http://www.suarapembaruan.com/News/2005/04/07/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY A Nation of Owners Agus Pakpahan NORMAN A Bailey menggunakan istilah "A Nation of Owners" dalam 'The International Economy, July 30, 2000". Istilah tersebut penulis gunakan sebagai judul dan juga isi tulisan ini dengan dua tujuan. Pertama, sejarah mengingatkan bahwa kita sering disebut sebagai bangsa kuli. Presiden Soekarno dalam berbagai kesempatan telah membangunkan semangat kita semua, untuk kuat dan bisa keluar dari posisi bangsa kuli ini. Kedua, sistem ekonomi yang berkembang, khususnya institusi keuangan dunia dan juga di Indonesia, lebih menyedot apa yang rakyat miliki daripada apa yang ia berikan. Akhirnya, bukan hanya apa yang kita produksi habis, tetapi juga modal yang kita miliki hilang, termasuk terjadinya deteriorasi (kemunduran) modal manusia, modal sosial dan juga modal spiritual. Ini adalah paradoks: kita mengatakan bahwa kita melakukan pembangunan, padahal pada saat yang bersamaan kita kehilangan banyak hal yang sangat fundamental, yaitu basic functioning's dari suatu negara yang merdeka. �It is the invisible which makes the visible world possible", adalah sesuatu yang tak dapat dilihat dengan mata dan didengar dengan telinga yang membuat sesuatu menjadi realitas. Sesuatu yang dikandung dan dibesarkan dalam suatu idealisme atau cita-cita besar yang membuat suatu hal besar terwujud. Berdirinya VOC (Verenigde Oost indische Compagnie), yang terlebih dulu diawali dengan berdirinya "Far Land Company" yang memulai perjalanan awal ke Asia pada 2 April 1595, dengan modal 300.000 guilder, dan dengan kekuatan empat kapal pimpinan Cornelis de Houtman (Jacobs, 1991), adalah manifestasi dari suatu idealisme atau impian untuk melepaskan diri dari monopoli Portugis akan perdagangan rempah-rempah di Eropa. Demikian juga dengan pergerakan kemerdekaan Indonesia untuk melawan penjajahan dari bangsa asing adalah manifestasi dari kuatnya suatu idealisme atau cita-cita untuk merdeka. Kemiskinan Bagaimana dengan kemiskinan, keterbelakangan, ketertinggalan dan sejenisnya? Ini juga adalah bentuk ketidakmerdekaan. Semakin miskin seseorang, semakin tidak merdeka ia. Semakin terbelakang seseorang, maka semakin tidak merdeka ia. Semakin miskin suatu bangsa, maka bangsa inipun semakin tidak merdeka. Karena itu, persoalan mengatasi kemiskinan bukanlah semata-mata persoalan pembangunan ekonomi, bukan pula semata-mata penanganan aspek kesra. Karena keseluruhan tersebut merupakan sisi ketidakmerdekaan, maka idealisme pemerdekaan merupakan hal yang utama. Ia merupakan bagian yang tanpa kompromi. Dimana letak pemerdekaan dari kemiskinan dan ketertinggalan itu? Energi dasarnya berada dalam spirit, dalam jiwa institusi ekonomi yang kita bangun, apabila kita berurusan dengan materi. Tetapi karena materi itu tergantung dari "the invisible", maka ia bersumber dari culture atau budaya, yaitu the way of thinking, feeling and believing. Institusi atau kebijaksanaan apa yang kita kerjakan akan mencerminkan the way of thinking, feeling and believing yang berada dalam alam bawah sadar para designer atau pembuat institusi atau kebijaksanaan tersebut. Dunia kelihatannya tidak dapat mundur lagi dari sistem ekonomi kapitalisme yang landasan utamanya adalah diterimanya private property rights yang dikemas dalam institusi kepemilikan (ownership). Ini adalah institusi yang mengkoordinasikan sumber-sumber interdependensi antar-partisipan dalam suatu masyarakat dengan unit kegiatan utamanya adalah transaksi. Apakah institusi ini akan menjamin pemerdekaan kita dari kemiskinan atau bentuk ketidakmerdekaan lainnya? Hasil penelitian, antara lain, Jeff Sachs yang menunjukkan bahwa pada 1820, pendapatan per kapita bangsa-bangsa di kawasan tropis adalah 75 persen daripada pendapatan per kapita bangsa-bangsa di kawasan temperate, dan pada saat sekarang rasionya menurun menjadi sekitar hanya 25 persennya saja, menunjukkan bahwa dunia ini bertambah timpang. Turunnya harga riil komoditas pertanian primer yang menjadi pendapatan utama devisa negara-negara berkembang di satu pihak, dan meningkatnya harga-harga produk hasil olahan yang bahan bakunya berasal dari negara-negara berkembang, juga menandakan devolusi yang merugikan negara-negara miskin. Bagaimana masyarakat petani karet yang sepanjang hidupnya menghasilkan getah karet tetapi mereka tidak pernah bisa menikmati sebagai pemilik mobil? Padahal ban mobil adalah komponen kendaraan yang vital. Tidak ada ban, sebuah mobil tidak bisa berjalan. Hal tersebut membuktikan bahwa tidak ada jaminan sistem ekonomi yang berkembang hingga saat ini menjadi sarana otomatis pemerdekaan kita dari ketidakmerdekaan, sebagaimana yang dialami negara-negara berkembang selama ini. Kepemilikan Mengapa demikian? Penyebab utamanya karena kepemilikan sebagai faktor kunci institusi ekonomi kapitalisme berada di tangan sedikit orang. Kepemilikan bukanlah faktor produksi, tetapi instrumen institusi yang mengontrol faktor produksi. Karena itu, income yang diperoleh dari kepemilikan disebut unearned income, atau rent. Karena itu pula, kepemilikan yang terpusat pada seseorang atau sebuah lembaga memperbesar peluang berakumulasinya unearned income pada kelompok tersebut. Mengingat unearned income ini merupakan cost bagi masyarakat, maka dengan meningkatnya akumulasi unearned income dalam kelompok tertentu akan membuat masyarakat luas bertambah meningkat kadar ketidakmerdekaannya. Kunci utama dari solusi permasalahan di atas adalah bahwa rakyat harus menjadi pemilik negara ini. Realisasi akan hal ini kita bisa belajar dari Abraham Lincoln yang menciptakan "Homestead Act 1862", yang pada masanya negara memberikan (baca: menjual dengan harga murah) kapital, berupa lahan kepada petani. Privatisasi, bukan Piratisasi, BUMN dapat mengikuti model Lincoln. Kasus American Crystal Sugar Company dimana 1300 petani membeli perusahaan tersebut dengan nilai US$ 86 juta pada 1973, dan sekarang menjadi salah satu perusahaan gula terbesar di AS, yang sekarang dimiliki lebih dari 3.000 petani, juga merupakan sumber inspirasi. Di sinilah arti strategis lembaga-lembaga yang mengurusi pembangunan dan keuangan serta perbankan. Bukan sekadar menaikkan suku bunga yang meningkatkan ketidakmerdekaan dan proses deteriorasi kita semua. Indonesia perlu menjadi: A Nation of Owners, bukan bangsa kuli. * Penulis adalah Ketua Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Last modified: 7/4/05 [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give underprivileged students the materials they need to learn. Bring education to life by funding a specific classroom project. http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

