http://www.indomedia.com/bpost/042005/15/opini/opini1.htm
Jumat, 15 April 2005 01:43

Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas
Oleh: Ahmad Barjie B


Busana muslimah tidak hentinya menjadi berita. Di negeri barat
sekuler fanatik, muslimah musti berjuang ekstrakeras dan tidak jarang harus 
melalui pengadilan untuk bisa memakai jilbab. Jilbab dianggap simbol agama, 
yang tidak semestinya dipakai di ruang publik. Kalau mau memakainya, cukup 
di rumah atau saat beribadah. Pascaperistiwa 11 September 2001, pemakai 
jilbab (jubah dan jenggot) juga dicurigai terkait terorisme.

Sayangnya di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, pemakaian jilbab 
juga tidak mulus. Kita tentu masih ingat di era orde baru, betapa banyaknya 
siswi berjilbab menjadi korban kebijakan sekolah, yang atas nama uniformitas 
tidak mengakui eksistensi jilbab. Kini di era reformasi kondisinya sudah 
banyak berubah. Pemerintah melalui sekolah, umumnya sudah menoleransi 
pemakaian jilbab, meskipun secara kasuistik masih ada lembaga pendidikan dan 
instansi yang mempersoalkannya.

Di banyak perusahaan swasta, khususnya supermarket, dealer kendaraan 
bermotor, karyawati berjilbab kelihatannya belum mendapat tempat. Tidak itu 
saja, oleh perusahaan --termasuk yang mengerahkan sales girl- sepertinya ada 
tuntutan agar mereka memakai rok di atas lutut, supaya paha yang dianggap 
sebagai salah satu daya tarik konsumen bisa kelihatan. Tak heran, karyawati 
yang fanatik pergi dan pulang pakai jilbab, tapi di tempat kerja terpaksa 
dilepas.
Sebuah fenomena yang cukup mengharuskan, saat ini sejumlah sekolah umum di 
Banjarmasin seperti SMP dan SMA juga memberlakukan jilbab bagi siswinya, 
meski jilbab dimaksud belum begitu ideal. Ini karena dalam manajemen 
pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat, sekolah diberi kewenangan 
mengatur pakaian seragam siswa yang bersinergi dengan nilai sosio-religius 
yang hidup di lingkungan masyarakat setempat.

Kelihatannya memang terjadi lompatan kemajuan signifikan sosialisasi jilbab 
dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dipicu pula oleh penampilan sejumlah artis 
beken yang ikut menyosialisasikan jilbab ke tengah khalayak. Inneke 
Koesherawati, Marissa Haque, Dewi Hughes adalah beberapa di antara artis 
jilbabwati yang semakin populer karena komitmennya terhadap jilbab. Menyusul 
pendahulunya seperti Ida Royani, Ida Leman, Dewi Yull atau peragawati Ratih 
Sanggarwati. Artis ini bukannya tenggelam setelah berjilbab, seperti 
dikhawatirkan beberapa kalangan, tapi namanya tetap berkibar dan rezekinya 
terus mengalir deras.

Tampilnya artis di garda terdepan dalam pemakaian jilbab, patut disambut 
gembira. Seperti dikomando, di masyarakat kegandrungan terhadap busana 
muslimah, termasuk jilbab semakin menguat. Meski jilbab mereka belum begitu 
ideal, karena cenderung jilbab model dan jilbab gaul, paling tidak sudah 
mendekati target ideal.

Sayang, pemakaian jilbab di kalangan sementara artis belum konsisten. 
Seperti banyak diberitakan di acara infotainmen, sejumlah artis baru-baru 
ini nekat menanggalkan jilbabnya, setelah sekian tahun mengakrabinya. Tya 
Soebiyakto dan Trie Utami adalah di antara artis yang disorot. Banyak publik 
menyesalkan inkonsistensi mereka terhadap jilbab. Namun ada yang mencoba 
berhipotesis, bahwa penanggalan jilbab tersebut boleh jadi karena Tya dan 
Trie baru bercerai dengan suaminya. Tetapi hipotesis ini tertolak, karena 
Dewi Hughes dan Cheche Kirani atau Dewi Yull yang juga bermasalah dalam 
rumah tangganya justru tetap konsisten dengan jilbab.

