SUARA PEMBARUAN DAILY 
Hari Kesehatan Sedunia 

Kematian Ibu, Tragedi di Sekitar Kita yang Luput dari Perhatian
 

PEMBARUAN/YC KURNIANTORO 

IBU HAMIL - Dokter Nina memeriksa seorang ibu hamil di Puskesmas Tebet, Jakarta 
Selatan, Senin (7/2). Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia mencapai 307 per 
100.000 kelahiran hidup. 

GEMPA dan tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, Sumatera 
Utara, pada 26 Desember lalu menghentakkan kita semua. Banyaknya korban tewas 
membuat bencana ini menjadi pusat perhatian pemerintah. Segala upaya dilakukan 
untuk memulihkan wilayah yang terkena bencana. Belum usai menata wilayah yang 
terkena tsunami, gempa bumi kembali mengguncang Nias, Sumatera Utara, yang juga 
banyak menelan korban. 

Bencana alam datang dan pergi. Muncul sewaktu-waktu. Sebenarnya, selain bencana 
alam yang sifatnya menelan korban dalam kurun waktu yang singkat, Indonesia 
juga dilanda bencana lain berupa kematian ibu dan kematian balita yang terjadi 
setiap hari di sekitar kita. Berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia 
(SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu (AKI) 307 per 100.000 kelahiran 
hidup. Ini berarti ada 13.778 ibu meninggal setiap tahun. Bila dikalkulasi 
dalam hitungan hari ada 38 ibu yang meninggal dan bila dalam hitungan jam ada 2 
orang ibu yang meninggal. 

Bisa kita bayangkan berapa banyak anak-anak yang menjadi piatu setiap tahun 
akibat tragedi kematian ibu. Ini berdampak pada tumbuh kembang anak-anak yang 
tidak memiliki ibu. Selain kematian ibu, negeri ini juga memiliki angka 
kematian anak yang tergolong tinggi. Misalnya, berdasarkan SDKI 2002/2003, 
angka kematian neonatal (bayi berumur kurang dari 30 hari) 20 per 1.000 
kelahiran hidup. Ini berarti dalam setahun ada 89.760 bayi berumur kurang dari 
30 hari yang meninggal atau 10 kematian setiap jam. Sementara angka kematian 
bayi berumur kurang dari setahun (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup, yang 
berarti ada 157.080 bayi meninggal setiap tahun. Apabila dalam hitungan jam, 
ada 18 bayi meninggal. 

Kemudian, masih dengan survei yang sama, angka kematian balita (AKBA) 46 per 
1.000 kelahiran hidup. Artinya ada 206.448 balita meninggal setiap tahun atau 
24 balita meninggal setiap jam. 

Kontras dengan kondisi di Indonesia, rasio kematian ibu di negara-negara maju 
sangat rendah. Berkisar 7 sampai 15 kematian per 100.000 kelahiran hidup. 
Sekalipun menelan korban yang banyak, namun reaksi atau tanggapan terhadap 
kasus ini dari berbagai sektor di negeri ini masing terasa kurang. 


Langsung dan Tidak Langsung 

Menurut Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Prof 
dr Azrul Azwar MPH, ada dua faktor yang menyebabkan AKI, AKB, dan AKBA di 
Indonesia tinggi. Kedua faktor itu adalah faktor langsung dan faktor tidak 
langsung. Faktor langsung ini terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi di 
bidang kedokteran. Seperti pada AKI, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga 
(SKRT) tahun 2001, faktor langsung tersebut adalah perdarahan, hipertensi atau 
tekanan darah tinggi saat kehamilan (eklampsia), infeksi, partus lama, dan 
komplikasi keguguran. Sementara faktor langsung penyebab AKB baru lahir 
terutama disebabkan asfiksia, infeksi, dan berat bayi lahir rendah. Hal ini 
berkaitan dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan 
perawatan bayi baru lahir. 

Disebutkan, intervensi terhadap faktor langsung tersebut bukan hal yang sulit. 
Artinya dari sisi kedokteran upaya menurunkan angka kematian itu bukanlah suatu 
masalah. Namun yang menjadi masalah, katanya, adalah faktor tidak langsung. 
Dari sisi demand, faktor tidak langsung itu antara lain, tingkat pendidikan 
kaum ibu yang rendah, tingkat sosial ekonomi kaum ibu rendah, keadaan sosial 
budaya tidak mendukung, status gizi ibu hamil rendah (40 persen dari ibu hamil 
menderita anemia). Status gizi yang rendah ini juga terjadi pada neonatal, 
bayi, dan anak. Faktor tidak langsung lain yang berperan adalah kedudukan dan 
peranan kaum ibu tidak menguntungkan, serta transportasi yang tidak mendukung. 

Dari sisi supply, faktor tidak langsung tersebut mencakup jumlah sarana dan 
pelayanan maternal, neonatal, bayi, dan balita tidak menguntungkan. Kualitas 
dan efektivitas pelayanan maternal, neonatal, bayi, dan balita belum memadai. 
Demikian pula dengan sistem rujukan yang belum mantap. 

"AKI dan AKB sudah turun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya AKI 
mencapai tiga kali lipat dari sekarang. Tetapi memang masih tertinggal 
dibanding dengan negara lain. Tidak usah dibandingkan dengan Singapura. Dengan 
Vietnam saja kita tertinggal. Yang sulit itu membawa teknologi ke ibu-ibu, jadi 
masalah utama yang dihadapi adalah faktor tidak langsung. Ini bukan hanya 
urusan sektor kesehatan saja," tegas Azrul. 


Ketidaksetaraan 

Kurangnya perhatian sektor nonkesehatan untuk menurunkan AKI, AKB, dan AKBA 
juga diutarakan Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dr Ernanti 
Wahyurini MSc dan Kepala BKKBN dr Sumarjati Arjoso SKM. Ernanti menilai, 
perhatian terhadap AKI, AKB dan AKBA belum merata. Dari masalah yang kompleks 
itu, hanya 10 persen yang terkait dengan pelayanan kesehatan. Dengan demikian, 
90 persen lainnya berada di luar pelayanan kesehatan. Dia menyebut 
ketidaksetaraan antara perempuan dan laki-laki menjadi masalah. Ibu rumah 
tangga belum bisa memutuskan sendiri tindakan apa yang akan diambil apabila 
berada dalam situasi gawat darurat saat hendak bersalin. Penyebabnya tidak 
terlepas dari tingkat pendidikan karena hanya sekitar 50 persen ibu rumah 
tangga di Indonesia yang lulus Sekolah Dasar (SD) dan 1 dari 7 perempuan di 
Indonesia tergolong miskin. 

Di sisi lain, Sumarjati menjelaskan tingginya kematian ibu dan anak terkait 
dengan faktor empat terlalu. Terdiri dari terlalu muda usia (kurang 20 tahun) 
ada sekitar 10,3 persen berdasarkan SDKI 2002/2003. Kemudian, terlalu dekat 
jarak kelahiran (kurang 24 bulan) ada 15 persen dan kurang dari 36 bulan ada 
sekitar 36 persen. Terlalu banyak jumlah anak (lebih dari 3 atau 4) 19,3 
persen, dan terlalu tua usia melahirkan ( lebih dari 35 tahun) sekitar 11 
persen. 

Tidak hanya empat terlalu yang menjadi masalah. Tiga terlambat juga membuat 
kematian ibu menjadi tinggi. Ketiga terlambat itu adalah terlambat mengenal 
tanda bahaya dan mengambil keputusan. Terlambat mencapai fasilitas kesehatan 
dan terlambat mendapatkan pelayanan di fasilitas kesehatan. 

Kondisi ini diperburuk dengan belum semua desa di Indonesia memiliki bidan. 
Seperti diketahui, bidan adalah tenaga kesehatan yang berada di garis depan 
untuk menolong ibu-ibu yang akan bersalin. Seperti yang diutarakan Ketua Umum 
Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Dra Harni MKM, sekitar 40 persen desa yang ada 
sekarang ini tidak memiliki bidan desa. Hal ini terjadi, antara lain karena 
para bidan melanjutkan pendidikan dan ikut suami. 

"Pergantian bidan di suatu desa sekarang tergantung pada pemerintah daerah. 
Kalau dari sisi supply tidak masalah. Setiap tahun ada sekitar 8.000 lulusan 
akademi kebidanan. Mestinya bisa mencukupi, tapi distribusinya tidak merata. 
Sekarang ini kami bekerja sama dengan Ford Foundation mendidik dukun dan 
keluarganya untuk menjadi bidan di daerahnya. Mereka belajar di akademi 
kebidanan," ujar Harni. 

Kesehatan ibu dan anak memang menjadi tema Hari Kesehatan Sedunia tahun 2005 
yang jatuh pada hari ini. Hal itu menjadi indikator pembangunan kesehatan di 
suatu negara. Namun dokter spesialis anak yang juga psikolog dr Soedjatmiko SpA 
menegaskan kesehatan tidak hanya fisik. Lebih dari itu, kesehatan anak mencakup 
inteligensia dan emosional. Justru, anak-anak yang selamat dari kematian 
berhadapan dengan kualitas hidup, terutama pengasuhan sampai usia mereka tiga 
tahun. Pada masa inilah masa terpenting pembentukan otak anak. Dia 
mempertanyakan kenapa hanya kesehatan fisik yang disorot, sedangkan emosional 
dan kognitif tidak. 

"Jangan-jangan ini program dari negara-negara maju, sengaja hanya mengurusi 
kesehatan fisik saja tetapi kecerdasannya sengaja diabaikan, sehingga angka 
kematian di Indonesia menurun, fisik bagus, tetapi bodoh," ujar Soedjatmiko 
seraya tertawa. 

PEMBARUAN/NANCY NAINGGOLAN 


Last modified: 7/4/05 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke