Kalau Islam Liberal menganggap Qur'an sebagai mitos
dan cuma berlaku temporer untuk bangsa tertentu,
berarti itu semakin membuktikan kesesatan Islam
Liberal.

Bukankah di surat Al Baqarah ayat 2 dijelaskan bahwa
Al Qur'an itu tidak ada keraguan di dalamnya dan
merupakan petunjuk bagi orang yang bertakwa? Kalau
ragu dan tidak percaya, berarti tidak bertakwa.

Jika kelompok Islam Liberal tidak beriman pada adanya
Al Qur'an dan kebenaran Al Qur'an, jelas berarti sudah
kafir. Karena beriman pada Al Qur'an adalah salah satu
pokok dari 6 rukun iman.

--- Samsul Bachri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Saudaraku...
> Yang penulis hendak sampaikan adalah jika Quran
> hanya mitos, berarti tidak
> ada wahyu, jika tidak ada wahyu berati tidak ada
> Tuhan. Berati juga tidak
> ada kebenaran, karena kebenaran hanya akan menjadi
> asumsi manusia semata.
> Suatu saat, perzinahan tidak akan diharamkan, karena
> sudah memenuhi kaidah
> kebenaran menurut manusia kebanyakan. Demikian pula
> dengan yang lainnya.
> 
> Hat-hatilah terhadap jebakan yang tidak terlihat.
> Apa yang menjadi tujuan
> pendapat tersebut.?Adalah mengajak manusia untuk
> tidak mempercayai
> Tuhan.Nauzubillah.
> 
> Waspadalah-waspadalah.............!
> 
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <Undisclosed-Recipient:;>
> Sent: Friday, April 15, 2005 12:43 PM
> Subject: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos
> 
> 
> >
> >
> http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=802
> >
> > Alquran Sebagai Mitos
> > Oleh Rony Subayu
> > 11/04/2005
> > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya
> berpendapat bahwa makna
> denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah
> bersifat lokal-temporal yang
> cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran
> turun. Sedang unsur yang
> universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman
> ada pada makna
> konotatifnya.
> >
> > Ketika Mohammed Arkoun membangun proyek
> prestisiusnya, "kritik akal
> Islam", yang terwakili dalam karyanya "Pour de la
> raison Islamique" (Menuju
> Kritik Akal Islam), yang dalam edisi Arabnya
> berjudul "Tarikhiyyat al-Fikr
> al-Araby al-Islamy," ia mengajukan tiga term yang
> sangat asing di telinga
> para sarjana muslim dalam rangka membedah sejarah
> sistem pemikiran
> Arab-Islam, yaitu "yang terpikirkan" (le
> pensable/thinkable), "yang tak
> terpikirkan" (l`impinse/unthinkable) dan "yang belum
> terpikirkan"
> (l`impensable/not yet thought). Apa yang dimaksud
> dengan "thinkable" adalah
> hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam,
> karena jelas dan boleh
> dipikirkan. Sedang "unthinkable" adalah hal-hal
> menyangkut praktik kehidupan
> yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan
> "not yet thought" adalah
> hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.
> > Menurut Arkoun, ketika Alquran tampil dalam bentuk
> oral dan belum terjelma
> ke dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang
> dan direspon sebagai
> thinkable. Namun, keadaan berubah drastis manakala
> Alquran di-vermak menjadi
> korpus resmi tertutup atau mushaf resmi Usmani di
> bawah pengawasan Khalifah
> Usman serta adanya upaya sistematisasi konsep sunah
> dan pembakuan ushul fiqh
> oleh Imam Syafi`i kepada standar tertentu. Pada era
> itu, ranah-ranah yang
> tadinya thinkable berubah menjadi unthinkable.
> >
> > Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah
> terjadinya proses
> "penjarakan" antara Alquran dengan realitas.
> Akibatnya, Alquran menjadi
> macan ompong yang gagap merespon tantangan
> modernitas dengan pelbagai
> persoalan yang ditimbulkannya. Alquran hanya diperas
> dalam tumpukan
> literatur tafsir yang cuma bisa menjelaskan dunia,
> tapi tak mampu
> mengubahnya. Alquran tidak lebih dari "warisan
> antik" dari abad VII M yang
> sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan dan
> diperingati dalam
> seremoni-seremoni. Alquran sudah beranjak jauh dari