Konversi Agama
Melengkapi keprihatinan publik, ada pula ustadz muda yang sangat 
menyayangkan inskonsistensi artis memakai jilbab. Menurut ia, hal ini 
dikhawatirkan termasuk kategori mempermainkan ajaran agama. Agama seolah 
jadi sekadar pakaian, bisa dikenakan dan ditanggalkan sewaktu-waktu.

Saya memaklumi keprihatian publik terhadap masalah ini. Bagaimana pun artis 
adalah publik figur, sehingga sikap dan cara berpakaian mereka sangat 
berpengaruh terhadap masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat kita 
termasuk filming society, masyarakat yang suka menonton film, iklan dan 
sinetron di tivi, membaca majalah hiburan dan sejenisnya, lantas menirunya. 
Suka atau tidak dan terlepas dari berbagai kontroversi, artis dapat 
dijadikan sebagai iklan Islam. Tidak hanya di bulan puasa artis ramai-ramai 
berdakwah, tetapi juga dalam keseharian mereka.

Kalangan ahli sosiologi agama, membagi konversi dalam dua macam. Pertama, 
change from one state, dan kedua, change from one religion to another. Yang 
pertama adalah berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, namun tetap 
dalam agamanya. Artis muslimah yang dulunya senang buka-bukaan, lantas 
memakai jilbab atau sebaliknya, termasuk kategori pertama. Rhoma Irama yang 
dulu produktif dengan lagu cinta, lalu berubah ke tema dakwah. Motenggo 
Bosye yang di kala mudanya produktif dengan novel cinta dan agak porno, 
tetapi di akhir hayatnya justru beralih ke novel sufistik, juga masuk di 
sini. Sedangkan artis nonmuslim yang masuk Islam, seperti WS Rendra, Ray 
Sahetapy, Cindy Claudia Harahap, Dewi Hughes, Marini Zumarnis, Tamara 
Bleszinsky, Lulu Tobing, dan masih banyak lagi, tergolong konversi agama 
jenis kedua. Begitu pula Nafa Urbach yang masuk Islam lalu konon balik lagi 
ke agama semula, juga masuk golongan ini.

Tetapi apa pun jenisnya, para ahli menyatakan konversi tidak berdiri 
sendiri. Beberapa variable dominan itu terjadi karena: a) pengaruh 
supernatural berupa hidayah Allah, pengetahuan, penyelidikan, perenungan, 
sehingga seseorang menemukan cahaya kebenaran; b) pengaruh eksternal dari 
pergaulan, kegiatan rutin, anjuran teman, pengaruh pemimpin keagamaan, 
kolega dan teman prpfesi; c) faktor internal seperti keretakan dan 
permasalahan dalam keluarga, perubahan status perkawinan, pekerjaan dan 
sejenisnya. Jadi masalah dalam keluarga, seperti perceraian, hanya salah 
satu variable yang tidak begitu dominan.

Bukan Jilbab Hati
Terhadap tarik ulur pemakaian jilbab ini akan lebih baik bila kita 
menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagi yang mau berjilbab, kita 
ucapkan selamat dan terimakasih, karena ia mengamalkan sebagian agamanya. 
Wanita berjilbab tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga orang 
lain. Tersalurnya hasrat lelaki secara liar dan merebaknya fantasi syahwat 
mereka, justru karena memandang wanita yang suka membuka aurat. Wanita 
jangan menyalahkan lelaki dalam soal ini, sebab 'dari sononya' lelaki 
ditakdirkan menyenangi wanita (QS 3: 14). Kalau lelaki tidak lagi menyenangi 
wanita, itu justru abnormal seperti menimpa kaum Nabi Luth di negeri Sodom, 
dan itu sangat terkutuk.

Agama seseorang lebih selamat bila ia konsisten berjilbab. Seperti 
diberitakan sebuah media, gara-gara memakai jilbab seorang wanita bersama 
keluarganya urung termakan makanan haram di sebuah res toran di Jakarta. 
Melihat si wanita berjilbab, pelayannya yang jujur menyatakan bahwa makanan 
yang dipesan mengandung unsur haram. Lantas si ibu bertanya kepada pelayan, 
bagaimana kalau pembelinya tidak berjilbab. Dijawab, itulah susahnya, sulit 
diketahui mana yang muslim dan non muslim.

Bagi yang belum berjibab, diharapkan suatu saat mau berjilbab atau apa pun 
jenis pakaiannya asalkan menutup aurat. Perlu dicegah adalah adanya anggapan 
miring terhadap pemakaian jilbab. Katanya, biar tidak berjilbab, yang 
penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji. 
Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan begini perlu diluruskan.

Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup 
aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar. 
Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab. Memang 
tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral.

Heboh VCD porno 'Mataram Terbuka', pelakunya juga wanita berjilbab. Tetapi 
itu bisa saja direkayasa dengan maksud melecehkan, atau ada siswi/mahasiswa 
berjilbab yang terperosok dalam gaul bebas dan seks pranikah. Meski 
demikian, bukan berarti jilbab tidak penting dan boleh ditanggalkan begitu 
saja. Aturan hukum agama tidak boleh dibalik dan dikunyah-kunyah. Tidak ada 
manusia sempurna, tapi minimal dengan berjilbab aurat sudah terpelihara. 
Jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama. Ada pun hati (qalbu) 
memang perlu dimanej lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini 
memerlukan waktu lama.

Mengacu kepada teori konversi, kesadaran dan komitmen memakai jilbab erat 
kaitannya dengan faktor eksternal. Karena itu, para orangtua hendaknya 
menyuruh anak wanitanya dan para suami hendaknya menyuruh istrinya menutup 
aurat. Patut disesalkan, karena ternyata tren buka-bukaan dan pakaian ketat 
yang mewabah selama ini, tidak hanya kehendak si wanita, tapi justru 
ditoleransi bahkan disuruh oleh orangtua atau suaminya. Nah.
Pemerhati masalah sosial, tinggal di Banjarmasin e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Jumat, 15 April 2005 01:43



Jilbab Dipakai Jilbab Dilepas
Oleh: Ahmad Barjie B

Busana muslimah tidak hentinya menjadi berita. Di negeri barat
sekuler fanatik, muslimah musti berjuang ekstrakeras dan tidak jarang harus 
melalui pengadilan untuk bisa memakai jilbab. Jilbab dianggap simbol agama, 
yang tidak semestinya dipakai di ruang publik. Kalau mau memakainya, cukup 
di rumah atau saat beribadah. Pascaperistiwa 11 September 2001, pemakai 
jilbab (jubah dan jenggot) juga dicurigai terkait terorisme.

Sayangnya di negara mayoritas muslim seperti Indonesia, pemakaian jilbab 
juga tidak mulus. Kita tentu masih ingat di era orde baru, betapa banyaknya 
siswi berjilbab menjadi korban kebijakan sekolah, yang atas nama uniformitas 
tidak mengakui eksistensi jilbab. Kini di era reformasi kondisinya sudah 
banyak berubah. Pemerintah melalui sekolah, umumnya sudah menoleransi 
pemakaian jilbab, meskipun secara kasuistik masih ada lembaga pendidikan dan 
instansi yang mempersoalkannya.

Di banyak perusahaan swasta, khususnya supermarket, dealer kendaraan 
bermotor, karyawati berjilbab kelihatannya belum mendapat tempat. Tidak itu 
saja, oleh perusahaan --termasuk yang mengerahkan sales girl- sepertinya ada 
tuntutan agar mereka memakai rok di atas lutut, supaya paha yang dianggap 
sebagai salah satu daya tarik konsumen bisa kelihatan. Tak heran, karyawati 
yang fanatik pergi dan pulang pakai jilbab, tapi di tempat kerja terpaksa 
dilepas.

Sebuah fenomena yang cukup mengharuskan, saat ini sejumlah sekolah umum di 
Banjarmasin seperti SMP dan SMA juga memberlakukan jilbab bagi siswinya, 
meski jilbab dimaksud belum begitu ideal. Ini karena dalam manajemen 
pendidikan berbasis sekolah dan masyarakat, sekolah diberi kewenangan 
mengatur pakaian seragam siswa yang bersinergi dengan nilai sosio-religius 
yang hidup di lingkungan masyarakat setempat.

Kelihatannya memang terjadi lompatan kemajuan signifikan sosialisasi jilbab 
dalam sepuluh tahun terakhir. Ini dipicu pula oleh penampilan sejumlah artis 
beken yang ikut menyosialisasikan jilbab ke tengah khalayak. Inneke 
Koesherawati, Marissa Haque, Dewi Hughes adalah beberapa di antara artis 
jilbabwati yang semakin populer karena komitmennya terhadap jilbab. Menyusul 
pendahulunya seperti Ida Royani, Ida Leman, Dewi Yull atau peragawati Ratih 
Sanggarwati. Artis ini bukannya tenggelam setelah berjilbab, seperti 
dikhawatirkan beberapa kalangan, tapi namanya tetap berkibar dan rezekinya 
terus mengalir deras.

Tampilnya artis di garda terdepan dalam pemakaian jilbab, patut disambut 
gembira. Seperti dikomando, di masyarakat kegandrungan terhadap busana 
muslimah, termasuk jilbab semakin menguat. Meski jilbab mereka belum begitu 
ideal, karena cenderung jilbab model dan jilbab gaul, paling tidak sudah 
mendekati target ideal.

Sayang, pemakaian jilbab di kalangan sementara artis belum konsisten. 
Seperti banyak diberitakan di acara infotainmen, sejumlah artis baru-baru 
ini nekat menanggalkan jilbabnya, setelah sekian tahun mengakrabinya. Tya 
Soebiyakto dan Trie Utami adalah di antara artis yang disorot. Banyak publik 
menyesalkan inkonsistensi mereka terhadap jilbab. Namun ada yang mencoba 
berhipotesis, bahwa penanggalan jilbab tersebut boleh jadi karena Tya dan 
Trie baru bercerai dengan suaminya. Tetapi hipotesis ini tertolak, karena 
Dewi Hughes dan Cheche Kirani atau Dewi Yull yang juga bermasalah dalam 
rumah tangganya justru tetap konsisten dengan jilbab.

Konversi Agama

Melengkapi keprihatinan publik, ada pula ustadz muda yang sangat 
menyayangkan inskonsistensi artis memakai jilbab. Menurut ia, hal ini 
dikhawatirkan termasuk kategori mempermainkan ajaran agama. Agama seolah 
jadi sekadar pakaian, bisa dikenakan dan ditanggalkan sewaktu-waktu.

Saya memaklumi keprihatian publik terhadap masalah ini. Bagaimana pun artis 
adalah publik figur, sehingga sikap dan cara berpakaian mereka sangat 
berpengaruh terhadap masyarakat. Sudah bukan rahasia lagi, masyarakat kita 
termasuk filming society, masyarakat yang suka menonton film, iklan dan 
sinetron di tivi, membaca majalah hiburan dan sejenisnya, lantas menirunya. 
Suka atau tidak dan terlepas dari berbagai kontroversi, artis dapat 
dijadikan sebagai iklan Islam. Tidak hanya di bulan puasa artis ramai-ramai 
berdakwah, tetapi juga dalam keseharian mereka.

Kalangan ahli sosiologi agama, membagi konversi dalam dua macam. Pertama, 
change from one state, dan kedua, change from one religion to another. Yang 
pertama adalah berubah dari satu keadaan kepada keadaan lain, namun tetap 
dalam agamanya. Artis muslimah yang dulunya senang buka-bukaan, lantas 
memakai jilbab atau sebaliknya, termasuk kategori pertama. Rhoma Irama yang 
dulu produktif dengan lagu cinta, lalu berubah ke tema dakwah. Motenggo 
Bosye yang di kala mudanya produktif dengan novel cinta dan agak porno, 
tetapi di akhir hayatnya justru beralih ke novel sufistik, juga masuk di 
sini. Sedangkan artis nonmuslim yang masuk Islam, seperti WS Rendra, Ray 
Sahetapy, Cindy Claudia Harahap, Dewi Hughes, Marini Zumarnis, Tamara 
Bleszinsky, Lulu Tobing, dan masih banyak lagi, tergolong konversi agama 
jenis kedua. Begitu pula Nafa Urbach yang masuk Islam lalu konon balik lagi 
ke agama semula, juga masuk golongan ini.

Tetapi apa pun jenisnya, para ahli menyatakan konversi tidak berdiri 
sendiri. Beberapa variable dominan itu terjadi karena: a) pengaruh 
supernatural berupa hidayah Allah, pengetahuan, penyelidikan, perenungan, 
sehingga seseorang menemukan cahaya kebenaran; b) pengaruh eksternal dari 
pergaulan, kegiatan rutin, anjuran teman, pengaruh pemimpin keagamaan, 
kolega dan teman prpfesi; c) faktor internal seperti keretakan dan 
permasalahan dalam keluarga, perubahan status perkawinan, pekerjaan dan 
sejenisnya. Jadi masalah dalam keluarga, seperti perceraian, hanya salah 
satu variable yang tidak begitu dominan.

Bukan Jilbab Hati

Terhadap tarik ulur pemakaian jilbab ini akan lebih baik bila kita 
menyikapinya secara arif dan bijaksana. Bagi yang mau berjilbab, kita 
ucapkan selamat dan terimakasih, karena ia mengamalkan sebagian agamanya. 
Wanita berjilbab tidak hanya menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga orang 
lain. Tersalurnya hasrat lelaki secara liar dan merebaknya fantasi syahwat 
mereka, justru karena memandang wanita yang suka membuka aurat. Wanita 
jangan menyalahkan lelaki dalam soal ini, sebab 'dari sononya' lelaki 
ditakdirkan menyenangi wanita (QS 3: 14). Kalau lelaki tidak lagi menyenangi 
wanita, itu justru abnormal seperti menimpa kaum Nabi Luth di negeri Sodom, 
dan itu sangat terkutuk.

Agama seseorang lebih selamat bila ia konsisten berjilbab. Seperti 
diberitakan sebuah media, gara-gara memakai jilbab seorang wanita bersama 
keluarganya urung termakan makanan haram di sebuah res toran di Jakarta. 
Melihat si wanita berjilbab, pelayannya yang jujur menyatakan bahwa makanan 
yang dipesan mengandung unsur haram. Lantas si ibu bertanya kepada pelayan, 
bagaimana kalau pembelinya tidak berjilbab. Dijawab, itulah susahnya, sulit 
diketahui mana yang muslim dan non muslim.

Bagi yang belum berjibab, diharapkan suatu saat mau berjilbab atau apa pun 
jenis pakaiannya asalkan menutup aurat. Perlu dicegah adalah adanya anggapan 
miring terhadap pemakaian jilbab. Katanya, biar tidak berjilbab, yang 
penting sudah memakai jilbab hati, yaitu berhati baik dan berakhlak terpuji. 
Daripada berjilbab tapi perilakunya buruk. Anggapan begini perlu diluruskan.

Jilbab hati sesungguhnya tidak ada, yang ada jilbab dipakai untuk menutup 
aurat. Biar hatinya baik kalau aurat terbuka, ia masih berdosa besar. 
Alangkah anggunnya bila wanita yang baik hatinya sekaligus berjilbab. Memang 
tidak sedikit wanita berjilbab tetapi masih berperilaku amoral.

Heboh VCD porno 'Mataram Terbuka', pelakunya juga wanita berjilbab. Tetapi 
itu bisa saja direkayasa dengan maksud melecehkan, atau ada siswi/mahasiswa 
berjilbab yang terperosok dalam gaul bebas dan seks pranikah. Meski 
demikian, bukan berarti jilbab tidak penting dan boleh ditanggalkan begitu 
saja. Aturan hukum agama tidak boleh dibalik dan dikunyah-kunyah. Tidak ada 
manusia sempurna, tapi minimal dengan berjilbab aurat sudah terpelihara. 
Jilbab bukan simbol, tapi identitas dan tuntutan agama. Ada pun hati (qalbu) 
memang perlu dimanej lebih baik agar melahirkan perilaku terpuji, dan ini 
memerlukan waktu lama.

Mengacu kepada teori konversi, kesadaran dan komitmen memakai jilbab erat 
kaitannya dengan faktor eksternal. Karena itu, para orangtua hendaknya 
menyuruh anak wanitanya dan para suami hendaknya menyuruh istrinya menutup 
aurat. Patut disesalkan, karena ternyata tren buka-bukaan dan pakaian ketat 
yang mewabah selama ini, tidak hanya kehendak si wanita, tapi justru 
ditoleransi bahkan disuruh oleh orangtua atau suaminya. Nah.
Pemerhati masalah sosial, tinggal di Banjarmasin
e-mail: [EMAIL PROTECTED] 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke