Ah sampean kan mengambil kesimpulan sendiri dengan mereduksi maksud penulis 
seperti itu. Jelas tesis yang dia kemukakan merupakan telaah bahasa yang sudah 
berkembang sejak Khalil al-Farahidi, Sibawaihi, Ibnu Faris, Ibnu Duraid, Ibnu 
Jinni, Akhfasy, al-Jahizh, al-Nazzham, Ibnu Qutaibah, al-Khattabi, al-Rummani, 
Qadhi Abdul Jabbar, Abdul Qahir al-Jurjani dan lain-lain. Makna konotatif ala 
Barthes itukan yang juga ditelorkan oleh Abdul Qahir sebagai Makna al-Makna. 
Dalam istilah kajian bahasa di kalangan Arab disebut dengan Zhilal Makna yakni 
bayang-bayang makna yang berada dibalik dan atau melingkupi unsur denotatifnya. 
Lucunya anda sendiri tidak mengulas kajian itu dengan antitesa yang bisa 
dijadikan bahan pikiran selanjutnya. Hanya membuat kesimpulan sendiri untuk 
menyebutnya kemudian sebagai jebakan dan mengajak orang-orang waspada. 
Orang-orang yang berilmu tidak pernah takut dengan kajian-kajian seperti itu 
karena Innama Yakhsyallaha min 'ibadihil ulamau.

Aman
  ----- Original Message ----- 
  From: Samsul Bachri 
  To: [email protected] 
  Sent: Friday, April 15, 2005 9:19 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos


  Saudaraku...
  Yang penulis hendak sampaikan adalah jika Quran hanya mitos, berarti tidak
  ada wahyu, jika tidak ada wahyu berati tidak ada Tuhan. Berati juga tidak
  ada kebenaran, karena kebenaran hanya akan menjadi asumsi manusia semata.
  Suatu saat, perzinahan tidak akan diharamkan, karena sudah memenuhi kaidah
  kebenaran menurut manusia kebanyakan. Demikian pula dengan yang lainnya.

  Hat-hatilah terhadap jebakan yang tidak terlihat. Apa yang menjadi tujuan
  pendapat tersebut.?Adalah mengajak manusia untuk tidak mempercayai
  Tuhan.Nauzubillah.

  Waspadalah-waspadalah.............!


  ----- Original Message -----
  From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: <Undisclosed-Recipient:;>
  Sent: Friday, April 15, 2005 12:43 PM
  Subject: [ppiindia] Alquran Sebagai Mitos


  >
  > http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=802
  >
  > Alquran Sebagai Mitos
  > Oleh Rony Subayu
  > 11/04/2005
  > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna
  denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang
  cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
  universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna
  konotatifnya.
  >
  > Ketika Mohammed Arkoun membangun proyek prestisiusnya, "kritik akal
  Islam", yang terwakili dalam karyanya "Pour de la raison Islamique" (Menuju
  Kritik Akal Islam), yang dalam edisi Arabnya berjudul "Tarikhiyyat al-Fikr
  al-Araby al-Islamy," ia mengajukan tiga term yang sangat asing di telinga
  para sarjana muslim dalam rangka membedah sejarah sistem pemikiran
  Arab-Islam, yaitu "yang terpikirkan" (le pensable/thinkable), "yang tak
  terpikirkan" (l`impinse/unthinkable) dan "yang belum terpikirkan"
  (l`impensable/not yet thought). Apa yang dimaksud dengan "thinkable" adalah
  hal-hal yang mungkin sudah dipikirkan umat Islam, karena jelas dan boleh
  dipikirkan. Sedang "unthinkable" adalah hal-hal menyangkut praktik kehidupan
  yang tidak ada kaitannya dengan ajaran agama. Dan "not yet thought" adalah
  hal-hal yang belum pernah dipikirkan umat Islam.
  > Menurut Arkoun, ketika Alquran tampil dalam bentuk oral dan belum terjelma
  ke dalam sebuah mushaf resmi, segala hal dipandang dan direspon sebagai
  thinkable. Namun, keadaan berubah drastis manakala Alquran di-vermak menjadi
  korpus resmi tertutup atau mushaf resmi Usmani di bawah pengawasan Khalifah
  Usman serta adanya upaya sistematisasi konsep sunah dan pembakuan ushul fiqh
  oleh Imam Syafi`i kepada standar tertentu. Pada era itu, ranah-ranah yang
  tadinya thinkable berubah menjadi unthinkable.
  >
  > Konsekuensi logis dari "pergeseran" ini ialah terjadinya proses
  "penjarakan" antara Alquran dengan realitas. Akibatnya, Alquran menjadi
  macan ompong yang gagap merespon tantangan modernitas dengan pelbagai
  persoalan yang ditimbulkannya. Alquran hanya diperas dalam tumpukan
  literatur tafsir yang cuma bisa menjelaskan dunia, tapi tak mampu
  mengubahnya. Alquran tidak lebih dari "warisan antik" dari abad VII M yang
  sesekali dikenang, dilombakan, dilantunkan dan diperingati dalam
  seremoni-seremoni. Alquran sudah beranjak jauh dari tujuannya semula sebagai
  "kitab pencerahan" (kitab munir). Dan tragisnya -kata Arkoun lagi-, daerah
  "yang tak terpikirkan" itu terus saja melebar.
  >
  > Mushaf Usmani yang menonjolkan bahasa Quraisy dan bercirikan mono-bacaan
  (Qira`at Hafish an Ashim) pada gilirannya menyimpan cacat tersendiri, yaitu
  hilangnya kemungkinan menafsir atau membaca Alquran dari pelbagai optik;
  projek penafsiran Alquran tidak diperkenankan keluar dari koridor mushaf
  Usmani. Oleh karenanya, kitab-kitab tafsir yang tersebar di dunia Islam
  secara massif diproduksi dengan merujuk mushaf Usmani sebagai patokan.
  Situasi ini semakin pelik manakala Syafi`i membuat rumusan sistem hukum
  Islam kepada Alquran, sunah, ijmak dan qiyas. Untuk menentukan sebuah makna
  atau hukum dalam Alquran, seseorang harus melewati prosedur ini secara
  hierarkis. Ketika Alquran tidak memberikan informasi, sunah menjadi rujukan,
  berikutnya ijmak, qiyas dan seterusnya.
  >
  > Bersandar pada mushaf Usmani dan kaidah konvensional yang dibuat Syafi`i
  dalam kegiatan penafsiran merupakan prosedur legal-konvensional yang secara
  hampir sepakat diyakini umat Islam. Kemungkinan pendekatan atau mekanisme
  lain di luar prosedur legal dipandang sebagai bid`ah dan harus ditolak.
  >
  > Di sinilah titik kegelisahan Arkoun, dengan konsepnya tentang "yang tak
  terpikirkan", ia hendak mencairkan kebekuan prosedur legal-konvensional ini.
  Dengan konsepnya tersebut, Arkoun hendak melegalkan pendekatan lain dalam
  pembacaan Alquran seperti antropologi, sosiologi, psikologi, hermeneutika,
  semiotika dan disiplin keilmuan lainnya yang dulu belum pernah ada atau
  digunakan di era skolastik Islam. Untuk sekedar turut berpartisipasi
  mempersempit area unthinkable ini, saya mencoba menawarkan sebuah pendekatan
  baru yang sangat berbau modern, yaitu membaca Alquran sebagai mitos.
  >
  > Sebelum Alquran dikenai sebuah pendekatan, menentukan kedudukan Alquran
  secara ontologis merupakan suatu hal yang sangat perlu. Apa itu Alquran? Ini
  adalah pertanyaan ontologis yang sempat diajukan oleh Arkoun dan Abu Zayd
  sebelum melangkah lebih jauh pada penerapan sebuah metodologi pembacaan
  Alquran baru yang hendak diusungnya. Bagi saya, Alquran adalah mitos. Apa
  yang saya maksud dengan "mitos" di sini bukanlah cerita tentang kehidupan
  dewa-dewi yang abstrak, irasional dan penuh hayal, melainkan mitos dalam
  arti Barthesian, yakni sebuah tipe wacana atau tuturan. Bagi Barthes, Myth
  is a social usage of language. (Barthes: 1983). Dalam konsepsi Barthesian,
  wacana (discourse) adalah tipe penggunaan bahasa yang bisa mengambil bentuk
  lisan (parole) maupun tulisan (langue). Jadi, Alquran dalam bentuknya yang
  oral maupun tekstual (mushaf) sama-sama merupakan mitos.
  >
  > Mitos adalah sebuah wacana khas yang hendak menyampaikan pesan secara tak
  langsung. Atau dalam bahasa semiotisnya, menyampaikan makna konotatif sebuah
  tanda melalui unsur denotatifnya. Apa yang diacu atau signifikan dalam mitos
  adalah segi konotatifnya. Sedang unsur denotatifnya hanyalah tanda perantara
  sekunder yang berfungsi sebagai jembatan untuk mengantar kepada makna
  konotatif. Sebagai mitos, literalisme Alquran (baik dalam bentuk parole atau
  langue) yang biasa dibaca, dilantunkan dan dijadikan dalil oleh umat Islam
  pada umumnya, tidak lebih merupakan "pembungkus" semata dari pesan Tuhan
  yang sesungguhnya. Dus, pesan universal Alquran tidaklah terletak pada makna
  literalnya, tapi makna yang bersemayam di balik yang literal itu.
  >
  > Dalam konteks Alquran sebagai mitos, saya berpendapat bahwa makna
  denotatif Alquran (baca: ayat muamalah) adalah bersifat lokal-temporal yang
  cuma diperuntukkan bagi masyarakat di mana Alquran turun. Sedang unsur yang
  universal dan relevan untuk semua tempat dan jaman ada pada makna
  konotatifnya. Sebagai misal, perintah jilbab dalam Alquran sebagaimana
  diisyaratkan oleh makna denotatifnya, tidaklah berarti bahwa seluruh umat
  Islam wajib memakai jilbab, tapi makna konotatif dari perintah tersebut
  adalah: Pertama, pemakaian busana untuk menutup aurat ditentukan oleh
  standar "kepantasan" budaya masing-masing layaknya jilbab yang menjadi
  standar kepantasan masyarakat Arab waktu itu. Ini makna konotatif yang
  mungkin kita temukan pada lapisan pertama. Kedua, keharusan umat Islam
  "menghormati tradisinya" masing-masing sebagaimana masyarakat Arab memandang
  jilbab sebagai tradisi. Dan ini makna yang bersemayam pada lapisan
  berikutnya. Kedua makna konotatif inilah -untuk sementara waktu- yang
  merepresentasikan universalitas ayat jilbab. Tentu, masih diandaikan adanya
  tumpukan makna yang terendap dan harus terus digali dalam ayat jilbab ini.
  >
  > Bila dicari padananya dalam khazanah keilmuan tafsir, konsep mitos a la
  Barthesian ini analog saja dengan konsep ta`wil yang modus operandi-nya
  menggali makna di balik yang tersurat (bathin). Namun ada benang merah yang
  tetap membedakan antara mitos dengan ta`wil: Pertama, ta`wil umumnya hanya
  beroperasi pada ayat-ayat yang teridentifikasi sebagai mutasyabihat.
  Sementara mitos beroperasi pada semua yang disebut "tanda" (sign), termasuk
  kategori muhkamat atau mutasyabihat dalam Alquran. Kedua, dalam dunia
  penafsiran, ta`wil lebih akrab digunakan oleh kaum sufi. Memang, ta`wil di
  tangan kaum sufi diaplikasikan sepenuhnya pada ayat yang muhkamat maupun
  mutsyabihat. Hanya saja makna bathin yang diacu kerap kali berhenti pada
  lapisan pertama. Sedangkan mitos tidak berhenti pada makna di lapisan
  pertama, tapi mengungkap terus kemungkinan makna terdalam yang mengendap
  dalam lapisan geologis tanda; dalam hal ini ialah mengungkap makna yang
  paling dalam dari Alquran.
  >
  > Semua ayat, baik yang bernuansa hukum, teologis, eskatologis, kosmologis
  maupun yang berkategori makiyah-madaniyah, muhkam-mutasyabih,
  muthlaq-muqayyad, nasikh-mansukh dan seterusnya masih diandaikan menyimpan
  setumpuk makna menurut konsepsi mitos. Di sinilah, saya kira, kelebihan dan
  efektivitas pendekatan teori mitos pada pembacaan Alquran. Dengan mitos,
  pintu pluralisme penafsiran akan terus terbuka lebar dan tidak terjadi lagi
  "restriksi makna" dalam kalimatullah yang konon tidak akan pernah habis
  ditulis dengan tujuh lautan tinta sekalipun.[]
  >
  >
  > Rony Subayu, adalah Direktur The Qoweng Institute Jakarta
  >
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >
  >
  >
  >
  >
  ***************************************************************************
  > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
  yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  >
  ***************************************************************************
  > __________________________________________________________________________
  > Mohon Perhatian:
  >
  > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
  >
  > Yahoo! Groups Links
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >




  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




------------------------------------------------------------------------------
  Yahoo! Groups Links

    a.. To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
      
    b.. To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]
      
    c.. Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 



[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give underprivileged students the materials they need to learn. 
Bring education to life by funding a specific classroom project.
http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke