condom forever donk biar engga kena hiv................

  ----- Original Message ----- 
  From: [EMAIL PROTECTED] 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, April 26, 2005 4:02 PM
  Subject: Re: [ppiindia] Meneguhkan Kembali Gerakan Anti-Poligami




  tapi dari segi moralitas atau tanggung jawab terhadap tata kehidupan
  masyarakat  pilihan yang benar sebenarnya sudah bisa kita lihat
  dalam masyarakat kita.

  metrosexual dengan tanpa komitmen saya pikir dari segi tangguung
  jawab terhadap tindakan yang dilakukan saya pikir sangat minim sekali
  karena sex bebas mempunyai resiko yang sangat besar terjangkitnya
  penyakit, seperti HIV yang belum ada obatnya yang paling ampuh
  untuk menghilangkan penyakit itu.

  tapi untuk play boy, yang menjadi korban adalah wanita, dan ketimpangan
  dalam ber keluarga, sehingga resiko bagi pria adalah sulit untuk
  menjaga kerahasiaan hubungan perkawinan antara istri dan
  wanita simpenannya.

  untuk poligami saya pikir ini lebih safe dan lebih aman, tidak ada
  rasa deg-degan dalam membina keluarga semacam ini, karena
  semua legal  dan tertularnya penyakit HIV sangat tidak mungkin ..

  cuma sih kalo mo lebih aman satu istri ...  cukuplah  ....  jadi poligami
  itu hanya solusi bila ada lebih wanita yang  ngebet di peristri dan
  berani mengambil resiko untuk di madu,  dari pada jadi simpenan  ..

  but all your choice  ... neh   ...  cuman  what kind of society that
  we wish for the future of our world  ...  should the generation
  would be heritage with HIV and dying young  ....

  mungkin ini salah satu cara manusia memusnahkan dirinya
  karena semakin beratnya tanggung jawab yang membebani
  kehidupannya  karena semakin mengecilnya  bumi ini akibat
  pertumbuhan manusia yang tidak terkendali  ...???


  salam







  pertanyaannya adalah siapakah yang lebih gentle dan diterima
  oleh masyarakat antara seorang yang berani berpoligami secara
  formal dibandingkan dengan play boy yang banyak simpenan  ?

  > kayaknya kalo dilihat dari segi "gentle'..dua2nya cemen abis..., dan
  kalimat diterima oleh masyarakat sepertinya bukan kalimat yang appropriate
  disini..., masyarakat indo belom bisa menerima either poligami or punya
  simpanan sebagai sesuatu yg common or normal..., maybe saya lbh respect
  sama cowo2 metroseksual yang single, yang have  relationship with several
  womens.., their motto re no commitment, no ring, no string..., so mereka ga
  cheating..cuman gaya hidup mereka yang suka punya banyak relationship...,tp
  mereka emang gak punya commitment or no engaged or married with someone..
  jadi beda sama org berpoligami or yang punya simpenan..
  sering cowo metroseksual dibilang playboy tp mereka bakal commit their life
  if they find the right one...and biasanya kriterianya super
  perfect..:))...., tp at least they re honest...and cewe2 yang mo jadi girl
  friend mereka kudu tau resiko and konsekuensinya...and biasanya cowo2
  metroseksual suka ngebebasin cewe2 nya juga for dating another guy...beda
  sama poligami or jadi simpenan..wanita2nya gak da kebebasan utk milih...so
  gak fair kan..?..:))..
  kebanyakan cewe2 yang ngedate with those guy is also menganut paham no
  commitment...until they find the right one also..

  anyway, conclusionnya...mungkin gak da yang ideal dari poligami, playboy
  punya simpenan, or cowo metroseksual..tp kalo dilihat yang paling gentle
  and fair perhaps cowo metroseksual...tapi tetap aja not the right or good
  choice to live a life...tp mo gimana..we re run off option here...:))...





                        [EMAIL PROTECTED]

                        Sent by:                 To:
  [email protected]
                        [EMAIL PROTECTED]        cc:

                        ups.com                  Subject:  Re: [ppiindia]
  Meneguhkan Kembali Gerakan
                                                  Anti-Poligami


                        04/26/2005 12:18

                        PM

                        Please respond to

                        ppiindia









  fenomenanya adalah orang-orang yang anti poligami ternyata belum
  pernah mengalami dipoligami, sehingga imajinasi mereka menjadi liar
  membayangkan hal-hal yang tidak dialami oleh orang yang sudah ber-
  poligami  ....   kalo zaman kartini  sebenarnya yang ingin di dobrak adalah
  adat ..  di mana seorang seperti kartini yang mempunyai otak yang cerdas
  terkunkung dalam istana, sehingga ide-idenya sebagai wanita yang jenius
  tidak pernah di dengar  ..   memang suatu tradisi itu berisi sesuatu yang
  sakral   sehingga pernah katanya terjadinya kebakaran di istala
  mangkunegaran
  solo (kalo tdk salah) diakibatkan kesakralan itu, merombak  sesuatu
  barang yang berbahaya yang dapat menimbulkan kebakaran   ...

  padahal zaman dulu menjadi seorang garwo dalam menjadi dambaan
  setiap wanita    ...  karena untuk mencari kehormatan ?...  dan mereka
  sangat bangga akan status tersebut  ?....  kalo zaman sekarang mungkin
  menjadi wanita simpanan seorang bos terkenal lebih diimpikian
  oleh wanita dibanding dengan di kawini secara formal  ..???
  tapi memang kelihatan seorang yang mempunyai simpanan
  akan lebih bijaksana bagaimana caranya menutupi sifat
  play boy tersebut  .....

  pertanyaannya adalah siapakah yang lebih gentle dan diterima
  oleh masyarakat antara seorang yang berani berpoligami secara
  formal dibandingkan dengan play boy yang banyak simpenan  ?

  salam,








  http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=808

  Refleksi Hari Kartini
  Meneguhkan Kembali Gerakan Anti-Poligami
  Oleh Faizah SA
  25/04/2005
  Momentum Hari Kartini sudah sepantasnya dijadikan media refleksi untuk
  merenungkan kembali kesahihan poligami yang tersembul dalam UU RI Nomor 1
  Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ diterangkan kebolehan poligami
  selama mengantongi ijin istri sebelumnya. Keterangan itu malah dikuatkan UU
  RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi Pengadilan Agama untuk menangani
  poligami.

  21 April 2005, seabad lebih wafatnya RA Kartini. Namun, prosesi tahunan
  -apa yang lazim ditahbiskan sebagai Hari Kartini- yang seremonial, tanpa
  substansi, justru potensial mereduksi sosok dan ide-ide Kartini. Kartini
  dikenal dan disajikan sebagai tokoh teladan bukan dari dirinya sendiri,
  melainkan dari pandangan orang lain mengenai dirinya. Tak heran, jika
  mitologisasi atas Kartini justru mengurangi kebesaran Kartini itu sendiri
  serta menempatkannya dalam dunia dewa-dewa. Semakin kurang pengetahuan
  seseorang tentangnya, makin kuat mitologisasi terhadap Kartini. Gambaran
  orang tentangnya dengan sendirinya lantas menjadi palsu, karena kebenaran
  tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini
  sebenarnya jauh lebih agung daripada total jendral mitos-mitos tentangnya."
  (Pramoedya Ananta Toer dalam pengantar Panggil Aku Kartini Saja, 1997).
  Untuk itu, diperlukan napak tilas Kartini sebagai sosok perempuan yang
  terbelenggu tradisi pada jamannya. Ketika itu, Kartini hidup di jaman yang
  sama sekali tidak menghargai eksistensi kaum perempuan. Betapa tidak,
  Kartini disunting Bupati Rembang, RTAA Djojohadiningrat, sebagai garwa
  padmi setelah tiga istri Bupati itu. Ini artinya praktik poligami telah
  tumbuh subur pada masa itu. Di manapun sangat sedikit perempuan yang
  merelakan dirinya dimadu oleh laki-laki. Kebanyakan mereka menolak jika
  laki-laki menjadikan dirinya bukan sebagai istri yang pertama, atau juga
  tidak menginginkan laki-laki (suaminya) menyunting perempuan lain setelah
  dirinya. Kartinipun sesungguhnya demikian. Hanya saja Kartini tak memiliki
  cukup kekuatan untuk melakukan perlawanan mendobrak tradisi yang melecehkan
  kaum perempuan itu. Bahkan Kartini sendiri dengan sangat terpaksa harus
  memperpanjang matarantai tradisi itu dengan disunting RTAA Djojohadiningrat
  sebagai istri keempat.

  Dus, Kartini seperti mendaur ulang elegi kehidupan dua perempuan yang
  sangat dicintainya di mana sangat menderita karena memperebutkan cinta dan
  kasih sayang dari seorang laki-laki. Kedua perempuan itu adalah Ngasirah,
  ibunya sendiri, dan RA Sosroningrat, garwa padmi ayahnya yang dinikahi
  setelah ibunya sekaligus sebagai pengasuhnya. Bayang-bayang kehidupan dua
  perempuan itulah yang memayungi mahligai rumah tangganya. Kepedihan,
  kegundahan dan pergolakan batin yang dahsyat tergambar dalam surat-surat
  Kartini kepada Ny. Abendanon menjelang pesta perkawinan dilangsungkan. 19
  Oktober 1903 ia menulis, "Pakaian pesta bertopeng saya sudah jadi. Roekmini
  menyebutnya kain kafan saya...." 22 Oktober 1903, ia menulis lagi, "Ada
  luka yang tidak pernah sembuh, ada air mata yang tidak pernah kering...." 3
  November 1903 ia lebih eksplisit: "... Hari depan itu tidak pernah saya
  harapkan...."

  Namun, kematian menjemput Kartini lebih awal, tidak sampai setahun usia
  perkawinannya. Bulan ke sepuluh, empat hari setelah melahirkan putranya, RM
  Soesalit, Kartini membuka gerbang pembebasan dirinya.


  ***

  BELENGGU tradisi poligami yang melilit Kartini sejatinya masih banyak
  dialami kaum perempuan masa kini. Harus diakui, poligami telah menjadi
  bagian gaya hidup laki-laki, dan karenanya di lingkungan tertentu praktik
  ini telah membudaya. Faktanya poligami telah ada sejak zaman dulu dan terus
  terpelihara hingga kini dengan berbagai pembenaran dan legitimasi kultural,
  sosial, ekonomi, dan agama. Jauh sebelum Islam datang, praktik poligami
  memang telah ada, bahkan jumlah istri bisa membengkak hingga belasan.

  Saat Islam datang turun aturan yang membatasi maksimal empat orang saja,
  dengan syarat ketat yang bagi sejumlah pemikir muslim tidak mungkin bisa
  terpenuhi oleh seorang laki-laki. Asas keadilan tentu bukan sekadar
  keadilan kuantitatif semacam pemberian materi atau waktu gilir antar-istri,
  tapi mencakup keadilan kualitatif (kasih sayang yang merupakan fondasi dan
  filosofi utama kehidupan rumah tangga). Itulah mengapa di ujung ayat yang
  sering dijadikan dasar bagi kebolehan (mubahah) praktik poligami Tuhan
  mewanti-wanti, "Dan apabila kamu takut tidak bisa berbuat adil, maka
  nikahilah seorang saja" [QS. 4:3]. Itu berarti ideal moral yang dicanangkan
  al-Quran adalah praktik monogami.

  Alasan dibolehkannya poligami di masa awal generasi Islam, seperti yang
  diungkap Muhammad Abduh (1849-1905), karena saat itu jumlah laki-laki lebih
  sedikit dibandingkan perempuan akibat banyak yang mati di medan
  pertempuran. Dengan dalih melindungi dan mengayomi, laki-laki dibolehkan
  menikahi perempuan lebih dari satu. Juga dengan begitu penyebaran Islam
  semakin cepat dengan terus menambah jumlah pemeluknya. Sebab perempuan yang
  dinikahi diharapkan masuk Islam beserta keluarganya. Selain itu, dengan
  poligami kemungkinan pecahnya konflik antar-suku dapat dicegah. Saat ini,
  keadaan sudah jelas banyak berubah. Poligami, lanjut Abduh, justru
  melahirkan banyak persoalan yang mengancam keutuhan bangunan mahligai rumah
  tangga. Sering timbul percekcokan. Belum lagi efek domino bagi perkembangan
  psikologi anak yang lahir dari pernikahan poligami. Sering mereka merasa
  kurang diperhatikan, haus kasih sayang dan, celakanya, secara tidak
  langsung dididik dalam suasana yang kedap perselisihan dan percekcokan
  tersebut. Karena itulah Abduh jelas-jelas melarang praktik poligami
  mengingat syarat adil yang diminta teks tidak mungkin bisa dipenuhi.
  (Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar IV, tt. h. 347-350).

  Tradisi poligami, seperti yang dipahami dalam teks itu, tidak lebih
  pantulan realitas sosial yang mengemuka saat itu. Faktanya ialah perempuan
  kala itu dalam kondisi terpinggirkan. Dalam hal poligami, Alquran merekam
  praktik itu sebab ia adalah realitas sosial masyarakat saat itu. Tak
  terlalu salah jika Thaha Husein (1889-1950) dalam Fi Syi'r al-Jahili (tt.
  h. 25-33), dengan berani mengambil hipotesa bahwa Alquran pada dasarnya
  adalah cermin budaya masyarakat Arab Jahiliyah (pra-Islam). Karena itu,
  seruan poligami dalam teks itu harus dipandang sebagai sebuah proses yang
  belum final dan masih terbuka bagi "pembacaan lain" sesuai dengan konteks
  sosial kontemporer. Jika hipotesa Husein dikembangkan, akan dijumpai
  pemahaman bahwa Alquran sesungguhnya adalah respon terhadap berbagai
  persoalan umat kala itu. Sebagai respon, tentu saja Alquran menyesuaikan
  dengan keadaan setempat yang saat itu dipenuhi dominasi budaya patriarkhi.

  Momentum Hari Kartini sudah sepantasnya dijadikan media refleksi untuk
  merenungkan kembali kesahihan poligami yang tersembul dalam UU RI Nomor 1
  Tahun 1974 tentang Perkawinan. Di situ diterangkan kebolehan poligami
  selama mengantongi ijin istri sebelumnya. Keterangan itu malah dikuatkan UU
  RI No. 7/1989 pasal 49 yang menugasi Pengadilan Agama untuk menangani
  poligami. Pemerintah seharusnya memikirkan nasib kaum perempuan yang
  hak-hak kebebasan dasarnya terancam oleh tradisi poligami. Sebab sampai
  saat ini masalah poligami seolah-olah tidak ditangani serius dan tenggelam
  dalam gelombang besar masalah yang silih berganti menerpa bangsa ini.
  Asumsi melindungi dan mengayomi sebagai pijakan fungsi sosial poligami
  sudah sepantasnya dikaji ulang sekaligus dialihkan pada hal-hal lain yang
  kebutuhannya lebih mendesak.

  Dengan kata lain, UU anti-poligami mendesak untuk segera direalisasikan
  demi melindungi kaum perempuan dari golongan tertentu yang ingin mereguk
  keuntungan dengan memelintir seruan teks untuk kepentingan poligami.
  Keberanian pemerintah Turki di bawah kepemimpinan Musthafa Kemal Ataturk
  mensahkan UU yang melarang poligami di tahun 1926 perlu dijadikan teladan.
  Juga pemerintah Tunisia di bawah presiden Bourguiba pada tahun 1956 yang
  melakukan hal serupa layak ditiru. Dan di sisi lain, mandat perjuangan
  emansipasi dan pemberdayaan perempuan yang menjadi cita-cita agung Kartini,
  dengan demikian, akan menemukan titik terang. Dan beginilah sesungguhnya
  salah satu aspek substansial untuk menghormati kebesaran Kartini, bukan
  dengan retorika semata. []

  Faizah SA, staf pengajar di Ponpes Krapyak, aktif sebagai peneliti Lembaga
  Studi dan Pengembangan Santri dan Masyarakat (LeSPiM) Yogyakarta


  [Non-text portions of this message have been removed]




  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
  Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links














  ______________________________________________________________

  Disclaimer :
  - This email and any file transmitted with it are confidential and
  are intended solely for the use of the individual or entity whom
  they are addressed, if you are not the original recipient, please
  delete it from your system.
  - Any views or opinions expressed in this email are those of the
  author only.
  ______________________________________________________________


  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
  Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links












  ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
  Give underprivileged students the materials they need to learn.
  Bring education to life by funding a specific classroom project.
  http://us.click.yahoo.com/4F6XtA/_WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
  --------------------------------------------------------------------~->

  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
  Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

  Yahoo! Groups Links














  ______________________________________________________________

  Disclaimer :
  - This email and any file transmitted with it are confidential and
  are intended solely for the use of the individual or entity whom
  they are addressed, if you are not the original recipient, please
  delete it from your system.
  - Any views or opinions expressed in this email are those of the
  author only.
  ______________________________________________________________


  ***************************************************************************
  Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
  ***************************************************************************
  __________________________________________________________________________
  Mohon Perhatian:

  1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
  2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
  3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
  4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
  5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
  6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
   
  Yahoo! Groups Links



   





[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
DonorsChoose. A simple way to provide underprivileged children resources 
often lacking in public schools. Fund a student project in NYC/NC today!
http://us.click.yahoo.com/5F6XtA/.WnJAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke