http://www.indomedia.com/bpost/042005/20/opini/opini1.htm
Rabu, 20 April 2005 01:59


Hutan Rusak, Kalimantan Banjir
Oleh: Edi Suryanto

Kalimantan merupakan pulau terbesar kelima di dunia yang di dalamnya terdapat 
beraneka ragam sumberdaya alam yang menggiurkan, salah satunya adalah hutan. 
Indonesia sebagai negara berkembang, selama ini menitikberatkan pendapatan 
devisa negara di antaranya melalui sektor kehutanan. Karena itulah hutan di 
Kalimantan dieksploitasi besar-besaran tanpa memikirkan aspek kelestarian dan 
kestabilan lingkungan di masa depan.

Pada era 1990-an berbagai perusahaan kayu bermunculan, baik berskala besar 
maupun kecil sehingga seiring dengan itu pula kebutuhan kayu semakin meningkat 
baik dalam negeri maupun ekspor. Hal ini membuat perdagangan kayu semakin mudah 
dan mendukung semakin maraknya kegiatan penebangan liar, karena banyak 
masyarakat yang turut andil atau beralih profesi menjadi pengusaha kayu dadakan.

Kerusakan hutan di Kalimantan sangat memprihatinkan dikarenakan beberapa 
faktor. Di antaranya: 1. Kebijakan pemerintah di masa lalu yang kurang 
mengedepankan aspek lingkungan, sehingga eksploitasi hutan dilakukan secara 
besar-besaran seperti halnya PLG di Kalteng. 2. Maraknya kegiatan illegal 
logging karena ditunjang mudahnya perdagangan kayu. 3. Penegakan hukum bagi 
perusak lingkungan belum optimal. 4. Kebakaran hutan yang terjadi di setiap 
tahun. 5. Kegiatan perambahan hutan. 6. Kegiatan reboisasi dan rehabilitasi 
lahan masih belum optimal, bahkan banyak yang gagal karena tidak disertai 
kegiatan pemeliharaan yang memadai. 7. Kualitas sumberdaya manusia dan tingkat 
kesadaran masyarakat dalam melestarikan hutan masih sangat rendah. 8. Kegiatan 
pertambangan di areal hutan yang kurang memperhatikan reklamasi. 9. 
Pengkonversian hutan menjadi lahan pertanian terutama perladangan berpindah, 
mengakibatkan lahan terbuka dan dipenuhi alang-alang sehingga terjadi erosi dan 
lahan menjadi tandus.

Begitu kompleksnya faktor perusak hutan, maka kawasan hutan di Kalimantan 
semakin menyempit mengakibatkan lahan kritis semakin luas. Di Kalsel saja, luas 
lahan kritis sekitar 560.283 hektare. Laju degradasi hutan ini akan terus 
bertambah selama kebakaran hutan dan pembukaan lahan hutan terutama di 
Pegunungan Meratus, masih terus terjadi.

Semakin luasnya lahan kritis dan hutan yang rusak mengakibatkan alam tidak 
stabil. Di antaranya salah satu fungsi hutan sebagai pengatur tataair menjadi 
terganggu dan tidak dapat berfungsi secara optimal, seperti halnya yang terjadi 
dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Di beberapa daerah di Kalimantan 
mengalami kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim penghujan. Bahkan 
pada 2005 ini banjir yang terjadi di berbagai daerah di Kalimantan sangat parah 
seperti di Pontianak, Balikpapan, Amuntai, Barabai, Tabalong, Tumbang Nusa, 
Barito Utara dan beberapa daerah lainnya.

Banjir di Kabupaten Tabalong merupakan terbesar selama 15 tahun terakhir. Di 
Kabupaten Barito Utara merupakan yang terbesar dalam kurun waktu 10 tahun 
terakhir, sedangkan di Tumbang Nusa banjir terjadi setiap tahun dan memutus 
Trans Kalimantan. Banjir yang selama ini terjadi tidak dapat dikatakan sebagai 
bencana alam, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai hukuman alam terhadap 
arogansi manusia yang merusaknya.

Justru dengan memandang banjir sebagai bencana alam kita tidak akan sadar dan 
hanya pasrah menghadapinya, tanpa ada keseriusan untuk menanggulangi agar tidak 
terjadi lagi di masa mendatang karena memang dianggap di luar kuasa manusia. 
Oleh karena itu pula banjir terus terjadi setiap tahun dan semakin parah. 
Padahal kenyataanya banjir masih dapat dicegah dan ditanggulangi, namun 
memerlukan keseriusan dan keistiqamahan dalam menjalankannya.

Banjir yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya: a. Semakin 
menyempitnya hutan sebagai dampak dari maraknya kegiatan penebangan liar, 
kebakaran, perambahan dan pengrusakan lainnya yang secara otomatis menurunkan 
sistem tataair di alam semesta. b. Semakin kritis lahan di daerah pegunungan 
sehingga air hujan yang jatuh tidak dapat dibendung dan langsung turun ke 
daerah yang lebih rendah atau lembah. c. Pendangkalan saluran air dan daerah 
resapan lainnya sebagai akibat dari begitu besar tingkat erosi yang terjadi, 
sehingga volume air yang datang melebihi kapasitas tampung daerah resapan yang 
ada. d. Kegiatan pembangunan yang kurang ramah lingkungan, mengakibatkan 
hilangnya daerah resapan dan menurunkan kualitas air. e. Topografi yang rendah 
dan membentuk cekungan dan terletak dekat dengan sungai, menjadikan suatu 
daerah rawan terhadap banjir karena luapan air sungai.

Sudah begitu jelas kita lihat dan rasakan, betapa besar kerugian yang dialami 
akibat dari rusaknya hutan dan apabila dibandingkan dengan hasil yang didapat 
belum tentu sesuai. Seperti banjir yang terjadi di beberapa daerah di 
Kalimantan, apabila diakumulasikan dengan uang, lebih dari miliaran rupiah 
kerugian yang kita alami. Itu pun jika tidak ada korban jiwa. Belum lagi dampak 
lain dari kerusakan hutan seperti kabut asap, kekeringan, perubahan iklim, 
meningkatnya gas rumah kaca, gangguan kesehatan dan alam menjadi tidak stabil. 
Seluruhnya merupakan kerugian yang tidak dapat dinilai dengan uang.

Upaya penanggulangan banjir tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, namun 
banyak tahap dan faktor yang harus dibenahi. Di antaranya: 1. Menyukseskan 
kegiatan reboisasi dan rehabilitasi lahan. Kegiatan rehabilitasi lahan tidak 
akan berhasil tanpa peran serta seluruh lapisan masyarakat, baik dalam 
penanaman maupun pemeliharaan serta pencegahan kebakarannya. 2. Mengurangi atau 
bahkan menghentikan kegiatan pembukaan lahan hutan, serta lebih bijaksana dan 
ramah lingkungan dalam hal pembangunan. 3. Mereklamasi areal bekas tambang 
secara tertib dan konsisten. 4. Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen 
bagi perusak lingkungan hidup. 5. Membenahi saluran air baik parit maupun 
sungai besar serta daerah resapan air lainnya.

Apabila dengan sabar dan istiqamah dalam memperbaiki kondisi lingkungan, 
insyaallah banjir akan tertanggulangi di masa mendatang. Memang segala sesuatu 
yang kita perbuat belum tentu bahkan jarang yang dampaknya langsung kita 
rasakan. Seperti merusak hutan, tidak serta merta langsung dirasakan dampaknya 
saat itu juga melainkan beberapa tahun kemudian. Begitu pula dalam 
memperbaikinya tidak dapat dilakukan secara cepat.

Untuk itu teruslah berusaha mencegah banjir, meskipun masih tetap terjadi 
setiap tahun. Semoga bangsa kita menjadi bangsa yang bermartabat, sejahtera dan 
berkeadilan.

Teknisi Litkayasa PSDA pada Balai Litbang HTI
Bagian Timur, tinggal di Banjarbaru

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child.  Support St. Jude Children's Research Hospital's
'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/mGEjbB/5WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke