Ya, hal-hal semacam ini yang tidak bisa dipahami oleh kita-kita yang besar dalam budaya timur dan konteks kultur agama yang kuat.
Mbak Carla Annemarie yang pernah di LN mungkin bisa memberi pandangan kritis yang lebih sistematis tentang hal ini. Kalo bisa jawaban yang cukup panjang dan bisa mengupas lebih dalam secara budaya. Dan bukan jawaban singkat semata dari sisi anda secara personal. Kalau bisa, dan ada teman lain yang concern dan bisa menambah banyak, diskusi ini bisa lebih fruitful. salam, Ari Condro ----- Original Message ----- From: "Samsul Bachri" <[EMAIL PROTECTED]> anehnya lagi.....meski mengaku banyak dieksploitasi dan merasa dilecehkan masih saja banyak wanita yang memperebutkan posisi untuk dilecehkan. masih saja memakai baju yang super ketat nan seksi untuk memperlihatkan sensualitasnya yang ujung2nya akan melecehkan dirinya sendiri.........paradoks ga sih.........? ----- Original Message ----- From: "Eko Bambang Subiyantoro" <[EMAIL PROTECTED]> > > http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=artikel%7C-35%7CX > Jumat, 15 April 2005 > "Suara Perempuan" > > > Oleh Cicilia Maharani > > > Akhir-akhir ini saya merasa dekat sekali dengan suara perempuan. Begini awalnya. Pada suatu pagi saya ingin menabung maka pergilah saya ke sebuah bank swasta. Sampai disana, saya disambut oleh mesin tempat mengambil nomor antrian. Sayapun duduk menunggu antrian dengan tertib sambil menyibukkan diri dengan membaca dan sesekali menonton televisi yang dipampang di salah satu sudut. > > Saya �terbangun� ketika ada mesin bersuara perempuan menyebutkan nomor antrian saya, � Nomor antrian 5, silahkan ke counter 6 .� Sayapun melangkahkan kaki menuju counter tersebut dan menyelesaikan urusan. > > Setelah itu saya pergi ke kantor telepon untuk membayar tagihan bulanan. Sama prosedur antriannya, saya sedang membaca buku ketika saya kembali �dibangunkan� oleh mesin bersuara perempuan yang membawa kaki saya ke counter yang dimaksud. > > Setelah bayaran selesai, saya teringat bahwa saya harus menelpon kakak saya, Edo, untuk meminjam camera digital-nya. Saya tekan nomor hp Edo : 08121 134 sekian sekian. Bukan suara kakak laki-laki saya yang menjawab, melainkan suara perempuan lagi, kali ini bernama Veronica. Baru juga pukul 10.00 pagi dan saya sudah disapa ramah oleh suara �mesin berjenis kelamin perempuan� sebanyak tiga kali. > > Lalu saya pergi ngantor. Sampai di kantor, saya harus menelpon banyak rekan untuk datang ke acara saya. Sayapun sibuk mencari nomor telepon rekan-rekan saya itu. Pertama-tama saya ingin menelpon kolega yang bekerja di majalah ternama. Begitu tersambung, saya disambut sekali lagi oleh mesin otomatis bersuara perempuan, �Terima kasih Anda telah menghubungi majalah A, untuk bagian redaksi tekan 1, untuk bagian iklan tekan 2, untuk bagian promosi tekan 3, seterusnya dan seterusnya��. Hmmm, ini baru satu kantor, bagaimana dengan kantor-kantor yang lain?. Ada berapa ribu kantor? Ada berapa �mesin berjenis kelamin perempuan� ? Dan sayapun mencoba menikmati suara-suara perempuan yang terus menerus tak terbendung masuk ke telinga saya. > > Setelah seharian berkutat dengan telepon dan bekerja di depan komputer, saya ingin bersantai-santai dulu. Saya ingin melarikan diri dari suara perempuan yang sepanjang hari ini memenuhi kepala. Cukup, sampai disini dulu kedekatan saya dengan suara perempuan. Refreshing ah. Saya ingin keluar dari realitas sebentar dengan menonton film di bioskop. > > Setelah membeli tiket, saya memilih camikan yang asyik. Pop corn, coklat atau tahu isi ya enaknya? Atau hot dog? Sepertinya lemak gurih didalamnya menggoda sekali, yummy. Saya sedang asyik melahap hot dog ketika ada suara pengumuman, �Pintu teater satu telah dibuka�. Saya tersedak! Suara perempuan lagi? Ya ampun�. > > Ternyata tidak hanya secara fisik perempuan lebih sering hadir untuk urusan depan, alias perkenalan yang perlu bermanis-manis, � Selamat datang Pak, Bu, bisa saya bantu�, tetapi perempuan juga telah sampai ke mesin-mesin yang memerlukan suaranya untuk sekedar ramah tamah. Sentuhan sapaan itu seakan-akan dapat lebih menyenangkan hati pendengarnya jika suara itu datang dari yang namanya perempuan. > > Saya tidak akan meneruskan ini menjadi sebuah persoalan seperti kenapa suara perempuan yang dipajang adalah suara yang penuh sapaan, penuh ramah tamah saja, bukan suara yang kita ingin keluarkan karena merasakan ketidakadilan. Kenapa yang digaungkan bukan suara perempuan pingiran yang banyak didera kekerasan? > > Di tengah pertempuran di kepala itu muncul ide saya. Saya membayangkan apa yang terjadi bila suara perempuan itu diganti oleh suara laki-laki? Akan tidak ramahkan? Akan larikah orang-orang yang mendengarnya? Akan tidak merdu mendayu-dayukah? Apa sih yang membuat perempuan sangat penting sehingga diciptakan mesin berjenis kelamin perempuan? > > Jawabannya mungkin banyak dan bervariasi, namun ada satu hal yang pasti, yaitu keinginan yang terus menerus untuk �menjual� perempuan. Di berbagai iklan, perempuan sudah begitu banyak dieksploitasi, di penulisan-penulisan berita, terutama berita kriminal seperti perkosaan, perempuan ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. > > Ringkasnya, dalam masyarakat patriarkhis, setiap inci dari tubuh perempuan merupakan barang komoditi. Begitu pula dengan suara perempuan, ia menjadi komoditas yang sengaja di konstruksi untuk diperdengarkan, digaungkan, setelah sebelumnya dipoles dengan ramah tamah. Identifikasi suara perempuan ini tidak terlepas pula dari konstruksi budaya yang mengidentikan perempuan dengan kelembutan. Dalam konteks ini maka, intelektualitas dan kemampuan perempuan menjadi tidak penting, karena perempuan selalu dinilai dari penampilan fisik. Tapi, itulah masyarakat patriarkhi yang selalu menjadikan tubuh perempuan sebagai obyek eksploitasi. > > > Cicilia Maharani penulis lepas, tinggal Jakarta > > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today! http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

