Oh kalau itu, karena berita macem begini nggak ada 'nilai berita'-nya kalah dengan berita tentang korupsi, atau politik ya nggak? AS
On 4/20/05, meg4pro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Maksud saya, kenapa temen2 jurnalis lainnya gak ada yg meliput dan > memberitakan peristiwa tersebut..?. Apakah gak ada nilai beritanya. > Atau.... ada sesuatu dibalik sesuatu..?. > > ATau ada yg sudah dapat link-nya..? > > salam. > > ----- Original Message ----- > From: Nur Rochman > To: [email protected] > Sent: Wednesday, April 20, 2005 1:16 PM > Subject: RE: [ppiindia] Re: Melawan "Setan JIL" di Sarangnya > > Sepertinya tulisan dibawah ini nggak banyak diberitakan karena memang > tidak > ada unsur beritanya atau kalaupun diberitakan pasti akan timpang > sesuai > dengan siapa yang memberitakan. > > Seperti tulisan ini, kita pasti semua tahulah siapa yang nulis dan > tujuannya > apa??? jadi apa mau seperti ini ditulis dikoran, pasti paling hanya > majalah > sabili yang mau beritakan....... > > Bagi saya sich, dengan mengirimkan email ini saja sipengirim itu sudah > melakukan provokasi dan penghasutan yang tidak fair karena mereka > mengirim > berita yang belum diklarifikasi oleh yang diberitakan terutama dari > pihak > JIL dan UIN Ciputat. > > Best regards, > > Oman > > Biasanya seseorang ribut itu karena eksistensinya terganggu dan > menurut saya > sekarang ini banyak yang sudah mulai jarang dipanggil oleh UIN untuk > mengisi > kuliah umum atau pengajian karena orang-orang UIN lebih interest > mengembangkan pemikiran Islam Liberal, sehingga orang dengan > mainstream > diluar itu mulai tersingkir ya akhirnya kasak kusuk dech........ > Biasa kalau sudah nggak laku ya begitu nich..... > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] > Behalf Of meg4pro > Sent: Wednesday, April 20, 2005 1:08 PM > To: [email protected] > Subject: [ppiindia] Re: Melawan "Setan JIL" di Sarangnya > > Yup setuju. > Kayaknya yg nulis mungkin memang bukan seorang jurnalis. > Tapi lumayan..., jadi dapat info mengenai apa yang terjadi di sana. > Maklum, kayaknya beritanya gak ada diberitain sama temen2 jurnalis > sejati. Halo jurnalis sejati..?. Atau ada yang punya link lainnya..?. > > Tapi kalau anda bilang Di tangan orang-orang seperti inilah Islam > justru akan balik ke kubangan kegelapan....., apakah berarti ditangan > orang2 JIL & partners Islam akan kembali menemui kejayaannya..?. > Kayaknya enggak juga. Jadi di tangan siapa ya..?. Kita tunggu aja > nanti ya. Sabar. > > salam. > > --- In [email protected], ". Pradana Boy Ztf" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > Di samping tidak memahami prinsip Islam tentang perbedaan pendapat, > > penulis laporan ini sama sekali tidak memahami kaidah-kaidah > jurnalistik. > > Tulisan ini sungguh disgusting... > > > > Islam tidak mengenal kebenaran tunggal. Sepertinya Hartono Ahmad > Jaiz > > sudah menjadi malaikat dan sebentar lagi menjadi tuhan, sehingga > dia bisa > > menjudge seseorang/sekelompok orang telah murtad... Di tangan orang- > orang > > seperti inilah Islam justru akan balik ke kubangan kegelapan... > > > > > > > > http://swaramuslim.net/EBOOK/more.php?id=1293_0_11_0_M > > > > > > Melawan "Setan JIL" di Sarangnya > > > Oleh : Erros Jafar 20 Apr, 05 - 7:21 am > > > > > > Pengantar Redaksi: > > > Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara > > > bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang > > > dibedah berjudul "Ada Pemurtadan di IAIN" karya > > > Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah > > > anak-anak JIL. > > > > > > Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya > > > audiens yang menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu > > > lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa yang > > > banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka > > > yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu > > > membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL) > > > menjadi ciut. > > > > > > Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak > > > memberi kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam > > > tanya jawab. Meski demikian, kedua 'pakar' JIL > > > kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad > > > At-Tamimi. > > > > > > Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang > > > tak terduga itu, nampaknya menunjukkan bahwa generasi > > > muda Islam kita memang masih banyak yang waras. Kedua, > > > menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di > > > internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut > > > mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata > > > cukup efektif. Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah > > > SWT. > > > > > > Sayangnya, ketika 'cendekiawan dan misionaris JIL' ini > > > keok -bahkan di sarangnya sendiri- tidak ada satu pun > > > media massa yang mempublikasikannya. Oleh karena itu, > > > merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporan > > > pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu > > > Qori. > > > > > > Mau Menyanggah Malah Kejeblos > > > > > > Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada > > > Pemurtadan di IAIN, tetapi yang terjadi justru > > > sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah terperosok > > > ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum > > > bedah buku yang semula diharapkan dapat 'membantai' > > > Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi ajang pembuktian > > > bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah > > > yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara > > > tidak langsung malah meneguhkan adanya proses > > > pemurtadan di IAIN. > > > > > > Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu > > > berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam > > > Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16 > > > April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi'ul Awwal > > > 1426 Hijriah. > > > > > > Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata > > > dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar justru > > > berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatan > > > yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan > > > Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens, > > > dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3. > > > > > > Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan > > > adanya pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz > > > (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad At-Tamimi > > > dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara > > > lainnya -yang tampaknya membawa misi untuk menepis > > > adanya pemurtadan di IAIN namun justru > > > hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan > > > metode orang murtad- adalah Ulil Abshar Abdalla > > > kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul > > > Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga > > > termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal > > > Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang > > > telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan > > > dan bertentangan dengan Islam. > > > > > > Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan > > > tepuk tangan bertalu-talu, meski moderator sudah > > > mengingatkan agar tidak bertepuk tangan di dalam > > > masjid. > > > > > > Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith > > > dan Ulil justru menambah bukti bahwa apa-apa yang > > > ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN terbitan > > > Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu, > > > memang benar adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode > > > dua pembicara yang pro IAIN dalam membantah buku itu > > > memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok > > > ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh > > > para ulama. > > > > > > Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang > > > tanpa dasar, lalu sampai berani menolak hadits yang > > > shahih, dan hukum Allah swt dalam Al-Qur'an. Di > > > samping itu masih disertai dengan > > > kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat > > > buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika > > > kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis > > > buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan > > > bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN > > > justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku > > > itu. > > > > > > Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih > > > seram dibanding dengan kenyataan yang ditemukan di > > > lapangan, melalui forum bedah buku tersebut. > > > > > > Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur > > > > > > Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela > > > IAIN ketika bedah buku itu adalah: > > > > > > 1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat > > > buruk kepada penulis buku. > > > > > > > > > 2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham > > > kekufuran, dan justru ditawarkan kepada penulis buku > > > agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim bahwa di > > > IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya > > > dalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang > > > dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang > > > sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun > > > zindiq yaitu Ikhwanus Shofa' dan Ibnu 'Arabi tokoh > > > tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan > > > semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan > > > Tuhan). > > > > > > > > > 3. Melecehkan penulis -yang banyak mengutip > > > ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi- dengan tuduhan > > > terlalu 'memberhalakan' huruf-huruf Al-Qur'an. Tuduhan > > > itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis > > > mengikuti Al-Qur'an, maka pada hari Jum'at ia pun > > > melaksanakan shalat Jum'at; sedangkan Ulil, justru > > > leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas > > > tentang Tuhan di hari Jum'at dari jam 10 hingga 13 dan > > > tidak shalat Jum'at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil > > > mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang > > > memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum'at. > > > > > > > > > 4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang > > > yang melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena > > > penulis tak membolehkan nikah beda agama. Penulis > > > menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal > > > dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita > > > muslimah dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim > > > dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan > > > dengan Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan > > > Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen > > > UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang > > > melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk > > > kepada penulis buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan > > > tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai > > > sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan > > > dalih "menurut saya". > > > > > > > > > 5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq > > > penulis dan isi buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith > > > dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis > > > lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal > > > anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir > > > dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya... > > > (tidak > > > jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka > > > bisa meninggikan maqamnya. Ungkapan itu menjadikan > > > para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan > > > kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk > > > IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu > > > pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana lagi para > > > mahasiswa asuhannya nanti. > > > > > > > > > 6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun > > > dirinya mengakui bahwa hadits itu shohih, hanya karena > > > keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui bahwa > > > dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka > > > Muhammad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila > > > pertama dan Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt > > > telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut > > > tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur. > > > > > > > > > > > > Berbohong atau memutar balikkan > > > > > > Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith > > > mengemukakan bahwa penulis buku ini sampai menulis: Si > > > jompo Sinta Nuriyah. "Penulis ini akhlaqnya masih > > > akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman > > > tentunya tidak menulis seperti itu," kata Muqsith. > > > > > > Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz > > > (penulis), bahwa di buku Ada Pemurtadan di IAIN ini > > > tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada > > > hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah > > > jompo. Lantas, lanjut Hartono, "yang tidak berakhlaq > > > itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?" Dan juga, > > > "orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu > > > akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang > > > yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo > > > dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq > > > dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa." > > > > > > Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah > > > karena sempitnya waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa > > > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro (karangan > > > As-Sya'roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad, > > > aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan > > > depan dan belakang). > > > > > > Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang > > > dosen dan alumni UIN Jakarta itu apakah ingin > > > mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini > > > bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam > > > membela IAIN itu telah menyembunyikan sesuatu. > > > > > > Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka > > > (al-hurroh) dan wanita budak (al-ammah). Aurat wanita > > > merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali mukanya dan > > > kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik, > > > Syafi'i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua > > > riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh tubuh wanita > > > adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya, > > > dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad, > > > (seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya > > > saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I, > > > Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat > > > tentang menutup aurat). > > > > > > Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah > > > antara pusarnya dan lututnya seperti aurat laki-laki. > > > Ini menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan salah satu > > > riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa > > > auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan > > > dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul Kubro itu > > > dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah > > > yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan > > > lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak > > > wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat. > > > (ibid). > > > > > > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu > > > dikutip pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka > > > (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan > > > dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh > > > kecuali muka saja. > > > > > > Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan, > > > bahwa wanita sekarang, pengertiannya ya wanita yang > > > disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya Muqsith > > > Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan > > > bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro, > > > berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan > > > dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan > > > agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah > > > memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang > > > lagi. > > > > > > Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad > > > Jaiz melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena > > > Hartono mengharamkan nikah beda agama. > > > > > > Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu. > > > Dalam buku itu sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah > > > wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non > > > Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim > > > menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan > > > bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan nikah beda > > > agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah > > > dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara > > > spontan dengan mengacungkan Al-Qur'an. > > > > > > Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur'an, tentunya mau > > > mengakui, Ayatnya sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221, > > > dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat > > > Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat, > > > hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti > > > yang telah disebutkan itu) adalah satu bukti justru > > > adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah > > > yang menentang ayat Al-Qur'an itu. > > > > > > Membela kekufuran dengan kekufuran > > > > > > > > > Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan > > > faham kekufuran. Yaitu kilah bahwa IAIN tidak > > > mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran. > > > Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham > > > Ikhwanus Shofa' yang tidak perlu melaksanakan yang > > > fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan bertasbih. > > > > > > Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru > > > faham yang tidak perlu mengerjakan yang > > > fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya > > > kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya > > > dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah > > > dalam Majmu' Al-Fatawa. > > > > > > Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam > > > Al-Qurthubi yang dimulai dengan menukil ulasan > > > gurunya, al-Imam Abu al-'Abbas, mengenai golongan ahli > > > kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: "Mereka > > > itu berkata: Hukum-hukum syara' yang umum adalah untuk > > > para nabi dan orang awam. Adapun para wali dan > > > golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama), > > > sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang > > > terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum > > > berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka." > > > Golongan ini juga berkata: "Ini disebabkan kesucian > > > hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka > > > terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi, > > > hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti > > > rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum > > > yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum > > > yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada > > > Khidir. Mencukupi baginya (Khidir) ilmu-ilmu yang > > > terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa > > > yang ada pada kefahaman Musa." Golongan ini juga > > > menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau > > > telah diberikan fatwa oleh para penfatwa." > > > > > > Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini > > > dengan berkata: "Kata guru kami r.a.: Ini adalah > > > perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun yang > > > mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena > > > dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari > > > syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya > > > dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya > > > tidak diketahui melainkan melalui perantaraan > > > rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan > > > makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan > > > perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum. > > > Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan > > > urusan ini hanya untuk mereka." > > > > > > واجتماع > > > السلف > > > والخلف > > > على أن لا > > > طريق > > > لمعرفة > > > أحكام > > > الله > > > تعالى > > > التي هي > > > راجعة > > > إلى أمره > > > ونهيه > > > ولا يعرف > > > شيء منها > > > إلا من > > > جهة > > > الرسل > > > فمن قال > > > إن هناك > > > طريقا > > > آخر يعرف > > > بها أمره > > > ونهيه > > > غير > > > الرسل > > > بحيث > > > يستغنى > > > عن الرسل > > > فهو كافر > > > يقتل ولا > > > يستتاب > > > ولا > > > يحتاج > > > معه إلى > > > سؤال ولا > > > جواب > > > > > > "Telah menjadi ijma' salaf dan khalaf bahwa tidak ada > > > jalan mengetahui hukum-hukum Allah yang berhubungan > > > dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun sedikit, > > > melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata > > > "Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan > > > larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak > > > memerlukan para rasul" maka dia adalah kafir, dihukum > > > bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan > > > untuk tanya jawab dengannya (al-Jami' li Ahkam > > > al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr, > > > Beirut). > > > > > > Gejala Pemurtadan di IAIN > > > > > > Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala > > > pemurtadan di AIN, di antaranya buku Harun Nasution > > > untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai > > > Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam, > > > Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu. Juga buku > > > Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam tulisan Harun > > > Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat > > > At-Tahtawi (Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam > > > makalah dosen IAIN di bawah bimbingan Harun Nasution > > > di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977, > > > Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki > > > perempuan disebut sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini > > > adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam Islam > > > menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada > > > potensi zina bagi mata, tangan, mulut, hati dan > > > dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/ kemaluan kata > > > Hartono. > > > > > > Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab > > > I'anatut Tholibin terbitan Toha Putra Semarang, dengan > > > dibacakan tentang definisi zina, lalu Muqsith > > > mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki) > > > ditekuk maka bukan zina. Begitu juga dengan tangan. > > > > > > Hartono menjawab, "bagaimana ini, tentang zina, tangan > > > punya potensi zina itu saya mengutip hadits Nabi saw. > > > Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab I'anatut > > > Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN," tegas > > > Hartono dengan menuding Muqsith yang di sebelah > > > kanannya. > > > > > > Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar > > > Abdalla yang menolak hadits, yang walaupun shohih di > > > kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak sesuai, maka > > > ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat > > > jadi batal karena adanya yang lewat yaitu anjing, > > > orang perempuan, dan khimar/keledai. Kata Ulil, "di > > > sini perempuan disamakan dengan anjing dan keledai. > > > Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih > > > Bukhori," kata Ulil. > > > > > > Kata At-Tamimi, "apakah anda ini ahli hadits? Apa > > > keahlian anda. Dalam hal ilmu agama ini tidak bisa > > > hanya dengan perkataan 'pendapat saya'. Di ilmu teknik > > > dunia saja tidak bisa dengan 'pendapat saya' . Memang > > > anda ahli apa? Apakah ahli hadits? Saya tantang anda > > > bicara tentang hadits. Bahkan kumpulkan seluruh orang > > > JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara > > > agama kok 'menurut saya', 'menurut saya'. Bukan hanya > > > perempuan yang disamakan dengan binatang, semua > > > laki-laki yang tidak percaya kepada Al-Qur'an dan > > > As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur'an > > > seperti binatang," seru At-Tamimi dengan lantang, > > > disambut dengan suara gemuruh hadirin. > > > > > > Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta > > > pada buku Ada Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal > > > memberikan cap-cap buruk karena dibalikkan dengan > > > telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian > > > ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum > > > Tuhan), dan menolak hadits walaupun diakui shahih. > > > > > > Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan > > > tambahan bukti yang ada pada ungkapan-ungkapan mereka > > > sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa > > > sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi, > > > mereka mau menepis Adanya pemurtadan di IAIN tetapi > > > justru terperosok pada penguatan bahwa memang benar > > > ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu > > > saja sangat berbahaya. > > > > > > Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di > > > Islamic Book Fair di Istora Senayan Jakarta, Ahad 27 > > > Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen pasca sarjana > > > IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis > > > buku Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr > > > Roem Rowi mengakui, di IAIN dia mengajar tafsir, namun > > > mahasiswanya dirusak oleh pemikiran-pemikiran yang > > > diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah > > > kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah > > > dasar, semua mahasiswa harus ikut. > > > > > > Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana > > > untuk mendidikkan anak di perguruan tinggi yang > > > islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi, > > > hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam > > > Internasional di Malaysia. Sedangkan ketika ditanya > > > tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama dalam > > > membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri > > > agama masa lalu ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution. > > > "Seakan perkataan Harun Nasution itu qoululloh (firman > > > Alloh) bagi menteri agama yang lalu," ujar Roem Rowi > > > yang meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar > > > Mesir ini. > > > > > > Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu, > > > karena kurikulumnya, materi kuliahnya, sistem > > > pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya > > > banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam > > > yang benar. Tidak merujuk kepada Al-Qur'an, As-Sunnah, > > > dengan manhaj salafus shalih. Tetapi yang dijadikan > > > mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan > > > sejarah kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar > > > Islam, dan disampaikan tidak secara ilmu islami, tidak > > > merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan sistem > > > pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu > > > tanpa sanad (pertalian riwayat) hingga boleh > > > berkomentar apa saja sampai menghina para sahabat > > > sekalipun. > > > > > > Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara > > > madzhab-madzhab (yang perbedaannya itu dalam wilayah > > > furu'/ cabang, jadi boleh saja) dengan sekte-sekte > > > sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal > > > pokok yang benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan > > > antara mukmin dengan kafir, ketika diajari tasawuf > > > falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya > > > dalam materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata > > > kuliah dasar). Akibatnya, mereka menyamakan semua > > > agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara > > > sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam > > > se-Indonesia baik negeri maupun swasta. Maka > > > kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan > > > dosen pengajarnya perlu ditinjau ulang. Pembelajaran > > > dosen-dosen IAIN ke Barat untuk studi Islam pun perlu > > > dihentikan, menurut penulis buku, karena itu menjadi > > > sumber utama pemurtadan tersebut. > > > > > > Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama'ah > > > shalat dhuhur, tanpa ada dosen ataupun mahasiswa UIN > > > yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa Aini > > > seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju > > > untuk mengimami setelah agak lama ditunggu-tunggu tak > > > ada yang maju. Ulil, Muqsith dan sebagian besar > > > panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN > > > Jakarta tidak tampak ikut shalat berjama'ah. Mereka > > > berada di mihrab sebelah imaman. Kemudian Ulil > > > diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin > > > yang shalat berjama'ah telah bubar pulang. > > > > > > "Kampus Islam tidak mencerminkan Islam," keluh di > > > antara yang hadir. > > > > > > > > > Bacalah artikel tentang Islam di: > > > http://www.nizami.org > > > > > > > > > > > > __________________________________ > > > Do you Yahoo!? > > > Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides! > > > http://travel.yahoo.com/p-travelguide > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia > > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > > > > ********************************************************************** > ***** > > > > ______________________________________________________________________ > ____ > > > Mohon Perhatian: > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan > dikomentari. > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ********************************************************************** > ***** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > ********************************************************************** > ***** > ______________________________________________________________________ > ____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > ********************************************************************** > ***** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi- > india.org > ********************************************************************** > ***** > ______________________________________________________________________ > ____ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > ---------------------------------------------------------------------- > ---------- > Yahoo! Groups Links > > To visit your group on the web, go to: > http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ > > To unsubscribe from this group, send an email to: > [EMAIL PROTECTED] > > Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg > Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for anyone who cares about public education! http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

