Harian Komentar
26/3/2005
Uang
Oleh: denni pinontoan
Manusia akhirnya harus mempunyai uang untuk hidup. Entah diperoleh dengan cara
menjual barang, jasa, diri sendiri atau orang lain. Halal atau haram. Malam
itu, sebuah institusi keagamaan sedang melakukan persidangan. Suasana gedung
yang dihadiri ribuan perutusan dari berbagai penjuru, gaduh, ribut. Teriakan
interupsi, membahana dari berbagai sudut gedung. Pimpinan sidang kelihatan
terdesak.Berulang-ulang kali pimpinan sidang memohon agar peserta tenang. Tapi
itu tak digubris. Agaknya ada yang mendesak untuk segera disikapi pimpinan
sidang. Suasana tetap kacau, mirip sidang paripurna para anggota legislatif di
era reformasi.
Suasana masih gaduh, sam-pai pimpinan sidang berhasil dengan sekuat tenaga
mem-persilakan seseorang untuk bicara. Pimpinan sidang ber-hasil membuat para
peserta sidang yang gaduh dengan interupsi-interupsinya, menjadi tenang,
terpusat pada seseorang yang akan bicara itu. Kira-kira ada yang perlu
diketahui dari si orang itu. Benar. Apa yang dia akan kata-kan itu penting.
Penting un-tuk mereka. Orang yang di-maksud itu ternyata ketua pa-nitia
pembangunan sebuah proyek mercusuar institusi itu. Orang itu dengan santai dan
gaya berkelakar mengumum-kan bahwa pemerintah daerah di mana institusi itu ada,
telah menganggarkan dalam anggaran belanja daerah, uang se-banyak satu miliar
untuk proyek mercusuar tersebut. Bu-kan cuma itu, untuk sukses-nya acara
persidangan, peme-rintah juga telah memberikan dana ratusan juta. Itu uang
legal, karena telah ada kese-pakatan antara pihak ekseku-tif dan legislatif
sebelumnya.
Apa yang terjadi kemudian? Para peserta sidang yang sebelumnya ribut dan
berlom-ba-lomba untuk menginte-rupsi pimpinan sidang, kini bertepuk tangan.
Mereka tersenyum puas. Interupsi ti-dak ada lagi. Suasana ber-ubah dalam
beberapa menit. Suasana menjadi sukacita dengan uang miliaran rupiah! Syukur
malam itu ada sin-terklas. Kado dalam bentuk uang mengubah segala-gala-nya.
Uang seolah-olah mengu-asai emosi mereka yang me-ledak-ledak, menjadi emosi
gembira. Puas. Malam itu mereka pun bisa tidur cepat, terlelap karena lelah
duduk seharian. Bunga tidur, mimpi pun masih bisa dinikmati. Mudah-mudahan
bukan mimpi buruk yang hanya mengganggu tidur mereka.
Ini cerita tentang uang, ma-nusia dan idealisme. Cerita tentang kehidupan yang
ril dan hadir di setiap tarikan napas para petualang di rimba yang dipenuhi
binatang buas, pohon lebat dan susah men-cari jalan keluarnya kalau su-dah
terdampar di dalamnya. Ini cerita tentang manusia yang menciptakan uang
seba-gai alat tukar. Ini cerita ten-tang uang sebagai hasil cip-taan, yang
kemudian mengu-asai jiwa dan tubuh si pencip-tanya. Uang hanyalah alat tukar.
Barang di tukar dengan uang, maka terjadilah jual be-li. Itu dulu. Cita-cita
untuk meng-ganti sistem barter dengan alat tukar uang, awalnya hanyalah untuk
barang, komoditi, jasa. Itu dulu.
Tapi kini, manusia jiwa dan tubuhnya juga ter-jerembab dalam perdagangan itu.
Ini yang dipikirkan oleh Karl Marx dulu. Ia sebenarnya te-lah me-warning
manusia. Ta-pi, peringatan ini tak digubris. Jadilah manusia tak ubahnya
seperti barang, komoditi, yang sebenarnya adalah objek da-lam sebuah sistem
perdaga-ngan itu. Manusia akhirnya harus mempunyai uang un-tuk hidup. Entah
diperoleh dengan cara menjual barang, jasa, diri sendiri atau orang lain. Halal
atau haram. Bah-kan, uang yang dalam bahasa sana disebut money, kalau didengar
oleh orang yang tak mengerti bahasa sana itu, bisa berubah artinya. Kata
'money', dalam pendengaran orang kita yang tak mengerti bahasa asal kata itu,
bisa berarti benih kehidupan.
Goenawan Mohamad ("Se-buah Pengantar" dalam I. Bam-bang Sugiharto,
Postmodernisme: Tantangan Filsafat, Kanisius, 1997) si penyair itu memandang
uang sama dengan Karl Marx. Uang, baginya, ".mengubah setiap objek, juga
manusia, menjadi sama dengan apa yang lain." Benar. Di zaman sekarang, apa lagi
yang tak berurusan dengan uang. Ketika kita berada di terminal, mau pipis dan
berak saja, harus pakai uang. Di kampung, hubungan kekerabatan
tetangga-berte-tangga, saudara-bersaudara, juga mulai diukur dengan uang. Dulu,
orang bisa menumpang begitu saja kendaraan bermo-tor roda dua yang dikemudi-kan
tetangga atau teman. Ta-pi, sekarang, ojek/ompreng, telah mengubah hubungan
kekerabatan itu menjadi hu-bungan dagang. Antara pelang-gan dan tukang ojek.
Senyum si tukang ojek, tak lagi ber-makna hormat, tapi uang.
Tak hanya itu. Uang juga bisa membuat orang kehila-ngan nyawa. Berita tentang
seorang pemuda yang tewas terbunuh hanya karena tidak memberi uang seribu
rupiah untuk satu sloki cap tikus bagi segerombolan preman, adalah juga bukti
kekuatan uang. Di tingkat lain, seorang pejabat pemerintahan yang menjadi
terdakwa karena kasus korupsi, bisa bebas, juga karena uang. Uang bisa membuat
diri terpenjara dalam kebobrokan hidup. Bisa juga membuat diri merdeka dalam
ketidakmerde-kaan orang lain atau bahkan batin diri sendiri. Dewi Lestari, atau
Dee, menggambarkan kehebatan uang merasuk hidup manusia dalam novel-nya yang
hebat itu, Superno-va. Dee, memakai karakter Diva, si tokoh dalam novelnya itu
untuk menunjukkan betapa nafsu-nafsu, termasuk nafsu seks, telah menjadi ba-han
komoditi untuk ditukar dengan uang. Dialog-dialog Diva, si tokoh pelacur,
cantik tapi profesional itu dengan para pelanggannya, meng-hidupkan realitas
kehebatan uang membunuh jiwa ma-nusia dalam kata-kata yang sarat makna. "Coba
bayang-kan, Pak. Pendapatan satu bulan pekerja pabrik otomotif di Malaysia sama
besarnya dengan pekerja di Illinois satu hari. Satu pekerja Prancis sama dengan
47 pekerja Viet-nam. Satu montir Amerika seharga 60 montir Cina. Itulah
perbandingan paling baru dari harga manusia." begitu salah satu potongan dialog
antara Diva dan Dahlan pelanggannya yang kaya raya.
Putut Wijaya juga mengilus-trasikan kekuatan gaib uang menarik setiap manusia
ke da-lam satu titik cita-cita semu lewat cerpennya, Binatang. Agus, tokoh
dalam cerpennya itu, karena terpesona dengan iming-iming kesejahteraan dari
pembangunan ekonomi, kemu-dian menjadikan semua anak-nya 'binatang ekonomi'.
Sejak kecil, semua anaknya dididik bagaimana menjadi pelaku ekonomi yang hebat.
Arti uang, menjadi mata pelajaran utama. Alhasilnya, ketika anak-anak-nya telah
benar-benar menjadi pelaku ekonomi dengan uang sebagai benda suci, ia dan
istrinya, sebagai orangtua mulai merasakan kesejahteraannya. Ia mendapat bagian
dari keuntu-ngan-keuntungan yang diper-oleh anak-anaknya dalam ber-ekonomi.
Tapi sayang cerita pendek itu berakhir sedih. Agus dan istrinya, kemudian harus
menghabiskan masa tuanya di rumah jompo. "Tetapi kemudi-an terjadi perubahan.
Pada sua-tu hari, anak-anak Agus meng-adakan rapat. Agus diminta hadir. Di
dalam rapat dihitung secara teliti, berapa bulan Agus sudah merawat
masing-masing anak itu. Berapa jumlah yang sudah dikeluarkannya. Kemu-dian
dikompensasikan berapa rupiah yang sudah dikembali-kan oleh anak-anak itu.
Ter-nyata hasilnya klop," begitu tulis Putu Wijaya dalam cerpennya itu. Jasa
orangtua dibanding-kan dengan jumlah uang. Ketika lunas, maka semuanya beres.
Jasa orangtua, tinggal kena-ngan. Kini uang yang berbicara. Gila benda apa uang
ini?! Tapi, saya pikir, persoalan sebenar-nya bukan pada uangnya se-bagai alat
tukar yang adalah benda mati, barang. Uang hanya kertas berkualitas antirobek
(kalau tidak sengaja, tapi kalau disengaja, pasti robek juga dia) dan koin dari
logam pilihan. Uang tak bedanya dengan ge-dung tempat berlangsungnya
persidangan itu.
Uang sama dengan kamar hotel berbintang atau tak berbintang. Uang, gedung,
kamar hotel hanyalah ruang dan waktu. Benda-benda ini, adalah netral. Mereka
tidak hidup, sehingga tidak berdosa, tidak menjijikkan. Juga tidak suci, karena
tidak hidup.
Malam itu, gedung itu bisa menjadi tempat persidangan. Tapi tahun lalu, di
gedung itu, ada kampanye politik. Di sana ada money politics, pelangga-ran
terhadap aturan, dll. Se-buah kamar hotel, malam Se-nin, bisa menjadi tampat
yang nyaman bagi seorang pelacur berselingkuh dengan seorang lelaki hidung
belang beranak tiga. Tapi di malam Selasa, di kamar yang sama, ada se-orang
pendeta, haji, evangelis dan para alim ulama lainnya menginap di sana untuk
sua-tu tugas. Atau khusus untuk uang. Derma di sebuah gereja pada ibadah minggu
pagi, adalah sejumlah uang untuk membantu pelayanan kata mereka! Uang, di
minggu pagi itu, adalah juga tanda ung-kapan syukur kepada Sang Khalik. Tapi
siapa yang per-nah tahu, kalau ada di antara uang-uang itu yang berasal dari
tangan si pelacur di ka-mar hotel itu. Kalau begitu, mana yang berdosa dan
men-jijikkan, benda-benda mati itu atau orang-orang yang meng-gunakan dan
memaknai ben-da-benda mati itu? Jawab sen-diri, sudah besar! Tapi, kalau
Herakleitos yang menjawab pertanyaan ini, barangkali dia akan berkata, "ini
masih awal dari sebuah proses yang panjang."
Uang yang sebenarnya ha-nyalah alat tukar, kini men-jadi tujuan. Atau paling
tidak uang adalah alat atau sarana untuk mencapai tujuan hidup pribadi:
Kekuasaan, seks dan popularitas! Uang diperkosa oleh manusia. Anehnya, ma-nusia
sering berdalih, uang-lah yang telah memperbudak mereka. Bodoh sekali, masa-kan
uang yang adalah benda mati yang memperbudak manusia.
Semua tindakan manusia yang sangat memutlakkan uang, kekuasaan, popularitas dan
lain sebagainya itu, sadar atau tidak, sebenarnya akan bermuara pada pembunuhan
Tuhan barangkali ini yang di-maksud Nietzsche. Olaf Schumann, si pakar ilmu
agama-agama itu, juga berpikir begitu. Kata Schumaan dalam tulisan-nya,
Milenium Ketiga dan Tan-tangan agama-agama, (dalam Martin L Sinaga, (ed.)
Agama-agama Memasuki Milenium Ke-tiga, Jakarta: Grasindo, 2000), "Ideologi yang
menyatakan ketiadaan, atau kematian Allah memang tidak hanya terdapat di
kalangan komunis, tetapi juga tampak dalam tenaga yang ser-ba kuat para pemuja
modal, monopoli ekonomi, penentu tafsiran (atau manipulasi) hukum yang
diberlakukan dan seterusnya, turut juga menyata-kan ketiadaan Tuhan di alam ini
ketika cita-cita yang hadir dari hawa nafsu mereka menjadi da-ya yang mereka
pertuhankan."
Hati-hati!
Penulis Adalah Jurnalis
Bukit Inspirasi, 16 Maret 2005.
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/