Oh kalau itu, karena berita macem begini nggak ada 'nilai berita'-nya
kalah dengan berita tentang korupsi, atau politik ya nggak?
AS

On 4/20/05, meg4pro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> 
> Maksud saya, kenapa temen2 jurnalis lainnya  gak ada yg meliput dan
> memberitakan peristiwa tersebut..?. Apakah gak ada nilai beritanya.
> Atau.... ada sesuatu dibalik sesuatu..?.
> 
> ATau ada yg sudah dapat link-nya..?
> 
> salam.
> 
> ----- Original Message -----
> From: Nur Rochman
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, April 20, 2005 1:16 PM
> Subject: RE: [ppiindia] Re: Melawan "Setan JIL" di Sarangnya
> 
> Sepertinya tulisan dibawah ini nggak banyak diberitakan karena memang
> tidak
> ada unsur beritanya atau kalaupun diberitakan pasti akan timpang
> sesuai
> dengan siapa yang memberitakan.
> 
> Seperti tulisan ini, kita pasti semua tahulah siapa yang nulis dan
> tujuannya
> apa??? jadi apa mau seperti ini ditulis dikoran, pasti paling hanya
> majalah
> sabili yang mau beritakan.......
> 
> Bagi saya sich, dengan mengirimkan email ini saja sipengirim itu sudah
> melakukan provokasi dan penghasutan yang tidak fair karena mereka
> mengirim
> berita yang belum diklarifikasi oleh yang diberitakan terutama dari
> pihak
> JIL dan UIN Ciputat.
> 
> Best regards,
> 
> Oman
> 
> Biasanya seseorang ribut itu karena eksistensinya terganggu dan
> menurut saya
> sekarang ini banyak yang sudah mulai jarang dipanggil oleh UIN untuk
> mengisi
> kuliah umum atau pengajian karena orang-orang UIN lebih interest
> mengembangkan pemikiran Islam Liberal, sehingga orang dengan
> mainstream
> diluar itu mulai tersingkir ya akhirnya kasak kusuk dech........
> Biasa kalau sudah nggak laku ya begitu nich.....
> 
> -----Original Message-----
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Behalf Of meg4pro
> Sent: Wednesday, April 20, 2005 1:08 PM
> To: [email protected]
> Subject: [ppiindia] Re: Melawan "Setan JIL" di Sarangnya
> 
> Yup setuju.
> Kayaknya yg nulis mungkin memang bukan seorang jurnalis.
> Tapi lumayan..., jadi dapat info mengenai apa yang terjadi di sana.
> Maklum, kayaknya beritanya gak ada diberitain sama temen2 jurnalis
> sejati. Halo jurnalis sejati..?.  Atau ada yang punya link lainnya..?.
> 
> Tapi kalau anda bilang Di tangan orang-orang seperti inilah Islam
> justru akan balik ke kubangan kegelapan....., apakah berarti ditangan
> orang2 JIL & partners Islam akan kembali menemui kejayaannya..?.
> Kayaknya enggak juga. Jadi di tangan siapa ya..?. Kita tunggu aja
> nanti ya. Sabar.
> 
> salam.
> 
> --- In [email protected], ". Pradana Boy Ztf" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> > Di samping tidak memahami prinsip Islam tentang perbedaan pendapat,
> > penulis laporan ini sama sekali tidak memahami kaidah-kaidah
> jurnalistik.
> > Tulisan ini sungguh disgusting...
> >
> > Islam tidak mengenal kebenaran tunggal. Sepertinya Hartono Ahmad
> Jaiz
> > sudah menjadi malaikat dan sebentar lagi menjadi tuhan, sehingga
> dia bisa
> > menjudge seseorang/sekelompok orang telah murtad... Di tangan orang-
> orang
> > seperti inilah Islam justru akan balik ke kubangan kegelapan...
> >
> > >
> > > http://swaramuslim.net/EBOOK/more.php?id=1293_0_11_0_M
> > >
> > > Melawan "Setan JIL" di Sarangnya
> > > Oleh : Erros Jafar 20 Apr, 05 - 7:21 am
> > >
> > > Pengantar Redaksi:
> > > Pada tanggal 16 April 2005 lalu, berlangsung acara
> > > bedah buku di UIN (alias IAIN) Jakarta. Buku yang
> > > dibedah berjudul "Ada Pemurtadan di IAIN" karya
> > > Hartono Ahmad Jaiz. Pemrakarsa acara tersebut adalah
> > > anak-anak JIL.
> > >
> > > Hartono Ahmad Jaiz, sempat terkejut dengan banyaknya
> > > audiens yang menghadiri acara ini. Jumlahnya seribu
> > > lebih. Dan yang lebih mengagetkan lagi, massa yang
> > > banyak itu justru berasal dari luar UIN, yaitu mereka
> > > yang kontra JIL. Tentu saja kehadiran mereka itu
> > > membuat komunitas JIL (dan anak-anak UIN pro JIL)
> > > menjadi ciut.
> > >
> > > Sayangnya, atau culasnya, moderator yang pro JIL tidak
> > > memberi kesempatan kepada audiens untuk terlibat dalam
> > > tanya jawab. Meski demikian, kedua 'pakar' JIL
> > > kedodoran menghadapi Hartono Ahmad Jaiz dan Muhammad
> > > At-Tamimi.
> > >
> > > Kehadiran audiens yang kontra JIL dengan jumlah yang
> > > tak terduga itu, nampaknya menunjukkan bahwa generasi
> > > muda Islam kita memang masih banyak yang waras. Kedua,
> > > menunjukkan bahwa kontribusi para aktivis Islam di
> > > internet (terutama komunitas PKS dan SHT) yang turut
> > > mensosialisasikan adanya acara tersebut, ternyata
> > > cukup efektif. Ketiga, ini merupakan pertolongan Allah
> > > SWT.
> > >
> > > Sayangnya, ketika 'cendekiawan dan misionaris JIL' ini
> > > keok -bahkan di sarangnya sendiri- tidak ada satu pun
> > > media massa yang mempublikasikannya. Oleh karena itu,
> > > merupakan kewajiban kita untuk mempublikasikan laporan
> > > pandangan mata di bawah ini yang disusun oleh akh Abu
> > > Qori.
> > >
> > > Mau Menyanggah Malah Kejeblos
> > >
> > > Maksud hati mau menepis dan menyanggah isi buku Ada
> > > Pemurtadan di IAIN, tetapi yang terjadi justru
> > > sebaliknya. Para misionaris JIL itu malah terperosok
> > > ke dalam kubangan yang mereka sediakan sendiri. Forum
> > > bedah buku yang semula diharapkan dapat 'membantai'
> > > Hartono Ahmad Jaiz malah menjadi ajang pembuktian
> > > bahwa di IAIN memang ada pemurtadan. Hujjah-hujjah
> > > yang diajukan para misionaris JIL itu justru secara
> > > tidak langsung malah meneguhkan adanya proses
> > > pemurtadan di IAIN.
> > >
> > > Acara bedah buku karya Hartono Ahmad Jaiz itu
> > > berlangsung di Masjid Kampus UIN (Universitas Islam
> > > Negeri) Syarif Hidayatullah Ciputat Jakarta, Sabtu 16
> > > April 2005 bertepatan dengan tanggal 7 Rabi'ul Awwal
> > > 1426 Hijriah.
> > >
> > > Tak dinyana, acara yang sepi promosi ini ternyata
> > > dihadiri 1000-an peserta, sebagian besar justru
> > > berasal dari luar kampus UIN. Sehingga, perhelatan
> > > yang semula dirancang bertempat di Fak Ushuluddin dan
> > > Filsafat, karena tidak mampu menampung audiens,
> > > dipindahkan ke Masjid, khususnya di lantai 2 dan 3.
> > >
> > > Pembicara empat orang. Dua pembicara yang membuktikan
> > > adanya pemurtadan di IAIN adalah Hartono Ahmad Jaiz
> > > (penulis buku yang dibedah) dan Muhammad At-Tamimi
> > > dari Purwakarta Jawa Barat. Sedangkan dua pembicara
> > > lainnya -yang tampaknya membawa misi untuk menepis
> > > adanya pemurtadan di IAIN namun justru
> > > hujjah-hujjahnya menggunakan pemahaman, materi, dan
> > > metode orang murtad- adalah Ulil Abshar Abdalla
> > > kordinator JIL (Jaringan Islam Liberal) dan Abdul
> > > Muqsith Ghazali MA dosen/alumni UIN Jakarta yang juga
> > > termasuk penyusun CDL KHI (Counter Draft Legal
> > > Kompilasi Hukum Islam) pimpinan Dr Musdah Mulia yang
> > > telah dicabut Menteri Agama karena isinya meresahkan
> > > dan bertentangan dengan Islam.
> > >
> > > Acara berlangsung seru, ada pekik Allahu Akbar dan
> > > tepuk tangan bertalu-talu, meski moderator sudah
> > > mengingatkan agar tidak bertepuk tangan di dalam
> > > masjid.
> > >
> > > Materi, pemahaman, dan metode yang ditempuh Muqsith
> > > dan Ulil justru menambah bukti bahwa apa-apa yang
> > > ditulis di dalam buku Ada Pemurtadan di IAIN terbitan
> > > Pustaka Al-Kautsar Jakarta setebal 280 halaman itu,
> > > memang benar adanya. Karena, hujjah-hujjah dan metode
> > > dua pembicara yang pro IAIN dalam membantah buku itu
> > > memang diambil dari materi dan pemahaman kelompok
> > > ataupun tokoh yang sudah dinyatakan kekufurannya oleh
> > > para ulama.
> > >
> > > Atau, mereka menggunakan pemahaman mereka sendiri yang
> > > tanpa dasar, lalu sampai berani menolak hadits yang
> > > shahih, dan hukum Allah swt dalam Al-Qur'an. Di
> > > samping itu masih disertai dengan
> > > kebohongan-kebohongan untuk memberikan cap-cap sangat
> > > buruk kepada penulis buku. Akibatnya, ketika
> > > kebohongan-kebohongan itu dibalikkan oleh penulis
> > > buku, maka terkuaklah kesempurnaan bahwa produk dan
> > > bahkan dosen IAIN yang dijagokan untuk membela IAIN
> > > justru lebih buruk dari yang telah ditulis di buku
> > > itu.
> > >
> > > Artinya, isi buku Ada Pemurtadan di IAIN tidak lebih
> > > seram dibanding dengan kenyataan yang ditemukan di
> > > lapangan, melalui forum bedah buku tersebut.
> > >
> > > Membela pemurtadan dengan pemahaman kufur
> > >
> > > Jalan yang ditempuh Muqsith dan Ulil dalam membela
> > > IAIN ketika bedah buku itu adalah:
> > >
> > > 1. Berbohong dalam rangka memberikan stigma sangat
> > > buruk kepada penulis buku.
> > >
> > >
> > > 2. Membela kemurtadan atau kekufuran dengan faham
> > > kekufuran, dan justru ditawarkan kepada penulis buku
> > > agar mempelajarinya. Bahkan mereka meng-klaim bahwa di
> > > IAIN tidak ada pemurtadan, yang terjadi sesungguhnya
> > > dalah proses adalah pluralisasi penafsiran. Dan yang
> > > dijadikan hujjah adalah penafsiran orang-orang yang
> > > sudah divonis oleh para ulama sebagai kafir ataupun
> > > zindiq yaitu Ikhwanus Shofa' dan Ibnu 'Arabi tokoh
> > > tasawuf sesat berfaham wihdatul adyan (menyamakan
> > > semua agama) dan wihdatul wujud (satunya alam dengan
> > > Tuhan).
> > >
> > >
> > > 3. Melecehkan penulis -yang banyak mengutip
> > > ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits Nabi- dengan tuduhan
> > > terlalu 'memberhalakan' huruf-huruf Al-Qur'an. Tuduhan
> > > itu didibalikkan oleh penulis: karena penulis
> > > mengikuti Al-Qur'an, maka pada hari Jum'at ia pun
> > > melaksanakan shalat Jum'at; sedangkan Ulil, justru
> > > leha-leha berseminar dengan orang Kristen membahas
> > > tentang Tuhan di hari Jum'at dari jam 10 hingga 13 dan
> > > tidak shalat Jum'at, tandas Hartono Ahmad Jaiz sambil
> > > mengangkat Majalah Gatra edisi 26 Februari 2005 yang
> > > memberitakan bahwa Ulil tidak Shalat Jum'at.
> > >
> > >
> > > 4. Memberi cap buruk kepada penulis sebagai orang
> > > yang melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena
> > > penulis tak membolehkan nikah beda agama. Penulis
> > > menguraikan tentang dosen-dosen IAIN, Dr Zainun Kamal
> > > dan Dr Kautsar Azhari Noer, yang menikahkan wanita
> > > muslimah dengan lelaki Nasrani, dan lelaki muslim
> > > dengan wanita Konghucu. Pernikahan itu bertentangan
> > > dengan Al-Qur'an surat Al-Mumtahanah (60) ayat 10 dan
> > > Al-Baqarah (2) ayat 221. Muqsith yang alumni dan dosen
> > > UIN Jakarta justru membela dosen-dosen IAIN yang
> > > melanggar ayat-ayat itu dan malahan memberi cap buruk
> > > kepada penulis buku. Maka, Muhammad At-Tamimi dengan
> > > tegas menyatakan penolakan terhadap ayat itu sebagai
> > > sikap orang gila yang berbicara agama tetapi dengan
> > > dalih "menurut saya".
> > >
> > >
> > > 5. Gagal memberikan cap buruk tentang akhlaq
> > > penulis dan isi buku, karena tuduhan-tuduhan Muqsith
> > > dan Ulil itu tak sesuai fakta, maka lebih drastis
> > > lagi, Muqsith membela ajakan dzikir dengan lafal
> > > anjing hu akbar, dengan mengemukakan bahwa dzikir
> > > dengan lafal anjing hu akbar pun kalau niatnya...
> > > (tidak
> > > jelas suara Muqsith karena suara hadirin gemuruh) maka
> > > bisa meninggikan maqamnya. Ungkapan itu menjadikan
> > > para hadirin berteriak gemuruh, menyiratkan
> > > kejengkelan karena justru keluar betul keaslian produk
> > > IAIN yang diangkat jadi dosen ternyata seburuk itu
> > > pemikirannya dan keyakinannya. Bagaimana lagi para
> > > mahasiswa asuhannya nanti.
> > >
> > >
> > > 6. Ulil berani menolak hadits shohih, walaupun
> > > dirinya mengakui bahwa hadits itu shohih, hanya karena
> > > keberanian menurut dirinya. Ulil juga mengakui bahwa
> > > dirinya menulis di Kompas, tidak ada hukum Tuhan. Maka
> > > Muhammad At-Tamimi menyebut Ulil sebagai orang gila
> > > pertama dan Muqsith orang gila kedua. Karena Allah swt
> > > telah menurunkan wahyu tetapi ditolak dan disebut
> > > tidak ada hukum Tuhan. Ini jelas murtad, kufur.
> > >
> > >
> > >
> > > Berbohong atau memutar balikkan
> > >
> > > Kebohongan yang dilontarkan, di antaranya Muqsith
> > > mengemukakan bahwa penulis buku ini sampai menulis: Si
> > > jompo Sinta Nuriyah. "Penulis ini akhlaqnya masih
> > > akhlaq orang beriman atau tidak. Kalau orang beriman
> > > tentunya tidak menulis seperti itu," kata Muqsith.
> > >
> > > Kebohongan itu dijawab oleh Hartono Ahmad Jaiz
> > > (penulis), bahwa di buku Ada Pemurtadan di IAIN ini
> > > tidak ada tulisan yang bunyinya si jompo. Yang ada
> > > hanyalah penjelasan tentang keadaan, yaitu yang sudah
> > > jompo. Lantas, lanjut Hartono, "yang tidak berakhlaq
> > > itu yang mengubah perkataan ini atau siapa?" Dan juga,
> > > "orang yang mengajak berdzikir dengan lafal anjing hu
> > > akbar (di IAIN Bandung) malah dibela. Kemudian orang
> > > yang tidak menulis si jompo dikatakan menulis si jompo
> > > dan dianggap tidak berakhlaq. Ini yang tak berakhlaq
> > > dan imannya perlu dipertanyakan itu siapa."
> > >
> > > Kebohongan yang kedua namun tidak sempat dibantah
> > > karena sempitnya waktu, adalah perkataan Muqsith bahwa
> > > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro (karangan
> > > As-Sya'roni) disebutkan, menurut pendapat Imam Ahmad,
> > > aurat wanita itu hanyalah qubul dan dubur (kemaluan
> > > depan dan belakang).
> > >
> > > Perlu dikemukakan dalam tulisan ini, Muqsith yang
> > > dosen dan alumni UIN Jakarta itu apakah ingin
> > > mengkampanyekan agar wanita-wanita di bumi ini
> > > bertelanjang atau bagaimana, yang jelas dia dalam
> > > membela IAIN itu telah menyembunyikan sesuatu.
> > >
> > > Dalam kitab Mizanul Kubro itu ada wanita merdeka
> > > (al-hurroh) dan wanita budak (al-ammah). Aurat wanita
> > > merdeka adalah seluruh tubuhnya, kecuali mukanya dan
> > > kedua telapak tangannya, menurut pendapat Malik,
> > > Syafi'i, dan Ahmad dalam salah satu dari dua
> > > riwayatnya. Menurut Abu Hanifah, seluruh tubuh wanita
> > > adalah aurat kecuali mukanya, dua telapak tangannya,
> > > dan dua telapak kakinya. Riwayat lain dari Ahmad,
> > > (seluruh tubuh wanita adalah aurat) kecuali mukanya
> > > saja. (Al-Mizanul Kubro Juz 1, halaman 170, cetakan I,
> > > Darul Fikr Beirut, dalam hal syarat sahnya sholat
> > > tentang menutup aurat).
> > >
> > > Aurat wanita budak (al-ammah) dalam sholat adalah
> > > antara pusarnya dan lututnya seperti aurat laki-laki.
> > > Ini menurut pendapat Malik, Syafi'i, dan salah satu
> > > riwayat dari Ahmad; dan riwayat yang lain bahwa
> > > auratnya (wanita budak/al-ammah) adalah qubul dan
> > > dubur saja. (ibid). Dalam Kitab Mizanul Kubro itu
> > > dijelaskan, yang diamalkan oleh salafus sholih adalah
> > > yang pertama (aurat budak wanita, antara pusar dan
> > > lutut) karena tidak adanya syahwat untuk melihat budak
> > > wanita di luar sholat, lebih-lebih ketika sholat.
> > > (ibid).
> > >
> > > Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kubro bab shalat itu
> > > dikutip pendapatnya bahwa aurat wanita merdeka
> > > (al-hurrah) adalah seluruh tubuhnya kecuali muka dan
> > > dua telapak tangannya atau bahkan seluruh tubuh
> > > kecuali muka saja.
> > >
> > > Perlu dijelaskan kebohongan Muqsith dengan kenyataan,
> > > bahwa wanita sekarang, pengertiannya ya wanita yang
> > > disebut al-hurroh itu. Lalu kok bisa-bisanya Muqsith
> > > Ghozali dosen dan alumni UIN Jakarta ini mengatakan
> > > bahwa Imam Ahmad dalam Kitab Mizanul Kibro,
> > > berpendapat bahwa aurat wanita itu hanyalah qubul dan
> > > dubur. Itulah cara berbohong untuk mengkampanyekan
> > > agar wanita sekarang yang sebagian mereka sudah
> > > memperlihatkan pusarnya itu agar lebih bertelanjang
> > > lagi.
> > >
> > > Kebohongan ketiga, Muqsith menganggap Hartono Amad
> > > Jaiz melanggar prinsip-prinsip dasar Al-Qur'an, karena
> > > Hartono mengharamkan nikah beda agama.
> > >
> > > Perkataan itu sendiri sudah menyembunyikan sesuatu.
> > > Dalam buku itu sudah ditulis, yang dipersoalkan adalah
> > > wanita muslimah dinikahi lelaki kafir, Non
> > > Islam,Yahudi-Nasrani dan lainnya. Juga lelaki Muslim
> > > menikahi wanita Konghucu. Lalu Muqsith mengatakan
> > > bahwa tidak ada ayat yang mengharamkan nikah beda
> > > agama. Itu juga menyembunyikan ayat, hingga dibantah
> > > dengan seru oleh seorang pemuda/mahasiswa secara
> > > spontan dengan mengacungkan Al-Qur'an.
> > >
> > > Kalau Muqsith tidak menolak Al-Qur'an, tentunya mau
> > > mengakui, Ayatnya sudah jelas, QS 60: 10, QS 2: 221,
> > > dan tentang kafirnya Ahli Kitab dalam Surat
> > > Al-Bayyinah ayat 6. Dengan cara menyembunyikan ayat,
> > > hingga justru menghalalkan nikah beda agama (seperti
> > > yang telah disebutkan itu) adalah satu bukti justru
> > > adanya faham yang dihembuskan dari UIN Jakarta adalah
> > > yang menentang ayat Al-Qur'an itu.
> > >
> > > Membela kekufuran dengan kekufuran
> > >
> > >
> > > Lebih nyata lagi ketika Muqsith membela IAIN dengan
> > > faham kekufuran. Yaitu kilah bahwa IAIN tidak
> > > mengadakan pemurtadan tetapi pluralisasi penafsiran.
> > > Lalu yang diangkat sebagai contoh adalah faham
> > > Ikhwanus Shofa' yang tidak perlu melaksanakan yang
> > > fardhu-fardhu/wajib-wajib dan cukup dengan bertasbih.
> > >
> > > Hartono Ahmad Jaiz membalikkan kepada Muqsith, justru
> > > faham yang tidak perlu mengerjakan yang
> > > fardhu-fardhu/wajib-wajib itulah yang sebenar-benarnya
> > > kekafiran. Dan itu sudah dikemukakan kekafirannya
> > > dalam Kitab Tafsir Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Taimiyyah
> > > dalam Majmu' Al-Fatawa.
> > >
> > > Yang dimaksud Hartono itu adalah apa yang ditulis Imam
> > > Al-Qurthubi yang dimulai dengan menukil ulasan
> > > gurunya, al-Imam Abu al-'Abbas, mengenai golongan ahli
> > > kebatinan yang dihukumi sebagai zindiq yaitu: "Mereka
> > > itu berkata: Hukum-hukum syara' yang umum adalah untuk
> > > para nabi dan orang awam. Adapun para wali dan
> > > golongan khusus tidak memerlukan nas-nas (agama),
> > > sebaliknya mereka hanya dituntut dengan apa yang
> > > terdapat dalam hati mereka. Mereka berhukum
> > > berdasarkan apa yang terlintas dalam fikiran mereka."
> > > Golongan ini juga berkata: "Ini disebabkan kesucian
> > > hati mereka dari kekotoran dan keteguhannya maka
> > > terjelmalah kepada mereka ilmu-ilmu ilahi,
> > > hakikat-hakikat ketuhanan, mereka mengikuti
> > > rahasia-rahasia alam, mereka mengetahui hukum-hukum
> > > yang detil, maka mereka tidak memerlukan hukum-hukum
> > > yang bersifat umum, seperti yang berlaku kepada
> > > Khidir. Mencukupi baginya (Khidir) ilmu-ilmu yang
> > > terbuka (tajalla) kepadanya dan tidak memerlukan apa
> > > yang ada pada kefahaman Musa." Golongan ini juga
> > > menyebut: "Mintalah fatwa dari hatimu sekalipun engkau
> > > telah diberikan fatwa oleh para penfatwa."
> > >
> > > Selanjutnya al-Qurtubi mengulas dakwaan-dakwaan ini
> > > dengan berkata: "Kata guru kami r.a.: Ini adalah
> > > perkataan zindiq dan kufur, dibunuhlah siapa pun yang
> > > mengucapkannya dan dia tidak diminta taubatnya, karena
> > > dia telah ingkar terhadap apa yang diketahui dari
> > > syariat. Sesungguhnya Allah telah menetapkan jalan-Nya
> > > dan melaksanakan hikmah-Nya bahwa hukum-hukum-Nya
> > > tidak diketahui melainkan melalui perantaraan
> > > rasul-rasul yang menjadi para utusan antara Allah dan
> > > makhluk-Nya. Mereka adalah penyampai risalah dan
> > > perkataan-Nya serta pengurai syariat dan hukum-hukum.
> > > Allah memilih mereka untuk itu dan mengkhususkan
> > > urusan ini hanya untuk mereka."
> > >
> > > &#1608;&#1575;&#1580;&#1578;&#1605;&#1575;&#1593;
> > > &#1575;&#1604;&#1587;&#1604;&#1601;
> > > &#1608;&#1575;&#1604;&#1582;&#1604;&#1601;
> > > &#1593;&#1604;&#1609; &#1571;&#1606; &#1604;&#1575;
> > > &#1591;&#1585;&#1610;&#1602;
> > > &#1604;&#1605;&#1593;&#1585;&#1601;&#1577;
> > > &#1571;&#1581;&#1603;&#1575;&#1605;
> > > &#1575;&#1604;&#1604;&#1607;
> > > &#1578;&#1593;&#1575;&#1604;&#1609;
> > > &#1575;&#1604;&#1578;&#1610; &#1607;&#1610;
> > > &#1585;&#1575;&#1580;&#1593;&#1577;
> > > &#1573;&#1604;&#1609; &#1571;&#1605;&#1585;&#1607;
> > > &#1608;&#1606;&#1607;&#1610;&#1607;
> > > &#1608;&#1604;&#1575; &#1610;&#1593;&#1585;&#1601;
> > > &#1588;&#1610;&#1569; &#1605;&#1606;&#1607;&#1575;
> > > &#1573;&#1604;&#1575; &#1605;&#1606;
> > > &#1580;&#1607;&#1577;
> > > &#1575;&#1604;&#1585;&#1587;&#1604;
> > > &#1601;&#1605;&#1606; &#1602;&#1575;&#1604;
> > > &#1573;&#1606; &#1607;&#1606;&#1575;&#1603;
> > > &#1591;&#1585;&#1610;&#1602;&#1575;
> > > &#1570;&#1582;&#1585; &#1610;&#1593;&#1585;&#1601;
> > > &#1576;&#1607;&#1575; &#1571;&#1605;&#1585;&#1607;
> > > &#1608;&#1606;&#1607;&#1610;&#1607;
> > > &#1594;&#1610;&#1585;
> > > &#1575;&#1604;&#1585;&#1587;&#1604;
> > > &#1576;&#1581;&#1610;&#1579;
> > > &#1610;&#1587;&#1578;&#1594;&#1606;&#1609;
> > > &#1593;&#1606; &#1575;&#1604;&#1585;&#1587;&#1604;
> > > &#1601;&#1607;&#1608; &#1603;&#1575;&#1601;&#1585;
> > > &#1610;&#1602;&#1578;&#1604; &#1608;&#1604;&#1575;
> > > &#1610;&#1587;&#1578;&#1578;&#1575;&#1576;
> > > &#1608;&#1604;&#1575;
> > > &#1610;&#1581;&#1578;&#1575;&#1580;
> > > &#1605;&#1593;&#1607; &#1573;&#1604;&#1609;
> > > &#1587;&#1572;&#1575;&#1604; &#1608;&#1604;&#1575;
> > > &#1580;&#1608;&#1575;&#1576;
> > >
> > > "Telah menjadi ijma' salaf dan khalaf bahwa tidak ada
> > > jalan mengetahui hukum-hukum Allah yang berhubungan
> > > dengan suruhan dan larangan-Nya walaupun sedikit,
> > > melainkan melalui para Rasul. Maka siapa yang berkata
> > > "Disana ada cara lain untuk mengetahui suruhan dan
> > > larangan Allah tanpa melalui para rasul atau tidak
> > > memerlukan para rasul" maka dia adalah kafir, dihukum
> > > bunuh tidak diminta bertaubat, dan tidak diperlukan
> > > untuk tanya jawab dengannya (al-Jami' li Ahkam
> > > al-Quran jilid 11, halaman 40-41, cetakan Dar al-Fikr,
> > > Beirut).
> > >
> > > Gejala Pemurtadan di IAIN
> > >
> > > Hartono Ahmad Jaiz menguraikan gejala-gejala
> > > pemurtadan di AIN, di antaranya buku Harun Nasution
> > > untuk IAIN berjudul Islam Dipandang dari Berbagai
> > > Aspeknya menyatakan bahwa agama monotheisme itu Islam,
> > > Kristen (Protestan dan Katolik), dan Hindu. Juga buku
> > > Sejarah Pembaharuan Pemikiran Islam tulisan Harun
> > > Nasution untuk IAIN diantara isinya menyebut Rifaat
> > > At-Tahtawi (Mesir) sebagai pembaharu, dan bahkan dalam
> > > makalah dosen IAIN di bawah bimbingan Harun Nasution
> > > di SPS (Studi Purna Sarjana) di IAIN Jogja 1977,
> > > Rifaat At-Tahtawi yang menghalalkan dansa-dansa laki
> > > perempuan disebut sebagai pembuka pintu ijtihad. Ini
> > > adalah penyesatan. Mana ada pembaru dalam Islam
> > > menghalalkan yang haram. Padahal dalam hadits, ada
> > > potensi zina bagi mata, tangan, mulut, hati dan
> > > dibenarkan atau dibohongkan oleh farji/ kemaluan kata
> > > Hartono.
> > >
> > > Hal itu dibantah Abdul Muqsith Ghozali dengan kitab
> > > I'anatut Tholibin terbitan Toha Putra Semarang, dengan
> > > dibacakan tentang definisi zina, lalu Muqsith
> > > mengatakan, kalau hasyafah (kemaluan lali-laki)
> > > ditekuk maka bukan zina. Begitu juga dengan tangan.
> > >
> > > Hartono menjawab, "bagaimana ini, tentang zina, tangan
> > > punya potensi zina itu saya mengutip hadits Nabi saw.
> > > Kenapa hadits Nabi dibantah pakai kitab I'anatut
> > > Tholibin? Ya seperti inilah keluaran dari IAIN," tegas
> > > Hartono dengan menuding Muqsith yang di sebelah
> > > kanannya.
> > >
> > > Attamimi dengan suara lantang menantang Ulil Abshar
> > > Abdalla yang menolak hadits, yang walaupun shohih di
> > > kitab Bukhori, namun menurut Ulil tidak sesuai, maka
> > > ulil menolaknya. Contohnya hadis tentang orang sholat
> > > jadi batal karena adanya yang lewat yaitu anjing,
> > > orang perempuan, dan khimar/keledai. Kata Ulil, "di
> > > sini perempuan disamakan dengan anjing dan keledai.
> > > Jadi saya tolak, walaupun itu ada di Kitab Shohih
> > > Bukhori," kata Ulil.
> > >
> > > Kata At-Tamimi, "apakah anda ini ahli hadits? Apa
> > > keahlian anda. Dalam hal ilmu agama ini tidak bisa
> > > hanya dengan perkataan 'pendapat saya'. Di ilmu teknik
> > > dunia saja tidak bisa dengan 'pendapat saya' . Memang
> > > anda ahli apa? Apakah ahli hadits? Saya tantang anda
> > > bicara tentang hadits. Bahkan kumpulkan seluruh orang
> > > JIL, cukup saya hadapi sendirian. Tidak bisa bicara
> > > agama kok 'menurut saya', 'menurut saya'. Bukan hanya
> > > perempuan yang disamakan dengan binatang, semua
> > > laki-laki yang tidak percaya kepada Al-Qur'an dan
> > > As-sunnah seperti anda ini dinyatakan dalam Al-Qur'an
> > > seperti binatang," seru At-Tamimi dengan lantang,
> > > disambut dengan suara gemuruh hadirin.
> > >
> > > Dua orang yang membela IAIN dan ingin merobohkan fakta
> > > pada buku Ada Pemurtadan di IAIN itu setelah gagal
> > > memberikan cap-cap buruk karena dibalikkan dengan
> > > telak, maka justru menolak hukum Allah (sebagian
> > > ditentang, dan bahkan dinyatakan tidak ada hukum
> > > Tuhan), dan menolak hadits walaupun diakui shahih.
> > >
> > > Di situ justru pada dasarnya mereka menampakkan
> > > tambahan bukti yang ada pada ungkapan-ungkapan mereka
> > > sebagai alumni, dosen dan pembela IAIN bahwa
> > > sebenarnya IAIN memang jelas ada pemurtadan. Jadi,
> > > mereka mau menepis Adanya pemurtadan di IAIN tetapi
> > > justru terperosok pada penguatan bahwa memang benar
> > > ada pemurtadan di IAIN secara sistematis. Itu tentu
> > > saja sangat berbahaya.
> > >
> > > Buku Ada Pemurtadan di IAIN dibedah pertama kali di
> > > Islamic Book Fair di Istora Senayan Jakarta, Ahad 27
> > > Maret 2005. Pembicara Dr Roem Rowi dosen pasca sarjana
> > > IAIN Sunan Ampel Surabaya, dosen tafsir; dan penulis
> > > buku Hartono Ahmad Jaiz. Hadirin sekitar 500 orang. Dr
> > > Roem Rowi mengakui, di IAIN dia mengajar tafsir, namun
> > > mahasiswanya dirusak oleh pemikiran-pemikiran yang
> > > diajarkan dalam materi pemikiran Islam (dan sejarah
> > > kebudayaan Islam), yang itu justru materi kuliah
> > > dasar, semua mahasiswa harus ikut.
> > >
> > > Sehingga, ketika ditanya peserta bedah buku, ke mana
> > > untuk mendidikkan anak di perguruan tinggi yang
> > > islami, Dr Roem Rowi tidak memberikan rekomendasi,
> > > hanya menunjuk di antaranya Universitas Islam
> > > Internasional di Malaysia. Sedangkan ketika ditanya
> > > tentang kurikulum, seberapa peran menteri agama dalam
> > > membuat kurikulum di IAIN, Roem Rowi menjawab, menteri
> > > agama masa lalu ya hanya mengikuti Dr Harun Nasution.
> > > "Seakan perkataan Harun Nasution itu qoululloh (firman
> > > Alloh) bagi menteri agama yang lalu," ujar Roem Rowi
> > > yang meraih gelar doktornya dari Universitas al-Azhar
> > > Mesir ini.
> > >
> > > Disebut Ada Pemurtadan di IAIN, menurut buku itu,
> > > karena kurikulumnya, materi kuliahnya, sistem
> > > pengajarannya, cara mengajarnya, dan dosen-dosennya
> > > banyak yang tidak sesuai dengan sistem pemahaman Islam
> > > yang benar. Tidak merujuk kepada Al-Qur'an, As-Sunnah,
> > > dengan manhaj salafus shalih. Tetapi yang dijadikan
> > > mata kuliah dasar justru sejarah pemikiran Islam dan
> > > sejarah kebudayaan Islam, yang semuanya bukan dasar
> > > Islam, dan disampaikan tidak secara ilmu islami, tidak
> > > merujuk kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dengan sistem
> > > pemahaman yang benar. Diajarkan secara liar, yaitu
> > > tanpa sanad (pertalian riwayat) hingga boleh
> > > berkomentar apa saja sampai menghina para sahabat
> > > sekalipun.
> > >
> > > Akibatnya, alumni IAIN tidak bisa membedakan antara
> > > madzhab-madzhab (yang perbedaannya itu dalam wilayah
> > > furu'/ cabang, jadi boleh saja) dengan sekte-sekte
> > > sesat (firoq dhollah) yang sudah berbeda dengan hal
> > > pokok yang benar. Bahkan sampai tak bisa membedakan
> > > antara mukmin dengan kafir, ketika diajari tasawuf
> > > falsafi dan apa yang disebut filsafat Islam (semuanya
> > > dalam materi kuliah sejarah pemikiran Islam dalam mata
> > > kuliah dasar). Akibatnya, mereka menyamakan semua
> > > agama. Itulah sebenar-benarnya pemurtadan secara
> > > sistematis lewat jalur perguruan tinggi Islam
> > > se-Indonesia baik negeri maupun swasta. Maka
> > > kurikulum, sistem pengajaran, materi, metode, dan
> > > dosen pengajarnya perlu ditinjau ulang. Pembelajaran
> > > dosen-dosen IAIN ke Barat untuk studi Islam pun perlu
> > > dihentikan, menurut penulis buku, karena itu menjadi
> > > sumber utama pemurtadan tersebut.
> > >
> > > Usai bedah buku di UIN Jakarta, hadirin pun berjama'ah
> > > shalat dhuhur, tanpa ada dosen ataupun mahasiswa UIN
> > > yang maju jadi imam, hingga Ustadz Mustofa Aini
> > > seorang hadirin alumni Universitas Islam Madinah maju
> > > untuk mengimami setelah agak lama ditunggu-tunggu tak
> > > ada yang maju. Ulil, Muqsith dan sebagian besar
> > > panitia dari BEM Fak Usuhuluddin dan Filsafat UIN
> > > Jakarta tidak tampak ikut shalat berjama'ah. Mereka
> > > berada di mihrab sebelah imaman. Kemudian Ulil
> > > diiringi para panitia turun dan pulang setelah hadirin
> > > yang shalat berjama'ah telah bubar pulang.
> > >
> > > "Kampus Islam tidak mencerminkan Islam," keluh di
> > > antara yang hadir.
> > >
> > >
> > > Bacalah artikel tentang Islam di:
> > > http://www.nizami.org
> > >
> > >
> > >
> > > __________________________________
> > > Do you Yahoo!?
> > > Plan great trips with Yahoo! Travel: Now over 17,000 guides!
> > > http://travel.yahoo.com/p-travelguide
> > >
> > >
> > >
> > >
> **********************************************************************
> *****
> > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia
> > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> > >
> **********************************************************************
> *****
> > >
> ______________________________________________________________________
> ____
> > > Mohon Perhatian:
> > >
> > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan
> dikomentari.
> > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> 
> **********************************************************************
> *****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia yg
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> **********************************************************************
> *****
> ______________________________________________________________________
> ____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> **********************************************************************
> *****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
> Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-
> india.org
> **********************************************************************
> *****
> ______________________________________________________________________
> ____
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
> otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> ----------------------------------------------------------------------
> ----------
> Yahoo! Groups Links
> 
> To visit your group on the web, go to:
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
> 
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> [EMAIL PROTECTED]
> 
> Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.
> 
> 
> 
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
> Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
>


------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Take a look at donorschoose.org, an excellent charitable web site for
anyone who cares about public education!
http://us.click.yahoo.com/O.5XsA/8WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke