Pesan yang cukup menarik, yang mungkin akan sulit direalisasikan. Di negara
Paman Sam saja, yang "Mbahnya" persamaan gender (katanya) belum bisa tuh
wanita menyamai pria. Mo bukti? Mana pernah wanita jadi presiden di sana.
Atau wapres deh...! Kasihan deh yang berkiblat ke
Amrik....heheh....alih-alih bisa melakukan pembuktian, malah menuduh orang
lain sebagai 'fundamentalis agama'..........

salam

----- Original Message -----
From: "Ari Condro" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, April 20, 2005 3:13 PM
Subject: [ppiindia] Wanita itu Separuh Harga


>
>
> ----- Original Message -----
> From: "Miftah al-Zaman" <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Wanita itu Separuh Harga
>
> Suatu saat saya mendengar percakapan antara seorang
> Bapak dan seorang mahasiswi kedokteran. Saya kebetulan
> mengetahui bahwa Bapak tersebut dikenal sebagai
> seorang yang religius sekali. Tutur katanya sangat
> halus dan selalu saja terucap dari mulutnya "kalimah
> thayyibah" seperti "Barakallah ...", "Subhanallah
> ...", "Alhamdulillah ..." dan sebagainya. Salah satu
> petikan percakapan mereka adalah sebagai berikut:
>
> "Mbak kuliah di mana?"
> "Di Fakultas Kedokteran, Pak"
> "Oh ya? Subhanallah ... Yah, syukurlah Mbak. Kita ini
> sebenarnya banyak memerlukan dokter wanita".
> "Oh ya ... Kenapa, Pak?"
> "Begini, Mbak. Wanita itu kan bukan pencari nafkah,
> jadi karena itu tarifnya tidak perlu mahal-mahal.
> Apalagi kebanyakan rakyat kita masih miskin ... "
> "Oh begitu Pak, ya ...?"
>
> Sayang percakapan berhenti sampai di situ sebab
> mahasiswi tadi kemudian harus pergi. Mendengar
> percakapan itu saya terkejut dan sekaligus sangat
> prihatin. Beginikah fakta yang benar-benar nyata di
> lapangan, bagaimana wanita masih dipandang "separuh
> harga" dibandingkan pria? Apalagi yang memiliki dan
> melontarkan pandangan itu seorang pria yang religius.
> Bagi saya ini benar-benar "shocking", meskipun mungkin
> tidak terlalu mengherankan. Seorang "fundamentalis"
> agama biasanya berpenampilan dan berperilaku sangat
> religius (dalam artian simbolik), dan biasanya pula
> mereka memiliki cara pandang diskriminatif terhadap
> wanita. Namun ketika hal itu terpapar langsung di
> depan mata, tak urung cukup mengguncangkan juga bagi
> saya.
>
> Kesehatan adalah hajat publik yang aksesibilitasnya
> seharusnya menjadi urusan publik (negara). Kalaupun
> kemudian biaya kesehatan menjadi tinggi, adalah
> menjadi tanggung jawab negara untuk mengaturnya.
> Mengapa kemudian solusinya adalah "tarif dokter wanita
> seharusnya lebih murah dari dokter pria" hanya karena
> "wanita bukan pencari nafkah?". Hanya karena dalam
> bangunan sosial tertentu dipersepsi bahwa pencari
> nafkah adalah pria, maka apakah wanita seharusnya
> diberi "separuh harga" saja, terlepas dari kualifikasi
> profesionalitas yang dimilikinya? Kalau memang
> demikian, seharusnya gaji pegawai dan upah minimum
> harus didiskriminasi berdasarkan gender pula. Wanita
> yang pegawai negeri, dosen, buruh pabrik, karyawati,
> dan sebagainya, semestinya mendapatkan gaji lebih
> rendah dari sejawatnya yang pria hanya karena mereka
> adalah wanita, dan wanita adalah "bukan pencari
> nafkah".
>
> Hal ini, sekali lagi, terlontar dari mulut sosok yang
> saya ketahui cukup alim dan bersikap "religius".
> Apakah menjadi religius itu lantas juga harus punya
> cara pandang seperti itu? Apakah semua religius itu
> begitu? Semoga saja tidak. Namun tak urung, pengalaman
> tersebut makin mengurangi "simpati" saya pada sosok
> "alim dan religius", yang secara fisik biasanya
> direpresentasikan oleh adanya jenggot, dahi "gosong",
> dan sering-sering mengucap "Subhanallah...",
> "Barakallah ...".
>
> Betapa panjang perjuangan wanita muslimah untuk bebas
> dari ketidakadilan gender yang dibungkus dogma-dogma agama.
>
>
>
>
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Give the gift of life to a sick child. 
Support St. Jude Children's Research Hospital's 'Thanks & Giving.'
http://us.click.yahoo.com/lGEjbB/6WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke