SOLIDARITAS ISLAM UNTUK NIAS > > > Senin 28/3 pukul 23.09 WIB Pulau Nias diguncang gempa hebat berkekuatan 8,7 > skala Richter. Meski belum sedahsyat gempa dan tsunami yang melanda Aceh, > gempa Nias ini sudah termasuk sangat dahsyat. Hampir semua bangunan di Nias > runtuh atau rusak berat. Ditaksir 2000 orang telah tewas, sementara ribuan > orang masih terjebak di bawah reruntuhan. Diperlukan alat berat untuk > menolong mereka. Sayang, pengiriman bantuan sangat sulit karena pelabuhan > dan lapangan terbang juga rusak berat. > > Presiden SBY telah menetapkan bencana ini sebagai bencana daerah, karena > pemerintah provinsi Sumatera Utara masih dianggap mampu menangani dampak > bencana ini dengan dukungan Pusat. Ini berbeda dengan di Aceh tempo hari > yang ditetapkan sebagai bencana nasional, karena pemerintah di sana hingga > tingkat provinsi benar-benar lumpuh sehingga pada masa darurat semua harus > ditangani Pusat. > > Pada gempa di Nias ini, korban berjatuhan adalah dari kalangan kaum Muslim > maupun non-Muslim. Nias sendiri selama ini dikenal sebagai daerah yang > mayoritas penduduknya non-Muslim. Namun demikian, Islam tetap memerintahkan > agar kita mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan (q�mah ins�nniyah) dengan > memberikan bantuan dan meringankan derita penduduk Nias. > > NILAI-NILAI > > Manusia beraktivitas dengan tujuan meraih nilai-nilai kepuasan (q�mah) > tertentu. Ada empat q�mah yang menonjol, yaitu: (1) q�mah r�hiyyah (nilai > spiritual); (2) q�mah madiyyah (nilai material); (3) q�mah akhlaqiyah (nilai > moral); dan q�mah ins�niyyah (nilai kemanusiaan). > > Nilai spiritual tampak, misalnya, dalam ibadah ritual, dakwah, atau jihad. > Nilai material tampak dalam berbagai bentuk muamalat. Nilai moral tampak > dalam sikap manusia menghadapi sesuatu, termasuk juga sikap sayang kepada > binatang. Adapun nilai kemanusiaan tampak dalam pemberian pertolongan tanpa > pamrih kepada manusia lain-tanpa memandang bangsa, ras/warna kulit, tanah > air, agama, dll-yang memerlukan. Semua nilai (q�mah) ini diakui dalam Islam. > Islam juga memberikan petunjuk bagaimana mendapatkan nilai-nilai itu tanpa > bertabrakan satu sama lain. > > Islam memerintahkan kita untuk mewujudkan q�mah ins�niyyah (nilai > kemanusiaan) dalam setiap interaksi kita dengan manusia lain. Setiap Muslim > diperintahkan berbuat baik kepada manusia lain dan membantu manusia lain > yang mengalami musibah, tanpa memandang suku, ras, warna kulit, atau > agamanya. > Perlakuan yang baik terhadap manusia lain, sekalipun berbeda agama, juga > dikuatkan dalam firman-Nya: > > " Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang > selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil, dan > janganlah sekali-kali kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian > untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah kalian, karena adil itu lebih > dekat pada takwa, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Mahatahu > atas apa saja yang kalian kerjakan." (QS al-Maidah [5]: 8). > > Bahkan dalam peperangan sekalipun, Islam menunjukkan kemuliaan ajarannya, > dengan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Misalnya, saat kaum Kafir > Quraisy kalah dalam Perang Badar, kaum Muslim telah dengan tulus memakamkan > kaum Kafir yang terbunuh, sebagaimana mereka memakamkan kaum Muslim. > Sementara yang terluka diberi perawatan dan pengobatan, sebagaimana mereka > merawat dan mengobati tentara kaum Muslim yang terluka (Syet Mahmud > Khatthab, ar-Ras�l al-Q�'id, hal. 110). Subhana-Llah. Inilah nilai > kemanusiaan yang luar biasa, yang diajarkan oleh Islam kepada ummatnya. > > Jika individu saja diperintahkan demikian, apalagi negara yang harus > menanggulangi bencana, maka siapapun korbannya, selama masih rakyatnya, > negara tidak boleh melakukan diskriminasi (perlakuan yang berbeda) dalam hal > melayani warganya. > > Rasulullah saw. pun telah memberikan contoh bagaimana Daulah Islamiyah > (Negara Islam) di bawah kepemimpinan beliau memberikan perlindungan yang > sama, baik kepada Muslim maupun non-Muslim. Standar perlakuan yang sama dari > negara ini justru telah menjadi media dakwah yang sangat efektif sehingga > banyak orang berduyun-duyun masuk Islam dengan sukarela. > > Pada waktu Umar bin al-Khaththab menjadi khalifah, beliau mendapatkan > seorang musyrik tua yang mengemis karena kemiskinannya. Beliau lalu berkata, > "Celakalah kita. Kita telah menarik jizyah darinya sewaktu muda. Lalu apakah > kita akan menelantarkannya ketika tua?" > > Umar lalu memerintahkan bawahannya agar memberikan santunan dari Baitul Mal > secara teratur kepada orang tersebut dan membebaskannya dari membayar > jizyah. > > MEWASPADAI PROVOKASI ASING > > Deklarasi Pemerintah bahwa bencana di Nias adalah bencana daerah, bukan > bencana nasional, meski didasari oleh prosedur manajemen bencana yang baku, > tak urung telah membawa beberapa dampak negatif seperti: > > 1. Perhatian nasional, termasuk dari ormas-ormas Islam, menjadi tidak > sebesar seperti ketika bencana nasional di Aceh. Akibatnya, pengalangan > bantuan ke Nias tidak segencar ke Aceh. > > 2. Muncul gejala atau provokasi yang ditiupkan berbagai pihak, bahwa > Pemerintah tidak adil dan diskriminatif, konon karena faktor agama mayoritas > penduduk Nias (Kristen) yang berbeda dengan agama mayoritas penduduk > Indonesia (Islam). > > 3. Perasaan diperlakukan tidak adil ini berakibat pada sikap penduduk Nias > yang lebih berharap pada bantuan asing. Faktanya, beberapa relawan asing > sudah sampai di Nias dan di sana mereka lebih mudah bergerak karena tidak > ada kendala keamanan (Di Nias tidak gerakan seperti GAM di Aceh). > > Kita perlu mewaspadai provokasi asing ini dengan belajar dari sejarah > kemauan bangsa-bangsa penjajah dalam memanfaatkan situasi sulit di > negeri-negeri Muslim. Kita perlu belajar dari kejadian di Darfour (Sudan) > dan di Timor Timur, atau di wilayah-wilayah Khilafah Utsmani menjelang > keruntuhannya dulu. > Kaum penjajah tidak segan-segan menggunakan segala cara dan situasi untuk > menelikung negeri dan umat Muslim. Kalau ketidakadilan itu menimpa > orang-orang non muslim, penjajah akan menggunakan orang-orang non muslim > untuk memisahkan diri dari negara Islam. Jika yang merasa terzalimi itu suku > tertentu-meskipun sama-sama Muslim (sebagaimana dulu dirasakan oleh > suku-suku Arab atas pemerintah Khilafah Islamiyah yang dipegang etnis > Turki)-maka suku-suku Arab ini digunakan oleh penjajah untuk memberontak > terhadap Khilafah Islamiyah. > > MENCEGAH ANCAMAN DISINTEGRASI > > Umat Islam dan Pemerintah seharusnya berusaha sekuat tenaga mencegah potensi > pemisahan diri > (disintegrasi) ini dengan memberikan perhatian yang cukup atas bencana di > Nias; juga atas bencana-bencana lain yang menimpa negeri ini. Kita tidak > perlu menunggu suatu peristiwa alam yang getarannya tercatat hingga Jepang > atau Amerika, atau bencana sosial yang diliput oleh media massa global. > > Pemerintah seharusnya justru proaktif memantau; sudahkah seluruh warganya > terlindungi baik jiwa, harta, maupun kehormatannya? Jika perlu, para pejabat > negeri ini melakukan inspeksi mendadak (sidak) secara rahasia, sebagaimana > yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khaththab setiap malam. Mereka jangan > hanya percaya pada laporan manis dari bawahannya. > > Sikap semacam ini akan lebih mudah diwujudkan tatkala pengurusan rakyat dan > negara ini ada dalam kerangka syariat Islam. Dalam kerangka syariat ini, > setiap pejabat tidak akan berorientasi untuk mengembalikan "modal politik" > yang telah dikeluarkannya selama Pemilu. Dalam kerangka syariat pula, setiap > pejabat akan menyadari, bahwa kekuasaan hanyalah amanah, dan saat dia > menjabat itulah saat yang tepat untuk berinvestasi demi kehidupan akhirat, > yaitu dengan berbuat maksimal agar tidak ada lagi kezaliman di tengah-tengah > rakyatnya. > > Karena itu, dalam konteks dakwah, apa yang terjadi di Nias ini seharusnya > justru dijadikan peluang untuk menunjukkan bahwa umat Muslim-karena > syariatnya-peduli pada korban bencana Nias, sekalipun berbeda agamanya. > Insya Allah, suatu saat nanti, atas izin Allah, justru mereka yang akan > meminta agar syariat Islam diterapkan atas mereka. > > KESIMPULAN > > Karena itu, kami menyerukan agar umat Islam dan penguasa negeri ini tergerak > dan cepat tanggap untuk membantu meringankan derita korban Nias. Dengan amal > ini, kita berarti telah mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan (q�mah > insaniyyah), sekaligus melakukan dakwah syariat yang efektif, dan mencegah > risiko provokasi yang bisa mengarah pada pemisahan diri (disintegrasi). > Allah SWT berfirman: > > "Tolong-menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa dan jangan > tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS al-Maidah [5]: 2). > > Berkenaan dengan ayat di atas, di dalam tafsirnya Imam al-Qurthubi, dengan > mengutip al-Mawardi, menyatakan bahwa Allah SWT telah memerintahkan kaum > Muslim untuk tolong-menolong dalam kebajikan, dan Dia mengaitkannya dengan > ketakwaan kepada-Nya, karena di dalam ketakwaan terkandung keridhaan Allah > dan di dalam kebajikan terdapat keridhaan manusia; siapa saja yang > menggabungkan keridhaan Allah dan keridhaan manusia, sempurnalah kebahagiaan > dan nikmatnya. (Al-Qurthubi, Tafs�r al-Qurthub�, 6/47. Kairo: Dar as-Sya'b, > 1372). > > Itulah yang diajarkan Islam. Karena itu, marilah kita segera mewujudkan > tradisi tolong-menolong dalam kebajikan (kepada sesama manusia) dan > ketakwaan (kepada Allah SWT > > (Buletin Al-Islam Edisi 249)
[Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Give the gift of life to a sick child. Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.' http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

