian Sarawak, Federasi > > Malaysia. > > > > Camat Siding Petrus Dias menjelaskan, terminal bus > > angkutan pedesaan itu beroperasi sejak 2000. "Di > > seputar terminal telah dibangun fasilitas pasar yang > > menjual berbagai kebutuhan hidup sehari-hari > > masyarakat," jelasnya kepada wartawan koran ini. > > > > Warga Kampung Gumbang, Distrik Serikin, yang > > berpenduduk 2.000-an jiwa itu kini sudah membangun > > patok baru perbatasan yang berkonstruksi beton > > secara sepihak. Patok tersebut memanjang memasuki > > daerah Bengkayang sepanjang satu kilometer. > > "Diperkirakan wilayah Indonesia yang sudah dicaplok > > mencapai 20-an kilometer," tegasnya. > > > > Dias menyatakan, laporan pencaplokan wilayah RI > > tersebut sudah disampaikan kepada bupati Bengkayang > > dengan No 300/24/Trantib tertanggal 7 Februari 2005. > > Bupati Bengkayang Jacobus Luna juga telah > > menindaklanjuti laporan camat Siding itu dengan > > mengirimkan surat kepada Gubernur Kalimantan Barat H > > Usman Jafar bernomor 100/0375/Pem tertanggal 7 Maret > > 2005. > > > > Dias yakin wilayah tersebut masih merupakan kawasan > > RI. Hal itu berdasarkan keterangan masyarakat di > > Desa Siding yang dilibatkan Tim Pusat Survei dan > > Pemetaan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat > > (Pussurta TNI-AD) dalam pembangunan patok tapal > > batas pada 1976. "Lokasi itu dulu dijadikan lapangan > > tempat mendarat helikopter TNI-AD," ujarnya. > > > > Dalam kesepakatan selanjutnya, persis di tengah > > bekas helipad dibangun titik patok kedua negara > > bertulisan Malaysia Indonesia (Malindo) dengan > > melibatkan masyarakat Desa Siding sebagai tenaga > > kerja. > > > > Setelah mencuatnya kasus tersebut, masyarakat > > Kampung Gumbang, Distrik Serikin, Sarawak, lantas > > mencabut patok batas resmi itu. Patok tersebut > > dipindahkan ke wilayah Indonesia sesuai kebutuhan > > kawasan permukiman serta lahan pertanian mereka. > > > > Kecamatan Siding merupakan pemekaran dari Kecamatan > > Jagoibabang pada 2003. Jumlah penduduknya 1.423 > > kepala keluarga (KK) yang mencakup 6.795 jiwa. > > Sementara itu, Desa Siding sekarang dihuni 148 KK > > mencakup 880 jiwa. Sebagian besar mata pencaharian > > masyarakat adalah petani kakao, lada, dan sawah. > > > > Interaksi sosial antarmasyarakat Kampung Gumbang > > dengan orang Indonesia di Desa Siding berjalan baik > > karena sama-sama berasal dari Suku Dayak Bidayuh. > > Malah sebagian besar masyarakat kedua negara itu > > masih memiliki hubungan kekeluargaan akibat > > perkawinan. > > > > Kondisi sarana infrastruktur perbatasan kedua negara > > tersebut terlihat sangat kontras. Jika masyarakat > > Kampung Gumbang sudah dilengkapi jalan akses ke > > kawasan distrik terdekat dengan kondisi beraspal, > > sarana infrastruktur transportasi darat Desa Siding > > ke kawasan terdekat hanya mengandalkan jalan setapak > > dan transportasi sungai. > > > > Desa Siding itu sendiri berjarak 150 km dari > > Bengkayang, ibu kota Kabupaten Bengkayang. Untuk > > mencapainya, belum ada jalan aspal yang langsung ke > > lokasi. "Kawasan titik patok batas menjadi lebih > > leluasa dipindahkan (Malaysia, Red) ke wilayah > > Indonesia karena secara fisik wilayah Kalbar masih > > dalam kondisi hutan belantara," kata Dias. > > > > Wakil Gubernur Kalimantan Barat, L.H. Kadir > > membantah bahwa Pemprov Kalbar tidak becus mengurus > > perbatasan darat Indonesia-Malaysia. "Pemerintah > > daerah tidak berwenang mengurus pembangunan di > > sepanjang perbatasan dengan negara lain karena > > hubungan luar negeri tetap merupakan kewenangan yang > > melekat di tangan pemerintah pusat," tegasnya. > > > > Menurut Kadir, Tim Biro Pemerintahan Umum Kantor > > Gubernur Kalimantan Barat tengah berkoordinasi > > dengan Pemerintah Kabupaten Bengkayang untuk > > melakukan pengecekan di lapangan. "Hasilnya segera > > dilaporkan kepada seluruh instansi teknis pemerintah > > pusat dari Kodam VI/Tanjungpura di Balikpapan, > > Kaltim. Secara jujur mesti disadari, lebih dari tiga > > dasawarsa terakhir, kawasan perbatasan bagaikan > > wilayah tidak bertuan sebagai akibat ketidakjelasan > > konsep pembangunan yang berpihak kepada rasa > > keadilan masyarakat dari pemerintah pusat," jelas > > Kadir. > > > > Dia mengatakan, pemindahan patok tapal batas tidak > > akan terjadi seandainya pemerintah pusat secara > > berkelanjutan membangun jalan darat sepanjang 1.857 > > km membujur lurus dari Provinsi Kalimantan Timur ke > > Kalimantan Barat dengan radius maksimal satu > > kilometer dari titik patok tapal batas. > > > > Kadir menuturkan, selama ini pihaknya hanya bisa > > memaparkan kondisi sebenarnya di sepanjang > > perbatasan darat dengan Malaysia setiap kali ada > > kunjungan pejabat pemerintah pusat dan kalangan > > Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). > > > > Tapi hasilnya, ujar Kadir, pemerintah pusat dan > > kalangan DPR hanya pandai mengumbar janji. Buktinya, > > rancangan peraturan pemerintah (PP) tentang > > penanganan kawasan perbatasan, yang pada 2004 lalu > > sudah sampai di Kantor Sekretariat Negara, kini > > malah dikembalikan lagi ke Sekretariat Kantor > > Kementerian Percepatan Pembangunan Kawasan Timor > > Indonesia (sekarang, Kementerian Percepatan > > Pembangunan Daerah Tertinggal). (lev) > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Bacalah artikel tentang Islam di: > http://www.nizami.org > > > > __________________________________ > Do you Yahoo!? > Yahoo! Small Business - Try our new resources site! > http://smallbusiness.yahoo.com/resources/ ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

