Republika Minggu, 20 Maret 2005 Ambalat Oleh : Haedar Nashir
Ambalat. Tiba-tiba nama yang satu ini akrab di ingatan kita. Padahal sebelumnya asing. Kita mungkin perlu "berterima kasih" pada Malaysia, karena dengan ulahnya lalu tumbuh kesadaran, betapa negeri Nusantara ini masih menyimpan banyak mutiara tanah air, yang selama ini terabaikan. Tapi sayang, ingatan baru itu muncul dalam sebuah persengketaan. Dalam sebuah perebutan kedaulatan. Ambalat kini bukan lagi sebuah daerah. Sebuah blok. Sebuah wilayah perairan. Ambalat telah menjadi simbol suatu konflik antarnegara tetangga, serumpun lagi. Sebuah titik pertaruhan persengketaan yang di belakangnya selalu menyimpan senjata pamungkas: peperangan. Lalu, tak mengherankan jika kapal-kapal perang berseliweran di blok perairan laut Sulawesi dan Kalimantan Timur itu. Ambalat bahkan menyimpan banyak hal yang absurd. Bagi Indonesia maupun Malaysia. Bahkan bagi identitas kebangsaan dan keislaman. Tiba-tiba "nasionalisme" merah-putih merebak di seluruh pelosok, yang merasa darah-dagingnya Indonesia. Tiba-tiba diksi Islam diangkat sebagai faktor mediator oleh para tokoh dan kekuatan Islam. Demo dan cap jempol darah pun menyeruak, seolah mengusik rasa nasionalisme sejati. Kita bisa bertanya pada Malaysia. Negeri jiran yang dianggap serumpun, bahkan memiliki identitas keislaman yang kuat. Untuk dan atas nama apa tergoda oleh Ambalat? Padahal dalam versi Indonesia, jika dilihat dari batas Hukum Laut Internasional (UNCLOS) tahun 1982 dan pengelolaan blok di antara laut Sulawesi dan Kalimantan itu telah dimulai Indonesia sejak tahun 1967. Waktu itu Malaysia tak peduli apa pun. Tapi, setelah kisah sukses Sipadan dan Ligitan, tiba-tiba mengklaim Ambalat. Kita cemas tentang satu hal dari negeri jiran yang paling dekat itu. Yakni tentang virus "imperialisme dan kolonialisme", ketika kemajuan telah menjadi semangat baru, sebagaimana Singapura. Sebuah negeri yang mengalami kemajuan selalu dibarengi dengan perasaan arogansi dan nafsu ekspansi. Persis negara-negara Eropa pada abad-abad silam dengan ekspansi kolonialisme dan imperialismenya. Sindrom kemajuan selalu memberi suntikan-suntikan syahwat perluasan. Ada semacam virus kebanggaan, setelah maju lalu ekspansi. Sejenis virus penaklukan sebagai wujud kedigdayaan. Bagaimana dengan Islam? Para tokoh dan kalangan umat Islam mencoba menjadi kekuatan mediasi dalam konflik dua negeri serumpun. Tapi, Islam yang seperti apa? Ketika persaingan dan persengkataan terjadi, Islam akhirnya selalu jadi pinggiran. Tak jadi kekuatan perekat. Semestinya, jika memiliki Islam, untuk apa ekspansi? Toh kedua negeri itu berpenduduk mayoritas Muslim. Islam tidak mampu menyangga kepentingan-kepentingan paling nyata dalam kehidupan. Kekuasaan, wilayah, uang, dan kepentingan-kepentingan inderawi dalam praktik sering mengalahkan apa pun, tak kecuali Islam. Tuhan menyuruh umat Islam bersatu, karena bersaudara. Umat juga diminta untuk menyelesaikan masalah dengan ishlah, cara damai. Rahmat dan kasih sayang Tuhan juga dijanjikan bagi ikatan persaudaraan dan ishlah yang otentik itu, yang dasarnya iman yang kokoh. Islam melarang bughot, pembangkangan, dan virus arogansi yang mengawetkan konflik. Tapi, konflik selalu punya hukum sendiri. Laksana air bah, membahana dan merenggut apa pun di sekitarnya. Islam sebagai nilai dan norma luhur seringkali tak mampu menjadi kekuatan peredam konflik dan nafsu ekspansi. Lebih-lebih yang menyentuh egoisme kekuasaan antarkekuatan. Sejarah perselisihan internal umat Islam sejak era kekhalifahan Usman dan Ali di zaman keemasan sejarah Islam hingga dinasti Ummayah dan Abasiyah, banyak menorehkan tinta darah. Persengketaan-persengketaan politik antarfaksi umat Islam di negeri ini pun tak mampu disangga dan diredam oleh Islam yang bersimbol kata benda. Islam sering tidak bergerak menjadi kata kerja ketika berhadapan dengan realitas-realitas krusial para pemeluknya. Islam sering jadi pembenar untuk pemenuhan nafsu-nafsu kekuasaan. Islam tak mampu menembus batas negara-bangsa. Pun jadi kekuatan pemersatu persaudaraan sedunia. Di negeri sendiri, Islam tak menjadi arus utama denyut nadi nasional, selain jadi serpihan-serpihan kekuasaan di kaum masing-masing. Tak jadi energi potensial untuk membebaskan rakyat dari keterbelakangan dan jadi ikon kemajuan peradaban baru. Bahkan kini tumbuh fenomena baru selebriti Islam. Islam jadi komoditi di panggung publik. Para tokoh, da'i, dan dan elitenya sibuk menggelar panggung dari satu pertunjukan ke pertunjukan lain, tapi tidak menyentuh denyut nadi umat dan masyarakat di akar rumput. Islam menjadi kembang penuh warna di perayaan, sebatas entertainment di panggung publik. Bagaimana dengan nasionalisme Indonesia? Ikon yang satu ini juga sedang di tubir jurang. Sekadar jadi pemanis. Atau alat pemukul terhadap musuh dari luar, yang artifisial. Tak pernah menyentuh nasionalisme yang esensial, yang mendasar. Dari hulu hingga hilir, akhirnya nasionalisme yang mengalir selalu naif, keruh, dan banyak daki. Coba simak, nasionalisme jenis apa? Ketika Ambalat mencuat sebagai isu persengketaan, tiba-tiba banyak pihak kaum nasionalis merasa terusik. Lalu demo, bendera dan ikat kepala merah-putih pun menjadi simbol pembelaan negeri sekaligus perlawanan terhadap negara tetangga. Ganyang Malaysia menyeruak kembali, seolah tayangan ulang konfrontasi di masa silam. Tapi, di mana nasionalisme yang membara itu bersembunyi ketika sejumlah persoalan-persoalan krusial yang nyaris menenggelamkan Indonesia di negeri sendiri mencuat ke permukaan dan jadi penyakit kronis bangsa ini? Ketika hutan dirusak terus-terusan. Ketika keuntungan-keuntungan terbesar eksplorasi kekayaan alam jatuh ke tangan asing dan konglomerat hitam. Di saat ikan dan kayu dicuri orang luar dan orang dalam. Ketika perusahaan-perusahaan milik negara dilelang satu persatu dengan harga murah dan tak memberi sebesar-besarnya bagi keuntungan rakyat. Ketika anak-anak negeri di Aceh, Papua, dan daerah-daerah terpencil menjerit ingin berubah nasib dari penindasan ke kehidupan yang layak. Di saat jumlah orang miskin dan pengangguran makin menggelembung. Pada saat yang sama penyakit dan wabah korupsi terus menjalar serta menggerogoti sendi-sendi kehidupan negara. Di mana gelora nasionalisme merah-putih itu berkibar? Nasionalisme sungguh membisu. Mereka yang dengan gampang memekikkan kata merdeka dan menyumpalkan tanda merah-putih di sekujur tubuhnya itu ketika menghadapi pertaruhan-pertaruhan penting untuk penyelamatan bangsa dan negara, seperti kehilangan jati diri. Tak menunjukkan heroisme merah-putih. Bahkan ketika kesempatan berkuasa ada di tangan, banyak hal lepas dari negeri dan kepentingan rakyat. Krisis tetap menggelayuti negeri, Korupsi membengkak. Konglomaret hitam berlarian ke luar. Sipadan dan Ligitan lepas. Bahkan BUMN raib satu persatu. Merah-putih dan darah-biru nasionalisme tak menjadi kekuatan apa pun, selain sekadar simbol dan hura-hura. Itulah nasionalisme-naif. Nasionalisme yang sekadar lambang luar. Nasionalisme klaim masa silam. Nasionalisme klangenan. Nasionalisme yang kian menumbuhkan ego diri dan kelompok sendiri. Bahkan nasionalisme yang berwajah garang. Bukan nasionalisme yang menumbuhkan karakter bangsa sebagai bangsa yang besar. Bukan nasionalisme yang peduli pada jerit nasib rakyat dan anak-anak negeri. Bukan nasionalisme yang menyelamatkan Indonesia dari seluruh proses perusakan dan penghacuran. Bukan nasionalisme yang membawa Indonesia menjadi sebuah bangsa dan negeri yang maju dan berkeadaban tinggi. Sekadar nasionalisme bantal kusam dan kasur tua. Lantas, mau belajar apa dari Ambalat? Juga dari persoalan-persoalan krisis di negeri ini? Tanyalah para anggota parlemen yang kini makin piawai adu jotos di Senayan itu. Di mana sukma Ambalat dan seluruh persoalan negeri dapat mereka tempatkan dalam komitmen berkiprah untuk sebesar-besarnya kepentingan bangsa? Makin lihai memperjuangkan nasib diri, gaji, dan tunjangan ketimbang nasib rakyat yang memilihnya. Lalu, parlemen pun jadi tempat hingar-bingar unjuk kekuasaan baru. Dan Ambalat, kenaikan BBM, dan persoalan-persoalan besar bangsa tak disentuh ke akarnya, selain kulit luar dan sebatas tempat aktualisasi kekuasaan yang sumir. Para politisi di Senayan itu sibuk bukan main kalau mau Kongres. Bikin buku, buat pernyataan, keliling ke daerah, dan kasak-kusuk ke setiap sudut negeri. Untuk dan atas nama apa? Tentu, kata mereka demi kepentingan rakyat. Syukurlah, Tapi, begitukah praktiknya? Ini masalah klasik. Ketika mau naik begitu ramah dan peduli pada rakyat, setelah naik semuanya berlalu begitu saja. Pemuncak negeri pun tak kalah lemah nyali kerakyatannya. Dulu, ketika ingin berkuasa begitu bersahabat dengan rakyat. Nyanyian pun untuk rakyat. Bersama rakyat segalanya bisa. Tapi, setelah kursi diduduki, "I don't care". Rakyat sekadar jadi alfabeta titian kekuasaan. Bukan jadi napas kekuasaan. Lalu perilaku rezim muncul sebagaimana lazimnya. Kekuasaan untuk kekuasaan. Kekuasaan mengabdi pada dirinya sendiri. Bukan dikhidmatkan bagi sebesar-besarnya kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Lebih-lebih untuk memproyeksikan kekuasaan guna membangun karakter dan peradaban bangsa ke depan. Akhirnya kita bisa belajar dari Ambalat. Dia bukan sekadar persoalan wilayah. Bukan juga sekadar arena persengketaan antarnegara yang mengusik banyak hal. Ambalat juga tempat bercermin bagaimana dua bangsa menyikapi dan menyelesaikan masalah secara berkeadaban. Blok di perairan Sulawesi dan Kalimantan Timur itu bahkan menyentak kesadaran kita bagaimana cara rezim kekuasaan mengurus negara dan bangsa dengan benar. Jika Ambalat lewat begitu saja tanpa makna dan pembelajaran, jangan terlalu berharap pada elite dan penguasa negeri ini. Lebih-lebih jika diselesaikan dengan adu fisik. Bagi kedua bangsa pun Ambalat akhirnya jadi ladang pertaruhan. Bagaimana konflik dan kepentingan dikonstruksikan secara beradab. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