> tujuannya semula sebagai
> "kitab pencerahan" (kitab munir). Dan tragisnya
> -kata Arkoun lagi-, daerah
> "yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.
> >
> > Mushaf Usmani yang menonjolkan bahasa Quraisy dan
> bercirikan mono-bacaan
> (Qira`at Hafish an Ashim) pada gilirannya menyimpan
> cacat tersendiri, yaitu
> hilangnya kemungkinan menafsir atau membaca Alquran
> dari pelbagai optik;
> projek penafsiran Alquran tidak diperkenankan keluar
> dari koridor mushaf
> Usmani. Oleh karenanya, kitab-kitab tafsir yang
> tersebar di dunia Islam
> secara massif diproduksi dengan merujuk mushaf
> Usmani sebagai patokan.
> Situasi ini semakin pelik manakala Syafi`i membuat
> rumusan sistem hukum
> Islam kepada Alquran, sunah, ijmak dan qiyas. Untuk
> menentukan sebuah makna
> atau hukum dalam Alquran, seseorang harus melewati
> prosedur ini secara
> hierarkis. Ketika Alquran tidak memberikan
> informasi, sunah menjadi rujukan,
> berikutnya ijmak, qiyas dan seterusnya.
> >
> > Bersandar pada mushaf Usmani dan kaidah
> konvensional yang dibuat Syafi`i
> dalam kegiatan penafsiran merupakan prosedur
> legal-konvensional yang secara
> hampir sepakat diyakini umat Islam. Kemungkinan
> pendekatan atau mekanisme
> lain di luar prosedur legal dipandang sebagai bid`ah
> dan harus ditolak.
> >
> > Di sinilah titik kegelisahan Arkoun, dengan
> konsepnya tentang "yang tak
> terpikirkan", ia hendak mencairkan kebekuan prosedur
> legal-konvensional ini.
> Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan
> pendekatan lain dalam
> pembacaan Alquran seperti antropologi, sosiologi,
> psikologi, hermeneutika,
> semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu
> belum pernah ada atau
> digunakan di era skolastik Islam. Untuk sekedar
> turut berpartisipasi
> mempersempit area unthinkable ini, saya mencoba
> menawarkan sebuah pendekatan
> baru yang sangat berbau modern, yaitu membaca
> Alquran sebagai mitos.
> >
> > Sebelum Alquran dikenai sebuah pendekatan,
> menentukan kedudukan Alquran
> secara ontologis merupakan suatu hal yang sangat
> perlu. Apa itu Alquran? Ini
> adalah pertanyaan ontologis yang sempat diajukan
> oleh Arkoun dan Abu Zayd
> sebelum melangkah lebih jauh pada penerapan sebuah
> metodologi pembacaan
> Alquran baru yang hendak diusungnya. Bagi saya,
> Alquran adalah mitos. Apa
> yang saya maksud dengan "mitos" di sini bukanlah
> cerita tentang kehidupan
> dewa-dewi yang abstrak, irasional dan penuh hayal,
> melainkan mitos dalam
> arti Barthesian, yakni sebuah tipe wacana atau
> tuturan. Bagi Barthes, Myth
> is a social usage of language. (Barthes: 1983).
> Dalam konsepsi Barthesian,
> wacana (discourse) adalah tipe penggunaan bahasa
> yang bisa mengambil bentuk
> lisan (parole) maupun tulisan (langue). Jadi,
> Alquran dalam bentuknya yang
> oral maupun tekstual (mushaf) sama-sama merupakan
> mitos.
> >
> > Mitos adalah sebuah wacana khas yang hendak
> menyampaikan pesan secara tak
> langsung. Atau dalam bahasa semiotisnya,
> menyampaikan makna konotatif sebuah
> tanda melalui unsur denotatifnya. Apa yang diacu
> atau signifikan dalam mitos
> adalah segi konotatifnya. Sedang unsur denotatifnya
> hanyalah tanda perantara
> sekunder yang berfungsi sebagai jembatan untuk
> mengantar kepada makna
> konotatif. Sebagai mitos, literalisme Alquran (baik
> dalam bentuk parole atau
> langue) yang biasa dibaca, dilantunkan dan dijadikan
> dalil oleh umat Islam
> pada umumnya, tidak lebih merupakan "pembungkus"
> semata dari pesan Tuhan
> yang sesungguhnya. Dus, pesan universal Alquran
> tidaklah terletak pada makna
> literalnya, tapi makna yang bersemayam di balik yang
> literal itu.
> >
> > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya
> berpendapat bahwa makna
> denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah
> bersifat lokal-temporal yang
> cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran
> turun. 
=== message truncated ===


Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke