http://www.indomedia.com/bpost/032005/17/opini/opini1.htm
Kamis, 17 Maret 2005 04:33


Naiknya Harga BBM: Di Mana Bukti Keadilan?
Oleh: Mispansyah SH


Pemerintah akhirnya menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sebesar 20 - 40 
persen sebelum 1 April 2005. Alasan pemerintah, harga jual semua jenis BBM di 
Pertamina tak sepadan dengan biaya pokok produksi yang dikeluarkan. 
Pertimbangan kenaikan harga BBM adalah untuk mengurangi beban subsidi yang 
membertkan APBN (BPost 28/2/2005).

Menurut Menko Abu Rizal Bakrie yang akrab disapa dengan Ical, pemerintah sudah 
menyiapkan beberapa jurus untuk menangani gejolak akibat naiknya BBM. Antara 
lain dana kompesasi 17 triliun dan pemerintah meyakini, dana itu akan 
mengurangi kemiskinan sebesar dua persen. Saat ini jumlah penduduk miskin 
mencapai 36 juta orang. Menurut Ical, dengan kenaikan harga BBM masyarakat 
miskin akan menerima dana kompensasi menerima Rp500 ribu per orang per tahun. 
Satu keluarga minimal terdiri atas tiga orang, akan mendapat Rp1,5 juta per 
tahun.

Sebenarnya subsidi BBM selama ini yang akan dicabut adalah sebesar Rp39,8 
triliun dan dana itu akan dialokasikan ke sektor pendidikan dan kesehatan. 
Rincian kenaikan harga BBM kisaran 22 persen untuk minyak tanah dalam industri, 
47,44 persen untuk minyak bakar. Menaikkan harga BBM seolah membuat pemerintah 
sangat yakin, kebijakan itu 'sudah benar', tidak dapat dihindarkan dan 
merupakan satu-satunya jalan menyehatkan perekonomian Indonesia dalam jangka 
panjang, kata pengamat ekonomi dari Universitas Gadjah Mada Prof Dr Mubyarto.

Menurut ia, jika ukuran ketepatan kebijakan adalah efesiensi, maka keputusan 
pemerintah menaikkan harga BBM memang tepat. Namun jika keadilan untuk seluruh 
rakyat dijadikan ukuran, maka dengan peralatan ilmu social-humaniora Indonesia 
atau dengan mengacu pada dasar negara, tidak sulit menyimpulkan, kenaikan harga 
BBM akan mendorong harga kebutuhan pokok rakyat meningkat dan ini sangat tidak 
adil.

Dampak Kenaikan Harga BBM
Pemerintah seharusnya memperhatikan logika ekonomi dalam menaikkan harga BBM. 
Naiknya suatu barang yang bernilai strategis, akan membuat kenaikan harga 
barang lain yang memiliki korelasi langsung maupun tidak langsung terhadap 
barang strategis tersebut.

Naiknya harga BBM ternyata memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Sebab, 
distribusi bahan kebutuhan pokok mengikuti kenaikan ongkos transportasi yang 
tentunya juga naik mengikuti kenaikan harga BBM. Tidak hanya itu, kenaikan 
harga BBM juga membawa dampak nyata terhadap sektor lain. Industri farmasi, 
tekstil, elektronik dan hampir seluruh sektor industri berat maupun ringan 
mengalami 'goncangan'. Akibatnya ongkos produksi naik, hingga akhirnya segala 
sesuatu akan merangkak naik dan membuat angka inflasi semakin tinggi.

Kenaikan harga kebutuhan pokok membuat rakyat menderita. Pemerintah 
menjanjikan, kenaikan harga BBM yang subsidinya akan dialihkan kepada pelayanan 
kesehatan, pendidikan dan raskin yang langsung menyangkut rakyat kecil.

Benarkah janji itu? Kita tahu, ketika pemerintah menaikkan harga BBM pada 2002 
dan 2003, subsidi BBM dialokasikan untuk Program Penanggulangan Dampak 
Pengurangan Subsidi, Energi (PPD-PSE) saat itu tidak berhasil. Faktanya, pada 
sebagian daerah yang seharusnya menerima bantuan dimaksud, tidak menerima. 
Parahnya, dana kompensasi BBM yang seharusnya dapat mengurangi beban rakyat 
kecil, malah disunat sebagian pejabat yang berwenang dalam menyalurkan paket 
bantuan tersebut. Tak heran rasanya, kalau kita mendengar lurah sebagai pejabat 
pada level paling bawah bisa membeli mobil atau memperbaiki rumahnya setelah 
PPD-PSE diluncurkan.

Wajar saja, kalau banyak rakyat kecil yang menjerit atas kejadian itu. 
Pertanyaan yang harus dijawab pemerintahan Soesilo Bambang Yodoyono, di manakah 
keadilan itu? Apakah rakyat yang harus selalu jadi tumbal atas tindakan untuk 
kepentingan pemerintah? Apakah yang akan terjadi seandainya rakyat frustasi, 
hingga melakukan aksi kekerasan secara massal dan massif untuk menumpahkan 
emosinya yang sudah terakumulasi? Apakah bedanya bangsa kita dengan masa 
penjajahan pada waktu dulu yang dijajah secara fisik. Wallahu'alam.

Konsekuensi Sistem Kapitalis
Pemerintah akhirnya menaikkan kembali harga BBM pada awal Maret 2005. Kenaikan 
harga BBM ini, bukti pemerintah mengalami buruknya neraca anggaran yang 
disusun, karena alasannya tetap sama; menyelamatkan negara dengan mengorbankan 
rakyat banyak untuk mengatasi defisit anggaran yang semakin besar.

Kenaikan harga BBM ini sangat luar biasa bagi masyarakat kecil (petani, 
nelayan, abang becak, ojek, taksi kelotok dll), karena akan berdampak pada 
bahan pokok dan barang lainnya. Akibatnya ekonomi masyarakat akan semakin 
terpuruk. Sebenarnya Presiden SBY mengatakan, pemerintah dengan terpaksa mau 
tidak mau harus mencabut subsidi BBM. Di sini penulis bertanya, siapa yang 
memaksa pemerintah sehingga seakan mengambil sikap seperti buah simalakama. 
Apakah masih terikat dengan IMF atau dengan pihak asing atau pemberi utang 
lainnya.

Kebangkrutan ekonomi Indonesia sebenarnya sangat terasa pada 2001 yaitu sebesar 
53,8 triliun rupiah, hingga utang luar negeri (pemerintah dan swasta) yang 
harus dibayar pemerintah. Angka itu melebihi pendapatan APBN 2001-2002 sebesar 
Rp344 triliun. Sedangkan untuk anggaran 2002 dari Rp263 triliun yang 
dianggarkan, Rp72 triliun di antaranya untuk membayar bunga utang. Artinya, 
sebesar 20 - 30 persen.

Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi tidak lebih dari tiga persen, sementara 
inflasi di atas dua digit, angka pengangguran 40 juta jiwa, penduduk miskin 
lebih 100 juta jiwa. (Kajian Tematik Keislaman tentang kenaikan harga BBM dan 
TDL, Kerjasama Remaja Masjid Al-Jihad & LPSM) AN-Nahdhah Bjm, 17 Februari 2002. 
Ironis, di tengah krisis dunia perbankan menguras anggaran hingga Rp644,8 
triliun dan hasil audit menunjukkan hanya sekitar 26 persen tingkat 
pengembalian, hingga kerugian negara Rp477 triliun.

Konglomerat malah diberi perpanjangan masa PKPS (Penyelesaian Kewajiban 
Pemegang Saham), dari empat tahun menjadi 10 tahun. Koruptor dibiarkan saja 
menikmati hasil uang korupsinya dan tidak konsistennya dalam penanganan kasus 
korupsi pejabat dan pengusaha serta illegal logging. Seperti kasus penyeludupan 
kayu oleh oknum pengusaha Malaysia yang dibawa ke Cina sebanya jutaan ribu 
kubik. Banyaknya kayu itu dapat dijadikan bahan produksi selama jangka waktu 
tiga tahun, kecolongan itu tentunya karena tidak ketatnya penjagaan aparat 
negara atau ada kolusi di sana.

Sedangkan di lain pihak, 210 juta jiwa penduduk didera kenaikan harga BBM 
dengan multiplier efect inflasi dan social cost yang tinggi. Sangat tragis! 
Sungguh kesewenangan yang nyata! Bagaimana mungkin, sebagai negeri yang 
memproduksi minyak dan gas alam serta bahan tambang dan hasil hutan melimpah 
ruah, tidak mampu menyejahterakan rakyatnya. Bahkan menyusahkan rakyat dengan 
harga tinggi.

Harta pemilikan umum untuk BBM terkategori dalam barang hasil tambang yang 
jumlahnya terbatas. Barang tambang yang jumlahnya sedikit dan terbatas, 
termasuk pemilikan pribadi (milkiyah fardiyah) dan boleh dimiliki seseorang. 
Rasulullah SAW pernah memberikan tambang di Hijaz kepada Bilal bin Al Harits Al 
Muzanny.

Tambang biji emas, perak dalam jumlah sedikit dan terbatas boleh dimiliki 
pribadi dari hasil galian tersebut. Sedikit atau banyak, harus dikeluarkan 
khumus atau seperlimanya nya kepada Baitul Maal. Rasulullah pernah menarik 
kembali tambang garam yang beliau berikan kepada Ubaidl bin Hammal, lantaran 
ada yang menyatakan kepada beliau bahwa tambang itu tak terbatas jumlahnya.

Oleh karena itu, segala jenis barang tambang yang jumlahnya tak terbatas, baik 
emas, perak, nikel, tembaga, minyak, batu bara, timah, uranium dan lainnya 
termasuk barang pemilikan umum yang tak boleh dikuasi oleh individu. BBM yang 
merupakan harta milik umum jenis ini, tambang minyak yang jumlah tak terbatas 
tak boleh dimiliki perorangan. Ia adalah milik umat secara umum dan mestinya 
dinikmati rakyat secara merata, sehingga mereka memperoleh kesejahteraan 
lantaran distribusi yang adil.

Bukan malah sebaliknya, sebagian kecil rakyat yang memiliki kekayaan dan 
kedudukan mengonsumsinya dalam jumlah besar lantaran mereka (khususnya 
konglomerat) memiliki industri besar yang menelan produk minyak dalam jumlah 
besar. Subsidi dinikmati oleh mereka. Pencabutan subsidi kini menyengsarakan 
rakyat banyak.

Pengelolaan hasil pendapatan dari harta pemilikan umum termasuk BBM itu adalah: 
pertama, dibelanjakan untuk segala keperluan yang berkenaan dengan operasi 
badan negara yang ditunjuk mengelola harta pemilikan umum, baik dari segi 
administrasi, perencanaan, ekplorasi, eksploitasi, produksi, pemasaran dan 
distribusi. Pengambilan hasil dan pendapatan harta pemilikan umum untuk 
keperluan operasi amil yang mengurus zakat (QS At taubah 60).

Kedua, dibagikan kepada kaum muslim dan rakyat (termasuk kafir ahlu zimmah). 
Dalam hal ini khalifah (kepala negara) boleh membagikan minyak bumi (BBM), air 
minum, listrik dan barang lain untuk keperluan rumah tangga atau pasar secara 
gratis. Atau menjualnya dengan harga semurah-murahnya, atau dengan harga pasar.

Barang yang tidak dikonsumsi rakyat, misalnya minyak mentah, dijual ke luar 
negeri dan keuntungannya termasuk keuntungan pemasaran dalam negeri dibagi 
kepada seluruh rakyat dalam bentuk uang, barang atau membangun sekolah gratis, 
rumah sakit gratis dan pelayanan umum lainnya.

Seharusnya, pemerintahan SBY mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat dengan 
lebih fokus dalam pemberantasan KKN. Bukan malah terfokus pada menaikkan harga 
BBM yang menjadikan rakyat menderita. Wallahu 'alam bissawab.
Staf Pengajar Fakultas Hukum Unlam,
tinggal di Banjarmasin

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.uni.cc
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke